
Beruntung Anggun masih bisa memberi alasan yang dapat di mengerti oleh kedua anaknya tersebut.
Meskipun harus memutar otak untuk dapat membuat Juna berhenti bertanya dan memberi alasan yang dapat dia terima.
Juna memang terbilang balita yang cukup cerdas dan slalu membuat orang dewasa geleng kepala jika harus berbicara dengannya. Dia tidak akan berhenti bicara ataupun bertanya sebelum ia mendapatkan jawaban yang masuk di akal menurutnya.
Selain sikapnya yang sok dewasa, dia juga termasuk anak yang sulit untuk di dekati oleh orang baru apalagi jika orang itu tidak ia sukai.
Dan kini mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Anggun sangat berterima kasih pada Nina karena telah menjaga dan merawat anak-anaknya.
“Nin, aku sangat berterima kasih sama kamu. Kamu sudah berbaik hati untuk menjaga dan merawat mereka” ucap Anggun sungguh-sungguh di saat anak-anaknya sedang bermain tidak jauh dari tempat duduk bersama Nina.
“Pada hal kalau di pikir-pikir kami bukan siapa-siapanya kamu. Tapi kamu dan bi Asri begitu baik pada kami. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kalian pada ku” lanjut Anggun mengutarakan isi hatinya.
“Jika saja waktu itu aku tidak bertemu dengan Bi Asri, mungkin …. mungkin aku tidak akan ada di dunia ini lagi” ucapnya saat mengingat kejadian bertemu dengan Bi Asri.
“Apalagi melihat tawa mereka seperti saat ini” ucapnya sambil melihat kedua anaknya yang nampak terlihat bahagia saat ini.
Membuat Anggun merasa menyesal karena dulu sempat berpikiran untuk mengakhiri hidupnya bersama kandungan yang kini telah menjadi malaikat-malaikat penyemangatnya.
“Dan… maaf kan aku selama ini sudah merepotkan kalian” lanjutnya dan mulai meneteskan air mata, merasa terharu atas kebaikan dan ketulusan Nina dan keluarganya.
“Tidak… aku tidak merasa di repotkan. Justru aku merasa bahagia, apalagi dengan adanya si kembar aku tidak merasa kesepian lagi di saat aku di tinggal pergi kerja oleh Mas Anton” ucap Nina jujur.
“Oh iya… mas Anton juga titip salam buat kamu” lanjutnya teringat pada pesan salam dari suaminya tersebut untuk Anggun.
“Terima kasih” ucap Anggun sambil tersenyum.
“Sudah jangan nangis lagi. Nanti anak-anak kamu lihat, di sangkanya aku lagi yang bikin kamu nangis” ucap Nina mencoba menghibur Anggun supaya tidak bersedih lagi.
Sementara itu, di kediaman Adinata tepatnya di kamar Leon, dia sudah nampak mengerjap-ngerjapkan matanya untuk segera bangun.
Bagaimana tidak, hari sudah siang dan kini menunjukan jam pukul 10:15 waktu setempat.
Dia mulai bangun dan mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Pandangannya mulai di edarkan ke segala arah.
Leon mencari-cari keberadaan Anggun yang seharusnya sudah ada di kamar untuk membangunkannya.
Tapi kali ini dia tidak melihat Anggun seperti biasa di hari minggu.
Meskipun hari minggu, tidak ada libur untuk untuk Anggun. Terkecuali jika dia meminta izin karena suatu alasan.
Tapi Leon tidak merasa bahwa Anggun meminta izin darinya.
Membuat Leon penasaran ke mana Anggun pergi saat ini.
Dia ingin segera bertemu dengan Anggun. Pada hal selama beberapa minggu ini dia slalu bertemu dengannya.
Seolah tidak ada perasaan bosan untuk melihat Anggun setiap hari bagi Leon.
Namun setiap kali Leon melihatnya, dia slalu saja membuat Anggun bete dan kesal. Seolah ada mainan baru yang dapat membuatnya merasa senang dan bersemangat. Dia slalu mengerjai Anggun hampir setiap saat.
Membuat Anggun tidak dapat beristirahat dengan tenang apalagi tidur dengan nyenyak. Leon benar-benar membuatnya kesulitan.
Pada hal itu hanya alasan Leon untuk dapat melihat Anggun sebelum dia benar-benar tidur.
Saat itu Anggun sudah tertidur, tapi tiba-tiba ponselnya berdering terus-terusan. Membuatnya terpaksa harus mengangkatnya dengan suara lelah dan dengan mata mengantuk berat.
Rupanya telpon tersebut dari bos menyebalkannya.
“Hallo.. siapa ini. Kenapa malam-malam menggangguku?” tanya Anggun ketus tidak perduli siapa yang menghubunginya saat ini.
“Heh.. ini aku bosmu. Kenapa kau belum mengantarkan susu untuk ku?” ucap Leon di ujung telpon.
“Oh tuan. Sebentar saya akan segera antarkan” ucap Anggun begitu santai, dia sudah sangat lelah seharian itu. Membuatnya hanya ingin segera beristirahat dan cepat-cepat menyelesaikan tugasnya malam ini.
Hingga dengan mata yang sangat mengantuk, Anggun segera pergi ke dapur untuk membuat susu pesanan bosnya tersebut. Sambil meraba-raba dan mengambil susu bubuk untuk di seduhnya. Namun matanya masih tetap tertutup dan sekali-kali membukanya hanya untuk memastikan apa yang di lakukannya aman-aman saja.
Kemudian setelah di rasa susu yang di buatnya sesuai dengan yang di inginkan bosnya, dia segera kembali melangkah menuju kamar Leon yang cukup jauh dari dapur tersebut.
Orang-orang di dalam rumah tersebut sudah pada tidur.
Anggunpun dengan tanpa hambatan sudah berada di depan pintu kamar Leon.
Entah ilmu apa yang di miliki Anggun saat ini, pada hal matanya lebih sering tertutup merasa mengantuk. Tapi dia masih dengan tenang berjalan dan membuka pintu kamar Leon untuk memberikan pesanan tuannya tersebut.
Sementara Leon yang sedang membaca buku manajemennya, dia belum menyadari dan belum melihat Anggun yang saat ini masuk ke dalam kamarnya dengan keadaan yang tak biasa.
Namun Leon masih dapat mendengar ketika pintu terbuka dan meyakini yang akan masuk adalah Anggun.
“Masuklah!” ucap Leon sambil tetap fokus pada buku yang tengah dia baca di atas kasur besarnya sambil menyenderkan punggung pada papan kayu jati mewah kasur king sizenya di samping nakas.
Kemudian Leon pun mulai menutup buku tersebut untuk melihat orang yang memang dia tunggu-tunggu.
Tapi betapa terkejutnya Leon saat melihat keadaan Anggun yang tak biasanya. Di mana saat ini Anggun sedang menunjukan jati diri yang sesungguhnya.
Tapi sepertinya Anggun tidak menyadari keadaan dirinya saat ini. Saking lelah dan mengantuk, Anggun tidak sadar kalau dia keluar kamar dengan rambut panjang sedikit ikal dan dengan wajah natural cantiknya yang tanpa tompel buatannya.
Hal tersebut tentu membuat mata Leon terperangah dan seolah terhipnotis dengan apa yang di tatapnya saat ini.
Dimatanya, Anggun nampak terlihat seolah sedang menggoda dirinya saat ini. Meskipun Leon dapat melihat bahwa Anggun nampak begitu kelelahan dengan mata berat mengantuk nya.
Namun tanpa Leon sadari, tiba-tiba dia mengibaskan selimutnya dan mulai menggerakkan kakinya dengan tetap menatap Anggun yang seolah sedang menariknya untuk bergerak dan berjalan menghampirinya.
Sementara itu Anggun yang masih menutup matanya, tidak sadar pula jika tuannya sedang bergerak melangkahkan kakinya untuk mendekat.
Dan sesaat Leon terus menatap wajah Anggun lebih dalam dengan tersenyum senang. Merasa bahagia dapat melihat wajah Anggun yang sesungguhnya dan dengan begitu dekat.
Seolah waktu sedang berjalan dengan lambat untuk membiarkan Leon menatap Anggun dengan intens. Tapi yang di tatap masih belum sadar dan masih menutup matanya, sangat ngantuk.
Tapi Leon seolah tidak perduli dan mensyukuri atas keteledoran Anggun yang selama ini menutupi jati dirinya sendiri.
Dan kini perasaan Leon seolah sedang melambung tinggi, dan menikmati pemandangannya yang sejak lama ingin dia tatap.