Sang Pemandu

Sang Pemandu
Pesta Berdarah Berlanjut


Tepat Pukul 10:00 malam hari,Ricard dan semua bawahannya berdiri disebuah bukit pinggir hutan.


karena markas Kertas Tipis berada ditengah hutan,ia dan semua bawahannya diteleportasikan Pinggir hutan dekat markas mereka.


Ricard sudah menggunakan Skill Mata Cahayanya.Tapi ia terkejut dan marah saat melihat keadaan ibu dan adiknya Sara.


Keadaan ibu Sara sedang diper.kosa oleh 4 Pria kekar secara bergilir.Wajahnya sudah penuh lebam,bahkan sekujur tubuhnya terdapat luka memar dan mengeluarkan darah.


Tapi bukan itu yang membuat Ricard marah,ibu Sara sudah tak bernyawa dengan mata melotot melihat kearah tubuh adik sara.


Walaupun begitu,mereka masih tetap memuaskan hasrat mereka secara bergantian.Mereka semua tertawa bahkan sampai menampar wajah ibu Sara dengan cukup keras.


Bahkan,lubang anuznya sudah robek dan berdarah,kelihatannya itu tadi dimasukin oleh benda tumpul yang cukup besar seperti botol atau kayu.


Mungkin mereka melakukan itu agar memperlancar gerakan mereka saat menikmati daerah itu.


Sedangkan Pemimpin Mafia itu,sedang duduk sambil meminum anggur dengan keadaan telanjang.Sudah dipastikan kalau ia juga ikut menggilir ibu Sara.


Keadaan adik Sara juga sangat memprihatinkan,tubuhnya sudah terpotong potong dengan beberapa bagian.


Bocah yang masih berumur 10 tahun harus tewas dengan keadaan seperti itu.Sudah dibayangkan bagaimana kemarahan Ricard saat ini.


Apa lagi ia juga melihat semua bawahan Mafia Kertas Putih sedang berpesta sambil mabuk mabukan.Tak tau apa yang mereka rayakan,tapi yang pasti nyawa mereka semua tak akan terselamatkan.


"Kalian Bunuh semua orang yang ada disitu.....Jangan masuk sekali pun ke lantai 3,biar aku yang mengurusnya disana......"


"Ingat bunuh mereka semua dengan kejam"ucap Ricard dengan kemarahan.


"Maju....."Teriak Ricard.


"Uraaa........"ucap Semua bawahan Ricard dengan keras.


Melihat mereka semua telah maju,Ricard melihat kesamping dan memeluk Sara.


"Kau yang tenang,ini semua sudah takdir"ucap Ricard sambil mengusap punggung Sara.


Sara tentu saja bingung mendengar ucapan Ricard.


"Apa maksud anda Tuan"Tanya Sara dengan kebingungan.


"Ibu dan Adikmu telah meninggal"ucap Ricard dengan pelan sambil memeluk Sara.


Sara terdiam sesaat sebelum mengeluarkan suara yang gemetar.


"Ti...dak.....ini Tidak mungkin hiks....hiks Ibuku dan adiku tidak mungkin pergi meninggalkan aku...hisk..hiks.."Tangis Sara pun pecah dipelukan Ricard.


Ia sangat sedih,sekarang ia tak punya keluarga lagi.Dulu ayahnya meninggalkan mereka saat Sara masih berumur 16 tahun.


Sekarang Ibu dan Adiknya meninggalkan ia sendiri.Tentu saja Sara sangat bersedih dan tak bisa menerima kenyataan semua ini.


"Yang hilang bisa dicari,Tapi yang pergi tidak akan kembali....."


"Kita hanya bisa mengiklaskan supaya ibu dan adik mu tenang disurga"ucap Ricard dengan lembut.


"Hiks...Hiks...ibuuu...adikk..hiks....."


Tak lama kemudian,Sara akhirnya pingsan dipelukan Ricard karena tak kuat menerima tekanan batin dan mental.


"Aku akan memberikan mereka suatu penderitaan yang tak akan pernah mereka lupakan hingga keneraka sekalipun"ucap Ricard dalam hatinya.


"Cang'yi,apa kau mempunyai barang yang bagus untuk membuat mereka menerima perlakuan yang setimpal atas perbuatan mereka"Tanya Ricard lewat pikirannya ke Cang'yi.


"Saya punya Barang yang anda inginkan Tuan....."


"Pagoda Jiwa.....Ini adalah sebuah penjara untuk jiwa seseorang.Penjara ini akan mengurung Jiwa yang ingin anda kurung selama 100 Tahun Lalu akan berakhir menjadi debu Tanpa bisa berenkarnasi....."


"Cara kegunaanya hanya perlu mengendalikan Qi Tuan ke Pagoda tersebut supaya mengenal pemiliknya dan mengarahkan Pagoda tersebut keorang yang ingin anda masukkan kedalam Pagoda Jiwa......"


"Tapi keadaan orang tersebut harus mengalami luka atau mengeluarkan darah untuk bisa masuk kedalam Pagoda Jiwa Tuan"Ucap Cang'yi secara rinci.


Ricard pun tersenyum mendengar penjelasan tentang Artefak istimewa ini.


"Bukankah ini juga bisa untuk para orang orang korup......."


"Baiklah...Beli Pagoda Jiwa"ucap Ricard.


"Aku datang para baji.ngan"ucap Ricard dengan tersenyum iblis.


Ia pun melesat menggunakan skil langkah bayangan kegedung lantai 3.


Sementara para bawahan Ricard,mereka sangat asik membantai para Mafia Kertas Tipis.


Teriak Pilu meminta ampun bahkan teriakan ingin berkhianat pun terdengar dari orang orang Mafia Kertas Putih.


"Argggg.....Tolong ampuni saya Tuan"ucap seorang Pria kepada Joko Feng sambil menahan sakit.


Tangan kanan telah patah dan sekujur tubuhnya penuh luka.


Tapi Joko Feng tak menghiraukan ucapan Pria,ia menggunakan kakinya menendang kepala Pria itu dengan kuat.


Hasilnya kepala Pria itu pun pecah dan isinya telah buncar kemana mana.


Tak ada tanda kasihan dimata semua bawahan Ricard.Mereka hanya menuruti perintah Ricard untuk membantai mereka.


Bahkan jika itu benar atau salah,mereka juga tak akan peduli.Bagi mereka semua perintah Ricard sangatlah mutlak.


Disisi Lain......


Sedangkan Fler Vanjang sedang berhadapan dengan salah satu komandan Mafia Kertas tipis,ia sering disebut Komandan 1.


"Kalian telah berani membunuh banyak anak buah kami,bersiaplah untup mati sialan"ucap komandan 1 Mafia kertas Tipis kearah Fler Vanjang.


Komandan 1 pun maju dengan sebuah pisau tajam ditangannya,ia terus menebas kearah Fler Vanjang.


Tapi semua tebasannya tak ada satupun yang mengenai Fler Fanjang.Sementara Fler Vanjang hanya diam tak bersuara sambil menghindar semua serangan komandan 1.


Ia mulai frustasi dengan kemampuan dirinya,komandan satu pun berhenti dan mulai menatap Vler Fanjang dengan sengit.


"Sialan ini kenapa begitu mudah menghindari seranganku.....Jika begini terus aku akan kehabisan tenaga.Lebih baik aku kabur dari pada mati sia sia"Pikir Komandan 1.


Ia pun bergegas berbalik untuk kabur dari arena pertempuran itu.Namun sialnya Fler Vanjang mengentahui rencananya.


Saat ia berbalik,Fler Vanjang telah berdiri dibelakangnya sambil tersenyum.


"Bagaimana Bisa...."ucap Komandan 1 dengan terkejut.


Ia tadi melihat Fler Vanjang didepannya,namun sekarang ia telah berdiri dibelakangnya,tentu saja ia terkejut setengah mati.


Tapi Fler Vanjang tak memperdulikan Komandan 1 terkejut.


Ia pun mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya dan dengan secepat kilat menebas kearah leher Komandan 1.


Slashhh.......


Bukk....


Kepala komandan 1 langsung terpisah dari tubuhnya.Tapi,walau sudah terpisah ia masih sempat mengeluarkan sebuah ucapan yang menyedihkan.


"Belum selesai aku menonton Pilem Jav,malah mati duluan....."ucap Komandan satu lalu mati dengan mata yang melotot.


~


~


~


( Bersambung )


~


~


~


Ayo dukung karya ini dengan Like dan Vote ya teman teman🄰


Dukungan kalian semangatku😘