
...Happy Reading...
Acara pertunanganpun telah usai, para tamu undangan juga sudah mulai meninggalkan kediaman rumah Hanami dengan senyuman yang terukir di wajah mereka, karena selain makanannya beragam dan rasanya lezat semua, mereka juga mendapat hiburan dari kedua calon suami istri itu.
Persatuan trio cendol dawetpun terlihat sudah berkumpul disuatu ruangan dengan ditambah Arka dan Hesti yang sudah menyusun puluhan rencana agar dia bisa pedekate lebih jauh lagi dengan duren yang ada disampingnya.
Astaga... senyumanmu itu loh Om, mengalahkan jejaka yang belum turun mesin.
Disaat yang lain sedang bersenda gurau dengan bertemakan kegilaan Ray dan Hana malam ini, namun kedua mata Hesti hanya tertuju dengan pria yang ada disampingnya sambil menopang dagunya.
" Hmm... tanpa mengurangi rasa hormat saya, sepertinya saya harus pamit pulang dulu, karena malam sudah semakin larut." Arka akhirnya bangkit berdiri dan mulai berpamitan.
" Terima kasih atas kedatangannya ya mas, hati-hati dijalan." Mala langsung ikut bangkit berdiri.
" Cepet banget langsung jawab kalau dia yang ngomong."
Entah sampai kapan Carlos akan terus cemburu dengan Arka, walau hak kepemilikan Mala sudah paten menjadi miliknya seorang.
" Iya dek Mala, terima kasih juga sudah mengundang saya, dan buat nak Ray, semoga segala urusannya dipermudah sampai hari H ya?" Jawab Arka dengan senyum manisnya.
" Dek? sejak kapan kamu jadi adeknya yank?" Umpat Carlos yang membuat semua warga trio cendol dawet tertawa saat melihatnya.
" Apaan sih dad, jangan kayak gitu kenapa? aku kan emang lebih muda darinya?" Bisik Mala ditelinga suaminya.
" Panggil aku sayang!" Umpat Carlos yang langsung tidak terima.
" Iya sayangku.. udah tua juga, malu sama yang masih muda-muda itu." Mala semakin malu dibuatnya.
" Hahahaha.. masih aja cembokur yah bapak dua anak ini." Ucap Raras yang langsung berkomentar.
" Sabar daddy mertua, karena mantanlah istri kita yang sekarang ada." Ganesh yang punya puluhan mantan langsung ikut nimbrung.
" Taulah yang punya banyak mantan." Entah kenapa Adelia jadi sensitif sekali saat mendengar kata mantan, bahkan dia langsung menggeser tempat duduknya menjauh dari suaminya.
" Astaga sayang, ternyata sifatmu menurun dari daddy kamu ya?" Ganesh langsung menarik kembali lengan Adelia agar mendekat lagi dengannya.
" Awas ihh... jangan pegang-pegang deh." Adelia langsung menarik kembali tangannya.
" Sayang... mantan itu guru yang mengajarkan indahnya terluka, yang mengubah kepompong menjadi kupu-kupu, yang secantik kamu." Ganesh langsung merangkul bahu istrinya dengan mesra.
" Cieeee..?" Mereka semua langsung menyoraki Ganesh saat mendengar kata bijaknya.
" Maaf ya mas... jangan didengerin celotehan mereka, jangan diambil hati ya mas, mereka pasti hanya bercanda saja." Mala langsung merasa tidak enak hati, takut kalau Arka tersingung, padahal dia sudah banyak membantu kesembuhan putranya.
" Tidak apa-apa Mala, semua sudah berlalu namun setidaknya kamu adalah orang yang pernah aku perjuangkan dan pernah aku sayang walau kini kamu hanyalah mantan." Jawab Arka dengan santainya, banyaknya masalah yang menghadangnya membuat dirinya berkepribadian setenang air namun terkadang bisa menghanyutkan.
" Ihiiiiiiirrrrrrrr..." Mereka langsung kembali bersorak.
" Benar kata orang, kalau mantan itu adalah jelmaan set@n." Carlos langsung melengos mendengarnya.
" Ayang, jangan ngomong begitu dong, kenapa sih dari dulu nggak pernah bisa legowo jadi orang, aku dengan mas Arka itu, bagaikan tali yang telah putus, walaupun disambungkan kembali tetap tidak akan bisa kembali utuh seperti sedia kala, karena sudah ada kamu yang memenuhi ruang disini nih." Mala langsung menunjuk dadaanya sendiri.
" Ngomong apa sih kamu yank, siapa yang mau dilepaskan?" Ganesh kembali dibuat terheran dengan istri kesayangannya.
" Mantan kak, MANTAN!" Umpat Adelia yang langsung memburuk moodnya.
" Kita juga pulang sekarang yuk? daripada suasananya semakin nggak enak, salah topik sepertinya malam ini." Ganesh langsung membawa tas milik Adelia.
" Nggak mau, aku mau pulang bareng daddy saja." Ucap Adelia yang langsung melengos.
" NO.. kita pulang kerumah baru kita saja." Ganesh langsung membopong tubuh istrinya yang semakin berat.
" Nggak mau, lepas!" Adelia langsung memberontak namun Ganesh tetap menggendongnya menuju mobil mereka.
" Hmm... sepertinya aku juga mau pulang saja, Om Arka, boleh nebeng nggak? aku takut naik taksi sendirian." Ucap Hesti yang pura-pura jadi gadis manja, padahal dini hari pun dia berani naik angkutan umum sendirian.
" Okey... kalau begitu kami permisi ya, jangan salah paham ya pak Carlos, aku dan Mala tidak akan mengulangi hubungan kami kembali, aku bahagia jika dia bahagia, dan aku adalah orang yang tidak ingin membuat dia terluka kembali, jadi jangan risau ya pak Carlos, permisi?" Ucap Arka yang langsung melangkah pergi dengan Hesti disampingnya.
" Ciihh... kenapa kata-katanya seolah tetap menyudutkanku?" Mau ngomong apapun Arka, tetap saja salah dimata Carlos.
" Tiga ronde malam ini." Bisik Mala yang langsung membuat Carlos tersenyum menatap wajah istrinya.
" SIAP... Kita langsung pulang sekarang." Carlos langsung merangkul pinggang istrinya.
" Dasar bapak sama anak menantu sama-sama mesvm!"
Mala hanya bisa menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah Ganesh dan suaminya, namun memang seperti itulah duri-duri mantan dalam sebuah hubungan, karena kita tidak akan pernah bisa melupakan sensasi mantan kecuali lupa ingatan, namun kaca spion disebuah kendaraan tetap harus ada, karena demi keselamatan setidaknya terkadang kita harus menoleh kebelakang walau sesaat, agar perjalanan kita selamat sampai tujuan.
" Kontrakan kamu masih ditempat yang sama kan Hes?" Tanya Arka sekilas saat mereka sudah didalam mobil.
" Kontrakan dan hati saya tidak mudah berpindah kelain tempat Om." Jawab Hesti dengan cepat.
" Heh?" Arka langsung melirik wajah Hesti sekilas.
" Hehe... kontrakan aku masih sama Om, karena itu yang paling dekat dengan tempat kerjaan." Dia kembali meralat ucapannya.
" Nggak papa nih, malam-malam begini aku nganterin kamu ke kontrakan, pemilik kontrakan kamu nggak galak kan?" Tanya Arka.
" Masih jam sembilan malam kok Om, ibu kontrakan juga paham, dia kan juga pernah muda, bahkan lebih dari jam dua belaspun boleh kok Om kalau ada cowok datang." Jawab Hesti yang membuat Arka menyipitkan kedua matanya.
" Owh ya? kontrakan kamu bebas ya?" Tanya Arka kembali.
" Iya, palingan cuma langsung dibawa kerumah pak RT, trus dinikahkan ditengah-tengah lapangan, apa om mau mencobanya?" Ledek Hesti sambil menahan tawa.
" Haduh... enggak deh." Arka langsung melambaikan satu tangannya, dia terlihat seperti orang yang ketakutan.
Hesti langsung terkekeh melihat ekspresi Arka yang terlihat menanggapinya secara serius, padahal dia cuma bercanda saja, walau memang dia pernah mendengar kisahnya, namun tidak tahu kebenarannya.
..."Rasa romantis memang fantastis dan bombastis, tapi juga cepat habis. Cuma cinta sejati yang bisa setia sampai mati."...
TO BE CONTINUE...