REINKARNASI KE TUBUH GADIS LEMAH

REINKARNASI KE TUBUH GADIS LEMAH
kesal


" Apa apaan kamu ini!" Bentak Cowo yang ku tumbukkan kepalanya di meja


Aku tidak menghiraukan perkataan nya itu, ku ayunkan tusuk sate itu ke arah nya dan mendarat di samping wajahnya.


Ia sangat terkejut melihat itu, dan tusuk sate yang ku genggam itu patah menjadi dua bagian akibat terbentur dengan meja.


"Jangan suka mengambil kesempatan dalam kesempitan," Ucap Ku sambil menggertak kan tanganku di samping wajah nya.


"Dan jangan coba coba menyentuh ku seperti tadi," Lanjut Ku dengan tegas.


Aku melonggarkan cengkeraman ku, dan kembali duduk di tempat ku tadi. Bisa bisanya dia berniat menyentuh dadaku, dasar lelaki kurang ajar!.


Coba saja ini bukan di rumah teman ku, mungkin sudah ku jadikan dia pepes malam ini, kebetulan untuk menambah lauk ku.


"Lagi?" Tanya Erika menatap Cowok itu yang tengah memperbaiki baju nya


Erika menatap Cowo itu dengan tersenyum kecil, sedangkan Hendy menatap Cowo itu dengan tatapan tajam.


"Jika kalian datang hanya untuk mencari gara gara dengan nya, lebih baik kalian pergi!" Usir Hendy dengan serius.


"Wah, sekarang kamu berani mengusir kami yah, karna ada teman wanita mu ini!" Ucap salah satu Cowo yang berada di belakang ku sambil memegang rambut ku.


Kenapa sih, Hendy mencari teman modelan seperti mereka ini. Yah gak apa apa juga sih berteman modelan kaya gimana pun yang penting kelakuan nya jangan kurang ajar seperti mereka ini.


"Jika sudah selesai! Masuk lah ke kamar, dan ajak dia juga." Pinta Hendy menatap Erika


"Aku sudah selesai, Ayo Emily!" Ajak Erika mengangguk kan kepala.


Aku berdiri dan berjalan melewati cowok cowok genit itu, dengan senyuman mereka yang menyeringai ke arah ku.


Coba saja menatap ku seperti itu terus, kalau aku tidak menusuk mata mereka dengan tusuk sate itu.


Apa yang akan di lakukan Hendy kepada mereka? Kenapa ia menyuruh kami ke kamar? Apa hanya ingin agar kami tidak di ganggu oleh mereka.


Aku berjalan sambil menatap ke arah Hendy, entah kenapa perasaan ku sangat gelisah. Dan khawatir dengan nya jangan sampai teman teman nya itu melukai nya.


Saat aku menaiki tangga bersama Erika, aku melirik Kembali ke arah Hendy yang menatap ku dengan tersenyum. Hingga aku masuk kedalam kamar.


Aku tidak tau lagi apa yang terjadi kepada nya, bahkan teman teman nya itu seperti nya suka jahil kepada Hendy. Sudah terlihat dari gerak gerik mereka dan cara bicara mereka juga.


"Emily, Ponsel mu berbunyi." Ucap Erika


Aku segera mengambil ponsel ku yang berada di dalam tas, dan melihat siapa yang menelpon ku. Ternyata Vin, tumben sekali dia menghubungi ku.


Senyuman kecil terukir di bibir ku, entah kenapa perasaan ku seperti berbunga bunga padahal dia hanya menelpon ku.


Aku mengangkat telpon darinya, dan menempelkan ponsel ku di telinga kiri ku.


"Dimana?" Tanya Vin dengan suara tegas di telpon itu


"Di rumah teman," Jawab Ku


"Gak pulang?" Tanya Nya lagi


"Aku bermalam di sini, besok pagi aku pulang." Jawab ku lagi


"Hah, kamu ini! Kenapa melarikan diri sih? Saya mengirim kan kamu pengawal agar ada yang menjagamu. Karna Saya sedang tidak ada di samping mu." Ucap Vin dengan suara lebih lembut


"Maaf, tapi aku tidak suka di kawal seperti itu! Dan aku kan bisa menjaga diriku sendiri." Tutur Ku


"Iya, Saya tau! Tapi aku hanya tidak ingin kamu terluka." Kata Vin dengan pelan


Aku merasa kasian dengan nya, apa aku terima saja pengawalan itu yah? Untuk membuatnya lebih tenang.


"Baiklah, lain kali aku tidak akan melarikan diri lagi" Ujar Ku mencoba menenangkan nya.


"Iya, janji!" Jawab Ku.


"Dua Minggu lagi, aku akan mendatangi mu! Bersiap lah." Ucap Vin


"Sungguh! Kalau begitu aku akan selalu siap dong, hehehe" Tawa Ku Kecil


"Oh, iya Kamu di rumah siapa? Teman yang mana?" Tanya Vin


"Rumah Erika," Jawab Ku dengan cepat.


"Tenang lah, Dia tidak sedang selingkuh kok! Jadi tidak perlu khawatir begitu," Teriak Erika di samping terlihat ku.


"Hemmm, kalau begitu saya akan mematikan telpon nya! Jaga dirimu baik-baik, dan ingat perkataan ku ini, teman bisa menjadi musuh.  Jadi hati hati lah" Tutur Vin


" Iya, aku akan berhati-hati. Selamat Malam!" kata ku dengan mengakhiri panggilan itu.


Aku merebahkan tubuhku di kasur, Erika berjalan ke pintu lalu mengunci pintu kamar nya.


Sebaiknya aku meletakkan guling di tengah, soalnya aku punya kebiasaan meraba. Hah! Aku tidak mau nanti nya aku meraba Erika.


Itu lah kebiasaan buruk ku dulu, tapi entah sekarang karna aku di tubuh yang berbeda.  Barangkali kebiasaan itu tidak berlaku disini.


Maka dari itu dulu, aku tidak mau tidur sekamar dengan nenek. Aku lebih memilih tidur sendiri takut mengulangi kebiasaan itu.


Walaupun nenek sering menyuruh ku untuk tidur bersama nya, memang aku iyakan ajakan nenek tetapi saat nenek sudah tidur aku kembali ke kamar ku lagi.


Tapi semoga saja kebiasaan itu tidak berlaku di tubuh Emily ini, apalagi saat sedang tidur bersama teman ku begini.


Pastinya akan sangat malu, kalau itu sampai terjadi pasti Erika akan mengejek ku terus.


Aku menggeleng kan kepala ku, lalu berbalik membelakangi Erika. Aku menutup mataku ku untuk mengistirahatkan tubuh ku ini.


Erika sesekali mengajak ku berbicara tapi terkadang aku tidak mendengar suara nya, akibat aku yang sudah mulai tertidur.


Hingga tidak ada suara lagi yang aku dengar, mata ku terpejam dengan sempurna bersatu dengan malam yang begitu nyaman ini.


Aku terbangun saat merasakan ada benda di wajah ku, aku membuka mata terkejut melihat kaki Erika berada di wajah ku.


Posisi tidur macam apa ini, kaki Erika di kepalaku sedangkan satu kaki ku di kepala nya juga.


Aku menuju kamar mandi membasuh muka ku, aku melihat jam dinding, dan masih ada waktu untuk berlari lari pagi sebelum berangkat ke sekolah.


Aku meraih ponsel ku, dan keluar rumah Erika, aku berlari santai di pinggir jalan.


Saat menuju pulang kembali, dari kejauhan aku melihat Rani. Aku segera berlari menuju ke arah nya yang tengah berdiri di depan minimarket.


"Rani," Panggil Ku


Rani mengangkat kepalanya, mencari siapa yang memanggil nya itu. Ia menatap ke arah ku dengan mengerutkan kening nya.


"Rani! Kamu apa kabar?" Tanya nya memeluk nya


"Apaan sih, main peluk peluk segala! Kamu siapa." Ucap Rani sambil melepaskan pelukanku denga kasar.


Aduh, aku lupa kalau aku tengah berada di tubuh Emily. Sekeras apapun aku mendekati nya dia tidak akan mengenali ku.


Aku terdiam sejenak memandangi nya, ia terlihat seperti tidak tenang.


"Kamu salah orang," Tutur Rani sambil berjalan meninggalkan ku.


Aku bingung hendak mengucapkan kalimat apa kepadanya, dia kan tidak mengenali ku. Sulit bagi ku untuk mendekati nya.