Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Rahasia?


Beberapa menit kemudian Anggun sudah sampai di depan alamat yang tadi di terimanya.


Kemudian dia segera memberitahu keberadaan dirinya saat ini. Melalui nomor chat yang di berikan pihak kantor untuk memberitahu penumpangnya jika sudah sampai.


Anggun segera membuat pesan singkat untuk memberitahu orang yang di kira Anggun penumpangnya tersebut.


“Selamat malam. Maaf, Tuan/ Nyonya, saya dari taxi online. Saya sudah di depan hotel xxx, di alamat yang anda infokan” isi pesan yang Anggun kirimkan.


“Baiklah. Sekarang anda masuk dan tanyakan pada resepsionis yang ada di loby. Suruh mereka untuk mengantarkan anda pada saya atas nama Tuan L. Saya tunggu” isi chat yang saat ini sedang di baca oleh Anggun dari penumpang misteriusnya tersebut.


“Kenapa dia harus menyuruhku untuk masuk dan mendatanginya?” ucap Anggun sedikit bingung.


“Apa kebiasaan orang kaya seperti ini. Harus pake di jemput ke dalam segala?!” lanjut Anggun berbicara merasa sedikit berlebihan.


Namun tetap saja dia melangkahkan kakinya dan mulai meninggalkan taxinya tersebut untuk masuk ke dalam hotel itu.


Anggun mulai bertanya pada resepsionis yang ada di loby tersebut.


Dan benar saja ada orang yang bernama tuan L yang sudah menunggu kedatangannya.


“Permisi Mba. Apa disini ada orang yang bernama tuan L, yang sedang menunggu ta…” ucap Anggun, namun belum ia menyelesaikan kalimatnya, resepsionis tersebut sudah mengerti dengan siapa yang Anggun maksud.


“Oh, iya. Tuan L, ya” ucap resepsionis tersebut menanggapi.


“Apa anda nyonya Anggun?” tanya resepsionis memastikan.


“Hah..” ucap Anggun lirih, dia merasa sedikit kaget saat resepsionis tersebut menyandingkan namanya dengan sebutan nyonya.


“I.. iya. Saya Anggun. Tapi anda tidak perlu memanggil saya dengan kata nyo…” lanjut Anggun berbicara tapi lagi-lagi kalimatnya belum sempat di selesaikan namun resepsionis itu sudah menarik tangan Anggun dan membawanya ke sebuah ruangan yang biasa di gunakan untuk makan para tamu di hotel tersebut.


Namun saat ini ruangan itu nampak terlihat sepi dan hanya ada satu orang yang menempati salah satu meja di tempat tersebut.


“Nah itu, nyonya. Tuan L sudah menunggu anda dari tadi” ucap resepsionis tersebut sambil menunjuk keberadaan orang yang sedang di cari Anggun.


“Kalau begitu saya permisi, nyonya” lanjut resepsionis tersebut dan lagi-lagi membuat Anggun sedikit membelalakkan matanya karena terus di panggil nyonya oleh resepsionis tersebut.


Ini kali pertama ada orang yang memperlakukannya dengan begitu sopan dan membuatnya sedikit merasa spesial.


Anggun berpikir itu adalah salah satu layanan atau kebijakan hotel yang memperlakukan siapapun yang datang ke tempat tersebut dengan baik dan sopan.


Dan dia tidak mengira bahwa perlakuan tersebut dia dapatkan karena Leon yang mengatakan bahwa istrinya akan mencarinya yang bernama Anggun.


“Aku tidak menyangka, perempuan seperti dia ternyata istrinya tuan Leon” ucap Mba resepsionis tadi setelah dia mengantarkan Anggun.


“Kau kenapa bicara sendiri. Apa kau kesambet?” tanya seorang resepsionis lain yang melihatnya berbicara sendiri.


“Nanti aku ceritakan. Tapi kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang akan aku katakan” ucapnya membuat temannya tersebut merasa penasaran.


Dan saat temannya tersebut ingin bertanya kembali, ada tamu yang kembali mulai berdatangan. Membuat mereka harus kembali bekerja dan menyampingkan rasa penasaran mereka.


Sementara itu Anggun masih berdiri di tempat, dia merasa ragu untuk menghampiri orang yang saat ini sedang membelakangi tubuhnya.


Anggun belum menyadari siapa sebenarnya orang tersebut.


Namun perlahan ia mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri, tapi entah mengapa perasaan Anggun tiba-tiba merasa deg-degan setiap kali kakinya melangkah dan membuat jantungnya semakin berdetak kencang.


Anggun mulai merasa tidak nyaman dengan perasaan jantungnya tersebut yang tiba-tiba tanpa sebab berdetak hebat. Seolah ia akan bertemu dengan seseorang yang selama ini ia tunggu-tunggu.


“Ya Tuhan… kenapa tiba-tiba jantungku berdebar begini. Seperti mau di interview pekerjaan saja” ucap Anggun dalam hati, saat mengingat terakhir kali dia di interview pekerjaaan di sebuah perusahaan namun gagal.


Dan Anggun pikir perasaannya saat itu sama dengan apa yang di rasakannya saat ini.


Setelah di rasa perasaannya cukup tenang, Anggun pun mulai melanjutkan langkahnya dan menghampiri orang satu-satunya yang ada di tempat tersebut saat ini.


“Permisi tuan L. Saya Anggun dari taxi online. Taxinya sudah siap” ucap Anggun memberanikan diri meski dengan perasaan ragu-ragunya.


Dia masih belum berani untuk melihat langsung manusia yang di pikirnya itu adalah salah satu penumpangnya tersebut.


“Anggun?. Ternyata aku benar, dia Anggun” ucap orang tersebut dalam hati yang merupakan Leon Adinata, dia masih mengingat jelas suara wanita yang selama ini dia sia-siakan.


“Tapi bagaimana sekarang aku harus bersikap padanya?” lanjut Leon dalam hati, merasa sedikit bingung dengan apa yang harus di katakannya pada Anggun dengan pertemuan tersebut.


Sementara itu Anggun juga merasa bingung, tidak ada respon dari orang tersebut.


“Apa aku salah orang?. Kenapa orang ini diam terus?” ucap Anggun dalam hati yang belum juga mendapat respon.


“Tuan, apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya Anggun memberanikan diri.


Kemudian Leon pun dengan perlahan memutar kursi rodanya.


Dan hal tersebut mampu membuat Anggun tercengang saat melihat wajah siapa yang ia lihat saat ini.


“Kamu?” pekik Anggun setelah sadar dari rasa keterkejutannya.


Sesaat kemudian dia berbalik dan hendak meninggalkan Leon. Tapi dengan cepat Leon segera menarik tangan Anggun, namun karena tarikannya terlalu kuat membuat Anggun terjatuh di atas kursi milik Leon yang di gunakannya.


Beruntung mereka tidak sampai jatuh ke lantai, hanya membuat keduanya nampak terlihat begitu dekat.


Dalam posisi Leon yang menahan tubuh Anggun di atas kursi rodanya.


Mereka nampak saling menatap satu sama lain dan selama beberapa saat mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk saling mengagumi satu sama lain tanpa mereka sadari.


Beruntung di tempat tersebut hanya ada mereka berdua, karena memang sebelumnya Leon sudah memboking tempat tersebut untuk sementara waktu.


Hingga akhirnya Anggun yang mulai menyadari kecerobohannya tersebut dan hendak menjaga jaraknya dari Leon.


Namun lagi-lagi, Leon tidak membiarkan Anggun pergi begitu saja. Dia segera menarik kembali Anggun hingga terduduk kembali di atas paha Leon.


“Kau mau pergi kemana?. Kenapa begitu terburu-buru?” bisik Leon di telinga Anggun dengan suara yang di buat lirih namun seolah terdengar sedang menggoda.


Membuat Anggun yang merasakan hembusan nafas Leon di telinganya yang begitu dekat, enatah mengapa hal tersebut membuat Anggun terasa sedikit panas dan ingin segera lari dari tempat tersebut.


Namun sayangnya Anggun hanya dapat menutup mata sesaat untuk menghilangkan perasaan anehnya tersebut beberapa kali.


“Lepaskan saya. Saya harus segera pergi. Jika anda terus seperti ini saya akan berteriak” ucap Anggun dengan bahasa formalnya menunjukan bahwa ia bersikap layaknya seorang yang baru ia kenal.


Namun dengan nada yang kesal dan marah dengan apa yang di lakukan Leon saat ini padanya.


Sementara Leon tidak perduli dengan nada ancaman Anggun yang di ucapkannya. Dia masih mengedarkan pandangannya pada setiap inci wajah Anggun.


“Jika kau berani silahkan saja. Tapi ingat aku mengetahui rahasiamu” ucap Leon dengan nada mengancamnya di ceruk leher Anggun. Membuatnya seketika terdiam dan teringat akan rahasia tentang si kembar.


“Rahasia?” tanya Anggun dalam hati, membuatnya bertanya-tanya dengan apa yang di katakan Leon.