
Anggun yang merasa takut terus meronta-ronta untuk di lepaskan. Tapi para preman itu tentu tidak membiarkannya pergi begitu saja.
Anggun mencoba berteriak tapi dengan cepat salah satu preman itu langsung membungkamnya lalu mengikat mulutnya dengan kain.
Mereka membawa Anggun ke sebuah rumah kosong yang lama tak berpenghuni di tengah hutan yang jauh dari para warga sekitar.
Sementara itu Raja terus mencari mobil yang tadi para preman kendarai. Hingga akhirnya dia menemukan mobil tersebut.
Namun saat Raja melihat ke dalam mobil tersebut, mereka sudah tidak ada.
Dia pun mulai kembali mencari jejak mereka. Beruntung para preman itu tanpa di sadari meninggalkan jejak. Membuat Raja sedikit terbantu dan dia mulai meninggalkan motornya dan segera berlari untuk mencari keberadaan Anggun saat itu.
Dia mulai masuk ke sebuah hutan yang tidak jauh dari tempatnya tadi meninggalkan motornya, terdapat sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni.
Raja yakin mereka membawa Anggun ke rumah kosong tersebut. Dan tanpa berpikir panjang lagi, dia mulai mengendap-endap untuk memastikan keberadaan mereka.
Sementara di rumah kosong tersebut, Anggun sudah bercucuran air mata. Dia nampak ketakutan, apalagi melihat tatapan preman-preman itu yang seolah ingin melahapnya hidup-hidup.
Membuat Anggun semakin bergetar tak berdaya, ingin melepaskan diri tapi sulit. Ingin berteriak tapi terbungkam. Akhirnya dia hanya bisa menangis dan memohon untuk segera di lepaskan.
Raja yang saat ini sedang mengendap-endap mendengar suara tangisan yang ia yakini itu pasti suara tangis Anggun membuatnya merasa marah sambil mengepalkan kedua tangannya mencoba menahan amarah tersebut.
Dia tidak bisa gegabah langsung masuk begitu saja. Dia mencari sesuatu alat yang dapat membantunya untuk menghajar lima preman yang ada di dalam rumah kosong tersebut.
Setelah memastikan berapa jumlah preman yang ada, dia pun mengurungkan niatnya untuk mencari alat bantu untuk menghajar mereka supaya tidak memakan waktu.
Apalagi saat Raja melihat salah satu preman hendak ingin melecehkan Anggun membuatnya tidak tahan dan segera mengambil ancang-ancang untuk merubuhkan pintu yang terkunci dari dalam rumah kosong tersebut.
Membuat para preman itu melihat ke arah suara pintu yang di rubuhkan dan menghentikan aksinya yang hendak melecehkan Anggun.
Para preman segera mengepung Raja dan menyuruh salah seorang untuk mengawasi Anggun.
Mereka berkelahi dengan sengit, meski awalnya Raja dapat menghajar mereka. Tapi di tengah perkelahian orang yang tadi mengawasi Anggun tiba-tiba menghantam Raja dari belakang dengan kursi yang cukup keras.
Membuat Raja jatuh dan sempat tak sadarkan diri. Darah dari kepalanya mulai menetes dan membasahi sebagian wajahnya.
Para preman tidak membiarkan kesempatan tersebut. Mereka langsung menghajar Raja sampai babak belur.
Anggun melihat hal tersebut tentu membuatnya histeris dan semakin menangis. Dia mencoba untuk melepaskan ikatan di mulutnya supaya dia dapat memanggil dan meneriakkan Raja.
Beruntung tali ikatan di mulutnya dapat ia lepaskan meski masih menempel di bawah mulutnya.
“Raja…” teriak Anggun saat di mulutnya tak ada lagi penghalang.
“Raja…” teriak Anggun lagi sambil menangis. Tidak tega melihat teman yang selama ini bertengkar terus dengannya mengorbankan diri untuknya hingga babak belur seperti saat ini.
“Raja bangun. Kamu harus bangun. Kamu tidak boleh kalah seperti ini” teriak Anggun mencoba membangkitkan semangat Raja yang saat ini tak sadarkan diri, terus mencoba berteriak berharap Raja dapat sadar dan melawan mereka balik.
Beruntung usahanya tidak sia-sia, Raja mulai tersadar dan seolah ada kekuatan yang mendorongnya untuk bangkit kembali. Setiap kali Anggun meneriakinya, entah mengapa semangat Raja semakin bertambah dan kekuatannya seolah berkumpul kembali.
Membuatnya perlahan bangkit meski dengan wajah babak belurnya.
Melihat Raja yang sudah berdiri kokoh dengan pancaran mata yang membuat bulu kuduk preman yang melihatnya bergidik, tidak membuat mereka menghentikan aksinya tersebut.
Namun kali ini Raja tidak membiarkan mereka memukulnya dengan mudah.
Seolah seperti aksi di bollywood, Raja dapat dengan mudah menahan pukulan salah satu preman yang hendak memukulnya kembali.
Membuat para preman yang melihatnya tercengang tak percaya. Bagaimana tidak, saat ini Raja sudah babak belur tapi masih bisa menahan pukulannya dan berbalik menghajar mereka.
Anggun yang melihat hal tersebut merasa sedikit lega, Raja masih bernyawa dan bahkan malah menghajar balik para preman tersebut hingga akhirnya para preman itu tumbang tak berdaya.
Raja segera menghampiri Anggun dan melepaskan ikatan yang masih mengikat pergelangan tangannya dari belakang.
“Kamu tidak apa-apa?” ucap Raja dan Anggun berbarengan, mereka saling mengkhawatirkan satu sama lain. Membuat keduanya sesaat terdiam merasa sedikit canggung.
Namun Raja segera menyadarkan dirinya dan membuka ikatan di pergelangan Anggun dan mereka pun selamat dari preman-preman itu.
Flash back off
Anggun pun tersenyum saat mengenang hal tersebut. Membuat Raja yang melihatnya merasa heran dan mulai bertanya kembali.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu. Apa kau tidak percaya aku bisa menghajar mereka” ucap Raja pada Anggun.
“Yaah… tentu saja aku percaya. Kau kan bosnya preman” ucap Anggun sambil terkekeh. Namun tentu saja dia percaya bahwa Raja dapat mengahajar mereka balik.
Mereka pun tengah sampai di tempat tujuan Anggun. Di mana alamat rumah itu adalah tempat tinggal Nina dan kedua anaknya menumpang.
“Akhirnya ketemu juga alamatnya” ucap Anggun saat melihat rumah yang di carinya dari tadi.
“Apa kau yakin rumah ini yang kau cari?” tanya Raja memastikan.
“Tentu saja. Ini alamat yang di berikan pada ku” ucap Anggun yakin, sambil menunjukan secarik kertas pada Raja.
“Kalau begitu, mulai hari ini kau adalah tetangga ku” ucap Raja santai.
“Apa?” pekik Anggun merasa pendengarannya salah mendengar.
“Bukannya kau anak… “ lanjut Anggun namun tiba-tiba menggantung kalimatnya. Anggun tahu jika Raja anak dari keluarga kaya dan terpandang. Dia tidak yakin jika Raja tinggal di tempat seperti yang saat ini akan dia tempati.
Tempatnya memang tidak terlalu kumuh tapi Anggun tidak yakin jika Raja anak dari keluarga kaya tiba-tiba bisa tinggal di tempat seperti itu.
“Kenapa?. Apa kau pikir aku tidak bisa hidup berdampingan dengan tempat seperti ini?” ucap Raja sedikit sarkas, Raja sudah tahu arah pembicaraan Anggun akan kemana.
“Hidup ini terus berputar, kadang kita di atas kadang kita juga harus menerima jika kita sedang ke bawah” lanjut Raja tiba-tiba berbicara sok bijak.
Mendengar hal tersebut membuat Anggun sedikit termenung, perkataan Raja ada benarnya juga. Karena dulu dia juga dari keluarga kaya, tapi sayang semenjak orang tuanya bangkrut dan meninggal dia pun harus menerima kenyataan tersebut hingga dia harus menumpang pada orang lain, pikir Anggun.
“Kau benar” ucap Anggun sedikit lirih saat teringat akan hal tersebut. Bukan sedih karena dia teringat harus jatuh miskin tapi dia teringat akan kedua orang tuanya yang harus meninggal karena hal tersebut.