Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
125. Sutradara Cinta


...Happy Reading...


Ray sedang duduk-duduk dikursi tamu, tanpa sengaja dia melihat mobil istrinya memasuki halaman rumahnya.


" Heh... kayak mobil my Hana tuh?"


" Cih... baru ditinggal satu jam aja udah kangen, tadi ngomongnya aja sok jual mahal nggak mau ikut? nyusul juga ternyata dia."


Ray langsung tersenyum bahagia, karena memang inilah yang dia harapkan.


" Eherm... aku mau berangkat ke kampus."


Tiba-tiba Samantha datang dari lantai atas dengan menenteng tasnya dan sepatu yang belom dia pakai.


Cari gara-gara argh.. hehe...


" Dek kamu sudah mau berangkat?" Ray langsung pindah tempat duduk kesamping Samantha.


" DEK?" Samantha terkejut sendiri mendengar panggilan dari Ray.


" Iyalah, mulai sekarang kamu menjadi adikku!" Ray langsung menaikkan kedua alisnya.


" Apaan sih?" Samantha hanya tersenyum miring sambil membenahi tali sepatunya.


" Untuk merayakan hari jadi kakak adek kita, ayok kita selfi." Raymond semakin mengikis jarak diantara mereka.


" Selfi? dih... apaan sih?"


" Panggil aku kakak, mulai dari sekarang, titik!" Ucap Raymond tanpa bantahan.


" Terserah deh."


Samantha tidak mau ambil pusing, sebenarnya dia sangat bahagia bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga mereka, karena keluarga Ray memperlakukan Samantha layaknya anak sendiri, tidak dibeda-bedakan dan tidak juga terlalu diistimewakan, jadi Samantha merasa sangat nyaman walau baru beberapa hari tinggal disana.


" Ayo sini buruan, biar foto ini menjadi saksi kalau kita ini adalah adek kakak sekarang, okey?" Ray sengaja ingin melihat reaksi istrinya kalau dia duduk mesra dengan wanita lain walau Ray tetap hanya menggangap Samantha seperti adeknya sendiri.


" Harus banget ya kayak gitu?" Samantha terlihat ragu, namun arah pandangan matanya mencari kamera juga.


" Ciss.. senyum dek, eh... rambutku udah keren belum dikamera." Raymond langsung mengarahkan ponselnya kearah mereka berdua dengan senyum mengembang.


" Udahlah itu." Samantha terlihat jengah namun mencoba untuk terus tersenyum.


" Kurang dekat dek, nggak usah canggung gitu, geser dikit kesini duduknya, merapat sini!" Ray terlihat semangat mengambil foto, bahkan kepala mereka saling berdekatan.


Cekrik!


" Waah... keren banget foto kita kan dek, beuh... mantep dah?" Ray sengaja mengeraskan suaranya dan seolah kagum dengan hasil foto yang sebenarnya terlihat biasa-biasa saja.


Brak!


Tiba-tiba sebuah koper menggelinding sendiri masuk kedalam ruang tamu dengan paksa. Karena apa yang mereka lalukan berdua tak luput dari pandangan Hanami, yang sudah berdiri mematung ditengah-tengah pintu.


Kena kau yank!


" Hah? sayang... kapan kamu datang?" Ray pura-pura panik dan langsung menggeser tempat duduknya, seolah dia ketakutan karena ketahuan berduaan dengan Samantha, padahal dalam hati dia ingin tertawa saat melihat wajah Hanami sudah memerah karena menahan amarah yang hampir meledak.


" Kenapa? apa kamu berharap aku tidak datang sekalian!" Nada suara Hana sudah tidak enak lagi didengar.


" Hadeeh... kenapa peranku sebagai orang ketiga nggak selesai-selesai." Umpat Samantha yang langsung lemas saat melihat kemarahan Hana.


" Kok kamu ngomongnya gitu sih yank, padahal aku tadi cuma ngobrol biasa aja, bercanda sambil berfoto-foto ria dengan Samantha, ya kan dek?" Ray berbicara manis sekali dengan Samantha.


" Sedari tadi gue memang sudah curiga, pasti ada yang ngak beres." Umpat Samantha yang tidak memperdulikan mereka dan memilih melanjutkan menali sepatunya.


" Kalau begitu aku pulang saja, daripada menggangu kedekatan kalian berdua ya kan?" Umpat Hana penuh penyesalan.


Brak!


Dengan satu kali tendangan, Hana kembali menendang koper mahal miliknya keluar dari ruangan itu.


" Aiiish... maaf pak Sutradara Cinta, bolehkah saya ganti pemeran lain, selain jadi orang ketiga gitu? aku capek Pemirsa!"


Samantha langsung menenteng tas miliknya dan berjalan keluar melewati koper yang sudah teronggok didepan pintu.


" Samantha." Teriak Ray sambil menahan senyuman.


" BYE!" Teriak Samantha sambil mengangkat satu tangannya keatas, tanpa mau menoleh kearah mereka.


" Dasar berondong ganjen!" Hana juga ingin menyusul keluar namun langsung ditarik oleh Raymond kedalam pelukannya.


" LEPAS!" Teriak Hana sambil berontak dari pelukan suaminya.


" Cie... cemburu?" Ledek Ray sambil mengeratkan pelukannya.


" Cih... nggak sudi!" Hana langsung melengos dengan kesal.


" Makanya punya suami itu jangan dibiarkan pergi sendiri, apalagi yang modelnya kayak aku gini, wah... aura ketampanannya itu nancep di hati." Ucapnya dengan tingkat kepercayaan diri yang penuh.


" Pengen muntah aku dengernya, awas aku mau pulang lagi aja."


" Ya udah sono, biar aku pergi jalan-jalan aja sendiri, biar dikira orang aku masih single, pulang sana.. suka-suka hatimulah, punya istri nggak peka banget."


" Dosa tanggung sendiri sono!" Ray langsung melepas pelukan dan berbalik ingin masuk ke dalam kamarnya.


Hana mematung ditempat, dia fikir tadi kalau bilang ingin pulang trus suaminya melarangnya dan membujuknya, ternyata dugaannya salah, bahkan sekarang Ray sudah sampai di tangga paling atas tanpa menoleh kebelakang.


" Ckk... dasar berondong kampret! nyebelin!" Hana kembali menarik kopernya dan menutup pintu rumah itu.


" Harusnya kalau istrinya merajuk itu dibujuk, bukannya malah ditinggalin."


" Mau pulang nanti pasti diomelin juga sama mamah, aku juga yang disalahin."


" Nggak lucu kan kalau aku harus jadi janda kembang, mana udah jebol lagi, nasip oh nasip!"


Akhirnya Hana menarik kopernya menuju kekamar Raymond dengan segala umpatan disepanjang perjalanan menaiki tangga.


Kamar Ray pun sengaja masih dibuka separuh, dan terlihat disana Ray sedang tiduran sambil tengkurap. Hana perlahan masuk dan menutup pintunya.


" Mas.. bajuku ditaruh dimana?"


Hana memanggil suaminya dengan perlahan, mencoba menghilangkan rasa cemburu dan bersikap dewasa.


" Kok jadi mas sih yang marah? harusnya kan aku yang marah, ngapain lagi kalian berdua foto deket-deketan begitu? udah punya istri kok masih kegatelan." Umpat Hana sambil meletakkan koper itu disudut kamar.


" Habisnya punya istri nggak mau ngelayanin suaminya? buat apa?"


" Maksudnya?"


" Pikir aja sendiri!" Ray bahkan melempar bantal kesembarang arah.


" Mas." Hana memungut bantal itu dan menaruhnya kembali perlahan sambil duduk disamping suaminya.


" Cintamu sudah padam, kamu nggak sayang lagi sama aku, I hate you!"


" Enggak gitu kok, aku sayang kok mas, hadap sini, lihat aku dong, jangan begitu." Hana mengusap punggung suaminya perlahan untuk merayunya.


" Trus kenapa kamu nggak mau aku sentuh!" Ray tiba-tiba langsung duduk menghadap kearahnya.


" Siapa yang bilang, mau kok?" Hana masih mencoba bicara perlahan.


" Bohong!" Teriak Ray sambil melengos.


Hadeh... nggak selesai-selesai kalau begini caranya! langsung sikat aja deh!


" Kamu mau aku yang mulai duluan?"


" Maksudnya?"


" Kamu mau aku perk○sa lagi."


Yes berhasil! uraaaaaaaaaaa....


" Yaaa... gimana ya.." Ray menaikkan kedua bahunya sambil melengos.


Dugh!


Hana langsung pada intinya, dia mendorong tubuh Ray sehingga tubuhnya terlentang jatuh dikasur empuknya.


" Janji nggak deket-deket dengan wanita manapun, bahkan Samantha sekalipun?" Hana langsung menindih tubuh suaminya.


" Janji, tapi kamu harus dengerin omongan aku ya!" Ray langsung pasrah saja saat Hana membuka kaos oblong miliknya.


" Yang mana?" Bahkan dengan santainya Hana membuka celana jeans selutut milik suaminya dan melemparnya kesembarang arah.


" Kamu harus ikut aku tinggal dimanapun!" Gantian Ray yang membuka kemeja milik istrinya.


" Okey." Jawab Hana dengan mata yang tak luput dari dadaa milik suaminya yang terlihat menggoda.


" Nggak boleh nolak kalau aku minta jatah." Karena Hana hanya menggunakan rok saja, dia jadi lebih mudah mengeksekusinya.


" Eugh... hmm."


Saat benda-benda berharganya berada dalam genggaman suaminya, kesadarannya mulai oleng dan terjadilah apa yang Ray inginkan, bahkan Ray sampai menengadahkan kepalanya karena ternyata istrinya itu lihai sebagai pemimpin permainan, mungkin jiwa pelatihnya dia pergunakan disini.


" Ough.. my Hana." Sedari tadi Ray terus meracau menyebut-nyebut nama Hana, karena merasakan sensasi yang luar biasa.


" RAY.. kamu dimana?"


Tiba-tiba terdengar suara sang mommy dari luar kamar.


" Mas... ada mom Mala?" Hana langsung mematung ditempat dengan posisi dia masih diatas tubuh Ray.


" Biarkan saja!" Ray langsung membalikkan tubuh istrinya dan memposisikan istrinya dibawah tubuhnya.


" Tapi mas?"


" Aku tutupi pake selimut!" Ray langsung menarik selimut tebal miliknya dan menutupi tubuhnya dan juga tubuh Hana pastinya.


" Ray? kamu lagi ngapain?" Mala menyembulkan kepalanya kedalam kamar Ray, karena memang tadi tidak Hana kunci.


" Bikin cucu buat mommy dong." Jawab Ray dengan santai, bahkan bisa-bisanya dia melanjutkan genj○tannya saat itu juga didalam selimut.


Sedangkan Hana sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, menahan malu dicampur dengan menahan segala rasa, karena Ray tidak membiarkan torpedonya diam didalam sana.


" Bikin cucu gundulmu, Hana kan belum kesini, kamu buat dengan siapa!" Mala langsung panik dan sontak masuk kedalam kamar dan mendekat kearah ranjang Ray.


" Dengan anak mantumu lah mom, siapa lagi?" Jawab Ray dengan tetap melanjutkan kegiatannya, bahkan didepan mommynya.


" Bohong kamu!" Mala malah semakin mendekat kearah mereka, karena ingin memastikan wajah orang didalam kungkungan putranya itu.


Mala takutnya Samantha pula yang dihajarnya disana, karena ada anak orang lain didalam rumahnya, sedangkan sedari tadi Mala memang belum melihat Hana datang.


" Hana mom, nih kalau nggak percaya!" Ray menggeser sedikit tubuhnya dan menyembullah wajah Hana yang sudah pucat karena menahan malu disana.


" Mom." Jawab Hana dengan lemah.


" Owh ya ampun.. okey, silahkan dilanjut, Gasskeun, SEMANGAT!" Bulu kuduk Mala tiba-tiba meremang, dia langsung berlari keluar dari sana.


" Tolong tutup pintunya sekalian ya mom!" Teriak Ray yang tidak ingin menjeda kegiatannya.


" Daddy... eh... ayaaaaank! kamu dimana!"


Samar-samar terdengar suara Mala berteriak memanggil suaminya setelah membanting pintu kamar Raymond.


" Hiks... hiks..."


Tiba-tiba terdengar suara isakan didalam selimut.


" Kenapa sayang? masih sakit ya?" Tanya Ray dengan iba, namun Hana menggelengkan kepalanya.


" Trus kenapa? kamu menangis terharu ya, akhirnya kita bisa bersatu?"


" Aaaaaaaaa... Ya Tuhan, kenapa ada orang yang nggak tahu malu seperti suamiku ini! hiks.. hiks..


Hana langsung memukuli tubuh suaminya sekuat tenaga yang tersisa, sambil menangis tersedu-sedu, dia heran kenapa ada makhluk Tuhan seperti suaminya itu, walau kenyataanya dia tetap cinta sampai akhir hidupnya.


..."Suami yang paling beruntung adalah dia yang memiliki istri yang baik, menyenangkan dan perhatian, iman memenuhi hatinya, kelembutan menghiasi tutur katanya, dan berbuat kebaikan menjadi motto hidupnya....


...Apabila suami datang dia segera menyambutnya. Dan apabila suami bepergian, dia senantiasa menjaga rumah tangganya."...