Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
80. Duda Mempesona


...Happy Reading...


Tak butuh waktu yang lama untuk Mala dan Carlos bersiap, karena mereka memang sudah bersih-bersih, tinggal ganti baju saja.


Mala dan Carlos langsung berpelukan dan bersyukur saat Adelia memberitahunya, kalau ada yang bisa membantu dalam penyembuhan Ray kali ini, namun mereka sengaja tidak memberitahukan dengan Ray terlebih dahulu, agar nanti dia tidak kecewa jika memang tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan atau ada kemungkinan lainnya.


" Hesti kamu ikut aja sekalian ya?" Adelia langsung mendekati sahabatnya.


" Pengen sih, tapi masak iya aku pakai baju jogging sih?" Walau dia sudah mandi tapi pakaian yang dia gunakan memang tidak nyambung.


" Jangan risau, kamu bisa pakai bajuku, yuk ikut aku ke kamar." Ajak Adelia dengan semangat.


" Tapi Del?"


" Ayoklah, sekalian kita jalan-jalan mumpung lagi libur!" Adelia memang sengaja memaksanya, agar nanti saat didalam mobil tidak canggung kalau cuma bertiga saja dengan Dimas pikirnya, karena mommy sama daddynya diantar sopir pakai mobil sendiri.


" Pemandangan disana cukup bagus Hes, masih asri, kamu pasti suka." Dimas ikut menimpali obrolan mereka.


" Benarkah? kalau begitu boleh deh." Jawab Hesti yang memang orang yang sedang kurang piknik.


Tak selang beberapa lama Hesti dan Adelia sudah turun dari kamarnya.


" Nak Dimas, kamu mau naik mobil aunty apa mobil Ganesh?" Tanya Mala dengan senyuman, entah mengapa adem saja saat melihat Dimas.


" Hmm... saya bawa mobil sendiri aunty." Jawab Dimas sambil menundukkan kepalanya.


" Benarkah? tapi masak kamu sendirian? bareng sama kami aja nggak papa Mas, kan ada Hesti juga." Ucap Adelia sambil melirik suaminya yang sudah melotot kearahnya.


" Nggak papa Del, aunty, aku sama ayah kok."


Degh!


Jantung Mala seolah langsung berhenti berdetak saat Dimas menyebut ayahnya, pikirannya langsung melayang, tubuhnya langsung meremang seketika.


Astaga mas Arka ikut juga? ya ampun... ada perang dunia lagi nggak ini nanti?


Semangat Mala langsung berkurang, yang tadinya full langsung merosot seketika.


" Dari sekian banyaknya makhluk di muka bumi ini, kenapa keluarga kita harus berurusan dengan yang namanya mantan sih?" Carlos langsung menggandeng pinggang istrinya dengan erat.


Mulai deh...


" Dimas!"


Tiba-tiba topik utama mereka langsung keluar dari mobil dengan gagahnya, kemeja yang pas di badan dengan bawahan celana jeans dan tidak lupa dengan kaca mata hitamnya.


" Ayah... ngapain sih harus turun dari mobil?"


Dimas sudah mendengar cerita, kalau ayahnya ternyata mantan kekasih mommynya Adelia, untuk itu dia sengaja menyuruh ayahnya agar menunggu di mobil agar tidak terjadi keributan, namun entah mengapa tiba-tiba malah turun dan mendekati mereka.


" Kenapa yah? kita sudah mau berangkat kok, ayok balik lagi ke mobil!" Dimas langsung bergegas mendekati ayahnya.


" Tadi waktu ayah mau muter mobil malah oleng, ternyata ban mobil belakang kita kempes nak." Ucap Arka dengan santainya namun tidak dengan Carlos yang seolah sudah seperti cacing kepanasan.


" Masak harus ke bengkel dulu, nanti kesorean nggak pulangnya?" Ucap Arka kembali.


" Atau mau pakai mobil kami saja, silahkan pilih di garasi?" Ucap Mala mencoba menawarkan.


" Maaf nona, tiga mobil yang lain kebetulan saya service semua tadi, dan masih belum selesai, tapi kalau mau menunggu biar saya suruh mereka mempercepat service salah satu mobilnya?" Ucap Sopir Carlos yang sudah stand by didepan pintu.


Astaga... cobaan apa lagi ini?


" Emm... kalau begitu, bareng kita aja sekalian mas, soalnya Ray kami tinggal sendirian dirumah." Ucap Mala dengan ragu.


" Owh... tentu ti.. tidak, ini semua kan demi Ray, lagian Dimas nanti ikut mobil kita juga ya nak?" Ucap Mala yang merasa terintimidasi oleh suaminya sendiri, karena sedari tadi dia melotot kearahnya.


" Kita naik taksi saja aunty." Ucap Dimas yang sudah bau-bau kecemburuan.


" Eh... jangan dong, kalian sudah banyak membantuku, tidak mungkin aku membiarkan kalian naik taksi." Mala langsung merasa terbebani karena keadaan.


" Memang muat aunty? depan ada pak sopir, trus nanti sampingnya ayah dan dibelakang bertiga? apa nyaman, perjalanan kita lumayan jauh loh?" Dimas melihat mobil sedan milik Carlos.


" Astaga, kenapa yang tersisa cuma mobil sedan sih?" Mala merutuki suasana yang seperti ini.


" Kalau begitu biar Dimas naik mobil kami saja, kakak bawa mobil sendiri kok." Adelia langsung memberi usul.


" Eherm!" Ganesh langsung berdehem ria.


" Kan ada Hesti juga nanti." Ucap Adelia yang sudah mengantisipasi.


" Kalau enggak Hesti naik mobil kita aja ya nak?" Mala tidak ingin terjadi suasana yang canggung nanti didalam mobil.


" Jangan, Hesti naik mobil kami aja mom." Adelia pun sama seperti Mala, yang merasa tidak nyaman jika hanya duduk bertiga saja didalam mobil, pasti suasananya jadi tidak asyik dan membosankan.


" Kenapa sih nak, kamu mau melihat daddy kamu perang dengan mantan?" Bisik Mala disamping telinga puterinya.


" Trus mommy juga mau melihat kak Ganesh uring-uringan sepanjang jalan dengan putri mommy ini? kak Ganesh itu menganggap Dimas seperti rivalnya sedari dulu." Bisik Adelia tak kalah panik.


" Argh... kenapa harus seperti ini sih?" Kepala Mala terasa mau pecah.


" Kenapa bukan ayahnya Dimas saja yang ikut mobil kita Del?" Ucap Hesti tiba-tiba.


Sedari tadi matanya tidak beralih dari sosok Arka si duda keren, bahkan semenjak Arka keluar dari mobilnya Hesti langsung terpesona, apalagi saat melihat senyumannya, walau tidak tertuju untuknya, namun seolah hatinya yang berbunga-bunga.


" Hah?" Adelia langsung melongo saat melihat wajah sahabatnya yang terlihat kesengsem dengan ayah Dimas.


" Keren banget ayahnya Dimas? senyumannya itu loh Del, bikin hati gw ser-seran, biar sudah om-om tapi pesonanya luar biasah." Hesti bahkan berulang kali mengusap da danya yang berdesir sedari tadi.


Pletak!


Adelia langsung menyentil kening sahabat gilanya itu, dia sungguh tidak menyangka, saat melihat Hesti sebegitunya saat melihat Arka.


" Jangan gila kamu Hes! dia seumuran bokap gw tauk." Adelia bahkan sampai menggeser tubuhnya ke arah Hesti.


" So what? ibarat buah itu, semakin tua semakin manis rasanya." Jawab Hesti dengan mantap.


" Makan apa sih elu tadi Hes?" Adelia kembali melongo dibuatnya.


" Baru kali ini hati gw jedak jeduk karena duda Del, sepertinya jodoh gw sudah otewe." Bisik Hesti kembali.


" Okey... ide yang bagus, om Arka naik mobil kita aja, Dimas naik mobil daddy." Ucap Ganesh dengan mantap.


" Cuuuuuussss berangkat!" Hesti langsung terlihat semangat empat lima.


" Woaaaahh... mimpi apaan nie orang, nggak mau sama anaknya saja kamu Hes?" Adelia seolah masih belum percaya dengan pendapat sahabat karibnya itu.


" Enggak, dia nggak ada sensasinya di hati gw, Del... jomblangin gw nanti ya?" Hesti langsung membenahi kuciran rambutnya yang sedikit berantakan.


" TERSERAH!" Umpat Adelia yang memilih langsung menaiki mobilnya, tidak memperdulikan wajah Hesti yang wajahnya sudah seperti anak ABG yang jatuh cinta pada pandangan pertama.


..." Tidak ada yang salah dengan cinta karena cinta itu tulus dari hati seseorang. Cinta itu buta, tidak memandang fisik, usia maupun harta."...


..."Jangan jadikan fisik satu-satunya yang membuatmu jatuh cinta, karena Cinta tidak mengenal paras, rupa maupun kekayaan dan untuk apa merealisasikan usia, sedangkan cinta itu lebih nyata adanya."...