
setelah kejadian di rooftop kemarin kini Melvin memutuskan untuk menemui nayya dan sekarang ia sudah berada di ruang tamu mansion Abraham
"mau apa Lo?" sewot queen yang memang sudah tau apa yang terjadi diantara melvin dan kakaknya
"mau bertemu dengan nayya" jawab Melvin seraya meminum jus yang disuguhkan oleh maid
"kak nayya gak ada" jawab queen malas
"kemana? gakusah boong!"
"emang gak ada kok!!"
"kalo dia gak ada di sini terus dimana dia?"
"kak nayya emang gak ada kak" seru Lina yang baru saja keluar dari lift
"kemana?"
"maaf tapi kak nayya gak bolehin kita kasih tau siapa pun"
Melvin paham ia tak akan memaksa Lina atau queen untuk memberi tau kan keberadaan nayya padanya, karena ia pikir mungkin nayya sedang butuh waktu menyendiri untuk saat ini
setalah itu Melvin memutuskan untuk pamit pulang
...----------------...
sedangkan di ruangan dengan pencahayaan yang sangat sedikit seorang gadis berseringai
"baru saja aku melakukan sedikit gerakan, dia sudah membelaku"
gumam gadis tersebut
"hah.. aku yang terlalu genius atau memang dia yang terlalu bodoh!" lanjutnya
...----------------...
Regan dan Reyhan kini sedang berada disekolah,mereka memutuskan untuk mulai masuk sekolah karena ujian akhir semester sudah dekat
"sekolah gak seru gak ada Reno" gumam Reyhan yang masih terdengar oleh Regan
"queen sama kak Lina juga, kapan sih mereka bakalan masuk" lanjutnya seraya memakan bakso miliknya
"udah gakusah banyak dipikirin makan aja itu yang bener bentar lagi bel masuk" ucap Regan
...----------------...
malam pun tiba, malam ini Lina dan queen akan pergi menyusul nayya atas perintah kakak nya tersebut
"ayo kak aku kangen sama kak nayya" ucap queen dengan sedikit membentak seraya menarik tangan Lina
"sabar dong isshh nyebelin sakit nih" ujar Lina dengan menghempaskan cekalan tangan queen
"lebay njir padahal gua perasaan pelan pelan nariknya" gumam queen yang masih dapat Lina dengar, dengan kesal Lina menjitak kepala adiknya, dasar adik kurang ajar batin Lina
"Berangkat~ om Ben" ajak queen dengan penuh semangat pada Ben, orang kepercayaan nayya
"dia masih 23 tahun kasian tuh liat mukanya, gamau tuh dia dipanggil Om sama kamu" ucap Lina seraya cekikikan melihat raut wajah mereka berdua
"tidak apa nona" ucap Ben dengan wajah tak enak, memang benar ia tak terima di panggil om oleh queen namun ia tak apa apa orang queen adik dari bos nya
skip
sampai lah mereka di sebuah mansion yang cukup megah dengan warna hitam mendominasi
"wahhhh gede banget gak kalah gede sama mansion ayah ya kak" kagum queen saat masuk ke dalam Mansion tersebut
"nona silahkan kalian duduk terlebih dahulu, saya akan menyuruh maid untuk menyiapkan camilan" ucap Ben lalu melenggang pergi
beberapa menit kemudian tiga maid datang dengan masing masing membawa nampan penuh dengan makanan dan minuman
"silahkan nona" ucap salah satu maid mewakili kedua maid lainnya seraya tersenyum sebelum akhirnya pergi
"emmm ewnak bwangwet nwih pwuding" ucap queen tak jelas karena mulut nya penuh dengan puding jeruk yang ia pegang
"makan yang bener" nasehat Lina dengan meminum jus mangga
Tap
Tap
Tap
terdengar suara langkah kaki dari arah tangga dan terlihat lah nayya dengan menggunakan hotpants yang hampir tak terlihat karena kaos hitam oversize nya
"belom!, udah tau ada di sini berarti udah sampe dong" sewot queen dengan wajah kesal, lucu sekali kakak datar nya ini menanyakan hal yang sudah jelas tak perlu di pertanyakan
"kakak kan hanya basa basi Reva!" bukan nayya yang membalas ucapan queen melainkan Lina
"Hahaha" tawa itu membuat Lina dan queen mengalihkan pandangannya pada nayya yang sedang tertawa kecil
"ka-kakak" gumam queen dengan tampang tak percaya melihat sang kakak tertawa, seketika nayya menghentikan tawa nya karena malu terhadap kedua adiknya yang menatap wajah nya tanpa berkedip
"sudah kalian ini apa sih" ujar nayya membuyarkan lamunan Lina dan queen
"kalian akan tinggal di sini dulu karena musuh kita sedang mengincar kalian" lanjut nya dengan raut datar
"iya kak tapi gimana sekolah kita?" tanya Lina
"akan kakak urus" jawab Lina seraya memakan brownis coklat favoritnya
"oke deh lagian kita percaya kakak, apapun yang kakak lakukan untuk kita pasti itu yang terbaik" ucap Lina dengan senyum manis kepada sang kakak
nayya beranjak mendekati Lina lalu menarik tangan sang adik agar berdiri, dan hap nayya memeluk Lina
"kakak sayang kalian lebih dari apapun" gumam nayya dan Lina membalas pelukan sang kakak
"dih apaan emang adik kakak cuma kak Lina, aku gak dianggep tega banget ih sebel!!" sewot queen tak terima, mengapa nayya memeluk Lina saja tidak dengan nya
nayya dan Lina yang melihat adiknya cemberut dengan bersidekap dada hanya terkekeh gemas,Lina menarik tangan queen agar ia dapat bergabung kedalam pelukan hangat kakaknya
"jangan gitu lagi makin jelek muka kamu" ucap nayya yang masih memeluk kedua adiknya dengan penuh sayang
"ishh paan sih" dengus queen
moment seperti ini lah yang mereka suka, biarpun nayya dingin dan terlihat acuh pada mereka
namun, nayya lah yang sangat peduli pada mereka bahkan ia rela mempertaruhkan nyawa untuk kedua adiknya batin Lina dan queen terhadap sosok kakaknya
Itali
"aku sangat bahagia melihat mereka seperti itu, anak sulung kita membuat kedua adiknya selalu dalam keadaan aman walaupun kita tak selalu berada di sisi mereka" ucap Anita dengan wajah terharu melihat video yang dikirim oleh bawahan Fredick yang ditaruh di mansion milik nayya
"aku pun bangga dengan mereka bertiga yang sanggup berdiri tanpa bantuan dari kita berdua" ucap Fredick seraya merengkuh pinggang ramping sang istri penuh cinta
"iya mas, tapi kita tetap harus memantau mereka dimana pun kita berada" seraya memeluk sang suami namun dengan tatapan yang terus tertuju pada layar yang menunjukan ketiga putrinya yang sedang berpelukan
"itu pasti" jawab Fredick, biarpun ia dan Anita jarang berada didekat ketiga putrinya namun Fredick selalu memantau semua kegiatan anak anaknya, bukan kemauannya untuk terus jauh dari anak anaknya namun,memang pekerjaan lah yang mengharuskan ia pergi keluar negeri terus menerus
...----------------...
diruangan serba putih,ketiga lelaki sedang memperhatikan seseorang yang terbaring lemah diatas brankar dengan tubuh yang penuh dengan alat medis
ntah sampai kapan ia akan sadar dari tidur panjangnya, apakah di sana sangat indah sampai sampai ia malas untuk segera kembali bersama sama pikir mereka
"ah aku akui, aku sangat merindukanmu Reno" ucap Regan seraya memperhatikan sebuah foto ditangan kanan nya yang berisikan empat lelaki dan tiga perempuan dengan senyum manis mereka masing masing
"aku juga sama, aku sangat sangat merindukan kebersamaan kita bertujuh bukan hanya berenam" ujar Reyhan
"tak jauh beda dari kalian aku pun sama, biar pun aku selalu saja tak dihormati oleh kalian padahal aku paling tua di antara kalian,tapi tak apa... aku sudah sangat sayang pada kalian seperti pada saudaraku sendiri" ucap Melvin panjang lebar
"ah iya kau memang tua" ucap Reyhan dengan menekan kata 'tua'
"apa kau bil.." belum sempat Melvin menyelesaikan ucapan nya, Regan memotong nya
"sudahlah kalian i... AH RENO ta-tangannya ber-bergerak" heboh Regan dengan tangan yang meraba raba udara karena syok
"panggil dokter cepat! REYHAN!!" ucap Melvin tak kalah heboh seraya menunjuk Reyhan
Reyhan yang syok hanya terdiam namun tersadar saat Melvin membentaknya dan langsung pergi keluar ruangan untuk mencari dokter
"bodoh!" ucap Regan seraya memencet tombol dipinggir brankar Reno untuk memanggil dokter, Reyhan kepalang panik tuh jadi dia nggak ngeh malah capek capek harus lari lari manggil dokter
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
BANTU SUPPORT YAA!!!!
KALO ADA TYPO TOLONG DI KOREKSI !!