
...Happy Reading...
Malam yang menyedihkan bagi Hesti pun telah berlalu, pagi ini dia bangun seperti biasanya, walau mata masih terasa lengket namun dia tetap bangun dan berjalan kearah kamar mandi dan melakukan kewajibannya sholat subuh.
Setelah selesai dia mulai menyeret kakinya kearah dapur mini di kosan, karena perutnya sudah mulai demo sedari bangun tidur tadi.
" Aih... cuma ada nasi sisa kemarin, sama mie instant doang, mana sayur sama telor juga nggak ada lagi, nasip anak kos?"
Hesti melihat bahan persediaan makanan miliknya, yang memang ala kadarnya, karena dia juga jarang masak makanan yang beragam kecuali yang instant.
" Mau buat nasi goreng nggak ada telor juga nggak enak, mau buat mie nggak ada sayur juga kurang seger, makan apa gue dong?" Akhirnya Hesti hanya bisa menggaruk kepalanya dengan rambut yang masih semrawut.
" Fuuh... menyesal gue nggak makan di acara tadi malam, laper sendiri kan jadinya gue, gara-gara si Duren itu sih, aku jadi tersiksa... hmm... pengen pulang kampung aja dah gue."
Entah mengapa dia tiba-tiba rindu dengan ibunya dikampung, apalagi mengingat masakan ibunya, walau dengan sayur seadanya hasil dari kebun sendiri namun terasa nikmat dan enak sekali rasanya.
" Sarapan di kantin sajalah!" Akhirnya Hesti bergegas mandi dan berniat sarapan di tempat kerja saja.
Hesti sengaja berangkat lebih awal, dia mau nyantai sambil menikmati sarapannya di kantin. Namun saat dia sampai disana matanya terarah kepada seorang pria yang tengah duduk sambil ngobrol berdua dengan sahabatnya.
" Dimas? kamu sudah pulang?" Hesti terkejut melihat pria itu sepagi ini sudah berada disana, karena memang tempat makan itu dipinggir jalan, jadi memang banyak orang luar juga yang sering singgah disana.
" Iya... aku baru saja pulang, trus nggak sengaja lewat sini, sekalian saja mau mampir makan, eeh... ternyata Adelia sudah nongkrong disini." Jawab Dimas dengan senyuman manis apalagi ditambah kumis tipis-tipis.
" Eh Bumil... dirumah elu nggak dimasakin apa? harus makan makanan yang sehat loh Del, kasian orokmu itu kalau makan sembarangan." Hesti langsung nerocos seperti biasa.
" Aku pengen banget minum susu jahe disini Hes, dari tadi malam kepikiran terus, jadi aku datang ke kesini pagi-pagi tadi." Jawab Adelia sambil mengusap-usap perutnya.
" Ya ampun, nyidam kamu ternyata, gue jadi penasaran sama hasil karya kalian nanti." Ucap Hesti yang langsung duduk disamping Adelia dan berhadapan dengan Dimas.
" Kamu mau pesen apa Hes? skalian aja aku pesenin, aku juga baru datang kok." Tanya Dimas dengan lembut, ternyata dia juga sama perhatiannya dengan ayahnya.
Dia manis sih, ganteng juga, baik juga ternyata, tapi... kenapa aku biasa-biasa saja ngelihatnya, beda kalau lihat bapaknya, kayak ada sengatan listrik gitu yang nyambar di ulu hati, argh... apa aku harus melupakannya saja?
Hesti malah mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela nafasnya berulang kali.
" Kamu kenapa Hes? ada masalah?" Dimas memperhatikan gerak-gerik Hesti yang terlihat gusar.
" Cerita dong Hes, dari tadi malam tuh kamu kayak beda gitu, sensitif banget, ada masalah kamu sama Om Arka?" Dengan lancarnya Adelia menyebut nama Arka disana.
" Om Arka? maksudnya ayahku?" Dimas langsung memicingkan kedua matanya, dia malah jadi kaget sendiri, kenapa nama ayahnya dibawa-bawa sampai sini pikirnya.
" Sudahlah... tidak ada yang serius, hanya sedikit salah paham saja tadi malam, lupakan!" Hesti pun tidak ingin Dimas bertanya-tanya tentang hubungan mereka, karena Hesti sendiripun tidak tahu kelanjutan kisah mereka setelah perdebatan mereka tadi malam.
" Masak sih... tapi kayaknya serius deh? orang Om Arka sampai... hmpt!" Dengan cepat Hesti menyuapkan roti berselai strawbery yang ada dimeja itu kemulut Adelia.
" Ibu Hamil nggak boleh terlalu kepo, nggak baik buat pertumbuhan anak." Jawab Hesti dengan cepat.
" Emm... kalau begitu biar aku pesankan nasi goreng mau Hes?" Dimas mencoba mencairkan suasana disana, agar tidak terlalu tegang.
" Boleh deh, nasi goreng seafood ya?" Ucap Hesti dengan sedikit senyuman.
" Siap mbaknya." Jawab Dimas yang langsung beranjak pergi dari sana.
" Coba kamu nurut sama gue, pacarin anaknya jangan deketin bapaknya, pasti nggak akan seribet itu Hesti!" Adelia kembali angkat suara, karena dia yakin mereka berdua pasti sedang bertengkar walau temanya apa dia tidak tahu.
" Sok tahu kamu!" Hesti langsung ikut mengusap perut Adelia yang sudah mulai terlihat.
" Emang gue tahu, trus tadi malam kamu jadi pulang sendiri atau dianterin sama Om Arka?"
" Mau tau aja kamu." Hesti membuang pandangan ke sembarang arah saat mengingat kejadian malam tadi.
" Soalnya Om Arka juga langsung pamit pulang, kirain ngejar kamu, ternyata enggak ya? uluh.. uluh.. kaciannya sahabatku ini dianggurin." Adelia langsung meledek sahabatnya yang langsung melotot itu.
" Baik-baik kamu kalau ngomong, tuh orok denger, entar wajahnya mirip sama aku baru tahu rasa kamu!" Cibir Hesti dengan kesal.
" Dih... enak saja kamu kalau ngomong ya, aku yang kerja keras tiap malam kok, ya nggak bakalan lah dia mirip kamu!" Adelia langsung tidak terima.
" Hesti?"
Disela-sela perdebatan mereka berdua, akhirnya kembali terdengar suara pria yang baru saja menjadi topik pembicaraan diantara mereka.
" Om Arka?" Ucap Mereka berdua bersamaan.
" Ternyata kamu sudah berangkat kerja ya? ponsel kamu kenapa nggak aktif sih? om tadi ke Kosan nyariin kamu, ternyata kamu sudah disini." Ucap Arka yang terlihat sedikit ngos-ngosan karena sedari tadi dia lari-lari mencari Hesti sampai kesini.
" Emang ngapain ayah nyariin Hesti? ayah bahkan punya nomor ponselnya Hesti juga?"
Ternyata Dimas sudah berdiri dibelakang ayahnya dengan membawa dua nasi goreng seafood ditangannya.
Huft... drama apa lagi setelah ini? aku sedang malas berdebat dengan siapapun.
" Aku tiba-tiba kenyang, buat Adelia saja nasi gorengnya Mas." Hesti langsung beranjak berdiri.
" Makan nasi gorengnya ya Del, seafood bangus untuk perkembangan otak bayi, gue masuk ke dalam duluan." Ucap Hesti kembali, sambil melenggang pergi meninggalkan mereka disana.
Dan Arka pun tidak berani berkutik maupun mencegah Hesti pergi karena ada Dimas disana.
" Ayah sebenarnya ngapain nyari Hesti?" Dimas masih penasaran dengan aoa yang terjadi dengan mereka berdua.
" Trus kamu ngapain disini? kapan kamu pulang Diklat? kenapa sudah nongkrong disini aja, kenapa nggak langsung pulang?" Arka malah balik nanya, dia juga terkejut melihat putranya disini, padahal tadi saat berangkat kemari, dirumah cuma ada dia dan asisten rumah tangga saja.
" Aku cuma mampir mau sarapan aja kok, kami memang sering sarapan disini ya kan Del?" Dimas seolah meminta pembelaan kepada sahabatnya.
" Iya.. emang kenapa? kami memang sering sarapan bertiga disini, kenapa? ayah keberatan?" Tanya Dimas yang terlihat berubah raut wajahnya.
Waduh... si Hesti ini benar-benar ya, mau cari amannya sendiri, ada apa sebenarnya dengan mereka bertiga sih?
" Maaf Om dan Dimas, sepertinya saya harus masuk ke dalam juga, ada pasien yang tiba-tiba datang pagi-pagi minta konsultasi."
Adelia yang tidak tahu duduk permasalahan mereka memilih ikut pergi kabur dari sana, dari pada kena nanti kena dampaknya mending menghindar saja pikirnya, padahal belum ada pasien datang jam segini.
" Ckk... mereka berdua jadi kabur semua gara-gara ayah, nih... makan saja nasi gorengnya buat sarapan, dari pada kebuang mubadzir nantinya." Dimas langsung menyodorkan nasi goreng satunya lagi yang dia bawa kehadapan ayahnya.
" Emang ini nasi gorengnya siapa tadi?" Arka akhirnya menarik kursi dan duduk disana.
" Punya Hesti sebenarnya tadi, tapi ya sudahlah, dia malas sepertinya melihat ayah." Dimas langsung menyuapkan nasi goreng ke mulutnya dengan kesal, padahal dia sudah rindu bercanda bersama dua wanita itu, karena hanya mereka yang bisa membuatnya sering tertawa kalau sedang ngobrol bertiga.
" Owh punya Hesti, dia memang suka nasi goreng seafood sih, tapi bakso sama sosisnya nggak ada ini, sayurnya juga kurang." Arka langsung tersenyum saat mengingat kejadian di restorannya malam itu.
" Kok ayah tau banyak tentang Hesti, sebenarnya apa hubungan ayah dengan Hesti? bukannya kalian baru saja kenal? malahan aku lebih dulu mengenalnya ketimbang ayah bukan?" Dimas langsung membombardir pertanyaan kepada ayahnya, saat dia tersenyum menatap nasi goreng dihadapannya itu.
Apa aku harus bilang ya? marah nggak kira-kira Dimas kalau tahu kami dekat akhir-akhir ini?
" Emm... gimana Diklatmu, lancar? katanya kamu sempat mengajar juga di SMA favorit di kota itu ya? jangan terlalu di forsir tenaganya, jadi dosen kan sudah capek, tetep harus banyak-banyak istirahat, nanti kamu bisa gampang sakit kalau kelelahan." Nasehat dan kekhawatiran seorang ayah langsung mengalir disana.
" Ada hubungan apa ayah dengan Hesti? kalian pacaran?"
Dimas langsung menebak asal saja, karena tidak biasanya ayahnya itu menyembunyikan sesuatu dengannya, apalagi sampai mengalihkan topik pembicaraannya seperti ini, walau mereka jarang bertemu namun komunikasi mereka biasanya tetap baik, selalu berkabar dan saling bercerita.
" Dimas... kalau menurut kamu Hesti itu orangnya seperti apa?"
Arka masih saja berkelit dengan pertanyaan anaknya, dia sengaja memutarkan topik mereka skalian mengulik bagaimana pendapat putranya tentang sosok Hesti.
" Aku nggak setuju kalau ayah mau nikah lagi."
Duar!
Baru saja mencoba memancing, namun seolah semua harapan yang baru saja muncul langsung di skakmat oleh ucapan putranya barusan.
" Kenapa?" Tanya Arka dengan nada yang lemah.
" Apa ayah berniat untuk menikah lagi?" Semua pertanyaan dari Dimas seolah sulit dijawab oleh Arka, dia merasa serba salah.
Namun yang pasti, Arka tidak ingin hubungan dengan putranya merenggang hanya karena masalah orang luar, karena Dimas adalah harta yang paling berharga untuknya, walau Hesti sering terngiang-ngiang dipikirannya.
" Fuuuh." Arka hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, walau sebenarnya dia sudah menduga kalau Dimas tidak akan setuju kalau dia menikah lagi.
Namun sepertinya Hesti menginginkan hubungan yang serius dengannya, dan sedari dulu Arka pun tidak pernah mau menjalin hubungan tanpa tujuan, bahkan saat dengan Mala dulu sekalipun, berulang kali Arka mengajak Mala untuk menuju kearah hubungan yang serius, namun Mala masih belum mau dan terus saja menundanya sampai akhirnya terjadilah apa yang tidak mereka inginkan.
" Faisal Dimas... memang apa salahnya jika seseorang ingin menikah? bukannya lebih baik menikah daripada tanpa sengaja kita nanti berbuat sesuatu hal yang melanggar perintah agama?"
Semalaman penuh Arka tidak bisa tidur, setelah perdebatannya dengan Hesti, apalagi ponsel Hesti tidak bisa dihubungi, tadi malam saat Hesti berpamitan sebenarnya Arka juga langsung ikut berpamitan, namun Raymond menahannya sejenak karena dia menceritakan tentang keadaan Samantha yang sekarang tinggal dirumahnya. Dan itu membuat Arka kehilangan jejak Hesti malam tadi karena dia sudah pulang duluan.
Bahkan disaat sepertiga malam dia sengaja bersujud dan meminta petunjuk kepada yang di-Atas agar diberikan ketenangan hati dari segala kegelisahan dirinya perihal seorang wanita.
Karena tidak ada tempat curhat yang paling baik selain pada sang Pencipta, yang menguasai alam semesta dan hati manusia.
" Tapi kenapa harus Hesti?" Tanya Dimas kembali.
Degh!
Astaga... ? atau putraku juga punya perasaan yang sama dengan Hesti?
" Kenapa memangnya nak? apa Hesti tidak baik?" Arka kembali mengulik sisi lain dari putranya.
" Ya... karena, emm... ayah kan sudah umur berapa sekarang? kenapa harus memikirkan pernikahan lagi? apa ayah sudah melupakan ibuku begitu saja." Dimas seolah kebingungan mau memberikan alasan apa, namun yang pasti dia menolaknya.
" Tapi kan Mas?"
" Tidak ada kata tapi-tapian! aku sudah kenyang, aku mau langsung pulang saja!" Dimas langsung menenteng ransel yang dia bawa dan beranjak pergi dari sana.
" Tunggu Mas, ayah tadi bawa mobil kok, bareng sama ayah saja pulangnya." Cegah Arka, namun sepertinya Dimas ingin sendiri.
" NGGAK!" Teriak Dimas sambil berlalu begitu saja dari sana.
" Haduh... masalah ngambeknya Hesti saja belum kelar, tambah lagi Dimas yang nggak setuju?" Wajah Arka semakin pias, bingung harus bagaimana, dua-duanya adalah penyemangat hidup dalam kesehariannya.
" Ckk... aku harus bagaimana ini? sepertinya Dimas juga tertarik pada wanita yang sama, tapi kenapa dia nggak bilang sedari dulu? argh... dia memang benar-benar anakku!"
Arka kembali duduk dan menyandarkan kepalanya di kursi kantin, pikirannya semakin kacau saja, dia sengaja mencari Hesti pagi-pagi untuk berdamai, karena saat terbangun dari tidurnya, ada yang membuat dirinya terasa hampa, ternyata karena tidak ada satupun pesan dari Hesti.
Akhir-akhir ini, saat bangun pagi Arka tidak lagi dibangunkan oleh Alarm, tapi oleh voice note dari Hesti yang selalu membuatnya tersenyum, bahkan walau hanya sekedar chat saja, hatinya bisa jadi ser-seran karena kata-kata gombalan dari Hesti disela-sela kegiatan rutinitasnya, dan hari ini dia merasa kehilangan walau hanya satu malam.
Jadi pagi tadi setelah dia sholat subuh dan terlelap sejenak, dia langsung bangun dan teringat dengan Hesti, tiba-tiba rasa rindunya muncul dengan menggebu.
Saat datang kerumahnya, ternyata kata ibu kosnya dia sudah berangkat kerja, untung saja ibu kos itu berbaik hati, mau memberitahukan alamat tempat kerja Hesti.
Mungkin hati seperti langit yang tak bisa diduga. Tak tahu kapan mendung dan hujan akan datang, tak tahu apa pelangi tengah menanti di balik gelap. Cinta pun demikian. Tak tahu kapan hati akan dihuni seseorang. Tak tahu apakah bahagia ataukah sedih kelak.
..."Tetaplah menjadi kuat karena hidup tidak berakhir hanya karena kegagalan, kekecewaan, dan bahkan dibatalkan oleh seseorang."...
Jangan lupa tinggalkan Vote kalian ya sob...🥰