
...Happy Reading...
Setelah kesepakatan antara Ray dan Hesti terjadi, mereka langsung memulai adegan sandiwara yang Ray harap menjadi drama terfanas malam ini.
Ray... apa kamu sungguh-sungguh marah denganku? kenapa kamu sama sekali tidak menyapaku?
Ternyata diam-diam Hana memperhatikan Ray yang terlihat berbincang asyik dengan seorang wanita yang sama sekali tidak dia kenal.
Siapa dia?
Sedari tadi pertanyaan itu melintas dipikiran Hana, namun tidak sanggup dia pertanyakan kepada siapapun.
" Hana, mama tinggal dulu sebentar ya nak, sendiri dulu nggak papa kan?" Shanum beranjak berdiri ingin pergi menyapa teman-temannya dulu.
" Okey, emang mau kemana ma?" Tanya Hana yang lamunannya langsung terpecah.
" Itu ada teman mama dulu, sebentar aja kok, atau kalau kamu nggak mau sendiri cari saja Ray untuk nemenin kamu, mana dia? tumben nggak nempelin kamu lagi?" Shanum mencari sosok Ray disekelilingnya.
Itu dia pertanyaannya ma, maunya juga gitu? aku juga bingung sendiri kok..
" Sudahlah, mama pergi saja, aku nggak papa sendirian disini kok." Jawab Hana pura-pura tegar.
" Lah itu Ray, ngobrol sama siapa dia? kok nggak pernah lihat ya?" Akhirnya Shanum menangkap sosok Ray didepan.
Entah ma? tanyain sana ma, aku juga pengen tahu nih?
Namun Hana memilih diam saja, dia pun sebenarnya penasaran, ingin sekali dia menanyakan sendiri namun dia tidak berani dan tidak punya hak juga untuk selalu kepo dalam urusan Ray.
" Sudahlah, palingan juga sama rekan kantornya, nanti kalau sudah selesai kamu panggil saja dia ya, mama tinggal ke depan dulu okey?" Shanum yang tidak curiga sama sekali langsung meninggalkan putrinya duduk disana sendirian.
Tidak berselang lama Hesti berjalan kearah Hana, bukan untuk berkenalan atau mengajaknya mengobrol, namun dia sengaja duduk didepan Hana sambil mengotak-atik ponselnya.
Sedangkan Ray memilih naik ke atas panggung dengan semangat empat lima setelah mengedipkan satu matanya kearah sang mommy tercinta, bermakna sandiwaranya akan segera dimulai.
" Cek.. cek.." Terdengar suara khas dari Ray dari atas panggung menggema ke seluruh ruangan.
" Jangan ngebor kamu ya dek!" Adelia langsung melotot kearah adeknya yang sering kumat gilanya tanpa dia sangka-sangka.
" Apaan sih kak, syirik aja!" Umpat Ray sambil menutup mic didepannya dan langsung meminta homeband dibelakangnya untuk segera memulai.
" Semangat nak!" Mala langsung bersorak kepadanya.
" Emm... lagu ini, aku nyanyikan buat seseorang yang ada dibelakang sana." Ucap Ray sambil menunjuk kearah tempat duduk Hesti dan Hana.
" Uhuuuiii... piwwwwiiitttt!" Terdengar sorakan dari para tamu undangan lainnya.
" Ciih... sok romantis tuh bocah!" Umpat Ganesh yang langsung menoleh kearah panggung.
" Emang dia romantis kak, dia selalu bisa membuat orang disekelilingnya tersenyum bahagia." Jawab Adelia yang langsung membela adiknya.
" Heh.. aku bahkan bisa lebih romantis dari, sepuluh kali lipat!" Ganesh langsung merasa tidak terima.
" Kau bertanya dengan rasa ragu.. Seberapa besar cintaku padamu.. Akan selalu kujawab semua keraguanmu.. Kan kubuktikan semuanya padamu..."
Dengan merdunya Ray melantunkan lagu kesukaannya sambil memandang kearah tempat duduk Hana dan Hesti dari kejauhan.
" Nyanyi apa lagi dia?" Umpat Hana yang sebenarnya tersipu, wajahnya bahkan sudah terlihat memerah, karena dia fikir lagu itu untuknya.
Sedangkan Hesti yang mendengar umpatan Hana hanya bisa tersenyum saja tanpa berniat mau menolehnya.
" Tak perlu kau ragu lagi.. Cukup jalani dan rasakan.. oh oh my lady." Mata Ray sebenarnya memang terarah kepada Hana saat ini.
" Gimana mau jalani, kamu saja sudah salah paham." Umpat Hana perlahan yang semakin membuat Hesti menahan senyuman.
" Cukup kau di sampingku.. Sempurnakan langkahku.. Tuk menyusuri waktu.." Lanjut Ray kembali meneruskan lagunya.
" Cih... kamu saja sedari tadi tidak menyapaku?" Hana masih saja ngedumel sendiri dibelakang, seolah lagu itu memang sengaja ditujukan kepadanya.
" Cukup kau di sampingku.. Berjalan bersamaku.. Pastikan kau bahagia.."
" Terima kasih semua." Ray mengakhiri lagunya dan langsung turun dari panggung.
" Gimana mau bahagia kalau kayak gini terus?" Umpatnya Hana kembali, padahal sebenarnya hatinya sudah mulai ser-seran sedari Ray naik ke atas panggung tadi.
Setelah turun dari panggung Ray menyambar satu buket bunga yang tadi sudah dia siapkan dan berjalan kearah tempat duduk dua wanita cantik ini.
" Astaga... apa dia mendengar umpatanku? aduh.. kenapa dia berjalan kemari?" Hana jadi gelagapan sendiri, dia membetulkan gaunnya dan membetulkan high heelsnya, siapa tahu kotor atau apa? dan yang terakhir dia membetulkan poni rambutnya yang menjuntai sambil berdehem perlahan untuk menetralkan suara dan jantungnya.
" Hai... bagus nggak suaraku?" Ray membawa buket bunga itu didepan da da bidangnya.
" Bunga cantik, untuk wanita paling cantik."
Disaat tangan Hana ingin menjulur kedepan ternyata tangan Hesti lebih dulu menerima buket bunga itu.
" Terima kasih Ray, kamu sweet banget sih?" Hesti bahkan langsung mencium bunga itu dengan riang gembira.
" Eherm.." Hana langsung mengepalkan tangannya.
Malu? sudah pasti jangan ditanyakan lagi, banyak sumpah serapah yang ingin dia lontarkan kepada Ray, namun dia tak berdaya, masih baik tadi dia tidak langsung berdiri untuk menerima bunga itu, kalau enggak mungkin dia sudah pingsan karena menahan malu ditempat yang masih ramai tamu undangan itu.
" Kita foto dulu yuk?" Hesti langsung mengarahkan kamera depan kearah mereka, bahkan dia sengaja memperlebar jangkauan ponselnya agar Hana masuk didalam fotonya nanti.
Benar saja, wajah kesal Hana bahkan terlihat sangat jelas disana, membuat Ray semakin yakin bahwa sebenarnya Hana cemburu berat dengannya, wajah marahnya sungguh tidak bisa berbohong lagi.
I'm so sorry my Hana, habisnya kamu bandel sih, tahan ya? aku tambahin sedikit lagi dramanya biar tambah fanas suasananya, hehe...
Sedangkan Ray dan Hesti sudah bertos ria dibawah, sambil terus tersenyum layaknya pasangan yang sedang berbunga-bunga.
" Boleh lihat fotonya nggak?" Ray bahkan duduk lebih merapat kearah Hesti.
" Boleh dong, kamu ganteng banget Ray disini?" Hesti sengaja berbicara manja saat ini.
Aaarggghhh.. sial.. sial.. sial.. sial..sial!
Ingin sekali Hana berteriak sekuat mungkin disana, tapi dia hanya mampu memejamkan matanya saja, sambil menahan segala rasa, bahkan kedua tangannya terlihat bergetar sekarang.
" Kamu juga cantik banget, eeh... boleh nggak foto kamu aku kirimkan ke NASA?" Ucap Ray kembali memainkan aksinya.
" NASA? jauh banget ya kamu mainnya?" Ucap Hesti yang memang ahlinya dalam membalas dunia pergombalan.
" Ya biar semua orang tahu, ada yang lebih indah dari bintang-bintang, yaitu kamu." Ucap Ray dengan senyum termanisnya.
" Aaaaaaaa... so cute." Jawab Hesti sambil memukul perlahan da da Ray.
" Habis ini kamu mau kemana?" Tanya Ray kembali.
" Hmm... nggak kemana-mana sih?" Hesti terlihat memerankan perannya dengan apik.
" Emang bener ya, kalau jodoh itu nggak akan kemana."
" Owh... Ray aku jadi malu, eeh.. tapi kamu mirip ya?" Hesti tak mau kalah untuk membuat drama mereka semakin menggelegar.
" Mirip? mirip sama siapa?" Ray bahkan memiringkan wajahnya.
" Mirip sama orang yang nemenin aku di masa depan nanti."
" Hahaha.. bisa banget kamu ya? owh iya aku boleh ngelarang kamu nggak sih?" Ray kembali mengeluarkan semua jurus yang dia ingat.
" Ngelarang apa tuh?" Hesti bahkan tidak mau kalah menatap mata Ray.
" Kamu jangan sering-sering keluar malam?" Ucap Ray kembali.
" Emang kenapa?" Tanya Hesti balik.
" Soalnya entar tetangganya jadi bingung, masak ada pelangi keluar malam-malam."
" Eaaaaa... jadi ini mah!" Ray bahkan bersorak kegirangan.
" Owh jadi ya? kosong delapan!" Jawab Hesti yang semakin membuat dunia pergombalan semakin seru.
" Aaaaaaa... bisa banget kamu, ehh... kamu tau nggak make up artis itu singkatannya apa?"
" MUA." Jawab Hesti dengan mantap.
" Bisa ngomong itu dengan cepat?"
" Muah.. muah.."
" Eaaaaa... eaaaaa... hahaha...!"
Ternyata tidak sia-sia Ray kehilangan dua voucer makan dihotel berbintang, karena Hesti bisa kompak mengimbangi gombalannya, padahal tanpa latihan, sandiwara itu benar-benar terlihat seolah nyata tanpa rekayasa.
Kenapa rasanya begini? argghh... Ray, sakit tau Ray!
Sedangkan dibelakang, Hana sudah tidak tahan lagi menahan rasa sesak dida danya, kedua sudut matanya sudah mulai memanas, tangannya sedari tadi belum berhenti bergetar, sedangkan pria didepannya sama sekali tidak menolehnya, seakan tidak menggangapnya ada.
..." Cinta hanya sebuah kata, yang lebih penting dari pada kata cinta adalah bagaimana kita menjalani apa yang kita sebut dengan kata CINTA."...