
Jam sudah menunjukan pukul 23:45 waktu setempat. Tiba-tiba Leon terbangun dan mulai kehausan. Jarang-jarang dirinya terbangun di hampir tengah malam.
“Jam berapa ini?” tanya Leon dengan wajah ngantuknya sambil meraih jam di atas meja di samping tempat tidurnya.
Dia hendak ingin memanggil para pelayannya, namun setelah melihat jam yang sudah menunjukan jam tidur mereka, Leon pun mengurungkan niatnya. Dan dengan usahanya sendiri Leon pergi ke dapur untuk mengambil air minum yang sudah habis. Yang sebelumnya slalu di sediakan di atas nakas di samping tempat tidur.
Dengan kaos oblong yang menampakkan lengan kekarnya dan celana panjang longgar tidurnya membuat penampilan Leon malah terlihat maco meski dengan kaki lumpuhnya.
Dan tanpa kesulitan Leon dapat menaiki kursi roda yang selama ini telah menemani kesehariannya.
Perlahan dia mulai mengangkat tubuhnya, kemudian satu persatu kaki yang tidak dapat bergerak sendiri, dia angkat dengan tangannya sendiri.
Kemudian dia mulai menekan tombol kursi roda yang membantunya untuk mempermudah jalannya kursi roda tersebut menuju dapur.
Tanpa menyalakan lampu ruangan dapur, Leon terus menjalankan kursi rodanya, seolah sudah hafal dengan jalan yang sering ia lalui meski dalam keadaan gelap sekalipun.
Leon terus menuju lemari es tempat air minuman dingin berada.
Namun tanpa di sangka-sangka dan tanpa sengaja, Leon menabrak seseorang yang tengah menenggak air minum di depan lemari es yang sedang di tuju olehnya.
Membuat orang yang di tabraknya langsung terduduk di atas paha Leon yang berada di atas kursi roda.
Bruuuuk … suara tubuh yang berbenturan.
“Aaaah…(gubrak)” pekik seseorang merasa kaget dan terduduk. Kemudian mulutnya segera di tutup dengan tangan Leon, takut membangunkan yang lainnya.
Sementara Leon yang tiba-tiba di duduki oleh seseorang mulai merasa kesal namun berusaha untuk tidak berteriak dan menahan rasa sakit yang tiba-tiba di duduki.
“Ya Tuhan… sepertinya aku menduduki paha orang” ucap Anggun dalam hati, merasa khawatir dan panik. Dan belum tahu siapa yang sebenarnya sedang ia duduki.
“Bagaimana ini, apa aku minta maaf dan langsung pergi atau aku langsung pergi saja?, mumpung keadaannya gelap dan orang ini mungkin tidak dapat melihat wajah ku” lanjut Anggun dalam pikirannya dengan tubuh yang seolah mematung tak bergerak masih berada di atas paha Leon.
“Aduuuh sialan” ucap Leon dalam hati sambil menahan nyeri.
“Kurang ajar, siapa orang ini?. Berani-beraninya menduduki ku” maki Leon dalam hati merasa kesal dan marah pada orang yang di tabraknya tanpa sengaja.
Cukup lama mereka diam dan tak bersuara dalam keadaan posisi yang masih sama.
Hingga perlahan rasa nyeri yang di rasakan Leon mulai mereda, namun beralih merasakan sesuatu pada tubuh bagian sensitif milik Leon yang tiba-tiba mulai menggeliat. Dan tangan Leon yang masih memeluk Anggun spontan tadi, masih reflek memeluk perutnya erat.
“Sial… kenapa orang ini dapat membangunkan milikku yang sudah lama tidur?” ucap Leon sedikit kesal dengan pikirannya yang mulai sedikit gila.
Apalagi dengan aroma tubuh Anggun yang khas membuat indra penciuman Leon mengingatkannya pada seseorang hingga tanpa sadar perlahan Leon terus menciumi aroma tersebut untuk meyakinkannya dan mengingat-ngingat siapa pemilik aroma tubuh tersebut.
“Dan aroma tubuh ini… sepertinya tidak asing bagiku” lanjut Leon dengan pikirannya dan reflex perlahan menciumi leher Anggun kiri dan kanan untuk memastikan aroma tubuh siapa.
Sementara Anggun yang salah paham dengan perlakuan Leon tersebut mulai berpikir bahwa dirinya hendak ingin di lecehkan dan mulai merasa ketakutan, matanya membelalak saat bibir Leon perlahan terasa menyentuh kulit lehernya dan mulai berkaca-kaca.
Lalu tiba-tiba bayangan masa lalu di malam itu kembali menghampiri ingatannya. Membuat Anggun ingin segera melepaskan diri dari kungkungan Leon.
Tapi entah sengaja atau tidak, pelukan Leon malah semakin kuat dan sulit untuk di lepaskan. Terlebih dengan tubuh Leon yang besar, tinggi dan berotot sementara tubuh Anggun yang kecil mempersulitnya untuk lepas dari kungkungan singa saat ini.
Mendengar suara tersebut seperti Anggun, membuat Leon terkejut, tersadar dan merasa yakin siapa pemilik suara tersebut.
Tapi bukannya Leon segera melepaskan Anggun, justru dia semakin agresif dan memperkuat pelukannya.
“Anggun… kau kah itu?” tanya Leon sedikit terkejut mendengar suara yang di kenalnya dan membuatnya tidak ingin membiarkan kembali Anggun pergi.
Begitupun dengan Anggun yang sama-sama terkejut mendengar suara orang yang selama ini ingin dia hindari.
Berbeda dengan Anggun yang sudah yakin dengan pemilik suara tersebut adalah Leon, membuatnya terdiam dan tak ingin bersuara lagi. Anggun semakin berusaha untuk melepaskan diri.
Namun berbeda dengan Leon yang tidak ingin melepaskannya, ingin melihat kebenarannya. Tapi keadaan yang gelap membuat Leon kesulitan untuk melihat wajah Anggun saat ini. Terlebih posisi Anggun yang membelakangi tubuhnya.
Tidak perduli dengan keadaannya yang berada di atas kursi roda dan dengan kakinya yang lumpuh.
“Jangan pergi. Aku tidak akan melepaskan kamu lagi, Anggun” ucap Leon sambil terus-terusan memeluknya erat dan agresif.
“Kamu tidak boleh pergi lagi, Anggun. Aku mohon” lanjut Leon benar-benar tidak ingin kehilangan Anggun lagi.
Hingga membuat Leon hampir kalap kembali namun bukan karena benci melainkan saking rindunya pada Anggun membuatnya terus menciumi leher dan pipi Anggun.
Dia sudah yakin orang tersebut adalah Anggun hingga membuat Leon berani melakukan hal tersebut.
“Anggun aku sangat merindukanmu. Aku.. aku benar-benar merindukanmu, Anggun” lanjut Leon mengutarakan perasaannya selama ini sambil tetap menciumi punggung dan leher Anggun, juga memeluknya rindu.
Namun tidak dengan Anggun hal tersebut semakin membuat Anggun ketakutan dan semakin membuatnya panik dengan keadaan dan kondisi saat ini.
“Ya Tuhan tolong aku. Aku mohon bantu aku. Aku tidak ingin malam itu terulang lagi” ucap Anggun sambil menangis, berdoa sungguh-sungguh memohon dalam hati pada Tuhan. Anggun sudah terlanjur trauma dengan apa yang di lakukan Leon kepadanya di masa lalu dan di malam itu.
Hingga membuat Anggun sekuat tenaga tetap terus berusaha melepaskan diri hingga akhirnya dia berhasil lepas dan segera lari pergi dari tempat tersebut.
Namun tanpa sengaja membuat Leon terdorong dan jatuh dari kursi roda hingga membuat kepala Leon terbentur ke lantai dan pingsan.
Anggun tidak menyadari hal tersebut, selain karna lampu tidak menyala membuatnya tidak dapat melihat keadaan Leon saat itu tapi Anggun lebih di kuasai rasa takut untuk tidak berlama-lama bersama Leon.
Beruntung ada salah satu penjaga yang hendak membuat kopi ke dapur dan saat menyalakan lampu dapur, mendapati tuan mudanya sudah tergeletak di lantai.
Membuat penjaga tersebut segera berteriak meminta bantuan hingga teriakannya membangunkan sebagian yang tengah tertidur.
Beberapa pelayan dan Bi Asri mulai terbangun dan melihat siapa yang meminta tolong. Dan mereka pun ikut terkejut mendapati tuan mudanya pingsan dan tergeletak di lantai dingin dapur.
Mereka segera membantu mengangkat tubuh besar tuan mudanya tersebut dan mendudukkannya di atas kursi roda. Lalu hendak membawanya ke kamar pribadi tuannya.
Dan tiba-tiba tuan dan nyonya besar pun datang, betapa syoknya nyonya Murni melihat apa yang terjadi pada putranya tersebut.
Nyonya Murni mulai merasa khawatir dan segera menyuruh suaminya untuk menelpon dokter pribadi keluarganya.
Tidak perduli akan mengganggu jam istirahat sang dokter, nyonya Murni kekeh inginkan dokter tersebut segera menangani putranya.