
Leon mulai kembali merasa bersalah, dia mengerti kenapa Anggun sampai berbohong dan menghindari dirinya.
Kenapa dia begitu bodoh menganggap Anggun sama saja dengan wanita-wanita yang pernah dekat dengannya hanya karena uang.
Hingga dia tega mengusir dan mengabaikannya selama ini.
Tapi setelah dia tahu kenyataan bahwa Anggun tidak seperti apa yang di pikirkan nya, Anggun sudah pergi dan entah menghilang kemana saat itu.
Kini dia menyesal telah mengusir Anggun dan sempat membencinya cukup lama.
Apalagi setelah kini dia tahu bahwa Anggun memiliki anak dari benihnya sendiri, meskipun dia sempat berpikir bahwa salah satu anak yang di temuinya adalah hasil dari pria lain.
Hal tersebut membuat Leon semakin bersalah dan tak ingin kehilangan Anggun maupun anaknya lagi.
Kini dia harus berjuang untuk mendapatkan cinta Anggun dan kedua anaknya, bagaimana pun caranya.
Anggun sudah berada di ruang anaknya, namun dia nampak sedikit takjub saat melihat ruangan tersebut yang terbilang seperti kamar hotel.
Sepertinya Leon sengaja memindahkan anaknya ke ruangan VVIP, meskipun anaknya tersebut hanya mengalami luka trauma.
Namun karena Leon ingin yang terbaik untuk anaknya dan memiliki dana yang mempuni, tentu hal tersebut tidak membuat Leon keberatan.
Tapi berbeda dengan Anggun, dia berpikir Leon terlalu berlebihan dan menghambur-hamburkan uang. Meskipun dia tahu hal itu tidak akan membuat Leon jatuh miskin.
“Apa ini?” lirih Anggun merasa terkejut dengan ruangan yang saat ini anaknya tempati.
“Sus tunggu sebentar, apa ini tidak salah kamar?” tanya Anggun pada suster yang baru saja hendak keluar.
“Sepertinya tidak, nyonya. Karena tuan Leon Adinata langsung yang meminta kami supaya memindahkan pasien ke ruangan ini” ucap suster tersebut lalu pergi setelah tak ada lagi pertanyaan dan Anggun berkata terima kasih.
“Ya Tuhan… kenapa dia harus menghambur-hamburkan uang hanya untuk… “ ucap Anggun tak habis pikir dan tiba-tiba kalimatnya pun terhenti.
“Untuk anak-anakku tidak ada yang namanya menghambur-hamburkan uang” ucap Leon yang tiba-tiba datang dan melanjutkan kalimat Anggun. Pada hal maksud Anggun bukan seperti itu.
Namun Anggun sudah lelah jika harus kembali berdebat dengan orang itu.
Dia lebih memilih menghindar untuk berbicara lagi dengan Leon.
Anggun berjalan mendekati Juni yang sudah tertidur pulas dengan infus di tangannya. Memastikan bahwa Juni baik-baik saja dan tidak demam, kemudian dia mengecup kening anak perempuannya tersebut dengan sayang.
Kemudian dia beralih menghampiri Juna yang juga sudah tertidur pulas di atas sofa yang tersedia di ruangan tersebut, kemudian melakukan hal sama seperti apa yang di lakukannya kepada Juni.
Rupanya hal tersebut tidak luput dari pandangan Leon yang terus mengawasi setiap gerak gerik Anggun saat itu.
Rasanya Leon juga ingin seperti anak-anaknya di mana dia dapat merasakan setiap kali Anggun memeluk dan mencium anak-anaknya tersebut.
Dengan sambil membayangkan dirinya juga di perlakukan seperti itu, membuat Leon senyam senyum sendiri seperti orang gila.
Rupanya hal tersebut terlihat oleh Anggun dan menganggap Leon sedang gila.
“Dia kenapa?” tanya Anggun lirih, saat melihat Leon senyam senyum sendiri.
“Kenapa dia senyam senyum sendiri kaya orang gila begitu” ucapnya sedikit aneh.
“Hey… kenapa masih di sini?” tanya Anggun masih bernada sinis, saat dirinya sudah di depan Leon.
”Lebih baik anda pergi, ini sudah malam” lanjut Anggun tak memberi kesempatan untuk Leon berbicara.
“Jika aku tidak mau, bagaimana?” ucap Leon pelan-pelan sambil mendekatkan suaranya pada Anggun, takut mengganggu anak-anaknya yang sedang tidur.
Membuat Anggun sedikit kesal dengan sikap dan ucapannya tersebut.
Namun dia tidak ingin membuat keributan dan akan percuma saja jika berdebat kembali dengan Leon.
Hingga akhirnya Anggun pun membiarkan Leon tetap berada di sana.
“Terserah kau saja” ucap Anggun dengan raut wajah kesalnya, namun sebisa mungkin suaranya tak membuat keributan yang akan membuat anak-anaknya bangun.
Mendengar hal tersebut, otomatis membuat Leon tersenyum menang meskipun Anggun menanggapinya dengan raut wajah kesal.
Tapi hal tersebut, justru membuat Anggun terlihat lucu dan menggemaskan di mata Leon.
Dia hendak mau ke luar untuk membeli sesuatu, dari tadi siang dia belum sempat makan dan mungkin kedua anaknya pun juga belum makan.
Takutnya si kembar tiba-tiba terbangun karena lapar, jadi dia harus segera berjaga-jaga untuk membeli makan.
Selain itu, Anggun juga tidak nyaman jika harus seruangan dengan laki-laki brengsek sepeti Leon. Dia tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengannya.
“Mau keluar kemana?” tanya Leon kepo.
“Bukan urusan anda!” ucap Anggun masih bersikap judes.
Leon pun sedikit berdecak kesal, kesabarannya mulai setipis tisu menghadapi Anggun saat ini.
“Anggun, sekali lagi aku tanya. Kau mau keluar kemana?” ucap Leon sambil menahan kesal, dia tidak ingin Anggun keluar sendirian.
“Aku bilang bukan u…” ucap Anggun hendak mengulang kembali kalimatnya namun tak sampai menyelesaikan kata-katanya, bibir manyunnya sudah di lahap oleh Leon dengan bibirnya sendiri.
Hal tersebut tentu membuat Anggun syok dan membelalakan mata saat Leon tiba-tiba mencium dan melahap bibirnya.
Namun tidak lama, Leon pun kembali melepas ciumannya.
“Kau… Berani-beraninya menciu….” ucap Anggun pelan takut membuat keributan namun nampak kesal tapi lagi-lagi kalimatnya belum selesai Leon kembali menciumnya kilat.
Karena Anggun mulai memundurkan tubuhnya, tapi tentu saja Leon tidak diam begitu saja. Dia mengikuti langkah mundur Anggun yang kini sedang ketakutan, takut di cium kembali oleh Leon, namun dia juga tidak berhenti melawan dengan kata-katanya.
“Dasar laki-laki mesum, kurang ajar, tidak tahu malu” ucap Anggun masih pelan namun dengan mimik muka marahnya, ingin sambil berteriak tapi takut anak-anaknya terbangun.
Al hasil bukannya membuat Leon berbalik merasa takut, tapi malah semakin membuatnya gemas dan berani terus mendekati Anggun.
“Berhenti!!… Atau aku akan…”ucap Anggun mencoba mengancam Leon karena kini langkah mundurnya sudah tertahan oleh dinding di belakangnya, tapi lagi-lagi kalimatnya mengambang, dia ingin berkata teriak tapi dia ragu saat melihat anak-anaknya yang sudah terlelap dan tak ingin mengganggu mimpi indah mereka.
“Atau apa?” ucap Leon tepat di telinga Anggun. Dia tahu apa yang ada di pikiran Anggun saat ini.
Dia sengaja membuat Anggun tambah takut dan sengaja untuk mengerjainya.
Namun tak di sangka-sangka Anggun yang merasa tak nyaman hendak berterik.
“Atau aku akan minta TO …” ucap Anggun dengan akhir kalimat yang hendak di teriakkan. Dia sudah tidak punya pilihan lain lagi, meski harus membangunkan anak-anak nya tersebut.
Namun lagi-lagi usahanya tidak berhasil, hal tersebut malah membuat Leon kembali melahap bibir ranumnya.
Bagaimana tidak, Leon yang takut teriakkan Anggun akan membangunkan anak-anaknya malah membuatnya dengan cepat mencium bibir Anggun supaya tak berteriak.
Namun Anggun yang mendapati dirinya kembali di lahap, tentu tidak bisa berdiam diri saja.
Dia mencoba untuk melepaskan diri, dan berusaha memukul-mukul dada Leon yang sudah menghimpitnya ke dinding.
Namun Leon yang tadinya hanya sekedar untuk menakut-nakuti dan membuat Anggun supaya tidak berteriak.
Malah membuat ciumannya semakin dalam dan sulit untuk di lepaskan.
Leon mulai menangkup kepala Anggun yang terus berusaha melawan.
Seolah tak perduli, Leon terus ********** hingga membuatnya dapat menerobos salivanya dan untuk sesaat Anggun pun di buat melayang dan mengikuti alurnya.
Leon terus menikmati asupannya, seolah dia belum puas dengan apa yang dia dapatkan.
Hingga saat Leon melepaskan pangutannya dan berpindah ke leher jenjangnya, dia mulai mendengar rintihan dan tangisan Anggun.
Sepertinya Anggun mulai menyadari kekhilafannya dan membuatnya seolah sedang di lecehkan, meski masih terbilang dengan suaminya.
Leon yang mendengar tangisannya, seketika itu pun menghentikan aksinya dan melepaskan Anggun.
Merasa dirinya sudah aman, Anggun segera melangkahkan kakinya dan pergi dari ruangan tersebut sebelum tangisannya pecah dan membuat anak-anaknya terbangun.
Setelah keluar dan berada di tengah koridor yang sepi, Anggun mulai meluapkan air matanya hingga ia merasa tenang dan lelah sendiri.
Dia merasa sedikit bingung dengan apa yang telah terjadi barusan. Kenapa dia harus ikut menikmati hal itu jika saat ini membuatnya merasa bersedih.
Entah karena dia masih merasa kesal dan marah pada Leon atas apa yang terjadi di masa lalu atau dia belum siap menerima kembali Leon dalam hidupnya saat ini.