Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Khawatir dan Cemas


Kemudian mereka pun mulai berjalan untuk mencari keberadaan tante anak tersebut.


Tapi sebelum itu, tiba-tiba sopir pribadi nyonya Murni datang untuk menjemputnya setelah tadi memberitahu keberadaannya.


“Permisi nyonya. Mobilnya sudah siap” ucap sopir tersebut memberitahu nyonya besarnya.


“Tunggu sebentar. Aku akan mengantar anak kecil ini dulu” ucap nyonya Murni memberitahu sopirnya tersebut.


“Ini anak siapa nyonya?” tanya sopir tersebut keceplosan, merasa syok melihat nyonya besarnya peduli pada orang lain.


“Kau tidak perlu banyak tanya. Ikuti saja aku” ucap nyonya Murni ketus.


“Ma.. maaf, nyonya” ucap sopir itu sambil menunduk.


Kemudian dia pun mulai mengikuti nyonya besar dan gadis kecil itu yang sudah mulai berjalan bergandengan.


“Lain kali kalau kamu mau ke mana- mana, jangan pergi sendirian. Mengerti!” ucap nyonya Murni mengingatkan anak kecil tersebut. Seolah dia adalah cucunya sendiri.


Mereka nampak seperti cucu dan nenek yang sedang berjalan-jalan di mall. Juni nampak sama sekali tidak ketakutan, dia malah seolah merasa senang di tuntun oleh seorang oma yang saat ini sedang mengantarnya.


Sambil berceloteh dan melompat-lompat kecil Juni membuat nyonya Murni hanya dapat menggelengkan kepalanya pelan, merasa lucu dan gemas dengan anak kecil tersebut.


“Anak ini, benar-benar tidak kelihatan takut sama sekali. Dia malah terlihat happy-happy aja aku bawa. Apa jadinya jika dia benar-benar di rayu dan di bodoh-bodohi penculik” ucap nyonya Murni dalam hati, tidak melihat rasa panik ataupun takut di wajah anak gadis tersebut.


Jika anak lain, mungkin saja sudah menangis atau panik jika jauh dari jangkauan orang tua mereka, apalagi di bawa oleh orang yang tak di kenal.


Sampai akhirnya Nina yang tengah mencari-cari keberadaan Juni berhasil menemukannya yang tengah berjalan di sekitaran tempat bermain anak-anak.


Nina sudah ketakutan dan merasa khawatir saat dia tidak melihat keberadaan Juni di sekitaran tempat anak-anak bermain.


Dia pun sudah bertanya pada Juna yang saat itu sedang bermain permain lain yang berbeda dengan Juni. Tentu Juna tidak melihat ke mana pergi adiknya tersebut. Juna pun ikut khawatir, dan ikut mencari keberadaan adiknya tersebut.


Dengan perasaaan tidak menentu, Nina hendak menelpon Anggun untuk memberitahu bahwa Juni menghilang dari jangkauannya.


Tapi sebelum Anggun mengangkat telponnya, Nina sudah lebih dulu mengakhiri panggilan tersebut saat dia tidak sengaja melihat Juni dan seorang wanita paruh baya menghampirinya.


“Oma, itu tante Nina” ucap Juni sambil menunjuk ke arah Nina.


“Juni… “ teriak Nina sambil berlari ke arah Juni dan merasa bersyukur, akhirnya anak itu ketemu juga.


“Juni sayang, kamu kemana saja tadi. Kenapa tidak bilang-bilang sama tante?” lanjut Nina sambil memeluk anak tersebut dan mulai bertanya-tanya merasa khawatir.


“Juni… Siapa Oma ini, sayang?” tanya Nina saat melihat seorang wanita paru baya yang masih menggenggam tangan Juni.


“Ini Oma Mulni, tante. Tadi Juni ke toilet, tapi Juni lupa jalan ke sininya” ucap Juni memberitahu.


“Apa?. Kenapa Juni gak bilang tante kalau mau ke toilet” tanya Nina dengan sedikit kesal, merasa khawatir terjadi sesuatu jika benar-benar Juni menghilang karena keteledorannya.


“Sudah…sudah. Sekarang kan sudah ketemu. Lain kali anda juga harus lebih berhati-hati lagi ngawasinnya” ucap nyonya Murni, merasa sedikit tidak terima melihat anak kecil tersebut terlihat takut saat Nina bertanya padanya.


“Nak, kamu sudah ketemu tante mu. Sekarang Oma pergi dulu, ya. Lain kali kamu jangan berani lagi untuk pergi sendirian” lanjut nyonya Murni sambil berpamitan pada anak kecil tersebut.


“Dan kamu, jangan lagi-lagi teledor seperti ini. Kalau penculik yang menemukannya, sudah pasti anak ini akan benar-benar hilang” ucap Nyonya Murni beralih pada Nina, seolah dia sedang mengomel karena cucunya tidak di jaga dengan baik.


“Baik nyonya dan terima kasih sudah berbaik hati mengantarkannya” ucap Nina sedikit menunduk merasa sedikit segan saat melihat dari tampilan wanita paruh baya tersebut.


Kemudian nyonya Murni pun berbalik dan melangkah pergi untuk segera kembali.


Namun saat ia melanjutkan langkahnya, tiba-tiba dia teringat bahwa anak gadis tersebut juga bersama kakaknya. Tapi tadi dia tidak melihat saudara dari anak gadis itu.


Lalu dia pun mencoba berbalik untuk memastikan.


“Bukannya tadi anak itu bilang dia bersama tante dan saudaranya?” ucap Nyonya Murni pelan, saat mengingat kembali hal tersebut, namun ia tidak melihat saudara anak itu.


Entah mengapa nyonya Murni saat ini mendadak jadi kepo dan penasaran pada orang lain, apalagi ini anak kecil.


Kemudian untuk menghilangkan rasa penasarannya, nyonya Murni menghentikan langkahnya dan sesaat melihat ke belakang ke arah mereka.


“Maaf, nyonya. Apa ada yang tertinggal?” tanya sopirnya yang dari tadi mengikuti, dan melihat nyonyanya tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Tidak” ucapnya sambil melihat ke belakang memastikan.


Lalu tiba-tiba nyonya Murni dari ke jauhkan melihat seorang anak laki-laki yang berlari ke arah mereka.


Nyonya Murni tersenyum, entah mengapa dia merasa tenang saat melihat anak-anak itu terlihat baik-baik saja.


“Syukurlah mereka baik-baik saja” ucap Nyonya Murni saat melihat saudara anak gadis itu baik-baik saja. Meskipun dia tidak sempat melihat saudara Juni secara jelas dan langsung.


Dia tidak berharap jika saudara gadis tersebut juga ikut menghilang.


Nyonya Murni pun segera melanjutkan langkahnya dan pergi dari tempat tersebut.


Sementara itu, Juna yang baru datang menghampiri adik dan tante Nina segera mengomeli adiknya tersebut.


“Juni… kau ini membuat tante Nina khawatir saja. Apa kau tidak tahu, tadi kami mencarimu kemana-mana” ucap Juna seperti orang dewasa saat menghampirinya. Membuat Nina yang mendengarnya hanya dapat melihat merasa bingung.


“Lain kali kalau kau mau pergi itu bilang. Jangan membuat kami cemas” lanjut Juna masih terus mengomel. Membuat Juni hanya terdiam dan menundukan kepalanya sambil menggesek-gesekan kakinya di lantai. Tidak berniat untuk mendebat kakaknya yang sok dewasa tersebut.


“Kalau mami sampai tahu bagaimana. Pasti dia akan sangat khawatir, dan pekerjaannya akan terganggu” ucap Juna lebih lanjut.


Dan lagi-lagi membuat Nina terdiam saat dirinya hendak bicara untuk membuat Juni mengerti supaya di lain hari tidak pergi begitu saja dan tidak terulang kembali. Apalagi di tempat seperti mall saat ini.


Tapi ucapannya lagi-lagi terhenti saat Juna lagi-lagi menyela ucapannya. Membuat Nina tidak jadi untuk bicara, karena ucapannya sudah terwakili oleh Juna. Anak laki-laki yang sok dewasa dan sok mengerti, itulah Juna.