
Leon merasa dirinya telah menang dan dapat kembali mengambil kunci kamar miliknya dari tangan Anggun yang tadi sempat dia dapatkan.
Dengan perasaan senang dan sedikit bangga Leon mengambil kunci tersebut dari tangannya.
Hingga tanpa sadar dia tengah menghimpit tubuh Anggun yang saat ini sudah berada di bawah tubuhnya.
Kedua tangan Anggun yang saat ini sedang ia pegang dengan erat untuk mengambil kunci kamar tersebut, membuat posisi mereka terlihat sangat dekat dan intim.
Leon yang mulai menyadari posisi mereka saat ini terlalu intim, membuatnya menghentikan tawa kemenangannya.
Leon mulai menatap Anggun dengan tatapan yang sulit di artikan. Begitupun Anggun yang sesaat terus menatap wajah tampan Leon yang begitu dekat dengan wajahnya.
Hingga Anggun mulai menyadari sesuatu di bawah sana seperti ada yang menegang dan seolah hendak menusuk perutnya.
Membuatnya sadar akan sesuatu dan ia hendak bangkit dari posisinya saat ini.
Namun rupanya kedua tangannya sudah lebih dulu Leon pegang dengan erat dan bahkan tubuhnya pun sudah sulit dia gerakkkan.
“Ti… tidak. Lepas kan Kak Leon. Lepaskan tangan ku” ucap Anggun meminta tangannya untuk segera di lepaskan.
Namun akibat dari fiting yang tadi dia lakukan dan sudah menguras tenaganya membuat usahanya kali ini sia-sia.
Berbeda dengan Leon yang masih terlihat sanggup untuk berkelahi.
Namun kali ini, fokus Leon sudah kemana-mana. Terlebih di bawah sana sudah ada yang menegang dan meminta sesuatu yang sudah lama tidak dia dapatkan.
Membuat Leon tidak dapat berpikir dengan jernih lagi.
Terlebih di hadapannya saat ini sudah begitu dekat hingga pada akhirnya membuat Leon tidak dapat menahan hasratnya lagi.
Meski Anggun sudah berkali-kali meminta untuk di lepaskan tapi dengan lancang Leon segera menutup mulut Anggun dengan bibirnya.
Hingga membuat b1b1r itu menjadi candunya sampai kapan pun.
Leon terus menyesau b1b1r ranum itu, hingga lama kelamaan yang empunya pun mulai mengikuti permainan Leon.
Meskipun sebelumnya berkali-kali Anggun menolak hal tersebut, hingga memaksanya untuk menggigit b1b1r Leon hingga berdarah.
Namun Leon seolah tak memperdulikan hal tersebut meski air mata Anggun pun ikut menetes, hingga membuat Anggun mau tidak mau membiarkannya melakukan apa yang di inginkan Leon saat ini.
Entah apa yang membuat Leon begitu berani melakukan hal tersebut.
Dan kini tangan Leon yang satunya pun mulai berani bergerilya, dari dua gunung kembar milik Anggun yang terus ia re*** hingga membuat Anggun berhasil mengeluarkan suara-suara yang dari tadi dia tahan.
Meski di tengah kesadarannya dia merutuki suara yang keluar dari mulutnya tersebut, Anggun juga sedikit merasa bingung dia terus menolak tapi tubuhnya seolah menerima setiap sentuhan yang di berikan Leon padanya.
Membuat bayangan masa lalu yang pernah Leon berikan seperti saat ini hadir kembali dalam ingatannya.
Yang membedakan, dulu Leon begitu kasar dan brutal memperlakukannya namun saat ini Leon begitu lembut dan terasa sayang.
Hingga tanpa Anggun sadari dia menikmati setiap apa yang di lakukan Leon saat ini padanya.
Kini wajah Leon pun sudah terbenam di ceruk leher Anggun, membuat Anggun merasakan sensasi aneh dan menggeliat.
Lama keduanya tidak merasakan hal tersebut, membuat Leon tidak ingin cepat-cepat menyudahi aktivitas dan momen langka ini.
Apalagi saat melihat Anggun yang tak lagi memberontak seperti sebelumnya. Membuat Leon memberikan kesempatan bagi dirinya untuk menandai kepemilikan pada setiap inci tubuh Anggun.
Seolah Leon ingin memberitahu orang-orang yang berusaha mendekati Anggun untuk melihat tanda kepemilikannya bahwa Anggun adalah miliknya dan ia masih sah menjadi istrinya.
Meskipun saat itu Leon telah mengusir Anggun dari rumah dan dari kehidupannya.
Dan meski dalam pemikiran Leon bahwa Anggun telah berselingkuh darinya, hingga memiliki seorang anak dari pria lain.
Namun situasi saat ini seolah membuat Leon tidak memperdulikan hal tersebut. Dia dapat mengesampingkan masalah itu nanti.
Leon masih dalam aktivitas bercocok tanamnya.
Seolah ia sengaja memperlama aktivitas tersebut, dia ingin melihat Anggun yang meminta untuk ia sentuh kembali.
Sengaja membuat Anggun frustrasi dengan sentuhannya tersebut. Hingga Leon berharap Anggunlah yang akan memintanya untuk segera menancapkan pusaka miliknya tersebut di tempat yang haknya.
Hingga akhirnya Leon pun terpaksa yang harus berinisiatif sendiri tanpa harus di minta oleh Anggun.
Ya kali Anggun yang minta di pompa lebih dulu, gengsi lah plus juga masih kesel.
Leon pun segera mengangkat benda pusaka miliknya yang sudah mengeras untuk bersiap ia tancapkan pada lembah kenkkkm milik Anggun.
Membuat Anggun yang sudah lama tidak merasakan hal tersebut kembali memekikan suaranya yang merasa sedikit kesakitan di bagian intimnya.
“Ahh… sakit, kak” pekik Anggun bersuara, setelah pusaka Leon mulai menerobos miliknya, berbeda dari yang sebelum-sebelumnya meracau tidak jelas.
“Tenanglah sayang, aku akan pelan-pelan” ucap Leon di tengah usahanya tersebut.
“Kau pasti tidak akan merasakan sakit lagi. Aku janji itu” lanjut Leon dengan sedikit memompa pipa miliknya.
Yang benar saja, membuat suara Anggun kembali berganti menjadi suara kenkkkm yang terdengar bergairah di telinga Leon yang membuatnya terus memacu hasratnya tersebut.
“Aahhh.. lepaskan.. hentikan.. kak”
“Tenanglah, sayang. Sebentar lagi”
“Arhhh…kak..”
“Ya.. sebut namaku, sayang”
“Aarkhh”
Leon semakin memacu pompanya naik turun hingga akhirnya pelepasan yang mereka tunggu-tunggu pun keluar secara bersamaan dan Anggun pun tanpa sadar menyebut nama Leon.
“Aahh… kak Leon”
“Yah.. sayang. Kau nikmat sekali” ucap Leon di akhir pelepasannya dan mencium kening istrinya tersebut.
“Terima kasih sayang kau sudah bersedia melayaniku malam ini” lanjut Leon di daun telinga Anggun sambil memeluknya dari belakang.
“Dan aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi” ucap Leon terdengar sungguh-sungguh hingga membuat Anggun tersenyum bahagia.
Namun sesaat kemudian senyuman itu pun kembali sirna. Ada tetesan bening yang jatuh dari mata Anggun.
“Meskipun kamu sudah memiliki anak dari pria lain” lanjut Leon berbicara, dan sedetik kemudian ia pun tertidur kelelahan.
Mendengar hal tersebut, seolah Anggun tersayat sembilu pedang yang menorehkan luka di hatinya.
Itu artinya Leon tanpa sadar masih menuduh dan menganggapnya telah berkhianat dan berselingkuh darinya.
Leon masih berpikiran bahwa anak yang dia lihat bersama Anggun saat itu adalah anak dari pria lain. Dan tuduhan itulah yang tidak dapat Anggun terima.
Dengan segala kesedihannya Anggun mencoba mengerjapkan matanya. Perlahan ia mencoba membuat matanya untuk tertutup.
Namun sesaat kemudian dia teringat anak-anaknya. Dia sudah melewatkan janji makan malam dengan mereka. Bahkan mungkin sekarang mereka sudah menunggunya lama.
Anggun segera bergegas bangkit dari tempat tidur tersebut.
Beruntung Leon sudah tertidur dengan lelap, sehingga Anggun dapat segera pergi dari tempat terkutuk itu.
“Kau sudah membuatku menelantarkan anak-anak kita malam ini, dan membuat mereka menunggu lama. Bahkan kau telah menganggap mereka anak pria lain” ucap Anggun lirih dengan tangisan kesedihannya tanpa Leon sadari.
“Aku tidak menyangka kau memiliki pikiran sepicik itu” lanjut Anggun berbicara sendiri dengan menahan tangisnya.
Kemudian ia segera memungut pakaiannya yang tengah berserakan di sembarang tempat.
Tanpa berlama-lama lagi, Anggun segera mengambil kunci kamar tersebut yang sudah berada di atas nakas di samping ranjang tersebut.
Dengan sesekali menghapus air matanya, Anggun segera melangkah pergi dan membuka pintu kamar Leon lalu keluar dari apartemen tersebut.
Berhasil pergi dari tempat itu, Anggun segera melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan waktu jam tengah malam.
Dia harus segera menemui anak-anaknya dan meminta maaf pada mereka.