REINKARNASI KE TUBUH GADIS LEMAH

REINKARNASI KE TUBUH GADIS LEMAH
Dendam


"Apa kalian bersenang senang Nona?" Tanya Lelaki itu


Tiba tiba muncul lima orang wanita di belakang lelaki itu, aku tidak tau siapa sebenarnya Lelaki itu dan wanita wanita itu.


Entah kenapa mataku terasa berat saat menatap lelaki itu, aku mencoba menutup mataku sebentar dan kemudian membuka nya lagi.


Tetapi aku sudah berada di sebuah ruangan kerja seseorang, saat seorang lelaki memutar kursi nya sembari duduk.


Aku melihat lelaki itu tak lain adalah ayah Emily, aku tidak tau apa yang akan Emily perlihatkan kepadaku.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar menandakan ada seseorang di sana.


"Masuk lah" Seru Ayah Emily yaitu Pak Candra


Seseorang membuka pintu itu, dan ternyata itu adalah Emily yang berkunjung ke kantor ayah nya.


"Ayah! Aku membawa kan bekal buat Ayah dari Ibu tercinta" Tutur Emily duduk di kursi depan ayah nya


"Terimakasih Sayang!" Kata Candra tersenyum kepada Emily


Selang beberapa menit seorang pria masuk ke ruangan itu, aku sedari tadi hanya berdiri memantau mereka.


Pria itu adalah pria yang berada di lorong tadi, jadi orang itu mengenal Pak Candra yah.


Aku mendekati dan berdiri di samping Pak Candra yang menatap pria itu dengan tatapan tajam, sedangkan Emily berpindah tempat membiarkan kursi itu kosong agar lelaki itu bisa duduk di situ.


"Bapa memanggil saya?" Tanya lelaki itu sembari duduk di kursi yang di gunakan Emily tadi


"Kamu saya pecat!" Jawab Pak Candra dengan serius


"Salah saya apa pa?" Kata lelaki itu menatap Pak Candra


"Kamu menggelapkan dana perusahaan kan!" Ucap Pak Candra mengetuk ngetuk meja dengan jari telunjuk nya


Lelaki itu tidak menjawab, mata nya menjadi liar kesana kemari pasti dia sedang mencari alasan untuk menutupi kesalahannya.


Pak Candra meletakkan sebuah kertas di atas meja tepat di depan lelaki itu, lelaki itu mengambil kertas itu lalu membaca nya.


"Sa-saya bisa jelaskan ini pak!" Ucap lelaki itu terbata bata


"Saya tidak butuh penyelasanmu! Semuanya sudah jelas! Sekarang pergi dari hadapan ku, lalu kemasi barang barang mu dan keluar dari kantorku" Usir Pak Candra


Lelaki itu berdiri lalu berjalan sambil mengepalkan tangannya erat, Sebelum ia keluar dari ruangan pak Candra , lelaki itu menatap Emily dengan sinis memiringkan senyuman nya.


Berarti lelaki itu adalah dalang di balik penculikan Emily, dia ingin membalas dendam atas Pak Candra yang memecatnya itu.


Aku kembali berdiri di tempat ku semula, aku memandang Emily dan ayah nya itu aku tersenyum kepada mereka walaupun mereka tidak mungkin melihat ku.


Tetapi aku terkejut saat Emily dan ayah nya menatapku, mereka tersenyum ke arah ku sangat jelas hingga aku tersadar kembali ke lorong itu.


"Apa kamu tidak apa apa Emily?" Tanya Elena mendekati ku


"Kami memanggilmu sedari tadi,tapi kamu tidak menjawab nya malah bengong di situ" Sambung Tata


"Aku tidak apa apa, aku hanya sedikit pusing" Jawab Ku


Rupanya dendam seorang pejabat yah, tetapi yang membuat ku heran kenapa Elena,Yara,Hazel dan Fiona ikut di culik? Apa mungkin dia memiliki dendam juga kepada orang tua mereka.


Memikirkan itu membuat kepalaku semakin sakit, aku membenarkan posisi berdiri ku dan menatap kembali mereka.


Seperti nya akan terjadi pertarungan lagi disini, dan aku harus cepat menyelesaikan nya lalu keluar dari tempat ini.


"Serang mereka!" Perintah lelaki itu dengan suara lantang


Kami bertarung dengan wanita wanita itu dalam pertarungan satu lawan satu, serangan serangan kami saling berhadapan dengan kekuatan dan ketangguhan yang sama.


Aku menghadapi wanita dengan rambut berwarna coklat di kepang, dengan postur tubuh langsing dan kulit nya yang berwarna kuning Langsat.


Mata nya tak luput terus memperhatikan ku, dan ia melancarkan serangannya dengan cepat.


Kami saling bertarung dengan serius, berusaha mengalahkan satu sama lain aku tidak bisa menganggap remeh wanita itu.


Ia sangat mahir berkelahi semua serangan ku bisa ia hindari, padahal aku berusaha menggunakan setiap gerakan yang aku kuasai untuk mengalahkan nya.


Mata ku menatap tajam setiap pergerakan wanita itu,dengan cermat mencari celah untuk menyerang dan menciptakan strategi.


Aku melirik ke lelaki itu yang masih berdiri di lorong itu, lelaki itu diam menonton pertarungan kami.


Melihat dengan penuh minat seolah sedang menikmati tontonan.


Wanita itu kembali menghujani ku dengan serangan  yang tak henti hentinya, mencoba menguji ketahanan dan kekuatan ku.


"Ternyata kamu jago juga yah!" Ucap Wanita itu


"Terimakasih,kamu juga tangguh! Tapi aku tidak akan mudah menyerah" Kata Ku


"Siapa namamu? Aku harus tau nama mu sebelum aku membunuh mu di tempat ini" Ujar Nya dengan senyuman


"Nama ku tidak penting Bagi kamu yang akan mati di tangan ku" Tutur Ku dengan senyuman dingin


Aku melanjutkan serangan ku dengan penuh determinasi,bertekad untuk melawan wanita itu.


"Aku akan memberi tahu kan duluan nama ku yah, aku Aynat biasa di juluki Gadis setan" Ucap Aynat dengan senyuman licik


"Gadis Setan, Hm? Bayangkan saja betapa mengejutkan nya saat kematian mu di tangan seorang gadis biasa" Kata Ku dengan menaikkan Alis ku


Aku semakin termotivasi untuk mengalahkan nya.


"Justru akulah yang akan melenyapkan mu" Teriak nya mulai menyerangku dengan tendangan nya yang mengarah ke wajah ku


Aku mengelak dan menangkis serangan Aynat dengan lincah.


"Kamu masih jauh dari kemampuan ku! Gadis Setan!" Ucap Ku


Dengan kuat aku memukul Aynat tepat di wajah nya, hingga ia terpental.


Aku mendekati nya lalu mencengkeram tangan nya kemudian menendang perut nya dengan lutut ku.


Ia terjatuh meringkuk memegangi perutnya, aku mengambil pisau yang aku selipkan tadi dan bersiap menusukkan nya kepada Aynat.


Aku mengangkat tinggi-tinggi pisau itu dan hendak meluncurkan di wajah Aynat, tetapi aku tak sanggup melakukan nya saat aku melihat mata gadis itu.


Aku menarik kembali tangan ku yang memegang pisau itu, Aynat menatap ku melotot punggung nya naik turun karena nafas nya yang tak beraturan itu.


Aku berdiri dan menengok teman teman ku yang masih berkelahi itu, lalu aku kembali melihat di mana lelaki tadi berdiri menonton kami tetapi dia sudah tidak ada di sana ia melarikan diri.


Aku bergabung dengan teman teman ku membantu mereka agar kita menyelesaikan pertarungan itu dengan cepat lalu keluar dari tempat ini.


Dan akhirnya para wanita itu pun tumbang, dengan segera kami meninggal mereka yang masih terbaring di situ.


Kami berjalan melewati lorong dimana lelaki tadi menampakan diri nya, tetapi kami mendapat kan lorong bercabang lagi.


.