Sang Dewa Perang

Sang Dewa Perang
Bab 154


Thomas mengangguk. "Tentu saja. Karena kalian memutuskan untuk bekerja di bidang ini, kalian harus siap secara mental."


"Saya mengerti. Perlakuan diskriminatif tidak mengganggu saya. Saya tidak merasa malu sama sekali. Masalahnya adalah putra teman saya juga telah didiskriminasi. Dia bahkan tidak bisa belajar sekarang. Menurut Bos apa yang harus dia lakukan?"


Thomas mengerutkan kening. Kenapa ada anak yang dilibatkan di sini?


"Ceritakan lebih jelas."


Ballard menepuk pahanya.


"Yah! Saya juga tidak bisa menjelaskannya. Saya hanya akan memanggilnya dan membiarkan dia memberi tahu Bos."


"Oke."


Beberapa saat kemudian, Ballard mengajak seorang pria kurus ke dalam ruangan. Dia juga tidak berambut dengan badan kurus, tetapi berotot.


Ballard berkata, "Bos Tom, ini temanku, Bones."


Thomas tersenyum. Namanya sangat cocok dengan citranya. Dia benar-benar terlihat seperti serigala kurus.


Ballard memberi isyarat pada Bones. "Beri tahu Bos Tom tentang urusanmu. Mungkin Bos Tom bisa membantumu menyelesaikannya."


Bones tercengang. "Hah? Tidak pantas mengganggu Bos Tom dengan masalah sepele ini, kan?"


Thomas mengibaskan tangannya. "Katakan saja."


"Oh, oke," kata Bones.


"Anak saya berusia enam tahun, jadi dia seharusnya sudah masuk TK sekarang. Saya mengantarnya untuk daftar beberapa hari yang lalu, tetapi saya tidak menyangka kalau pihak sekolah menolak putra saya. Alasanya adalah karena saya seorang gangster. Saya sudah menjelaskan begitu banyak kepada mereka, tetapi mereka tidak mau menerima anak saya.


"Bos Tom, apa-apaan itu? Anak saya tidak perlu menjadi buta huruf seperti saya ketika dia dewasa, kan?"


"Karena itu, saya berdebat dengan istri saya setiap hari. Saya sangat kesal sekarang."


Thomas menahan diri untuk tidak tertawa.


Pria ini telah memarahi dirinya sendiri dengan cukup keras.


"Bos Tom, aku malu sampai membuatmu pergi ke sana."


"Berhenti bicara omong kosong. Tunjukkan jalan saja."


"Oke!"


Bones mengendarai mobil dan membawa Thomas kembali ke rumahnya. Dia menggendong putranya yang berusia enam tahun, Robert Redfern. Kemudian, mereka pergi ke satu-satunya sekolah TK terdekat.


TK Masa Depan Cerah.


Ketika mereka sampai di pintu, mobil mereka dihentikan oleh seorang penjaga keamanan. Mereka tidak diizinkan masuk.


Bones memarkir mobilnya di pinggir jalan. Dia membawa putranya berlari ke penjaga keamanan.


"Um, saya datang untuk mendaftarkan putra saya. Tolong buka pintunya dan biarkan kami masuk ke dalam."


Penjaga keamanan dengan sedih menjawab, "Kepala sekolah kami bilang kalau orang lain dapat mendaftar, tetapi Anda tidak diizinkan. Silakan kembali pulang. Anda tidak diterima di sini."


Dengan karakternya, Bones biasanya akan memberikan tamparan pada orang seperti penjaga keamanan ini. Namun, pada saat ini, demi supaya putranya belajar, dia menurunkan martabatnya dan berkata, "Tuan, tolong berbuat baiklah padaku. Saya hanya ingin mendaftarkan anak saya. Saya tidak akan melakukan hal lain."


Seperti yang dia katakan, dia mengeluarkan sebungkus rokok dan memasukkannya ke dalam saku penjaga keamanan.


Penjaga keamanan itu mendengus. "Baiklah, ini yang terakhir kalinya."


"Ini benar-benar yang terakhir kalinya."


Pintu dibuka. Ketiganya masuk ke TK satu demi satu. Bones menunjukkan senyum di wajahnya setiap saat. Dia tidak berani merasa santai. Thomas mengikuti di belakang.


Dia menatap Bones. Dia tidak bisa membayangkan bahwa pria yang dulu begitu kejam di luar akan menurunkan martabatnya dan mengemis kepada orang. Dan dia hanya melakukannya untuk membuat anaknya belajar. Dia datang ke kantor kepala sekolah.


Bones membawa putranya masuk ke dalam. Dia terkekeh sambil berjalan ke meja kantor kepala sekolah.


Bersambung.....


Terima kasih