Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Babak Belur


Membuat Juna lebih memilih untuk menghindar dan hendak menjauh dari anak-anak usil tersebut.


Namun rupanya anak-anak pengganggu itu tidak membiarkan Juna untuk pergi begitu saja.


“Dasar penakut!!” ejek Zayen memanas-manasi Juna yang hendak membawa adik dan teman-teman lainnya untuk pergi.


“Oh iya, Juna kan gak punya ayah. Jadi pasti dia takut karena gak punya ayah yang bisa belain dia” ucap salah satu anak usil yang bernama Tio ikut menjadi kompor.


“Iya benar. Apalagi kata mamah ku kalau anak yang gak punya ayah itu namanya anak…. anak haram” ucap anak usil lainnya yang bernama Azis meski sedikit mengingat-ingat perkataan tersebut.


Membuat anak-anak lainnya pun ikut menimpali dan mencemooh Juna dengan sebutan anak haram.


Dengan perasaan pongahnya anak-anak usil tersebut terus mengejek sambil tertawa menyebut Juna berkali-kali dengan sebutan anak haram dan juga Juni pun tidak luput dari bahan ejekan mereka.


“Juna anak haram …”


“Juni anak haram…”


“Mereka gak punya ayah”


Ejek anak-anak itu sambil tertawa, bernyanyi dan bertepuk tangan, menjadi bahan usil untuk anak-anak tersebut.


Mendengar hal itu membuat langkah kaki Juna terhenti. Rupanya dia mulai merasa tersinggung. Sementara Juni yang mendengar ejekan tersebut terdengar sudah menangis dan tangisannya pun semakin tersendu-sendu.


Meski mereka tidak sepenuhnya mengerti apa makna dari kalimat anak haram, namun kata-kata tersebut entah mengapa terdengar begitu menyakitkan di telinga Juna dan Juni.


Sementara yang mengejek nampak terlihat tak bersalah dan malah semakin menjadi-jadi untuk menghina si kembar.


Sorot mata Juna tiba-tiba begitu mengerikan untuk anak seusianya. Dan raut wajahnya sudah menunjukan amarah yang tengah di tahannya.


Namun anak-anak usil itu masih belum menyadarinya. Mereka belum melihat raut wajah kemarahan Juna.


Sementara Juni dan teman-temannya sudah mulai merasa ngeri dengan apa yang di tampakkan Juna.


Namun sebisa mungkin Juna menutup matanya dan tetap berusaha menahan amarahnya.


Juna masih membelakangi anak-anak pengganggu itu, jadi mereka tidak dapat melihat raut kemarahan Juna yang tengah mereka ejek dan mereka hina.


Mereka masih setia bernyanyi dengan nada ejekan yang di tunjukan pada Juna. Namun rupanya mereka belum berhasil membuat Juna menggubris ejekan mereka.


Sepertinya mereka sengaja ingin membuat masalah dengan Juna.


Hingga akhirnya mereka dengan sengaja membawa-bawa nama ibu si kembar dengan kata-kata yang tidak pantas siapapun ucapkan.


“Juna anak haram…”


“Juni anak cengeng…”


“Ibunya seorang *****..” ucap Zayen saat teringat dirinya tanpa sengaja mendengar ibunya bergosip dengan ibu-ibu lain saat membicarakan tentang si kembar dan Anggun. Dan mengatakan kalimat tersebut hingga membuat ibu-ibu lainnya tertawa terbahak-bahak.


Pikir Zayen kata-kata tersebut memang sebuah ejekan atau hinaan yang biasa orang dewasa lakukan.


Tapi dia sendiri tidak tahu makna dan arti dari kata-kata itu. Dia hanya mengikuti apa yang dia lihat dan dia dengar dari sekitarnya.


Dan kata-kata tersebut cukup membuat beberapa orang dewasa yang mendengarnya syok dan terkejut.


Dan di jaman sekarang ini bukannya segera untuk melerai namun beberapa orang memanfaatkan momen-momen tersebut untuk lebih dulu merekamnya dan menjadikannya sebuah konten untuk viral.


Sementara itu, Juna yang mendengar ibunya di bawa-bawa meski dia sendiri tidak mengerti makna dari kata-kata tersebut, tapi dia yakin hal tersebut adalah sebuah ejekan untuk ibunya.


Dan hal tersebut tentu tidak bisa Juna terima begitu saja.


Sementara anak-anak lain yang dari tadi mengoceh nampak terkejut sesaat dan mulai terdiam.


Mereka tidak menyangka jika Juna akan berani melakukan hal nekad tersebut.


Zayen yang merasa kewalahan meminta bantuan teman-temannya. Mereka pun mulai tersadar dan ikut membantu Zayen untuk mengalahkan Juna.


Mereka mulai mengeroyok Juna hingga dia mendapat pukulan balik dari Zayen karena bantuan dari teman-temannya yang berhasil memeganginya.


Sementara itu orang yang dari tadi merekam kelakuan mereka masih terus merecordnya. Dia ingin melerai tapi di sisi lain dia juga merasa sayang jika aksi para bocil tersebut tidak terekam.


Hingga akhirnya dia meminta temannya yang dari tadi juga ikut melihat untuk segera memanggil wakil sekolah.


Di sisi lain Juni nampak menangis histeris saat melihat Juna di keroyok anak-anak tersebut. Dia ingin membantu kakaknya namun teman-temannya berusaha menghentikan Juni untuk tidak mendekat.


Mereka takut Juni juga akan menjadi bulan-bulan mereka.


Hingga beberapa saat kemudian wali sekolah dan wali murid berdatangan untuk melihat aksi tidak terpuji tersebut.


Melihat para orang tua yang hendak datang menghampiri mereka, teman-teman Zayen segera melepaskan Juna dan segera kabur dari tempat tersebut.


Mendapati dirinya di lepaskan, membuat Juna tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk kembali menghajar Zayen.


Namun sayangnya aksi Juna tersebut di salah artikan para orang tua dan wakil sekolah yang melihat kejadian tersebut dimana mereka hanya melihat saat Juna memukul Zayen tanpa melihat keseluruhan sebelumnya.


Mendapati para orang tua dan wakil sekolah berdatangan, Zayen memanfaatkan keadaan tersebut dan mulai menangis untuk mendapatkan simpati.


Bocah licik tersebut berlagak seolah dirinyalah yang terintimidasi dan dianiyaya oleh teman sekolahnya tersebut.


Membuat orang-orang yang melihatnya merasa prihatin dan kasihan pada Zayen. Pada hal sebenarnya anak itulah yang memang dari awal sudah mencari masalah dengan Juna.


Sementara itu, orang yang dari tadi merecord aksi mereka merasa sedikit syok dan terkejut.


Dia tidak menyangka bahwa para bocil jaman sekarang pintar sekali berakting dan pintar membalikkan fakta.


Mungkin dia sendiri juga akan percaya dengan anak licik itu jika dia dari tadi tidak melihatnya secara langsung kejadian yang sebenarnya.


Namun beruntung dia dapat merekam kejadian tadi dari awal, meski dia bukannya melerai malah memvidieokan.


Sementara itu, rupanya orang tua Zayen yaitu mamanya yang biasa di panggil Jeng Kellin tidak terima saat melihat anaknya tersebut di aniyaya oleh teman sekolah anaknya.


Apalagi yang dia tahu anak tersebut merupakan anak dari orang yang selama ini sering dia gosifkan dengan ibu-ibu lainnya. Membuatnya murka dan tidak terima.


Hingga dia berani menjewer telinga Juna di depan banyak orang setelah melihat anaknya tersebut menangis di hadapannya.


Namun beruntung wali sekolah yang bernama Bu Titin segera menghentikan aksi orang tua tersebut yang di nilainya juga tidak pantas di lakukan.


“Dasar anak kurang ajar. Berani-beraninya kamu menganiaya anakku sampai babak belur begini” kesal Jeng Kellin sambil menjewer Juna di depan banyak orang.


Entah dia buta atau pura-pura tidak melihat, pada hal dengan jelas Juna pun terlihat sudah babak belur hingga membuat sudut bibir Juna terlihat berdarah yang di akibatkan oleh anaknya tersebut.


Namun karena yang di lihatnya terakhir kali adalah Zayen yang di pukul Juna membuat Jeng Kellin dan beberapa orang tua murid lainnya tetap menuduh Juna yang bersalah dan kurang ajar.


Meskipun pertama kali yang memukulpun adalah Juna, tapi yang lebih dulu mencari gara-gara adalah Zayen dan teman-temannya.


Tapi hal tersebut tentu tidak akan merubah pandangan Jeng Kellin terhadap Juna yang di anggapnya sebagai anak haram dan kurang ajar, apalagi telah berani memukul anak tersayangnya tersebut.


Membuat Jeng Kellin bertambah murka dan menginginkan Juna segera di keluarkan dari sekolah tersebut.


Entah dosa dan kesalahan apa yang di lakukan Si kembar dan Anggun hingga membuat Jeng Kellin begitu membenci mereka.