
“Hemm.. syukurlah nyonya itu baik-baik saja. Meskipun aku tidak mendapat bayaran ongkos taxinya. Tapi, yang penting nyonya itu tidak kenapa-kenapa” ucap Anggun berbicara sendiri saat dirinya sudah berada di belakang kemudi.
Meskipun Anggun sempat berharap dan hendak meminta bantuan pada dokter tadi yang mengenal wanita paru baya itu untuk membayar ongkos taxinya, tapi Anggun merasa tidak berani dan mulutnya seolah terkunci.
Membuatnya lebih memilih pergi dan mengikhlaskan hal tersebut. Apalagi saat mengetahui penumpangnya tersebut jatuh sakit. Tentu membuat Anggun merasa iba dan khawatir, meskipun dia tahu orang tersebut bukan orang biasa seperti dirinya, yang mungkin bisa saja akan membayar ongkos taxi tersebut jika dia memintanya.
Anggun pun segera melajukan mobil taxinya.
Sementara itu di sisi lain tepat saat Anggun melajukan mobilnya, ada seorang pria nampa sedang terburu-buru. Dia terlihat khawatir dan berlari.
Sampai di sebuah ruangan dan kebetulan tiba-tiba keluar seorang dokter dari ruangan tersebut.
“Dokter, bagaimana keadaan nenek?” tanya pria tersebut.
“Tuan, Raja?. Tuan tenang saja, nenek anda baik-baik saja” ucap Dokter pada pria yang merupakan cucu pasiennya tersebut.
“Syukurlah kalau begitu. Apa aku bisa melihatnya?” ucap Raja sedikit lega saat mendengar neneknya dalam keadaan baik-baik saja dan ingin segera melihatnya.
“Tentu saja, silahkan” ucap dokter yang sudah menjadi langganan keluarga.
Raja pun masuk dan mulai memeluk nenek tersayangnya.
“Nenek, kenapa nenek tidak memberitahu ku kalau sedang sakit. Apa nenek tidak menganggap ku cucu nenek lagi?” ucap Raja berbicara di buat seolah-olah manja dan manis setiap kali berbicara dengan neneknya.
Berbeda jika dia tidak di hadapan neneknya, dia akan terlihat berbeda. Namun sebenarnya neneknya juga sudah tahu dengan sikap cucunya tersebut yang terkadang suka berubah-ubah.
Dia hanya akan bersikap baik jika di hadapan neneknya, bukan untuk mencari muka di hadapannya tapi lebih kepada menghormati dan menyayangi neneknya seperti itu.
Raja tidak tinggal bersama neneknya, karena dia tidak betah jika harus tinggal bersama paman dan tantenya yang tinggal bersama neneknya.
Mereka bermuka dua, selalu menjadikan Raja kambing hitam. Sampai ayah Raja sendiri membenci dirinya karena hasutan dari paman dan bibinya itu.
Mereka tidak ingin harta ayah Raja jatuh kepadanya, itu sebabnya paman dan bibinya melakukan berbagai cara untuk menghancurkan nama baik Raja di mata ayahnya sendiri.
Namun sayangnya, sebelum ayahnya meninggal dia sudah mengetahui rencana jahat mereka. Hingga akhirnya ayah Raja tetap mewariskan semua hartanya pada anak satu-satunya tersebut yaitu Raja.
Namun Raja tidak mengetahui hal tersebut, dia berpikir ayahnya masih membenci dirinya dan tidak memberi harta sepeserpun padanya.
Karena sebelum ayahnya meninggal, Raja sudah lebih dulu di usir dari rumah besar kediaman ayah dan keluarganya tersebut.
Meskipun neneknya tahu bahwa anak satu-satunya itu sudah memberikan hartanya pada Raja dan juga dirinya tapi dia tidak dapat memberitahu Raja yang sebenarnya.
Karena dia mendapatkan ancaman jika sampai memberitahu Raja maka Rajapun akan bernasib seperti anaknya tersebut yang meninggal tak wajar.
Itu sebabnya nenek Irma tidak dapat memberitahu yang sebenarnya dan juga tidak dapat mengajak cucunya untuk segera pulang.
Dia takut akan kehilangan orang yang disayanginya lagi.
Begitupun Raja tidak dapat meminta neneknya untuk tinggal bersamanya, karena dia tidak ingin melihat neneknya hidup serba kekurangan jika tinggal bersamanya.
“Maafkan nenek, Raja. Tapi nenek sekarang tidak apa-apa” ucap nenek Irma pada cucunya tersebut.
“Oh iya, apa kamu melihat seorang gadis di depan ruangan ini?” lanjut nenek Irma saat mengingat seorang gadis yang membantu dan menolongnya.
“Seorang gadis?. Tidak, nek. Aku tidak melihatnya sama sekali” ucap Raja memang tidak melihat siapa-siapa saat dia hendak masuk ke ruangan neneknya tersebut.
“Apa dia sudah pergi dari tadi?” tanya nenek Irma.
“Tidak nyonya. Setelah mengetahui nyonya membaik dia baru pergi” ucap Dokter memberitahu.
“Begitu, ya. Apa dia meminta sesuatu?” ucap nenek Irma dan kembali memastikan.
“Maksud anda, meminta seperti apa?” ucap dokter tidak mengerti.
“Memangnya ada apa, nek. Kenapa nenek terus mempertanyakan gadis itu?” tanya Raja sedikit penasaran, sebelum neneknya menjawab pertanyaan dokter lebih dulu.
“Nenek belum membayar ongkos taxinya”ucap nenek Irma merasa sedikit tidak enak hati pada gadis yang telah membantunya.
“Nenek kira gadis itu menunggu nenek untuk meminta bayaran ongkos taxi. Tapi ternyata tidak. Nenek jadi tidak enak hati padanya” lanjut nya berbicara.
“Mana nenek tidak tahu namanya” ujarnya lagi.
“Namanya Anggun, nyonya” celetuk dokter yang mengingat name tack sopir taxi tadi yang tertera di bajunya saat dia berbicara dengannya.
“Anggun?” pekik Raja merasa tidak asing dengan nama tersebut. Namun dia tidak yakin jika orang yang di maksud dokter dan neneknya itu adalah orang yang sama yang dia kenal.
“Apa kau mengenalnya, Raja?” ucap Nenek Irma dan kembali bertanya.
“Tit..tidak, nek. Aku hanya merasa tidak asing saja dengan namanya” ucap Raja sedikit terbata-bata saat pikirannya terpikirkan seseorang.
“Maaf, nyonya. Kalau begitu saya tinggal. Setelah infusnya habis, anda sudah ldapat pulang. Permisi” ucap dokter tersebut.
Kemudian dokter pun benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara itu di tempat lain, Anggun nampak mendapatkan penumpang lagi. Dan saat ini dia sedang mengantar penumpangnya ke suatu tempat.
Namun saat dia sampai mengantar pada tujuan penumpangnya saat ini. Anggun tanpa sengaja melihat Leon di tempat tersebut.
“Sudah sampai, tuan” ucap Anggun.
Kemudian dia segera keluar untuk membukakan pintu penumpangnya sebagai tanda menghormati siapa pun penumpangnya.
Meskipun terkadang, beberapa penumpang tidak menghargai apa yang di lakukannya tersebut.
“Terima kasih” ucap Anggun saat penumpang tersebut sudah keluar dari dalam mobilnya. Tapi orang tersebut bersikap cuek dan tak perduli. Seolah menganggap hal tersebut sudah menjadi kewajiban Anggun dalam melayani penumpangnya.
Merasa dirinya tidak di hargai, Anggun pun hanya dapat menarik nafas dan membuangnya pelan sambil melihat langkah penumpang tersebut semakin menjauh.
Namun saat dia hendak masuk ke dalam mobilnya dia melihat Leon sedang berjabat tangan dengan penumpang yang baru saja dia antarkan.
“Leon?” ujar Anggun berbicara sendiri.
“Apakah aku tidak salah lihat?” lanjut Anggun sedikit tak percaya dapat melihat Leon kembali. Namun ia segera bergegas menutup pintu mobil kemudinya, takut Leon akan melihat dan menyadari keberadaannya.
Sementara itu, Leon nampak melihat ke arah di mana Anggun berada.
“Sepertinya aku melihat Anggun. Apa mungkin dia ada di sini?” tanya Leon dalam hati merasa sedikit bingung setelah melepaskan jabatan tangannya.