Tiga Generasi Sultan

Tiga Generasi Sultan
128. Tak ingin pisah


...Happy Reading...


Hati Hesti semakin berbunga-bunga saat Arka seolah tidak mengizinkan dia menyebut pria lain di masa depannya kelak. Rasa sakit yang dia rasakan seolah melebur, berganti dengan rasa bahagia yang menyelimuti.


Karena ternyata Arka juga punya perasaan yang sama, walau mungkin perjalanan cinta mereka belum tentu mulus kedepannya, setidaknya gayung bersambut didalam kisah percintaannya kali ini.


" Om... seandainya kelak Om bukan jodohku, aku sudah bersyukur kok, karena setidaknya Om membalas perasaanku saat ini."


Hesti kembali menyandarkan kepalanya dibahu ranjang sambil memandang wajah Arka dari dekat.


" Kamu kok ngomongnya gitu? nggak yakin sama Om?" Arka paham apa yang merasuki pikiran Hesti, namun entah mengapa sekarang malah jadi dia sendiri yang merasa ketakutan saat jauh dari gadis ini.


" Memangnya Om yakin dengan hubungan kita? Om saja sepertinya ragu gitu kok?" Ledek Hesti sambil tersenyum miring.


" Om bukan ragu, Om hanya takut jika nanti malah mengecewakanmu."


Arka sadar diri, dia terlalu banyak kekurangan, apalagi dalam hal status, dia bahkan lebih cocok jadi pamannya atau bahkan ayahnya saat ini.


Memang banyak yang harus dia pertimbangkan, tapi saat kemarin dia dicuekin Hesti dan di blokir nomornya, hidupnya terasa hampa, jadi dia menyingkirkan fikiran negatifnya dulu.


" Tuh kan, ucapan om saja bikin aku nggak semangat, aku sama om itu kayak krupuk yang renyah dan garing." Hesti mulai menggunakan peribahasa yang dia buat sendiri.


" Apaan tuh?" Tanya Arka yang sebelumnya memang tidak pernah mendengarnya.


" Gampang patah dan rapuh." Jawab Hesti sambil melengos.


" Cih... kamu ini, bisa aja bikin perumpamaan." Arka langsung mengusap lengan Hesti.


Argh.. pria dewasa memang tahu cara membuat orang bahagia, jadi pen manja-manjaan terus hehe...


Entah mengapa Hesti begitu nyaman dekat dengan Arka, seakan sakitnya kali ini membawa berkah, untuk bisa dekat dengan sang pujaan hati.


" Kadang tuh... om sering bertanya-tanya sendiri, Why Om, Hes?" Tanya Arka sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih itu.


" Boleh aku nanya balik?" Hesti langsung menatap kedua mata Arka yang sedari tadi sering curi-curi pandangan kearahnya.


" Nanya apa?" Arka langsung membalas tatapannya kembali.


" Why not Om?"


Arka langsung tersenyum geli saat pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan, namun itu ternyata mampu membuatnya tersipu, ada saja ucapan yang selalu membuatnya kehabisan kata-kata jika berbicara dari hati ke hati dengan Hesti.


" Kadang tuh Om gemes banget liat kamu, rasa-rasanya pengen meluk erat gitu, tapi takut kamu salah paham." Arka selalu mencoba berhati-hati memperlakukan seorang wanita.


" Aku bahkan rela disalahkan, jika itu bisa membuat hati Om bahagia." Ucap Hesti tak kalah mempesona.


Woah... gadis ini, benar-benar mampu merubah duniaku.


" Jadi boleh peluk dikit nggak nih?" Arka seolah ingin menyalurkan rindunya yang menumpuk karena diabaikan Hesti beberapa hari yang lalu.


" Nggak!" Jawab Hesti cepat.


" Pelit banget... malam itu aja kamu meluk Om kenceng banget, sampai pagi lagi, sekarang sok jual mahal." Ucap Arka yang tetap tersenyum dengan semua jawaban Hesti, kejadian di restorannya hari itu memang selalu terngiang-ngiang dipikirannya.


" Nggak nolak maksudnya, hehe." Jawab Hesti yang langsung merentangkan kedua tangannya.


" Cih ... dasar anak nakal." Arka langsung menyambut dengan pelukan hangatnya dan mencivm rambut Hesti dengan mesra.


" Jangan lama-lama Om, aku belum keramas!" Jawab Hesti yang langsung nyengir kuda.


" Pantesan bau asem." Ledek Arka yang selalu kembali muda jika sudah berduaan dengan Hesti.


" Dih... nggak sampai segitunya kali." Hesti langsung protes, karena sebenarnya dia terharu dengan segala kelembutan Arka.


" Om cuma bercanda Hesti." Arka langsung mengacak rambut Hesti, ada saja tingkahnya yang selalu membuat suasana ceria.


Om Arka memang ter the best deh, jadi nggak rela dia pernah menyayangi dua wanita sebelum aku, apa dulu Om Arka juga memperlakukan mereka seperti ini ya?


" Dasar om nyebelin!" Hesti langsung memukul dadaa Arka dengan gemas sambil berperang batin dengan kenangan Arka yang tidak dia ketahui.


" Nggak papa nyebelin, tapi tolong buka dulu blokiran nomor Om ya? pusing kepala Om nggak bisa denger suara kamu, mana sini ponselnya, Om mau lihat." Arka mencari-cari ponsel Hesti disekelilingnya.


" Habis batre." Ucap Hesti yang langsung terkekeh.


" Om punya Charger banyak kok, sini om Cas dulu." Arka tetap tidak mau menyerah.


" Orangnya enggak di cas nih?" Hesti selalu punya cara untuk membuat Arka jadi salah tingkah.


" Hesti?" Wajahnya kembali bersemu, antara pengen, namun masih ragu dan bimbang.


" Hehehe.. bercanda juga Om, gitu aja takut, Om nggak mau ya serius sama perempuan lagi?" Pancingan demi pancingan Hesti gelontarkan saat mereka berada dijarak terdekat.


" Hmm... bukan begitu Hes, asal kamu tahu saja, antara manisnya syahadat dan dahsyatnya syafaat diantara hitungan tasbih, aku percaya, suatu saat nanti sujud ku dan sujud mu, akan bertemu di Amin yang sama."


Beerr!


Seolah angin dari pegunungan dan pantai selatan tertiup semua kearahnya, inilah yang dia sukai dari sosok Arka, selalu bersikap mengayomi apalagi dengan kata-kata bijaknya, sungguh sangat menentramkan hati.


" Om."


" Ya?"


" Kita udah jadian apa belom sih ini?" Hesti memberanikan diri untuk memegang jemari Arka.


" Menurutmu?" Arka memang tidak pandai menyusun kata seperti anak muda, namun dia menunjukkan kasih sayangnya lewat perhatian dan tindakan secara langsung.


" Belom sih, orang Om belum ada ngomong kok sama aku, tapi kenapa kita sudah pelukan begini, jangan-jangan Om menganggap aku ini anak Om lagi?" Hesti langsung melengos, pura-pura ngambek.


" Hehe.. Pengen aja, om kangen sama kamu, dari kemarin kan kamu cuekin om terus." Arka malah semakin mengeratkan pelukannya sambil menatap wajah Hesti dengan senyuman.


Cie... dia juga bisa kangen ternyata?


" Om... senyumnya boleh biasa aja nggak?" Otak Hesti langsung saja menjurus ke dunia pergombalan saat dia bahagia.


" Kenapa emangnya?" Dan Arka selalu menggangapnya seperti pertanyaan yang serius.


" Membekas dihati aku, nggak ilang-ilang." Hesti bahkan memegang ulu hatinya seolah menghayati peran, namun memang sudah jedak jeduk sedari tadi.


" Ahahaha... ini salah satu yang paling aku kangenin dari kamu, Om berasa kayak anak muda lagi." Jawab Arka dengan jujur, karena Hesti memang selalu menyelipkan kata gombalnya disetiap obrolannya ataupun dalam chatingan mereka.


" Om tetep terlihat keren di usia Om bagiku, bahkan mungkin sampai tua nanti."


" Benarkah?" Arka langsung menangkupkan kedua tangannya di pipi bakpo Hesti dengan gemas.


" Om boleh munduran dikit nggak?" Ucap Hesti kembali.


" Ada apa, kamu merasa tidak nyaman?" Arka langsung mengubah posisi duduknya sedikit mundur, takut kalau Hesti tidak nyaman dengan perlakuannya.


" Gantengnya kelewatan." Hesti bahkan berani menoel hidung mancung Arka.


" Hesti cukup, om jadi nggak kuat ini."


" Kenapa, emang aku berat ya Om?"


" Bukan begitu Hes, om cuma bingung harus jawab apa." Arka bahkan sampai mengusap wajahnya yang sudah memanas.


" Kirain om keberatan, padahal cintaku yang berat buat Om."


Cup


Bingung harus menjawab apa dan bingung juga harus mengekspresikan rasa gemasnya, akhirnya Arka mencivm pipi Hesti yang langsung merona.


" OM ARKA!"


Hesti langsung berteriak seolah tidak terima.


" Emm... maaf, Om sedikit khilaf tadi?" Arka langsung membungkam mulutnya sendiri.


" Mau lagi, yang kiri belom." Ucap Hesti yang sudah kegirangan saat mendapatkan civman perdana di pipinya dari sang idola.


" Astaga, Ya Tuhan... " Akhirnya hanya pelukan yang bisa menggambarkan betapa besar sayangnya Arka kepada Hesti.


Aku ingin sekali menjadikan dia makmumku saat ini, tolong mudahkan jalan bagi hambamu jika memang dia jodohku..


" Eh... tumben ibu nelpon ini?"


Disaat Hesti masih melancarkan ilmu pergombalannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia melepaskan pelukan Arka dan mengangkat panggilan telponnya.


" Iya... asalamu'alaikum buk?"


Hesti hanya diam saja, seolah menyimak apa yang ibunya bicarakan dari sebrang sana.


" Ya sudah... aku pulang besok, sekarang aku tutup ya buk, wasalamu'alaikum." Setelah beberapa saat dia langsung mengakhiri panggilan telponnya.


" Ada apa Hes? apa ada masalah dengan orang tuamu?" Tanya Arka yang terlihat khawatir.


" Enggak kok, cuma nyuruh aku pulang aja." Hesti langsung menyimpan kembali ponselnya.


" Kalau nggak ada masalah kenapa disuruh pulang? emang badan kamu sudah enakan?"


Arka kembali mengecek suhu badan Hesti dengan menempelkan tangannya kembali ke kening gadisnya itu.


" Entah, mungkin karena ada arisan keluarga besar." Jawab Hesti yang menduga-duga.


" Cuma arisan aja sampai disuruh pulang gitu?" Arka seolah kepo dengan dunia Hesti.


" Mungkin karena aku ingin dijodohkan dengan salah satu dari mereka." Hesti sengaja mengecek reaksi dari Arka.


" Ngomong apaan sih kamu!" Arka langsung menyentil bibiir Hesti dengan gemas.


" Beneran Om, sepupu-sepupu aku banyak yang masih jomblo, daripada dapet yang jauh dan nggak jelas kan mending sama sepupu gitu, karena memang bolehkan sepupu menjadi suamiku gitu?"


Benar saja, reaksi Arka langsung berubah, wajahnya menjadi sedikit tegang, dan itu mampu membuat Hesti bersorak riang gembira didalam hati.


" Kamu nggak boleh pulang, dokter masih menganjurkan kamu untuk banyak istirahat, biar aku yang menghubungi orang tua mu nanti." Jawab Arka dengan wajah yang langsung datar.


Uhuuuy... apa dia sedang cemburu?"


" Ibu pasti akan marah kalau aku nggak pulang Om."


" Biar Om yang menjelaskan, beliau kan hanya tidak tahu kalau kamu sedang sakit."


" Om tau nggak pedoman ibuku itu apa?"


" Apa emang?"


" Menikah itu nggak butuh cinta, orang nggak pakai cinta juga bisa punya anak kok, yang penting lampunya dimatiin saja, tinggal berkhayal doang suami kita wajahnya seperti apa, artis yang mana gitu, bebaslah." Ucap Hesti yang paling ahli memancing perkara.


" Hesti!" Arka langsung melotot tidak terima.


" Apa SAYANG?" Hesti malah terlihat menggoda Arka dengan panggilan sayang.


" Kalau sayang jangan pulang dong?" Arka kembali menarik Hesti kedalam pelukannya lagi, dia sungguh belum siap jika harus kehilangan Hesti sekarang.


" Lepas Om, aku tetep mau pulang!" Namun tangannya tetap memeluk perut Arka.


" Jangan tinggalin Om lagi Hes? om nggak mau jauh-jauh dari kamu, nanti kalau kamu sakit lagi siapa yang jagain kamu?"


" Ada ibu."


" Kan ibu kamu nggak disini, padahal tempat kerja kamu disini."


" Aku bawa kesini lah, kalau enggak ya temen aku banyak kok."


" Nggak usah kan ada Om."


" Emang om siapa aku coba?"


" Emm... siapa ya?"


" Tuhkan, pacar aku saja bukan, kenapa ngelarang-ngelarang aku pulang?" Padahal Hesti hanya ingin Arka mengucap bangga, kalau dia kekasihnya.


" Hesti?"


" Iya atau bukan? wanita itu butuh penjelasan, agar dia tetap rela meneruskan perjuangan walau mungkin pahit, hingga sampai ke pelaminan." Hesti kembali mendesaknya.


" Iya, kan nggak harus di proklamasikan juga kalau kita pacaran sekarang, Om terlalu tua untuk mengucapkan hal yang kayak begitu."


" Tapi om pasti akan membuktikannya, kita tunggu Dimas balik dari luar kota dulu ya?" Ucap Arka kembali.


Ya Tuhan, terima kasih engkau telah mempertemukan kami, semoga Engkau mempermudahkan jalan untuk kami, jika memang Om Arka adalah bagian dari takdirku.


" Jadi aku digantungin nih, uhh sakitnya?" Hesti kembali berulah.


Biarkan waktu memainkan perannya, aku dan kamu menjadi seperti apa, sedekat apa, sejauh apa, dan bagaimana kedepannya. Yang ku tau mendoakanmu adalah jalan terbaik untuk saat ini.


" Enggak, ini aku peluk kok."


Arka langsung kembali memeluk Hesti dengan erat, dia sudah mantap akan memperjuangkan Hesti kali ini, dia tidak mau nanti menyesal karena ragu.


" Kencengin Om, biar rasanya nggak ilang-ilang sampai besok pagi, hihi.." Ucap Hesti yang bahagianya sudah tidak terkira.


" Dasar... pacar yang nakal!"


" Ciee... yang udah punya pacar?" Hesti langsung meledek Arka saat dia sepertinya kelepasan berbicara. Dan akhirnya mereka berdua tertawa bersama.


... "Semesta pasti punya rencana, entah mendekat atau menjauh, usaha kita untuk tetap saling mendoakan meski tak lagi saling bersama, sudah menjadi usaha terbaik yang mampu kita lakukan."...


..."Karena mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia."...