Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
24. Akhirnya


...Happy Reading...


Kasih sayang seorang ibu memang tiada batas dan terkadang hati seorang ibu lah yang lebih peka untuk bisa merasakan sumber kebahagiaan dari anak-anaknya.


Bukannya Mala tidak marah dengan kelakuan Ganesh, namun dia hanya mencoba untuk melihat sisi baik untuk putrinya saja, karena sepertinya Adelia memang belum bisa move on sepenuhnya dari Ganesh.


Dan yang pasti Ganesh adalah anak dari sahabatnya, yang dia kenal betul dengan seluk beluk keluarganya dari orang yang baik-baik, walau Mala kecewa dengan kelakuan Ganesh, namun dia percaya suatu saat nanti mereka pasti akan hidup bahagia. Karena tidak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan, hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya saja.


" Okey... perhatian semua!" Tiba-tiba Mala masuk kembali keruangan itu sambil menepukkan kedua tangannya di udara, hingga membuat semua orang menoleh kearahnya.


" Ada apa sayang?" Carlos langsung berjalan mendekat ke arah istrinya.


" Mumpung semua masih lengkap ada disini, selanjutnya kita langsung saja bahas soal rencana pernikahan." Ucap Mala kembali yang membuat semua orang disana lebih terkejut lagi.


" Uhuk... uhuk..." Bahkan orang setenang Simon pun bisa tersedak saat kebetulan dia sedang menyeruput kopi hitam miliknya.


" Hah? maksud aunty siapa yang menikah?" Ganesh yang merasa menjadi bintang utama dalam kasusnya ini, seolah mendapat seberkas cahaya terang dari kegelapan yang menimpa nasip malangnya.


" Ya kamulah, siapa lagi!" Jawab Mala dengan judes.


" Dengan siapa aunty?" Sungguh jantung hati Ganesh seolah sedang berpacu dengan kejamnya kehidupan.


" Pake acara nanya lagi, sama aunty! mau kamu!" Mala malah menunjuk dirinya sendiri namun dengan tatapan tajam seolah menusuk kalbu.


" HAH?" Ganesh bahkan sampai memundurkan kursinya, merasa takut sendiri, dia tiba-tiba menjadi sosok paranoid setelah berhubungan dengan istri orang.


" Enak saja kamu yank, don't play with me right! kamu cuma punyaku seorang!" Carlos langsung menarik lengan istrinya saat dia berkacak pinggang didepan Ganesh.


" Uluh... uluh... emess.. emess... ya jelas dong ay, kita satu untuk selamanya, okey!" Mala langsung memonyongkan bi birnya dengan Gemas saat melihat api cemburu yang memancar diwajah Carlos walau umurnya sudah berkepala lima.


" Trus aku jadinya nikah sama siapa aunty?" Tanya Ganesh yang kembali terlihat pasrah saja.


" Aku." Jawab Adelia dengan wajah datarnya, dia kembali duduk ditempat semula.


" APA? BENARKAH?" Wajah Ganesh sungguh tidak bisa berbohong, kalau saat itu dia sangat bahagia sekali, seolah aura wajah tampannya langsung terpancar begitu saja, saat barisan gigi putihnya terpampang nyata.


Hati yang lara seolah terobati, rindu yang bergejolak seolah ingin meledak, kekesalan dihatinya berubah menjadi kebahagiaan tiada tara.


" Kakak serius? apa kakak tidak menyesal nantinya?" Raymond langsung mengamati wajah kakaknya, dia jadi penasaran sendiri, apa yang mommynya bicarakan sehingga kakaknya langsung luluh begitu saja.


" Belum tau dek." Jawab Adelia tanpa menoleh sama sekali.


" Kok belum tau sih? jangan main-main kak, ini pernikahan, bukan sekedar pacaran yang dengan gampangnya putus lalu balikan?" Ray mencoba mengamati wajah kakaknya, namun tidak mendapatkan hasil apa-apa, karena dia hanya memasang wajah datarnya saja.


" Ya.. namanya menyesal kan dibelakang, kalau kita belum mencoba, gimana mau tau menyesal atau tidak?" Jawab Adelia dengan entengnya.


" Adelia, ngomongnya kok gitu sih? kayak terpaksa banget gitu?" Senyuman dari wajah Ganesh langsung menyurut setelah mendengar penuturan dari calon istrinya itu.


" Emang iya." Jawab Adelia dengan lirikan tajamnya dan berhasil membungkam mulut Ganesh dan seolah memberikan tamparan batu tepat diwajahnya.


" Nak Adelia, maaf tadi aunty hanya bertanya saja, jika kamu tidak bersedia, aunty tidak akan memaksamu nak, karena ini bukan salah kamu sayang?" Raras kembali merasa tidak enak hati, walau dia tetap berharap Adelia mau menerima putranya.


Namun Ganesh hanya berani protes didalam hati, dia hanya sedikit kecewa saja, namun terlepas dari apapun alasan Adelia dan Mala, dia tetap bahagia bisa menikah dengan gadis yang pertama kali meluluh lantahkan hatinya itu.


" Aku bersedia kok, jadi menantu aunty." Jawab Adelia yang tetap mencoba untuk tetap terlihat biasa saja.


Yes.. yes.. aaaaaaaa.. terima kasih Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak menghukumku terlalu pahit, Engkau memang maha baik, telah sudi mengembalikan Adelia kepadaku, Thanks a lot God.


Ingin rasanya Ganesh langsung bersujud syukur sekarang, namun gengsinya terlalu tinggi untuk dia tunjukkan kepada semua orang yang ada disana, tentang apa yang dia rasakan didalam hatinya.


" DENGAN SYARAT!" Teriak Mala yang langsung membuat hati Ganesh yang tadinya berbunga-bunga langsung kembali berkerut begitu saja.


" Apa aunty?" Ganesh kembali memasang wajah pilunya, seolah dialah yang paling tersiksa kali ini, walau memang kenyataannya iya.


" JANGAN PERNAH MENDUAKAN PUTRI AUNTY, PAHAM KAMU!" Mala langsung menegaskan kembali syarat yang dia pilih sendiri.


" Paham aunty." Jawab Ganesh dengan mantap, karena dia memang tidak pernah menduakan pasangannya, dia memutuskan pasangannya dulu baru ganti lagi selama ini.


" Kalau kamu sampai berani walau hanya mencoba saja, aku pastikan aset berharga milikmu tidak dapat kamu gunakan!" Teriak Mala dengan berapi-api.


" Hmm... maaf, instruksi sedikit boleh?" Simon langsung mengangkat tangannya, seolah mereka sedang mendengarkan ceramah klien pentingnya.


" Apa?" Tanya Mala dengan santainya, dia sudah merelakan gadisnya untuk putra gilanya, kalau sampai disakiti, dia yang akan maju ke garis perlawanan sebagai orang yang pertama.


" Maksudnya aset berharga apa ya? saham perusahaan milik Ganesh atau apa?" Tanya Simon dengan polosnya, karena itu juga akan menjadi tanggung jawabnya nanti pikirnya.


" Owh... bukan saham, maksud saya emm... ngomong nggak ya yank?" Mala malah tersenyum canggung kepada suaminya.


" Ngomong saja sayang, katakan saja secara terbuka, kita semua keluarga, pasti bisa saling menerima." Ucap Carlos yang memang selalu lurus pikirannya.


Sedangkan Shanum dan Raras langsung menahan senyuman, bukannya membantu menjawab tapi mereka seolah malah menantikan penjelasan dari Mala.


" Ras, Num... ngomong nggak?" Mala malah jadi nggak enak sendiri, tapi kalau tidak dijelaskan dia takut kalau mereka mengira aset berharga itu beneran saham perusahaan.


" Katakan saja aunty, aset berharga yang mana, aku yakin kok semua aset berharaga milik keluarga Anderson itu akan diberikan kepadaku, aku kan anak satu-satunya, jadi katakan saja jangan ragu aunty." Benar saja, Ganesh pun yang tadinya berfikir lain jadi ikut-ikutan lurus sekarang.


" Bukan aset berharga itu, tapi burung perkutut kamu itu, akan aku pastikan tidak bisa berfungsi dengan benar, kalau sampai kamu mendua, bukan soal harta, kamu kira keluarga aunty miskin apa!" Mala bahkan tidak segan-segan untuk menunjuk bagian milik Ganesh, karena mereka telah beranggapan lain.


" Mau coba aku eksekusi sekarang apa!" Mala langsung membunyikan jemari tangannya sampai berbunyi 'krek-krek'.


" Ampuuuun aunty, ampuuuun!" Ganesh pun tanpa sadar langsung mendekap burung perkutut miliknya, yang tanpa sayap juga tanpa kaki dan tanpa mata namun bisa melesat tepat pada sasaran.


" Pfffftttthhhh.. hahahaha."


Akhirnya semua yang ada disana bisa tertawa bahagia, terlebih lagi Raras dan Simon, mereka berdua bisa bernafas dengan lega, karena sudah mendapatkan gadis yang tepat untuk putranya dan mereka berharap satu persatu permasalahan bisa mereka selesaikan dengan baik nantinya.


... "Masih banyak masalah yang harus kita renungkan dan pecahkan daripada menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari, hanya untuk galau karena cinta."...


... "Mungkin hati seperti langit yang tak bisa diduga. Tak tahu kapan mendung dan hujan akan datang, tak tahu apa pelangi tengah menanti di balik gelap. Cinta pun demikian. Tak tahu kapan hati akan dihuni seseorang. Tak tahu apakah bahagia ataukah sedih kelak."...