
Di perjalanan, Chad melihat mobil Ferrari mengejar mereka, dari kaca spion. Pria itu merasa senang.
"Hahaha, dasar anjing gila."
"Dia berani mengejar kita? Dasar bebal!"
Dia menginjak pedal gas kuat-kuat, dan kecepatannya meningkat dengan instan. Ferrari tertinggal di belakang.
Bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang pembalap F1 profesional. Chad sepenuhnya berbeda dari standar pengemudi yang pernah ditemui Thomas. Chad tak memiliki masalah mengemudi di jalan lurus.
la bahkan dapat berbelok dengan sempurna.
Juga, performa Lamborghini sangat kuat, yang membuat Chad terus memimpin. Jadi, Thomas tidak dapat menyusulnya.
Di mobil belakang.
Edith bergoyang-goyang di kursinya. "Dokter Mayo, kenapa tak Anda lupakan saja? Meskipun keterampilan medis anda luar biasa, keahlian balap Chad juga luar biasa. Ayo menyerah, oke?"
Edith tahu Thomas tidak dapat mengalahkannya.
Di sisi lain, Edith sebenarnya takut kalau Thomas melakukan sesuatu yang tidak rasional karena amarahnya.
Mereka sekarang mengemudi dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Jika Thomas membuat kesalahan saat mengemudi, hal itu dapat menyebabkan resiko yang menyeramkan terlebih dalam kecepatan tinggi tersebut.
Kecelakaan mobil dan orang-orang di dalamnya bisa saja mati dalam sekejap mata.
Oleh karena itu, Edith sangat ketakutan. Dia tak tahan untuk meraih setir kemudi untuk memaksa Thomas berhenti.
Tetapi dia tak melakukan itu.
Jika dia benar-benar meraih setir kemudi, mereka berdua bisa celaka kapan saja.
Situasi ini berlangsung sangat lama, dan jarak antar keduanya masih sama.
Chad yang berada di depannya merasa takjub.
Sejujurnya, dia telah banyak menggunakan pengalaman balap di F1. Jika lawannya adalah seorang pengemudi biasa, dia mungkin telah jauh tertinggal sampai dia tak bisa melihat lampu depannya.
Namun, Thomas masih dapat mengikuti mereka. Ini artinya kemampuan mengemudinya tidaklah buruk.
"Haha. Bocah ini cukup mahir ya."
"Tapi, jangan tantang karirku dengan hobimu!"
Chad terlihat serius sekali, dan dia mengerahkan banyak kemampuannya. Dia lebih meningkatkan kecepatannya lagi saat berbelok, sementara Ferrari tak memiliki kemungkinan untuk menyusul.
Performa Ferrari dan Lamborghini tak jauh berbeda. Karena hal itu, kinerjanya di jalan lurus tidak jauh berbeda. Thomas hanya perlu terus menginjak pedal gas.
Bila diperlukan seorang pemenang, lebih baik beradu keterampilan saat berbelok.
Dari aspek ini, Chad lebih mahir. Lagipula, Thomas bukanlah pengemudi profesional, jadi dia selalu terlihat lebih lambat. Jarak di antara mereka menjadi semakin jauh lagi.
Chad mencibir, "Sampah. Apa kau masih mau berkompetisi denganku? Apa kau cukup cakap?"
Di dalam mobil yang tertinggal.
Saat Edith melihat Lamborghini semakin jauh dia mendesah. Dia berpikir Thomas harus menyerah. Selama balapan ini pun, Thomas tidak dapat mengalahkan Chad setiap mereka memasuki belokan. Tak perlu lagi melanjutkan balapan.
Namun, pupil mata Thomas menyusut dan dia acuh tak acuh berkata, "Pak Barlow, tolong duduk yang benar ya. Saya akan menyalip di belokan selanjutnya."
"Apa?"
Edith tercengang. Apa dia bercanda?
Mau menyalip?
Sudah bagus kalau Thomas bisa menyusul. Dia masih mau menyalip mereka?
Thomas menginjak pedal gas dalam-dalam, dan Ferrarinya meluncur bagaikan roket. Kini jarak di antara dua mobil itu semakin kecil.
Chad tercengang. "Ya ampun, apa kau masih belum menyerah ? Baiklah, aku akan memberimu pelajaran di belokan depan."
Pria itu dengan cepat segera membelokkan setir kemudinya dan menggunakan keterampilannya yang luar biasa untuk berbelok.
Tetapi...
Hasilnya ternyata berbeda dari yang sebelumnya.
Thomas juga membelokkan kemudi setir dan dia tidak mengurangi kecepatan mobilnya.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komen
Sekian terima kasih.....