
Dengan cepat Anggun segera keluar dari ruangan tersebut. Dia benar-benar malu dan tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi di depan anak-anaknya nanti.
Dan saat ini dia sudah berada di taman belakang rumah mewah tersebut.
Selain merasa malu dan canggung, kekesalannya pada Leon pun semakin bertambah.
“Dasar…. Laki-laki kurang ajar. Dia sudah berkali-kali men…. “ ucap Anggun dan nampak enggan untuk melanjutkan kalimatnya yang mengingatkan dia pada c1um4n-c1um4n yang di ambil Leon dari nya.
Membuatnya semakin frustrasi dan marah “aaaakhhh…” lanjutnya berteriak, tak bisa berkata-kata lagi.
Beruntung tidak ada yang mendengar teriakan frustasinya.
“Sudah selesai teriaknya?” tanya suara seseorang yang tiba-tiba mengagetkan Anggun dari belakang punggungnya.
“Ka..kamu?!. Sejak kapan ada di sini?” ucap Anggun nampak sedikit kaget dan mundur menghindar dari orang tersebut yang tidak lain dan tidak bukan pemilik mension tersebut yaitu Leon.
“Apa?… kamu?. Coba katakan sekali lagi?” ucap Leon yang nampak gemas mendengar Anggun yang mulai menyebutnya kamu dan tidak Anda lagi.
“Cieee… kamu?” ucap Leon dengan keusilannya.
“Tapi… Aku suka itu. Lebih romantis” lanjut Leon terus menggodanya hingga membuat Anggun geli sendiri.
“Iihhh… apaan sih kamu. Gak jelas”
“Ma.. maksud aku… Anda” ucap Anggun cepat-cepat memperbaiki kalimatnya. Dia tidak ingin medengar kegilaan Leon lagi.
Membuatnya benar-benar merasa canggung dan tidak nyaman. Entah karena dia merasa kembali memiliki perasaan untuk Leon atau karena terbawa suasana saja.
Yang pasti untuk saat ini Anggun benar-benar ingin segera menghilang dan pergi dari hadapan Leon.
“Sudah cukup… aku mau pulang” ucap Anggun sambil hendak melangkah pergi, dan tanpa sadar kembali membuat Leon mendapatkan bahan untuk mengejeknya namun lagi-lagi terdengar gemas di telinga Leon.
“Aku?…” ucap Leon dengan senyum gemas di bibirnya, dia merasa ada sedikit perubahan. Meski terdengar amat sepele, tapi entah mengapa bagi Leon yang mendengar hal tersebut begitu menghibur dan menyenangkan baginya.
Menurutnya kata-kata ‘aku kamu’ yang di ucapkan Anggun, terdengar manis dan bermakna bagi Leon.
Berdeda jika setiap kali Anggun berkata formal, terlebih saat menyebut dirinya tuan. Ingin rasanya Leon menutup mulutnya itu, supaya tidak lagi memanggil dirinya tuan.
“Maksudnya… saya” ucap Anggun sambil berbalik sesaat melihat Leon untuk membenarkan kalimat yang menurutnya perlu ia perbaiki.
Kemudian Anggun pun segera meninggalkan taman tersebut untuk lagi-lagi menghindari sang tuan rumah.
Dan segera menemui kedua buah hatinya tersebut untuk segera di bawa pulang.
Dia tidak bisa berlama-lama di suatu tempat yang sama dengan Leon. Apalagi tempat tersebut di dalam kekuasaan Leon.
Membuat Anggun benar-benar merasa tidak nyaman dan takut setiap saat.
Apalagi jika mengingat saat ini, hampir setiap saat dirinya dan Leon terus bersentuhan dan berkali-kali b3rc1uman, tentu hal tersebut membuatnya bertambah trauma dan tidak tenang.
“Anak-anak… ayo kita pulang sekarang!” ajak Anggun setelah berada di ruangan si kembar.
“Kok cepet banget Mih pulangnya?” ucap Juna.
“Iya,bu. Kok cepet banget. Kita kan masih betah tinggal di sini” timpal Juni yang ikutan protes karena ibunya terlalu cepat menurutnya untuk mengajak pulang.
“Gimana kalau kita menginap saja di sini, Mih. Pasti kan Daddy ngizinin” ucap Juna mencoba membujuk maminya.
“Tap…” ucap Anggun belum selesai sambil menyamakan tubuhnya dengan kedua anaknya.
“Tentu saja boleh dan kalian juga berhak tinggal di sini kapan pun kalian mau” ucap Leon yang tiba-tiba masuk dan menyela ucapan Anggun tersebut.
“Tapi sayang…. “ ucap Anggun hendak menolak tapi dirinya tak kuasa melanjutkan ucapannya, saat melihat raut wajah Juni yang tiba-tiba menunduk merasa sedih saat menyadari bahwa ibunya akan menolak keinginkannya tersebut.
Melihat kesedihan di raut wajah putrinya yang baru saja sembuh dan baru pulang dari rumah sakit membuatnya kembali luluh dan membiarkan anak-anak untuk tinggal sementara di tempat ayah mereka sendiri.
“Baiklah… Tapi ibu tidak mau melihat wajah cemberut” ucap Anggun dan mencoba membuat putrinya kembali tersenyum begitupun dengan putranya.
Hal tersebut pun tentu membuat anak-anaknya kembali tersenyum dan bahagia seperti tadi.
“Benelan bu, kita akan tinggal di rumah ayah?” tanya Juni memastikan dengan senyum cerahnya.
Anggun pun hanya dapat mengangguk dan tersenyum untuk meyakinkan anaknya tersebut.
“Tapi untuk sementara, ya” ucap Anggun pada anak-anaknya.
Namun sepertinya mereka tidak perduli mau sementara atau tidak itu tidak jadi masalah untuk mereka. Karena yang terpenting saat ini mereka dapat menghabiskan waktu bersama ayah mereka yang sudah lama mereka tunggu-tunggu.
Beberapa jam kemudian setelah mereka makan siang dan anak-anaknya tidur siang, Anggun pergi dari mention tersebut.
Tapi sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu, ketua pelayan tiba-tiba menghampirinya dan memberikan sebuah bingkisan kepadanya.
“Tunggu nona” ucap kepala pelayan yang bernama Pak Rasyid menghentikan langkah Anggun.
“Iya pak ada apa?” tanya Anggun sedikit bingung.
“Ini nona, tuan memberikan ini untuk anda. Mohon di terima” ucap Pak Rasyid sambil memberikan bingkisan tersebut.
“Apa ini?”
“Saya tidak tahu, nona. Saya hanya menyampaikan perintah dari tuan Leon”
“Oh… baiklah. Terima kasih”
“Tapi, maaf saya tidak bisa menerimanya”
“Bawa kembali barang ini” ucap Anggun sedikit curiga dengan apa yang di berikan pak Rasyid, apalagi dari Leon.
Membuatnya takut hal tersebut adalah sesuatu yang membuatnya harus menukar anak-anaknya dengan apa yang di berikan Leon padanya.
Anggun mengira barang tersebut sesuatu yang berharga.
Tentu saja dia tidak ingin, apalagi berniat menukar anak-anaknya dengan apapun itu apalagi uang.
“Kalau begitu saya taru di sini saja, jika anda tidak Ingin membawanya masuk dan mengembalikannya pada tuan anda” ucap Anggun sedikit sinis dan berlalu pergi meninggalkan bingkisan tersebut.
Anggun benar-benar pergi dari mension tersebut meninggalkan kedua anaknya yang tengah tidur siang.
Meski dia tidak bisa berjauhan lama dengan anak-anak tercintanya, tapi dia juga tidak bisa egois, apalagi jika harus menjauhkan kembali anak-anak dari ayah mereka, tentu hal tersebut akan membuat anak-anak kembali bersedih dan kecewa.
Meski kali ini dia harus menahan rindu dan merasakan kesepian kembali tanpa si kembar di malam harinya.
Sementara itu di dalam mension, Leon nampak memikirkan sesuatu agar dia kembali dapat bersama dengan sang istri yang sudah lama ia usir tersebut.
Meski dirinya berhasil membuat anak-anaknya dapat tinggal, namun rupanya dia tidak bisa membuat Anggun serta merta mengikuti anak-anaknya tersebut untuk tetap tinggal.
Hal itu membuat Leon sedikit kecewa namun bukan berarti dia akan berhenti membujuk dan mengejar Anggun kembali.
Kali ini dia harus lebih maksimal lagi dan memikir kan sesuatu yang lebih baik lagi supaya Anggun tidak lagi pergi apalagi menolak untuk kembali tinggal bersama dia dan juga anak-anaknya kini.