
...Happy Reading...
Ganesh masih memeluk kedua kaki Adelia dan meletakkan kepalanya dipangkuan Adelia, bahkan sengaja mengungsel-ungselkan wajahnya dipangkuan Adelia, seolah sangat menyesali perbuatannya dulu.
Bisa juga dibilang karena dia memang kangen bermanjaan dengan Adelia, hanya wanita ini yang tidak terburu naf su saat berduaan dengannya, kalau barisan para mantannya dulu, baru merasakan hembusan nafasnya saja langsung diterkam habis-habisan, disosor sana sini sesuka hati.
" Lebay... lebay... lebay... lebay... wooiiii... lebay!"
Teriak Raymond sambil berkacak pinggang dibelakang mereka, walau sedang marah namun wajahnya malah terlihat imut, saat memakai kemeja berwarna pink polos itu, karena baju seragam batik keluarganya tadi tidak muat dilengan kokohnya, kalau dia paksakan takut sobek nantinya, jadi dia pasrah saja saat diberi baju kemeja berwarna pink oleh mommynya, yang pernah dia belikan untuk Carlos namun tidak pernah sekalipun disentuhnya.
Tadi dia sempat berebut baju batik milik daddynya, namun akhirnya Ray yang mengalah, karena sebagai orang tua harus menyambut tamu didepan, sedangkan waktu sangat mepet untuk minta yang lain lagi, dan dia juga tidak terlalu berperan penting menurutnya malam hari ini, jadi dia memilih untuk pasrah saja memakainya, karena mommynya bisa ngamuk jika dia memakai warna lain, selain warna pink yang memang tidak terlintas sedikitpun diotaknya untuk memakai warna tersebut.
" Apa sih Ray?" Adelia langsung mendorong tubuh Ganesh didepannya, yang membuat Ganesh hampir terjungkal karena kaget.
" Woah nggak nyangka loh kak, cepet banget kakak bucinnya? baru tadi kesal sekarang sudah manja-manjaan begitu? fiks... ANDA LEMAH!" Umpat Ray dengan mantap sambil menghujat kakaknya.
" Syirik aja kamu! dasar bocah!" Ganesh langsung mengibaskan kedua lututnya yang ternyata sedikit memar karena terlalu lama berjongkok didepan tubuh Adelia.
" Sudah aku bilang berapa kali, aku bukan bocah lagi ya! mau aku tunjukkan senjata api yang aku punya?" Umpat Ray yang merasa tidak terima dengan panggilan dari Ganesh.
" Males, aku tidak suka bermain senjata api, itu terlalu menyakitkan, apalagi api asmara, huuuh... atutt!" Ganesh sama sekali tidak menanggapi umpatan Ray dengan serius.
" Woaaah... kamu benar-benar menyebalkan, kenapa sih banyak pria tampan didunia ini, harus kamu yang menjadi kakak iparku!" Teriak Ray yang bertambah kesal karenanya.
" Ngomong apaan sih kamu dek!" Adelia langsung memotong perdebatan mereka dan pura-pura membetulkan baju kebayanya yang memang masih terlihat rapi.
" Jangan dengarkan dia, ayok kita kedepan, acaranya pasti sudah akan dimulai." Ganesh langsung menarik jemari Adelia dan menautkannya dengan erat, seolah tidak pernah terjadi masalah diantara mereka.
" Woaah...kalian benar-benar meremehkanku ya!" Raymond malah jadi kesal sendiri karena merasa diabaikan begitu saja, padahal di kantor dia begitu disegani dan di puja-puja, apalagi rekan polwannya, seolah ingin selalu mepet dan cari perhatian kepadanya.
" Pinky Boy, kamu tidak mau ikut kami kedepan?" Ledek Ganesh sambil menoleh kearah Ray, seolah dia sedang mengejeknya.
" Aiisshhh! ini semua gara-gara mommy, hilang sudah citra kewibawaanku, apa kata kak Hana tadi ya? pasti dia juga menertawakan aku didalam hati tadi." Ray baru sadar jika warna bajunya sangat mencolok jika terkena sorot lampu.
Akhirnya acara lamaran pun berlangsung dengan lancar, cincin berlian yang harganya fantastis itu sudah berada di jari manis Adelia, dia tidak kesusahan kalau hanya sekedar mencari perhiasan yang cantik dan limited edition, karena grandma nya sendiri punya toko perhiasan terbesar di kota itu.
Setelah acara penyematan cincin selesai, berlanjut ke acara foto keluarga besar dan sekarang waktunya acara makan-makan.
" Kamu mau makan apa yank, aku ambilin ya?" Dengan fasehnya Ganesh kembali memanggil dengan sebutan sayang, karena semua kesakitan dihatinya dan kesalah pahaman empat tahun lalu terjawab sudah sebelum acara lamaran tadi.
Dan itu seolah membuat rasa sayang kepada Adelia yang sempat terpendam muncul kembali ke permukaan, bahkan semakin bertambah berkali-kali lipat.
" Aku bisa ambil sendiri." Jawab Adelia yang memang tidak menolak juga dipanggil sayang jadi Ganesh pun keterusan, karena memang dia masih sangat menyayangi Adelia, wanita lain hanya sebagai pelampiasan rasa kesepian yang sudah menggerogoti hatinya.
" Jangan! biar aku ambilkan saja, nanti tangan kamu bisa kotor, nggak lihat apa, jari-jari ditanganmu jadi cantik begitu?" Ucap Ganesh dengan senyum manisnya, padahal dia hanya ingin pamer dan menyuruh Adelia melihat cincin yang dia sematkan tadi walau secara tidak langsung.
" Cih.. nggak ngaruh, orang bisa pake sendok kok." Jawab Adelia yang langsung berdecih ria saat mendengarnya.
" Aku sudah bilang belum tadi ya?" Ganesh sudah mulai berani menggoda Adelia sekarang, seolah Adelia sudah menjadi separuh dari kepemilikannya.
" Bilang apa?" Tanya Adelia sambil melihat-lihat menu makanan yang telah terhidang disana.
" Kamu cantik malam ini." Ucap Ganesh sambil melirik wajah Adelia yang entah mengapa langsung terlihat merona.
Serrr!
" Eherm... apaan sih kak!" Adelia pura-pura tetap memasang wajah datar, walau warna pipi dan degub jantungnya tidak bisa berbohong kalau dia sebenarnya tersipu malu saat itu.
" Apalagi kalau lagi cemberut kayak begitu, bikin jantung aku ser-seran!" Ucap Ganesh kembali, yang semakin membuat Adelia salah tingkah, karena sudah lama tidak ada pria yang menggombalinya setelah pria bertubuh kekar di restoran waktu itu.
Astaga, rasa apa ini? kenapa aku masih saja meleleh saat mendengar gombalan playboynya, tahan Adelia... tahan please!
" Nggak usah malu, besok malam kamu juga sudah sah jadi milikku." Ucap Ganesh yang terus berusaha menggempur benteng pertahanan milik Adelia.
" Buruan sini baksonya, aku sudah lapar." Jawab Adelia yang tidak mau meladeni gombalan-gombalan manis dari calon suaminya.
" Aku suapin ya, masih panas ini." Ganesh menarik tangan Adelia dengan tangan kanannya untuk mencari tempat duduk, sedangkan tangan kirinya membawa satu mangkok bakso berukuran jumbo.
" Nggak mau, aku mau makan sendiri." Adelia tetap menolaknya, namun Ganesh memindahkan kursinya menghadap tempat duduk Adelia, jadi dia tidak bisa menghindarinya lagi.
Sedangkan para tamu juga keluarga besar mereka berdua asyik menikmati hidangan dan mengobrol tentang persiapan pernikahan yang akan digelar besok malam di ballroom hotel milik keluarga Simon, karena dikota itu memang hotel keluarga Anderson Group yang paling mewah.
" Masak disuapin sama calon suami sendiri malu sih?" Ganesh bahkan mengunci kursi yang Adelia duduki dengan kedua kakinya, jadi Adelia tidak bisa berkutik lagi.
" Siapa yang malu, orang aku bisa makan sendiri kok!" Ucap Adelia yang malah merasa tidak nyaman, terlalu cepat menurutnya untuk bisa kembali mesra seperti saat mereka pacaran dulu.
" Masih panas ini sayang, sabar dong aku tiupin dulu." Ucap Ganesh dengan lembut, dia menarik mangkok baksonya saat Adelia ingin merebutnya.
Dengan telaten Ganesh meniup potongan bakso itu terlebih dahulu sebelum dia menyuapkan kedalam mulut Adelia perlahan.
" Gimana? enak nggak yank?" Senyum manis Ganesh benar-benar terpancar malam ini, seolah menyempurnakan ketampanan sang penerus satu-satunya Anderson Group.
" Enaklah, bakso buatan bibi memang juara, tidak ada tandingannya!" Ucap Adelia pura-pura acuh, bahkan karena terlalu grogi dengan perlakuan manis dari Ganesh, bahkan bakso itu seolah tidak memiliki rasa apapun, hanya asal dia kunyah dan telan saja.
" Benarkah?" Ganesh ikut mencobanya dengan sendok yang sama.
" Emmm... ini enak kok, banget malah." Ucap Ganesh kembali saat merasakan bakso itu.
" Kamu ambil sendiri dong kak, itu kan punyaku." Adelia ingin menarik kembali mangkoknya namun langsung direbut kembali oleh Ganesh.
" Nggak mau, aku mau makan semangkok berdua denganmu!" Ucap Ganesh sambil menjulurkan lidahnya.
" Kakak jorok ih!" Adelia masih merasa canggung seperti itu lagi.
" Ehh.. kamu tau nggak, bakso ini kayak kamu nanti loh, lihat ini ada isian bakso kecil-kecil didalamnya." Ganesh menunjukkan isi dalam bakso jumbo itu.
" Enak saja, jadi kakak mau ngatain aku gemuk gitu?" Adelia langsung melengos saat mendengarnya.
" Iya, emang bener kan?" Ledek Ganesh kembali sambil menahan tawanya saat bi bir Adelia sudah monyong kedepan.
" Kakak nyebelin ihh!" Adelia langsung memukul bahu Ganesh dengan kesal.
" Denger dulu sayang, bakso ini nanti kayak kamu yang akan melahirkan anak-anak kita nanti, dari situ loh." Ganesh menunjuk perut Adelia yang masih langsing itu.
Eaaaaaa... eaaaaaa...
" Apaan sih, kenapa sekarang jadi raja gombal begini? nggak usah lebay gitu kenapa kak!" Adelia malah seolah jadi risih sendiri dan itu membuat Ganesh meletakkan sendok dan mangkok yang dia bawa keatas meja.
" Sayang... aku telah belajar bahwa terkadang kata MAAF saja memang tidak cukup, tetapi sebenarnya aku harus mengubah diri sendiri, maka dari itu, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua dan membahagiakan dirimu Adelia." Ganesh mengenggam jemari Adelia dan meletakkan tepat didepan jantungnya.
" Saat aku melihat kamu lagi, aku bahkan dengan lancangnya berdoa agar kamu menemukan cara untuk memaafkan aku dan jalan yang membawa kamu kembali kepada aku. Aku merindukanmu dan aku membutuhkanmu dalam hidupku, sayang." Kedua mata Ganesh bahkan terlihat memerah, seolah dia benar-benar mencurahkan segala isi dihatinya.
Apalagi saat mendengar alasan dia memeluk Dimas saat itu, semakin membuat rasa penyesalannya bahkan menggunung setinggi-tingginya.
" Pepet teros, jangan kasih kolor! eeh... jangan kasih kendor maksudnya, haha.." Belum sempat Adelia menjawab, ternyata Raras sedari tadi sudah mengamati tingkah putranya, takut jika membuat ulah lagi, namun ternyata putranya sedang menggombali calon istrinya dengan mesra dan itu cukup membuatnya bahagia.
Dia bahkan mengusap da danya berulang kali, terlihat lega dan bersyukur jika mereka berdua bisa kembali seperti saat awal mereka berdua bersama dan Raras berharap semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja.
..."Lupakan pintu yang tertutup itu, dan fokuslah pada pintu yang terbuka atau kamu mungkin akan menyesalinya."...
..."Ada dua jenis rasa bersalah: jenis yang menenggelamkan kamu sampai kamu tidak berguna, dan jenis yang membakar jiwa kamu untuk mencapai tujuan."...