
Richard membentak, "Aku sudah bilang padamu tadi kalau perusahaanmu yang buruk tidak memberikan kontribusi apa pun di lelang ini. Jadi, wajar saja kalau gagal. Ayo, pulang bersamaku. Berhenti mendengarkan omong kosong bajingan itu. Dia hanya akan membuatmu malu."
Mereka berdua hendak pergi.
Saat itulah Emma berkata dengan lembut, "Kakek, Harvard, aku sudah menandatangani kontrak itu."
"Oke, aku tahu.
"Hah?!
"Apa?!"
Awalnya, Richard tidak bisa bereaksi terhadap kata-kata Emma. Setelah berjalan dua langkah, dia menoleh dan menatap Emma. Dia memastikannya sekali lagi, "Bilang yang jelas, kontrak apa?"
Emma menyerahkan kontrak itu kepadanya, dan berkata, "aku telah menandatangani kontrak lelang proyek konstruksi ini."
Ledakan keras terdengar di kepala Richard seperti badai petir. Tidak pernah dalam mimpi terliarnya dia berharap Emma benar-benar melakukannya.
"Itu tidak mungkin!"
Harvard juga terkejut, dan berkata, " Emma, jangan coba-coba berbohong!"
"Kontraknya ada di sini. Kamu bisa melihatnya sendiri."
Richard segera meraih kontrak itu. Dia membalik halaman dan membacanya. Memang. Itu adalah kontrak proyek konstruksi. Kontrak itu telah dicap oleh Biro Konstruksi Perkotaan jadi tidak diragukan lagi.
Harvard mengingatkannya, "Kakek, apa Kakek melihat dengan jelas? Apa kontrak itu bisa dipalsukan?"
Thomas berdecak gembira dan berkata, "Emma masuk dengan
tangan kosong. Dia keluar dalam tiga puluh detik. Bagaimana dia bisa memalsukan kontrak dalam waktu sesingkat itu?"
Richard mempelajari kontrak itu dengan serius, dan berkata, "Ini tidak palsu. Ini adalah kontrak yang asli."
Richard mengangkat kepalanya dan menatap Emma, dia berkata, " Jujurlah padaku, bagaimana kamu bisa mendapatkan ini? Kenapa Cillian marah pada Harvard begitu dia mendengar tentang keluarga Hill, tapi dia mau menandatangani kontrak ini denganmu?"
Emma menggelengkan kepalanya, dan berkata, "aku tidak tahu."
Wanita itu mengatakan yang sebenarnya. Namun, Richard berpikir sebaliknya. Dia sangat keras kepala sehingga dia sepenuhnya mengira Emma sengaja menahan diri, dan tidak ingin memberitahukan semuanya kepadanya.
Bagaimanapun, semua ini tidak lagi penting baginya. Yang terpenting, mereka telah menandatangani kontrak itu.
Richard tertawa terbahak-bahak, dan berkata, "Bagus sekali. Ini benar benar luar biasa! Dengan kontrak ini, kita bisa mengubah keadaan di keluarga Hill. Kita mungkin dapat digolongkan sebagai salah satu keluarga besar yang bergengsi!"
Saat itu, Richard ketakutan.
Memang. Itu benar.
Hal ini karena Richard tidak pernah percaya jika Emma dapat menandatangani kontrak itu. Terlebih, dia takut Emma akan mempermalukan keluarga Hill. Karena itu, dia terus memberi tahu Emma untuk tidak menawar dengan menggunakan nama keluarga Hill.
Anak perusahaan Emma sendiri lah yang akan menanggung semua
akibatnya.
Hasilnya sudah terlihat sekarang. Emma telah menandatangani kontrak proyek konstruksi. Namun, semua ini tidak ada hubungannya dengannya.
Pria tua itu merasakan tamparan keras di wajahnya.
Richard merasa hatinya berdarah
darah. Seorang anggota keluarga
Hill jelas telah menandatangani
kontrak yang begitu menguntungkan, namun, dia tidak dapat mengambil keuntungan.
Perasaannya sama seperti tidak bisa menikmati meja yang penuh dengan makanan mewah karena garpu dan sendoknya tidak bisa digerakkan.
Itu benar-benar terasa tidak menyenangkan.
Richard sangat cemas sampai sampai wajahnya memerah. Dia hampir muntah darah.
Thomas mengambil kembali kontrak itu, dan berkata dengan acuh tak acuh, "Kek, apa Kakek lihat? Emma mencapai apa yang gagal dicapai oleh Harvard. Begitu pula, seorang wanita dapat mencapai apa yang gagal dicapai oleh seorang pria. Apa Kakek puas dengan hasil akhirnya?"
Richard tidak dapat menemukan kata
-kata untuk membantahnya.
Segala macam emosi termasuk depresi, kemarahan, kesedihan dan ketidaksabaran membengkak di hatinya. Tidak pernah ada saat yang sulit baginya seperti saat ini.
Bersambung.....
Terima kasih