Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Kau Harus Menemaniku


Entah mengapa nyonya Murni jadi teringat kembali hal tersebut. Ia nampak terlihat meneteskan air matanya.


Namun meskipun begitu, dia masih saja mencoba mempertahankan rasa bencinya terhadap Anggun.


“Dasar… wanita sialan itu membuatku sedih saja dan mengingatkanku kembali padanya” ucap nyonya Murni sambil menyeka air matanya.


Lalu tiba-tiba suaminya datang dan mendapati dirinya sedang bersedih. Namun tuan Michael salah mengira bahwa istrinya tersebut menangis karena ulahnya.


“Ma… mama” panggil tuan Michael pada istrinya yang sedang membelakanginya.


“Mama menangis?” tanya tuan Michael saat mendekat dan melihat istrinya tersebut sedang menyeka air matanya.


“Maafin papa, ma. Papa tidak bermaksud membuat mama bersedih” lanjut tuan Michael meminta maaf, dia mengira kesedihan istrinya tersebut karena ulahnya.


“Baiklah… papa akan coba bantu mama untuk membujuk Leon lagi, supaya dia mau segera menikah kembali” ucap tuan Michael, supaya istrinya tidak bersedih lagi. Dia masih berpikir hal itu lah yang membuat istrinya tidak mau berbicara padanya saat ini.


“Papa benaran mau bantu mama buat bujuk Leon lagi?” tanya nyonya Murni memastikan, memanfaatkan tangisannya untuk sekalian merayu suaminya untuk mau membujuk anaknya tersebut.


“Iya ma. Papa beneran” ujar tuan Michael terpaksa.


“Makasih, pa” ucap nyonya Murni sambil memeluk suaminya tersebut.


Sementara itu, di dalam kamar Leon. Anggun sudah selesai melakukan terapi pijatnya pada kaki Leon.


.zxxtdiiiummmmkm


“Tuan saya sudah selesai” ucap Anggun sambil melihat ke arah Leon yang di lihatnya malah tidur kembali.


“Ya ampun… dia malah tidur lagi” lanjut Anggun berujar.


Ia pun membiarkan Leon kembali untuk tidur. Sementara dirinya segera keluar dari kamar tersebut. Dan sesampai di luar, Anggun segera mengecek handphonenya.


Lalu dia melihat ada panggilan tak terjawab dari Nina.


Anggun pun segera menelpon balik Nina. Dia takut terjadi sesuatu pada anak-anaknya.


“Hallo, Nin” ucap Anggun setelah merasa panggilannya di angkat.


“Apa tadi kamu menelpon saya?. Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Anggun penasaran.


Sementara di ujung telpon, Nina merasa bingung harus berkata apa pada Anggun tentang hal tadi.


Dia memang sempat menelpon Anggun saat dirinya khawatir bahwa Juni tidak dalam jangkauannya.


Tapi kini dia merasa bingung harus mengatakannya atau tidak, bahwa tadi anaknya sempat hilang dari perhatiannya.


“Ya Tuhan bagaimana ini. Apa aku bilang atau tidak ya pada Anggun, kalau tadi Juni sempet hilang” ucap Nina dalam hati.


Membuatnya mengulur-ulur menghabiskan waktu.


Anggun yang tidak menerima jawaban di ujung telponnya kembali berujar.


“Hallo, Nin. Kenapa kamu tidak menjawab. Apa kamu dan anak-anak baik-baik saja?” tanya Anggun lagi.


“Ah.. Tit.. tidak. Maksudku kami baik-baik saja. Tadi aku memang menelpon untuk menanyakan kamu sudah sampai atau belum. Begitu” ucap Nina, ia tidak berani mengatakan bahwa tadi salah satu anaknya sempat menghilang.


“Oh .. aku pikir apa. Tapi apa anak-anak baik-baik saja?” tanya Anggun.


“I..iya. Anak-anak baik-baik saja. Apa kamu ingin berbicara dengan mereka?” ujar Nina seraya meredakan rasa paniknya.


“A..Anggun sebenarnya…” ucap Nina hendak mengatakan yang sebenarnya, apa yang tadi terjadi.


“Hallo… Hallo, Anggun” ucap Nina lagi, namun ternyata telponnya sudah tak tersambung.


“Hemm… telponnya sudah di tutup lagi” ujar Nina sambil memandang handphonenya sendiri.


Sementara itu tiba-tiba si kembar datang dan mulai mengajak Nina untuk bermain kembali. Tapi Nina tidak mengatakan bahwa ibu mereka baru saja menelpon.


Dia takut anak-anak akan memintanya untuk menelpon ibu mereka kembali. Tapi sepertinya ibu mereka sedang sibuk, jadi dia tidak berani untuk menelpon Anggun balik. Takut mengganggu pekerjaannya tersebut, pikir Nina.


Sementara itu, Leon tiba-tiba terbangun. Tapi dia mendapati dirinya sendirian. Leon mencari-cari ke setiap sudut ruangan kamar besar miliknya itu. Tapi dia tidak mendapati orang yang sedang di carinya.


“Kemana anak itu. Kenapa dia tidak membangunkan aku?” tanya Leon berbicara sendiri saat tidak menemukan orang yang di carinya.


“Apa dia sengaja membiarkan aku tidur terus supaya aku tidak menyuruh-nyuruhnya lagi” lanjut Leon berpikiran sesuka hatinya.


Kemudian dia pun segera mencari handphonenya untuk segera menghubungi orang tersebut.


“Kau di mana?. Kenapa tidak membangunkan aku. Apa kau sengaja ingin membuatku tidur terus supaya kau bisa bersantai-santai, begitu?” pekik Leon berpura-pura marah-marah.


Tanpa sadar sambil menggerakkan kakinya untuk turun dari atas kasur king sizenya tersebut.


Kemudian mulai melangkahkan kakinya sambil tetap menelpon dan marah-marah.


Sementara di ujung telpon Anggun nampak menjauhkan handphone dari daun telinganya, merasa bising mendengar tuannya yang terus ngomel-ngomel padanya.


“Hiiss… dia ini. Apa dia tidak cape terus-terusan mengomel. Seperti anak gadis saja” ucap Anggun pelan sambil tetap menjauhkan hp dari mulutnya.


“Heh .. apa kau bilang?” pekik Leon lagi, saat sayup-sayup mendengar sindiran Anggun tersebut untuknya.


Sementara itu Leon masih tidak sadar jika dirinya sudah dapat berjalan.


“Cepat kau ke kamar ku. Aku mau pergi ke luar dan kau harus menemaniku. Mengerti!” lanjut Leon tiba-tiba tersinggung dan marah.


Kemudian dia pun segera menutup teleponnya, namun mulutnya masih saja berkomat-kamit.


Hingga saat ia berjalan melewati cermin, tiba-tiba langkahnya terhenti dan baru menyadari sesuatu.


Betapa terkejutnya Leon, mendapati dirinya yang sudah dapat berdiri sendiri di dalam cermin. Kemudian dia melihat ke arah kasur dan mulai menyadari bahwa dirinya tidak hanya bisa berdiri sendiri tapi rupanya dia juga sudah dapat berjalan dengan kakinya sendiri.


Untuk memastikan bahwa ia tidak bermimpi, Leon mulai menampar-nampar wajahnya sendiri dan mencubit tangannya lebih keras lagi.


Menyadari dirinya tidak sedang bermimpi, Leon tiba-tiba melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang baru mendapatkan sesuatu yang di inginkannya.


Dan tepat saat Anggun mengetuk pintu, tiba-tiba Leon terjatuh saking senangnya dia melompat-lompat.


Mendengar sesuatu yang terjatuh, Anggun segera membuka pintu kamar Leon meski tanpa seizin dari yang empunya tempat.


Anggun takut terjadi sesuatu pada tuannya tersebut, dan benar saja saat ini dia melihat Leon yang terkapar di lantai kamarnya.


“Tu.. tuan. Apa anda baik-baik saja?” tanya Anggun merasa khawatir sambil berlari menghampiri tuannya tersebut.


“Aku… aku sudah… “ ucap Leon dengan wajah gembiranya dan hendak mengatakan bahwa dirinya sudah dapat berjalan.


Namun ia tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk tidak memberitahu bahwa dirinya sudah dapat berjalan kembali.


Dan dia tidak akan memberitahu siapapun lebih dulu sebelum semuanya pasti dan dia benar-benar di nyatakan sembuh oleh dokter, pikir Leon.