
...Happy Reading...
Ada hari di mana kita harus berhenti sejenak dan menoleh ke belakang dan mensyukuri apa yang didapat di hari ini. Percayalah bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas hambanya.
Senyuman manis itu perlahan kembali kulihat, wajahnya bersinar terang bak rembulan yang menerangi kegelapan, dia berjalan perlahan kearahku melewati sebuah jembatan kecil karena aku berada disebrang sungai yang berarus deras namun berwarna jernih, bahkan terlihat banyak ikan dan karang dibawah sana.
" Kak Hana?" Aku merentangkan kedua tanganku untuk menyambutnya, rasa rinduku seolah sudah tidak tertahan lagi.
" Ray." Dia pun seolah tidak sabar ingin memelukku, dan dia terlihat mempercepat jalannya bahkan sedikit berlari.
" Hati-hati sayang... awas nanti kamu jatuh?" Aku langsung panik saat dia tidak mendengarkan ucapanku dan memilih terus berlari ke arahku.
" Ray... aku kangen kamu." Ucapnya dengan nada yang kencang tanpa melihat jalan yang dia lewati, dan ternyata ada batu kecil yang menghalangi jalan yang terlihat licin itu.
" Aaaaaaaa..." Teriak Kak Hana saat kakinya tergelincir dan seolah tubuhnya melayang jatuh di sungai itu.
" Kak Hanaaaaaaaaaaaaaaa!"
Aku ingin berusaha berlari menangkapnya, namun seolah kakiku mematung dan tidak dapat digerakkan sedikitpun dari tempatku berdiri.
" Ray... kamu sudah sadar nak?"
Sayup-sayup seperti terdengar suara mommy disana, namun semua masih terasa gelap seperti sebelumnya dan ternyata aku sadar itu semua hanya mimpi belaka, namun entah mengapa itu semua terlihat seperti nyata.
" Hana... hana... jangan pergi, jangan tinggalkan aku sayang!"
Aku terus memanggil nama kekasihku, rasa takutku kembali datang saat mengingatnya, walau tadi hanya mimpi, namun itu terasa sangat menyakitkan bagiku.
" Astaga ini bocah, baru juga sadar, ehh.. sudah Hana aja yang dicariin." Suara mommy terlihat sangat kesal, tapi aku bisa apa, dalam mimpiku kak Hana yang datang, jadi dialah yang aku cari, atau mungkin karena aku terlalu merindukannya.
" Sudahlah yank, masak iya kamu cemburu sama Hana?" Daddy mulai berkomentar.
" Aku merasa tidak terima, seolah seluruh otaknya itu hanya ada namanya saat ini, tapi anehnya nggak boleh diberitahu juga manusianya, entah apa maksudnya."
Mommy kembali menggerutu, namun aku biarkan saja, dia juga pernah muda, pasti pernah merasakan takutnya kehilangan orang yang paling kita sayangi.
" Biar aku panggil dokter dulu ya sayang, kamu tenangkan dia, mungkin dia sedang bermimpi tadi." Terdengar suara daddy yang selalu bisa memenangkan hati mommyku.
Tak lama kemudian terdengar suara beberapa orang yang masuk kedalam ruanganku.
" Mas Ray... gimana, apa ada keluhan? atau ada yang dirasa mengganjal di area mat@?" Tanya pria itu yang sudah pasti adalah dokter yang menanganiku.
" Tidak ada dokter."
" Apa kepalamu terasa pusing? atau bagian lain mungkin?" Lenganku mulai ditempelkan alat untuk mengecek tensi d@rah.
" Tidak juga, hanya badanku terasa sedikit lemas saja." Ucapku dengan jujur, karena memang tidak terasa sakit dibagian manapun.
" Lemas itu wajar, karena kamu sudah berpuasa dari pagi tadi, setelah makan pasti kamu akan kembali sehat, tensi d@rah kamu pun bagus dan semoga semua hasilnya juga bagus."
" Amin dokter." Semua yang berada diruangan itu terlihat meng'aminkan ucapan dokter yang merawatku.
" Sepertinya waktunya sudah tepat untuk kita membuka perbannya."
" Silahkan dokter."
" Mas Ray, kami hanya melakukan semampu kami, semua yang terbaik sudah kami usahakan, dan operasipun berjalan dengan lancar, namun jika misalnya nanti hasilnya tidak sempurna, itu bukan kehendak dari kami, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan." Ucap Dokter itu dengan hati-hati.
" Saya mengerti dokter."
Aku pun hanya bisa pasrah saja, karena mau protes juga tidak tahu dengan siapa, sedangkan Alloh masih menyayangiku dengan tidak mengambil nyawaku sampai detik ini.
" Iya dokter."
Akhirnya perlahan-lahan perban yang menutupi kedua mat@ku di buka satu demi satu, perasaanku jangan ditanya lagi, antara deg-degan, penasaran dan ketakutan, kalau nanti ternyata dunia masih tetap terlihat gelap dari pandanganku.
" Gimana mas?" Tanya dokter itu kembali.
" Dokter, mommy, daddy.. kenapa masih gelap, aku tidak bisa melih@t apapun saat ini, bagaimana ini? apa aku tidak akan bisa melih@t my Hana lagi mulai saat ini?" Dadaku terasa gemuruh, bahkan ini terasa lebih menakutkan dari yang sebelumnya, pikiranku langsung bercabang kemana-mana.
" Astaga Ray... Hana lagi, Hana lagi?" Mommy malah terdengar protes.
" Mas Ray... coba perlahan dibuka dulu mat@nya, pelan-pelan saja, jangan dipaksakan ya?"
" Belum apa-apa sudah panik dia, orang masih merem gimana nggak gelap coba?" Terdengar suara kak Adelia menggerutu diujung sana.
" Mungkin otaknya sudah terkontaminasi virus Hana, gila tu bocah, peletnya nyari di gua mana yak? kenapa bisa bikin Ray sampai bucin tingkat Dewa begini ya?" Suara siapa lagi yang selalu mengusik jiwa dan raga kalau bukan kakak iparku satu-satunya didunia ini.
" Nak... buka mat@nya perlahan ya?"
Sebelum membukanya aku menghirup nafas dalam-dalam terlebih dahulu, walau yang tercivm hanya bau obat dan bau ruangan khas rumah sakit, namun aku coba merasakan, untuk sedikit mengambil kekuatan agar bisa menerima kenyataan, tentang apapun hasilnya nanti.
Perlahan aku buka kedua mat@ku, samar-samar terlihat beberapa orang dihadapanku, walau masih belum begitu jelas namun dalam hatiku aku sangat bersyukur sekali, setidaknya aku tidak merasakan dunia ini gelap sepenuhnya.
" Coba kedipkan dulu kedua mat@nya mas Ray?" Perlahan aku coba kedipkan, dan lama kelamaan seseorang yang memakai jas putih itu mulai terlihat sedikit jelas raut wajahnya.
" Ray... ini berapa?" Mommy menaikkan kedua jarinya.
" Dua Mom." Ucapku dengan senyuman yang sudah lama aku tinggalkan.
" Alhamdulilah." Semua orang disana langsung mengucap syukur alhamdulilah atas semua nikmat dan rahmat yang telah Tuhan berikan kepadaku.
" Terima kasih Gusti, Engkau telah mengembalikan penglihatan putraku." Mommy langsung memelvkku dengan erat, isak tangisnya terdengar sangat jelas bahkan mungkin baju pasienku sudah basah dengan air mata beliau.
" Selamat nak, akhirnya kamu bisa kembali melihat indahnya dunia ini." Daddy pun langsung ikut memelvkku, akupun sudah bisa melihat air mata yang mengalir dari kedua sudut mat@ daddyku.
" Terima kasih dad, mom, terima kasih untuk semuanya, aku sayang kalian." Air mataku pun tak kuasa aku bendung, sedikit demi sedikit dia menetes di kedua pipiku.
" Selamat ya mas Ray." Setelah lama berpelukan, dokter itupun ikut tersenyum, karena telah berhasil menjalankan tugasnya dengan lancar dan berhasil.
" Terima kasih banyak dokter." Ucapku dengan rasa syukur yang teramat sangat.
" Sama-sama, jaga baik-baik ya, jangan terlalu lama didepan layar monitor atau layar ponsel terlebih dahulu, jika terasa perih saat terkena cahaya matahari langsung, gunakan kaca mata, jangan lupa cek kembali kesini dua hari lagi okey."
" Baik dokter."
" Kalau begitu saya tinggal dulu, kamu bisa pulang jika badan kamu sudah terasa lebih kuat."
" Iya dokter, sekali lagi terima kasih banyak atas segala bantuannya."
" Tentu, itu sudah tugas kami, kalau begitu saya permisi."
Dokter dan beberapa perawat itu keluar dari ruangan dengan senyum kepuas@n, aku yakin mereka pun ikut bahagia aku bisa melihat indahnya dunia ini kembali.
" Mommy aku mau segera pulang!"
Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantik kekasihku setelah sekian lamanya tidak bisa menatap wajahnya ketika cemberut, tampang kesalnya, apalagi senyuman manisnya, aku merindukan segala tentangnya.
Kadang-kadang kita mengisi pikiran kita dengan hal-hal negatif bahwa Allah tidak mendengarkan doa kita. Tetapi, yang tidak kita pahami adalah bahwa Dia selalu mendengarkan dan menjawab kita. Kita hanya perlu bersabar dan menjaga diri untuk selalu tetap positif. Kita harus memiliki keyakinan bahwa jika kita bersyukur, Allah akan membalas kita dengan hal-hal yang lebih baik.
TO BE CONTINUE...