
"Huf, Kaka itu tidak cocok dengan Tuan Crill, karna kaka terlalu lemah dan cengeng! Bisa bisa Kaka hanya menyusahkan nya saja" Ledek Elina dengan senyum jahat nya.
"Jadi maksud mu, yang cocok dengan Crill itu kamu? Seharusnya kamu gitu yang ada diposisi ku sekarang!" Ucap Ku dengan tawa kecil.
"Tepat sekali, tumben banget Kaka pintar!" Tutur Elina
Dasar bocah! Enak banget dia ngomong, dia pikir dia itu siapa! Rasanya aku ingin segera menonjok wajah nya yang ke centilan itu.
"Kenapa Kaka diam? Apa Kaka merasa kalah debat dengan ku!" Tanya Elina dengan memamerkan gigi nya
"Tidak, aku hanya memikirkan kenapa bocah ingusan seperti mu itu rata rata gatal ya!" Ucapku dengan senyuman licik
Braaaakkkkkk
Elina menggertak tangan nya di meja, membuat dua gelas teh di meja itu bergerak.
Mata nya memerah menatap ku dengan wajah emosi, Elina mendekati ku dengan mengepal kan tangan nya.
"Berani sekali Kaka menyebutku Gatal!" Teriak Elina berdiri di hadapan ku
Ia mengayunkan tangannya ke arah ku, hendak menampar wajah ku tetapi dengan cepat Vin menangkis tangan Elina.
Vin mencengkeram tangan Elina dengan kuat, menatap Elina dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.
"Apa anda tidak pernah di ajari sopan santun? Atau saya perlu mengajari Anda?" Tanya Vin dengan tatapan dingin
"Apa apaan kamu ini! Berani sekali kamu memegang tangan ku, lepaskan!" Teriak Elina membuat pelayan dan beberapa pengawal mendatangi kami.
Vin semakin memperkuat cengkeraman nya di tangan Elina, seperti nya ia sangat geram.
"Aaaaaah, sakit!" Jerit Elina
Aku menarik baju Vin dengan pelan, menyuruh nya melepaskan cengkraman tangannya terhadap Elina.
Dengan perlahan ia melonggarkan cengkeraman nya itu, lalu kembali berdiri di samping ku.
"Dasar Gila!" Bentak Elina memegang pergelangan tangan nya yang merah itu
"Pergi lah sekarang juga, aku tidak ingin melihat mu di hadapan ku lagi" Usir Ku
menatap Elina dengan menaikkan keningku.
Pandangan ku berpindah arah, saat seorang lelaki mendekati kami.
Aku tidak tau siapa orang itu dan aku belum pernah melihat nya sekali pun selama aku disini.
Aku menatap mata lelaki itu hingga cahaya putih menutupi mataku, saat cahaya itu menghilang, Aku sudah berada di sebuah ruangan keluarga.
Ini pasti Emily memperlihatkan ku tentang siapa lelaki tadi, mari kita liat dengan seksama.
Di ruang keluarga tersebut, aku melihat beberapa orang tengah berkumpul salah satunya Emily, Pak Candra, Nyonya Gabriella, dan lelaki tadi serta Elina.
Mereka tengah membicarakan tentang perusahaan, dan lelaki itu ternyata Dillon, Paman Emily yang di bicarakan oleh Bi Asih tadi.
Tiba tiba di tengah pembicaraan mereka, Tuan Dillon meminta sebagian saham perusahaan Pak Candra untuk anak nya Elina.
Pak Candra menolak untuk memberikan saham itu kepada mereka, karena semua sudah di bagi rata.
Dillon terlihat sangat kesal kepada Pak Candra, yang tidak menyetujui permintaan nya itu.
Ia menatap Pak Candra dengan wajah penuh emosi, tetapi bukan hanya kepada Pak Candra melainkan kepada Emily dan Ibunya juga.
Setelah itu Tuan Dillon tersenyum sinis kepada mereka, senyuman yang tidak biasa seperti ada niat jahat yang terselubung di senyuman itu.
Aku merasakan seseorang menepuk pundak ku hingga aku tersadar, aku kembali lagi di tempat ku semula dimana si Elina tengah emosi.
Aku mengangguk pelan dan Kembali menatap Paman Dillon itu, hingga ia berhenti di samping Elina.
"Ayaahh, tanganku sakit!" Rengek Elina dengan wajah memelas di hadapan ayah nya .
"Apa yang terjadi! Apa kamu menyakiti adikmu, Emily?" Tanya Paman Dillon menatap ku dengan emosi sambil memegang tangan Elina.
"Yah, seperti yang anda lihat! Tapi aku tidak akan melakukan kekerasan jika dia tidak memulainya duluan," Jawab Ku berdiri dengan santai di hadapan nya.
"Seperti nya kita harus bicara," Ujar Paman Dillon lalu menarik kursi dan duduk.
Aku segera duduk di tempat ku tadi, aku menunggu apa yang ingin ia bicarakan denganku.
"Saya akan mengubah beberapa peraturan di perusahaan, dan sepertinya saya akan mengganti karyawan nya!" Ucap Paman Dillon dengan mengetuk meja menggunakan jari telunjuk nya.
"Tidak ada yang perlu di ubah, dan tidak perlu mengganti karyawan nya! Jangan mengubah sesuatu yang sudah di buat oleh ayah ku" Tutur Ku dengan nada nyaring
"Apa yang kamu tau tentang perusahaan itu, semenjak ibumu yang memimpin perusahaan, semua jadi kacau! " Teriak Paman Dillon
"Apa! Kacau? Bukan kah perusahaan baik baik saja dan beberapa Minggu lalu ibu memenangkan tender," Ucap Ku dengan santai meminum teh ku
"Apa itu hanya alasan agar Paman bisa menguasai perusahaan ayah! Itu kan tujuan utama paman kemari!" Tuduh Ku dengan senyuman licik
"Jaga ucapan mu terhadap paman mu ini!" Pinta Nya dengan emosi yang menggelegar
"Seperti nya Kaka harus di beri pelajaran lagi," Tutur Elina mendekati ku
Ia memegang baju ku dengan sangat kuat, dia menatap ku dengan wajah kesal memperlihatkan kemarahan nya itu di hadapanku.
Sedangkan Paman Dillon hanya memperhatikan kami dengan santai, ia membiarkan Elina yang hendak berbuat kasar kepadaku.
Tangan ku rasanya sudah gatal sejak tadi, aku memegang tangan Elina lalu meraih lehernya dan membanting nya ke meja.
Tangan kiri ku memegang tangan nya, dan tangan kanan ku mencekik lehernya.
Paman Dillon terkejut dengan apa yang aku lakukan, ia mencoba melerai perkelahian kami.
"Jangan berbuat kasar kepadaku!" Ancam Ku dengan menuangkan teh di wajah Elina
Aku melepaskan nya perlahan lalu berdiri dengan tegak di hadapan mereka, menatap mereka dengan penuh kebencian.
" Pergi lah, jika urusan kalian sudah selesai! Dan jangan pernah muncul di hadapan ku, apalagi dengan niat merebut yang sudah menjadi milikku" Usir Ku
Aku berjalan meninggalkan mereka dengan senyuman kemenangan, walaupun aku tau aku belum menang sepenuhnya dari mereka.
Pasti mereka akan datang lagi di suatu saat, dengan rencana yang tidak bisa ku tahu tetapi aku akan terus waspada untuk itu.
Aku masuk ke kamar ku, menyusun rencana agar Paman Dillon tidak lagi melirik perusahaan ayah Emily.
Aku mendengar suara mobil yang keluar dari rumah, aku berjalan membuka pintu teras kamar ku.
Rombongan paman Dillon meninggalkan rumah, berhasil juga mengusir mereka pulang.
Aku mengerti sekarang, ibu jatuh sakit pasti abis mendengar perkataan paman Dillon yang senonoh itu.
Seperti nya aku harus sering ikut bersama ibu ke kantor, agar aku lebih tau banyak tentang perusahaan.
Rasanya aku mengantuk sekali, aku menutup pintu teras tersebut lalu pergi berbaring di kasur ku.
Aku memejamkan mataku hingga aku benar-benar terlelap, samar samar aku mendengar seseorang yang memanggil ku.
Suara wanita dengan lembut menyebut nama ku, aku membuka mata ku dan menyadari bahwa aku bukan lagi berada di kamar ku.