
Saat aku terbangun, aku sudah berada di ruang UKS.
Aku bangun dan duduk dengan perlahan, kepalaku terasa sangat pusing dan aku masih merasakan gemetaran di kaki ku.
Aku baru ingat, aku belum sarapan tadi sebelum berangkat sekolah dan saat di kantin aku hanya memesan jus saja.
Suara pintu UKS terbuka menandakan ada orang yang masuk, Gery muncul dengan membawa sesuatu di tangan nya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Gery
"Seperti yang kamu lihat" Jawab Ku
Ia menggapai kursi dan duduk di samping, membuka bungkus yang ia bawa.
"Makan lah dulu!"Pinta nya menyimpan makanan itu di samping ku
Aku tidak langsung mengambil melainkan menatap makanan itu dan kemudian menatap nya.
Jangan sampai dia memberi sesuatu ke makanannya, toh dia kan tadi sangat marah kepadaku lalu kenapa dia seketika berubah menjadi peduli seperti ini.
"Kamu jangan berpikiran aneh, aku hanya tidak mau di salahkan lagi oleh ibu ku karna kamu pingsan" Ucap Nya
Jadi Guru tadi itu ibunya Gery, pantas saja dia tidak berkutik sama sekali saat di tanyai nya.
Tapi dia tadi tidak membela Gery sama sekali saat aku memukulinya, apa mungkin karna Gery sudah sering membuat masalah.
"Makan lah, dan jangan memperhatikan seperti itu! Atau kamu menunggu ku untuk menyuapimu?" Tutur nya
"Aku bisa makan sendiri!" Kata Ku
Aku memakan makanan itu dengan perlahan, sedangkan Gery tengah sibuk memainkan ponselnya.
"Apa anda tidak apa apa?" Tanya Vin yang sudah berdiri di samping ku
"Aku tidak apa apa" Jawab ku meletakkan makanan itu
"Sebaiknya, sebelum dia berangkat sekolah usahakan untuk sarapan terlebih dahulu" Ucap Gery berjalan dan menepuk bahu Vin
Gery pergi keluar UKS meninggal kan kami berdua di ruangan itu.
"Kamu tidak sarapan tadi?" Tanya Vin duduk di kursi tempat Gery tadi
"Aku lupa" Jawab Ku
"Kalau begitu biar saya yang mengingatkan mu nanti" Tawar Nya menaikkan keningnya
"Ayo kembali ke kelas!" Ajak Ku turun dari ranjang itu
Aku berjalan kembali ke kelas, dengan Vin yang mengikuti ku dari belakang.
Dan aku mendengar di kelas tengah ramai ramai, entah apa yang terjadi di sana.
Aku masuk ke dalam kelas dan mendapati teman teman di kelas tengah berkumpul di meja paling belakang.
Ternyata ada seorang siswa cewe yang tengah membagikan undangan ulang tahun, dan Erika juga berada di kerumunan itu.
"Emily!" Teriak Cewe itu berlari ke arah ku
"Ini undangan untuk kalian bertiga! Jangan lupa datang yah entar malam" Kata Nya sembari tersenyum
"Terimakasih" Ucap ku memperhatikan undangan itu
Pesta ulang tahun, apa aku tidak salah liat ini ada dansa nya? Aku kan tidak bisa berdansa apa lebih baik aku tidak datang yah.
Kalau aku datang dan mereka menyuruh ku untuk berdansa, kalau aku bilang tidak bisa pasti mereka akan menertawakan ku.
Bagaimana ini, tapi kalau aku tidak datang apa yang akan dia katakan? Lagian dia kan teman sekelas ku.
Aku akan meminta bantuan kepada Bi Asih saja, barangkali dia ada solusi untukku atau dia bisa mengajariku dansa.
Aku duduk di kursi ku dengan mendengarkan penjelasan Guru, mengenai pelajaran yang ia bawakan.
Hingga pelajaran terakhir pun selesai, aku pulang bersama Erika hingga aku mengantar nya sampai di depan rumahnya.
Sesampainya di rumah aku langsung segera masuk dan mencari Bi Asih.
Aku berjalan ke dapur mencari Bi Asih tetapi ia tidak ada di sana, aku menanyakan kepada pelayan lain mereka juga tidak tau dimana keberadaan Bi Asih.
Aku mencari nya di taman belakang rumah, tidak ada juga hingga aku mencari nya ke kamar nya.
Aku mengetuk pintu kamar nya perlahan, sambil terus memanggil nya tapi tidak ada jawaban juga.
Hingga aku kembali dengan kekecewaan, aku berjalan ke kamar ku meletakkan tas ku dengan kasar di kasur.
Bi Asih tidak ada dan Bi Siti juga tidak ada, kemana mereka pergi.
Aku semakin bingung jadinya, siapa yang bisa membantu ku selain Bi Asih dan Bi Siti dan waktunya sudah sangat mepet begini.
Aku mengganti pakaian ku lalu turun ke dapur, duduk di kursi dengan berpikir siapa yang bisa membantu ku.
Tiba tiba Vin dan Raja muncul dan duduk di kursi, aku tersenyum lebar kearah mereka berdua.
Aku tau siapa yang bisa membantu ku, pas sekali mereka datang.
Vin menatap Raja heran dengan senyuman ku itu, aku segera menarik mereka berdua membawa nya ke kamar ku.
Aku mengunci pintu lalu mendudukkan mereka di kursi, Menatap mereka dengan tajam.
"Tatapan apa itu" Kata Raja dengan terkejut
"Tenang lah aku tidak akan berbuat aneh aneh kepada kalian" Ucap Ku
"Lalu? Kenapa Anda membawa kami ke kamar anda?" Tanya Vin
"Aku hanya ingin meminta tolong kepada kalian, untuk mengajari ku dansa" Jawab Ku
"Pffftt haha Anda tidak tau berdansa? Pantas saja wajah anda terlihat sangat khawatir tadi" Ucap Vin dengan tertawa keras di ikuti tawa Raja
Ingin rasanya aku memukul kedua orang ini, nyesel banget aku memberi tahu nya dan meminta tolong kepada mereka ini.
"Berhenti lah Vin! Perut ku sakit tertawa terus!" Pinta Raja memegangi perutnya
"Puas yah kalian menertawakan ku! Kalau tau tadi aku tidak akan meminta tolong kepada kalian" Kata ku dengan memalingkan wajah
"Hahaha, baiklah kami akan membantu anda! Asalkan anda tidak menginjak kaki saya" Tutur Vin
"Musik nya?" Tanya Raja
"Pakai ponsel saja" Jawab Vin
Lalu ia memperlihatkan semua gerak gerakan dansa, aku memperhatikan dengan seksama semua gerakan yang ia keluarkan.
Tetapi saat aku memulai percobaan dansa nya bersama Raja, aku menginjak kaki nya terus menerus hingga ia menyerah untuk mengajari ku.
Dengan terpaksa Vin yang menjadi teman latihan dansa ku, padahal tadi juga ia takut nantinya aku akan menginjak kaki nya.
Setiap aku menginjak kaki nya, ia menatap ku dengan menyipitkan matanya hingga aku membalas dengan senyuman.
Hingga dia mengajarkan kembali langkah langkah dasar dansa nya, agar aku mengerti semua baru memulai dansa nya lagi.
Aku berlatih sampai menjelang sore, dan akhirnya aku bisa berdansa dengan lancar.
Aku tersenyum puas dan sangat senang, tetapi Vin dan Raja kecapean duduk di sofa dengan terengah-engah.
"Aku tidak akan melakukan ini lagi" Ujar Raja menatap plafon kamar ku
"Anda harus traktir kami Non!" Sambung Vin dengan menatap ku
"Tenang saja, pulang dari pesta nanti aku akan traktir kalian"Ucap ku membuka pintu kamar ku
"Terimakasih sudah membantu ku" Tutur ku kepada mereka
"Sama sama Non! Aku senang bisa membantu Anda walaupun kaki saya yang menjadi sasaran nya" Kata Raja dengan tertawa kecil
Ia berjalan keluar kamar ku, sedang kan Vin menatap ku dengan senyuman aneh nya itu aku rasa otak nya tengah memikirkan hal lain sudah terlihat dari senyuman nya itu.
Vin berjalan perlahan tetapi bukan ke arah pintu melainkan ke arah ku, berdiri tegak di hadapan ku.
"Saya menantikan penampilan menawan mu malam ini" Kata Vin dengan berlalu pergi