Sang Pemandu

Sang Pemandu
Akhir Pesta Berdarah dan Sebuah penyiksaan


Setelah Fler Vanjang membunuh komandan 1,ia berjalan lagi dan mulai menebas setiap anak buah Mafia Kertas Putih.


Satu demi satu bahkan sampai puluhan kepala ia tebas,banyak mayat yang telah terpotong potong lalu mereka injak layaknya sampah.


Tapi anehnya tidak ada satu pun mayat dari bawahan Ricard.Itu karena Ricard telah memberikan mereka semua sebuah Pil Penguat tubuh.


Pergerakan dan pukulan Beladiri mereka secara bertahap meningkat dengan pesat.


Disisi Riki Feng,ia sedang berhadapan dengan 2 orang Pria paruh baya dengan tubuh berotot.


Mereka berdua disebut sebagai komandan 2 dan 3.Tapi mereka berdua tetap tidak bisa melukai bahkan menyentuh baju dari Riki Feng.


Kondisi mereka berdua juga sudah begitu buruk sekali.Wajah yang sudah babak belur dan seluruh tubuh mereka banyak mengeluarkan darah segar.


Terlihat juga nafas mereka berdua sudah tersengal sengal,mereka berdua telah kebahabisan tenaga untuk melawan Riki Feng.


"Dia benar benar kuat,kita bahkan tidak bisa menyentuh sehelai bajunya"ucap Komandan 2 dengan lelah.


"Jika begini terus,itu sama saja kita memberikan nyawa kita secara percuma"ucap komandan 3 yang terlihat lelah juga.


"Kau benar,tapi aku punya sebuah rencana bagus"ucap komandan 2.


"Rencana apa itu"Tanya komandan 3.


"Rencananya adalah,kau serang dia duluan dan aku akan langsung mengikutimu dari belakang.Saat kau telah tiba didepannya,kau menghindar dan aku akan menusuknya dengan pisau ini"Jawab Komandan 2 sambil menunjukkan Pisaunya.


Mendengar semua rencana Komandan 2,komandan 3 pun menjadi sedikit senang.


"Itu cukup baik,aku akan maju dalan hitungan ketiga"Ucap Komandan 3.


"Dasar bodoh,saat kau menyerang tentu saja aku akan kabur.Aku tidak mau mati sia sia disini"ucap Komandan 3 dalam hatinya dengan sinis.


Tapi Riki Feng hanya tersenyum saat ia melihat kedua orang bodoh itu diskusi.


"1....2.....3..Aku maju hyaaaa...."komandan 3 pun langsung maju kedepan dengan cepat.


Namun saat ia telah maju,komandan 3 tak merasakan kalau komandan 2 ikut maju dengannya.


Sambil berlari,ia sedikit menoleh kearah komandan 2 apa ia mengikutinya atau tidak.Tapi ternyata Komandan 2 telah bergegas untuk kabur dari pertempuran.


"Sialann......Aku akan membunuhmu dahulu"teriak Komandan 3 sambil berbalik untuk mengejar komandan 2.


Tapi belum satu langkah ia mengejar komandan 3,Riki Feng telah muncul dihadapannya dengan melayangkan sebuah tinju juat kearah jantungnya.


Bukk......


Gedebuk.....


Tubuh Komandan 3 pun langsung terbaring ditanah dengan menahan rasa sakit dijantungnya.


"Uhukk..Uhukk...Sialann.."ucap Komandan 2 sambil terbatuk dengan mengeluarkan darah kental dari mulutnya.


Tak lama kemudian,tubuhnya kejang kejang dan ambruk ketanah.Sudah dipastikan kalau ia telah mati dengan mata yang melotot.


"Kau tenang saja,temammu itu akan mengikutimu juga"ucap Riki Feng dengan sinis.


Ia juga mengetahui kalau Fler Vanjang salah satu rekannya telah mengejar Komandan 2.


"Sudah lama aku tak merasakan kesenangan ini"ucap Riki Feng dengan tertawa.


"Tuan benar benar mengerti keinginan bawahannya"ucap Riki Feng dengan kagum terhadap Ricard.


~


Disebuah pinggiran hutan,komandan 2 sedang berlari dengan kecepatan penuh kearah kota.


"Beruntung aku bisa kabur dari orang orang sialan itu hahaha"ucap Komandan 2 denga tertawa kencang.


Ia juga seperti sudah gila akibat menerima kekalahan dan melihat pembantaian Genk mereka itu.


Namun,baru sebentar ia merasa senang dan kebebasan.Sebuah pisau telah bergerak kearah dirinya.


Jleb.....


Gedebuk.....


Komandan 2 tak menyadari kedatangan pisau itu,hasilnya ia pun tertusuk tepat dijantungnya dan terjatuh ketanah.


Tap....Tap...Tap..


"Sampah yang menyedihkan....."ucap Fler Vanjang sambil mengambil Pisaunya dari jantung komandan 2 Lalu berjalan pergi menjauh.


Ternyata yang tadi bergerak melempar pisau itu kearah komandan 2 adalah Fler Vanjang.


Digendung Lantai 3 Markas Kertas Putih.


Terdengar teriakan mereka sangat puas sambil tertawa keras.


"Mereka mabuk mabukan sambil menikmati itu semua...Padahal bawahan mereka telah mati semua"Pikir Ricard dengan mengeleng gelengkan kepalanya.


Ricard pun mengeluarkan pedangnya sambil membuka pintu Ruangan itu dan masuk.Lalu ia mengunci pintu itu lagi dari dalam.


Karena mendengar suara Ricard tadi membuka pintu,mereka semua pun melihat kearah Ricard dengan terkejut.


Mereka bingung bagaimana Ricard bisa masuk kesini dengan membawa pedang tanpa diketahui bawahannya.


Padahal jumlah bawahannya 200 orang lebih.


"Apa mereka semua sedang"tidur pikir Pemimpin Mafia kertas Putih.


Pemimpin Kertas Putih itu pun berdiri dengan letoy akibat mabuk,bahkan tongkat kecil keriputnya bergoyang kekiri dan kekanan dengan ingin terlepas.


"Hey...Bocahh bau,Kenapa kau bisa masuk kesini Hah!"Bentak Pemimpin Mafia Kertas putih itu dengan mabuk.


Sedangkan Keempat Pria kekar itu menatap Ricard dengan hati hati.Mereka Berfikir kalau Ricard cukup berbahaya.


"Berisik....."ucap Ricard lalu ia melesat kearah Pemimpin itu dengan Langkah Bayangan.


Slasss.....


Tongkat kecil keriput Pemimpin itu langsung tertebas jatuh kelantai.Darah bercucuran dengan banyak membasahi lantai.


Arrgghhhhh......arhh.....


Teriakan pilu pemimpin itu tak dihiraukan oleh Ricard,ia lalu menyiram luka yang ada diselang.kangan pemimpin itu dengan air anggur.


"Sakit......Argghhhh......sa..kit...aggghhh..."


Keempat Pria kekar itu pun sangat terkejut,mereka semua tak dapat melihat gerakan Ricard menebas.


Ricard seperti menghilang dari tempatnya dan muncul disamping Pemimpin mereka,tapi dengan keadaan tongkatnya telah terpotong.


Puas dengan pemimpin itu,Ricard langsung menebas tongkat kecil keempat pria kekar itu sambil menggunakan langkah bayangan.


Karena Tongkat kecil mereka masih berdiri,Ricard pun dengan mudah menebas dengan pedangnya.


"Argghhhhhh.........."


Tak sampai disitu,Ricard lalu memotong kaki dan tangan mereka berlima sambil tertawa.


"Hahaha.....Sampah yang menyedihkan"


"Argggghhhh.....sakit.....ampunn......"


"Argghhh.....kumohon ampun....."


"Bunuh....saja kami...."ucap Salah satu pria kekar itu dengan pilu.


Ricard tak menjawab,ia lalu mengambil air anggur lalu menyiramnya kearah luka mereka masing masing.


Teriakan kesakitan kelima orang itu pun bagaikan nyanyian penenang jiwa bagi Ricard.


Sambil mendengar teriakan Pilu mereka,Ricard membungkus mayat ibu Sara dan menyatukan potongan tubuh adik sara didalam kantong mayat.


Ia berniat untuk menguburkan mayat kedua orang itu dengan layak nanti.


Setelah puas dengan siksaan mereka berlima,Ricard lalu mengeluarkan Pagoda Jiwa dan menarik jiwa kelima orang itu.


Sedangkan tubuhnya Ricard bakar beserta gedung dan mayat bawahan Mafia Kertas Putih lainnya.


~


~


~


( Bersambung )


~


~


~


Ayo dukung karya ini dengan Like dan Vote ya teman teman🄰


Dukungan Kalian Semangatku😘