
Felix meronta dan mencoba berdiri, tapi perutnya ditendang oleh seorang gangster lain.
Pria itu memegangi perutnya dan batuk-batuk kering di pinggir jalan.
Gangster lainnya bergegas. Felix dengan cepat melambaikan tangannya. "Berhenti. Berhenti sebentar."
Pria itu merendahkan suaranya dan berkata, "Kamu cuma perlu berpura- pura memukul aku. Kamu tidak perlu memukulku betulan."
Begitu Felix selesai berbicara, seorang gangster mengangkat tongkat dan memukul kakinya. Pukulan tersebut hampir mematahkan tulangnya, dan Felix berbaring di tanah dan berteriak kesakitan.
"Sialan, apa kamu tidak mendengar ucapanku?"
Para gangster itu tidak peduli dengan apa yang Felix katakan. Mereka hanya cepat-cepat memukulnya. Felix dipukuli hingga wajahnya membengkak, dan darah berceceran di sekujur tubuhnya.
Felix hampir tidak sadar ketika rasa sakit yang luar biasa menyerangnya.
'Apa yang salah?'
"Mengapa ini menjadi perkelahian yang sungguhan?"
Setelah beberapa saat, semua orang berhenti dan melangkah mundur. Thomas berjalan mendekat dan terbatuk-batuk pelan. "Hai, Felix si pemain sandiwara yang hebat. Bukannya kamu ingin bertarung dengan sepuluh orang sendirian untuk melindungi Susan? Kenapa kamu tidur siang di sana?"
Felix membuka matanya dan menatap Thomas.
"Bu-bukannya mereka menangkapmu? Kenapa kamu ada di sini?"
Thomas tak hanya sekedar berdiri, tetapi dia juga terlihat baik-baik saja.
Susan berjalan mendekat dan meludahinya. "Kami hanya membalas apa yang kamu lakukan. Apa kamu tidak suka berakting? Kami akan berpura-pura sebagai tokoh pendampingmu."
Felix menyadari jika dia telah ditipu oleh mereka.
Pria itu ingin bertindak seperti pahlawan dan menyelamatkan Susan, tetapi orang-orang yang dia sewa telah mengkhianatinya dan membantu Thomas untuk berpura- pura. Pantas mereka sungguh- sungguh saat memukulnya.
Felix tidak tahu harus menangis atau tertawa. Kali ini, dia gagal bersandiwara dan malah dipukuli sampai hampir mati. Pria itu telah menderita kerugian besar.
Thomas dengan tenang berkata, "Kalau nanti kamu mau bersandiwara, jangan lupa untuk memberitahu aku. Itu sangat menarik."
Dalam perjalanan pulang, Susan menurunkan kaca jendela mobil dan tertawa keras. Dia merasa sangat senang sekali.
"Kamu senang?"
"Tentu saja. Kamu tidak tahu betapa menyebalkannya Felix. Aku tidak bisa menyingkirkannya, dan dia terus mengancam teman-teman sekelas dan teman-temanku. Aku sangat kesal. Thomas, kamu membantuku melampiaskan amarahku."
Thomas tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.
Setelah sepuluh menit, mobil berhenti di pintu masuk area perumahan, dan keduanya turun dari dalam mobil.
"Baiklah, ayo kita berpisah di sini. Istirahat yang baik setelah sampai di rumah," kata Thomas.
Susan merasa sangat enggan. Waktu yang dia habiskan bersama Thomas selalu berlalu begitu cepat dan menyenangkan. Gadis itu tidak ingin berpisah darinya untuk sesaat.
"Thomas."
"Ya?"
"Aku sebenarnya menyukai...."
Thomas mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
"Aku..." Susan memberi isyarat padanya. "Mendekatlah, dan aku akan membisikimu."
Thomas mendekatinya seperti yang diinginkan oleh Susan, dan bibir gadis itu mendekatinya.
Susan menundukkan kepalanya dengan pipinya yang memerah. Setelah beberapa saat, gadis itu masih belum bisa mengatakan apa-apa, dan suaranya menjadi sangat lembut.
Kemudian, Susan mendaratkan sebuah ciuman keras di pipi Thomas. Hal itu membuat Thomas terkejut, dan dia segera berdiri tegak.
Bersambung.....
Terima kasih