
“Apa kau sedang menyumpahiku?!” tanya Leon asal, dari belakang Anggun, membuat Anggun tersentak kaget.
“Ya Tuhan… mati aku. Sejak kapan orang ini berada di belakang ku?” kaget Anggun dan bertanya-tanya dalam hati.
“Tit..tidak, tuan. Bagaimana mungkin sa..saya berani nyumpahin anda” ucap Anggun bohong dan sedikit gelagapan, takut ketahuan apa yang telah di ucapkannya tadi.
“Dasar pembohong!” maki Leon tidak percaya.
Seketika membuat Anggun menunduk merasa malu sendiri. Tidak dapat mengelak dan membantah lagi.
“Apa kau sudah selesai dengan apa yang ku perintahkan tadi?!” tanya Leon dengan nada yang masih dingin.
“Su.. sudah. Kalau begitu saya tunggu di luar, tuan” ucap Anggun menanggapi dan hendak keluar dari dalam kamar mandi.
“Heh… siapa yang menyuruh mu untuk keluar?!” ucap Leon membuat langkah kaki Anggun terhenti.
“Aduuh… bagaimana ini. Apa aku juga harus memandikannya?” pikir Anggun yang mulai gelisah dengan apa yang akan di kerjakan selanjutnya.
“Heh… siapa nama mu tadi?” tanya Leon dan tidak membiarkan Anggun pergi dari kamar mandi tersebut.
“Angga, tuan. Nama saya Angga” ucap Anggun menanggapi sambil hendak melangkah ingin segera keluar dari tempat tersebut.
“Heh… kau mau kemana lagi. Memangnya aku sudah menyuruhmu pergi?!” pekik Leon kembali membuat Anggun menghentikan langkahnya.
“Dasar tidak becus bekerja!” maki Leon pada Anggun.
“Cepat kau bantu aku buka pakaian ini!” lanjutnya memerintah.
“Dasar menyebalkan. Aku pikir orang ini sudah berubah ternyata malah semakin arogan saja” ucap Anggun dalam hati, merasa kesal dengan sikaf Leon tersebut, namun mau tidak mau tetap harus melakukan apa yang di perintahkan tuannya tersebut.
“Bab…baik, tuan” ucap Anggun sambil menunduk dan mulai melangkah kembali mendekati Leon.
Namun saat dirinya sudah berada di belakang Leon, Anggun mendadak ragu-ragu untuk membantu membuka pakaian yang masih melekat di orang yang kini menjadi tuannya.
Kedua tangan Anggun sudah di udara, tapi rasanya kaku untuk menyentuh pakaian yang masih melekat pada Leon.
Bagaimana tidak, dia seorang perempuan dan harus membukakan baju seorang pria langsung di hadapannya. Apalagi saat ini mereka hanya berdua dan di ruangan yang terbilang sensitif.
Meskipun Anggun kini berpakaian seperti seorang sopir dan Leon mengira dirinya laki-laki tapi tetap saja bagi Anggun situasi saat ini akan merugikan dirinya sebagai seorang perempuan.
Entah itu membuat Anggun merasa malu sendiri atau harus menjaga pandangannya dari godaan tubuh kekar Leon yang masih nampak bugar, meski dengan keadaan kaki yang lumpuh.
“Kenapa diam saja?! cepat bantu Aku. Kalau lamban seperti ini bisa-bisa aku terlambat ke kantor” pekik Leon yang masih menunggu pergerakan Anggun untuk membantunya membuka pakaian.
Meski sebenarnya mereka adalah pasangan suami istri yang sah. Namun Leon telah mengusirnya, dan apakah itu sudah membuat hubungan di antara mereka menjadi tidak ada ikatan?.
Entah lah, saha nu nyaho.
Tapi yang jelas saat ini situasi tersebut membuat Anggun serba salah dan ingin segera keluar dari ruangan itu.
“I.. ya, tuan. Maaf” ucap Anggun sambil berusaha membuat tangannya bergerak dan membukakan pakaian Leon dengan mata yang sedikit-sedikit tutup buka, malu sendiri jika harus melihat langsung tubuh seorang pria tanpa busana, apalagi itu adalah Leon.
Tapi saat Anggun berhasil membuka pakaian Leon, tiba-tiba matanya membelalak sambil menelan salipanya cepat.
Bagaimana tidak, siluit punggung lebar Leon membuat mata Anggun sesaat tak dapat berkedip mengagumi punggung itu.
Rasanya Anggun tidak dapat berlama-lama di ruangan yang tiba-tiba membuatnya terasa sesak. Namun suara barito Leon mengalahkan imajinasi sesaatnya.
“Angga!!” teriak Leon yang merasa ucapannya tidak di dengar cepat oleh Anggun.
Lalu dengan segera Leon memutar kursi rodanya sehingga dapat berhadapan langsung dengan wajah Anggun.
“Kau ini kenapa. Dari tadi aku panggil-panggil tidak menjawab. Apa kau benar-benar ingin aku pecat, hah?” lanjut Leon dengan perasaan kesalnya, merasa dari tadi asprinya tersebut banyak melamun dan lelet.
“Ja.. jangan, tuan. Belum satu hari saya kerja. Tolong beri saya kesempatan. Saya akan lebih fokus lagi” ucap Anggun meminta kesempatan, dia sendiripun merasa bahwa dirinya memang tidak fokus dari tadi.
“Sudahlah… sekarang kau keluar. Biarkan aku melakukannya sendiri” ucap Leon dan menyuruh Anggun untuk pergi dari kamar mandi tersebut.
“Tapi tuan tidak memecat saya, kan?” tanya Anggun, takut dirinya benar-benar langsung di pecat sebelum sehari bekerja.
“Keluar!! aku bilang” teriak Leon mengusir Anggun, tapi tidak jelas apa ucapan tersebut juga berarti mengeluarkan Anggun dari pekerjaannya atau tidak.
Mendengar hal tersebut Anggun pun segera keluar dari kamar mandi dan menutupnya.
Sejenak air mata Anggun kembali menetes menerima sikap kasar yang lagi-lagi keluar dari mulut laki-laki kejam itu.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara jatuh dari balik pintu kamar mandi.
Bruuugg … suara seseorang terjatuh.
“Mas Leon…” ucap Anggun saat dirinya sudah memegang gagang pintu kamar Leon hendak pergi.
“Tidak.. aku harus membantunya” lanjutnya saat pikirannya menyuruh untuk pergi tapi hatinya menolak untuk pergi dan ingin membantu laki-laki jahat itu.
Anggun pun segera berbalik dan berlari menuju kamar mandi dimana Leon berada.
Dan saat Anggun membuka pintu kamar mandi tersebut, benar saja. Leon sudah terkapar di atas lantai kamar mandi. Dia sedang berusaha menggapai kursi roda yang ikut terjatuh.
Melihat hal tersebut, membuat Anggun merasa khawatir dan segera membantu Leon untuk berdiri kembali.
Namun saat Anggun ingin membantunya, lagi-lagi Leon bersikap arogan dan tidak ingin di bantu oleh siapapun.
“Lepaskan, aku bisa sendiri” ucap Leon dengan sinisnya sambil menepis tangan Anggun dengan kasar, tidak ingin menerima bantuan dari sopir barunya tersebut.
“Kenapa kau masih di sini?. Cepat pergi dari sini” lanjutnya kembali mengusir Anggun.
Namun Anggun yang tengah di usir tetap berada di tempat tersebut dan lebih memilih membenarkan kursi roda terlebih dahulu.
“Kau ini benar-benar tuli atau bagaimana. Aku bilang aku bisa sendiri” bentak Leon lagi-lagi mengusir dan menghina Anggun.
Leon tidak ingin terlihat tak berdaya. Dia tidak ingin siapapun melihatnya dalam keadaan seperti saat ini, apalagi di depan bawahannya.
Membuatnya terus saja bersikap arogan dan kasar.
“Saya tidak tuli, tuan” ucap Anggun sambil membenarkan kursi roda.
“Saya akan pergi setelah melihat tuan berhasil menaiki kursi roda ini sendiri” lanjut Anggun, entah keberanian dari mana membuatnya berbicara seperti itu pada Leon.
“Silahkan, tuan” lanjut Anggun sambil menyodorkan kursi roda ke hadapan Leon.
Membuat Leon menatap Anggun dingin sambil berusaha mengangkat tubuhnya.
“Kurang ajar, lancang sekali anak ini” ucap Leon dalam hati. Pasalnya baru kali ini ada orang yang berani bersikap seperti itu pada dirinya.
Kalau orang lain, mungkin sudah Leon bumi hanguskan.
Tapi entah kenapa, pada orang ini membuat Leon ada rasa pengecualian.
Dan di hadapan orang ini pula Leon merasa tertantang untuk menunjukan bahwa dirinya benar-benar tidak ingin di nilai lemah.
Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba tubuhnya terpeleset kembali. Mungkin karna lantai yang licin dan tubuh Leon yang masih basah dan bersabun membuatnya tidak dapat dengan mudah melakukan apa yang biasanya dia dapat lakukan.
“Bagaimana, tuan. Apa anda dapat melakukannya?” tanya Anggun dengan sadar atau tidak menatap Leon dengan sebuah pandangan meremehkan.
“Berisik kau!” Pekik Leon tidak terima dengan apa yang di katakan Anggun padanya.
Namun Anggun sudah tidak merasa takut lagi, seolah ada keberanian yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuhnya.
Membuatnya berani memicingkan mata pada Leon saat dia kembali di bentak oleh tuannya tersebut.
“Sudahlah tuan. Kalau anda tidak bisa, biarkan aku membantu anda” ucap Anggun tanpa rasa takut lagi.
Entah karena berpikir melihat Leon sudah lumpuh dan tidak akan mungkin berani berbuat sesuatu yang dulu pernah di alaminya. Ataukah karna hal lainnya.
Tapi yang jelas saat ini, hati nurani Anggun tidak dapat membiarkan Leon sendirian dalam keadaan situasi dan kondisinya saat ini.
“Jangan meremehkan aku!. Biasanya aku bisa melakukan hal sekecil ini” ucap Leon tidak ingin di remehkan.
“i.. ini hanya karena lantainya licin dan aku juga masih bersabun jadi membuat ku terus terpeleset dan jatuh” lanjutnya memberi alasan.
“Kalau begitu, biarkan aku membersihkan tubuh anda terlebih dahulu” ucap Anggun sembari mengambil selang shower untuk membersihkan tubuh Leon.
Membuat Leon tidak siap dan kembali hendak memaki Anggun yang sudah berada di hadapannya dan tengah menyirami tubuhnya tanpa seizin darinya.
Namun amarahnya terhenti saat dirinya menatap Anggun dari dekat dalam guyuran air yang terus mengguyur wajahnya dari atas hingga bawah.
Entah sadar atau tidak saat ini Leon sedang mengamati wajah Anggun. Leon mulai merasa wajah sopir barunya saat ini tidak asing. Dia merasa pernah melihat wajah tersebut.
Tapi karena penampilannya yang berbeda dan di bagian wajah Anggun terdapat tahi lalat tepatnya di samping bibir, membuat Leon harus berusaha keras untuk mengingat wajah orang tersebut.