
Rasidha sangat terkejut dengan penjelasan Aisyah padanya, dia tak menyangka jika perubahan dari Zaid itu semua berkat dirinya yang saat itu berusia lima tahun. Mampu menggetarkan dan meluluhkan hati seorang pria yang dikenal dengan kejam, bengis, dan tanpa pandang bulu. Seorang pria pada masa itu memahami makna kehidupan sebenarnya di saat dia melantunkan ayat suci Al-Qur'an.
Kedua manik mata mulai mengeluarkan cairan bening yang menetes dengan sendirinya, ketulusan hati dari ayah angkatnya yang menjemput hidayah melalui dirinya. "Jadi itu sebabnya ayah Zaid memeluk agama Islam?"
"Benar Sayang, jangan lupakan kebaikan darinya akibat setitik noda hitam."
"Aku memang sudah memaafkan, Bi. Siapa aku yang tidak memaafkan orang lain sedangkan Allah saja maha pemaaf. Tapi, aku benar-benar membutuhkan waktu agar bisa berdamai dengan keadaan ini." Jawab Rasidha yang segera meninggalkan tempat itu.
Aisyah menyeka air mata, mengingat bagaimana Simon yang berubah menjadi Zaid dengan jemputan hidayah melalui gadis kecil yang sekarang telah beranjak dewasa.
Rasidha kembali ke asrama dengan langkah gontai, dia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Dia ingin sekali berdamai, tapi hatinya masih saja tak bisa diajak kompromi. "Ya Allah, mengapa ini cukup sulit bagiku?" gumamnya di dalam hati, tidak fokus ke jalanan membuatnya hampir saja tersandung. Seseorang dengan sigap menangkap tubuhnya dan secepat kilat pula mengucapkan istighfar.
"Astaghfirullah hal'adzim, lain kali fokuskan pandangan ke depan."
Rasidha mendongakkan kepala, terlihat seorang pria yang tidak dia kenal. "Maaf, dan terima kasih." Ucapnya singkat dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Hai, tunggu! Kamu meninggalkan bukumu," ucap pria itu membuat Rasidha memutar tubuhnya.
"Hem." Rasidha yang sedang tidak mood hanya membalas dengan sekilas tersenyum, dia segera mengambil buku uang terjatuh dan memasukkannya ke dalam tas. Di saat dia mengangkatnya, semua buku malah berserakan membuat pria itu menahan senyum. Merasa jengkel, dia segera memunguti semua buku dengan sabar.
"Biar aku bantu." Ucap pria itu yang membantu memungutnya buku-buku yang berserakan. "Kamu tidak akan sanggup membawa semua buku-buku ini, biar aku saja."
"Tapi, bagaimana mungkin. Pria tidak boleh masuk ke asrama wanita," balas Rasidha yang sedikit risih dengan keberadaan pria asing di hadapannya.
"Aku tahu, aku akan mengantarkanmu di depan gerbang saja."
"Baiklah." Rasidha menyetujuinya dan mengambil jarak dengan pria itu, tidak ada obrolan yang tercipta hanyalah keheningan semata.
Sesampainya di gerbang pembatas, Rasidha mengambil semua bukunya dan segera pergi meninggalkan tempat itu setelah mengucapkan kata terima kasih
"Tunggu!" sergah pria itu yang menghentikan langkah gadis berkerudung putih.
"Ada apa?"
"Aku belum tahu namamu."
"Rasidha, itu namaku." Ucapnya yang segera pergi meninggalkan pria yang berdiri di belakangnya.
"Rasidha? Jadi itu namanya? Sangat unik seperti orangnya." Gumam pria itu yang segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini?" tanya seseorang membuat pria itu menoleh ke sumber suara.
"Aku hanya membantu gadis itu." Sahutnya dengan santai.
"Gadis yang mana?"
"Sudahlah Kak, lupakan saja."
"Ya baiklah, tapi mengapa kamu ada di sini, Gus Habib?"
Afif sangat geram dengan tingkah laku adik sepupu yang sangat jauh dari kategori seorang Gus, tidak pernah betah dalam satu pesantren, paling lama bertahan hanya beberapa bulan saja. "Aku akan menunjukkan kamarmu, ayo ikut!"
"Baiklah." Ucap Gus Habib yang mengikuti langkah kaki kakak sepupunya, dia tersenyum saat membayangkan wajah gadis. "Sepertinya aku akan betah tinggal disini," batinnya.
Afif menoleh dan menghentikan langkah kakinya, hingga Gus Habib tak sengaja menabrak sang kakak. "Auh…mengapa Kakak berhenti?" kesalnya.
"Kenapa kamu tersenyum?"
"Apa aku tidak boleh tersenyum?" cetus Gus Habib yang kesal dengan perkataan kakak sepupunya.
"Jangan katakan kalau kamu membayangkan santriwati disini?" selidik Afif.
"Memangnya Kenapa? Umurku dua puluh lima tahun. Sah-sah saja jika aku mempunyai ketertarikan dengan lawan jenis, lagipula aku ini normal."
"Mulai sekarang jangan pikirkan siapapun, fokuslah belajar sebelum mengemban dunia kerja sesuai amanat paman."
"Tentu saja."
Rasidha meletakkan semua buku ke dalam laci lemari yang berukuran kecil, mengelap keringat yang membasahi dahi. "Alhamdulillah sampai juga akhirnya."
Kini semua orang fokus pada pelajaran yang diterangkan oleh pengajar, menjadi tertib dan disiplin, mendahulukan adab terlebih dulu dan kemudian Ilmu di urutan kedua. Semua santriwati mendengar dengan sangat baik, mencatat beberapa poin penting yang akan diingat. Rasidha dengan cepat mengerjakan soal-soal yang diberikan ustadzah, karena pelajaran yang diterangkan sudah dipelajari lebih dulu.
Selesai mengerjakan semua soal, Rasidha diperbolehkan keluar lebih dulu dan dia memutuskan untuk pergi di taman untuk menyetor hafalan seperti biasa.
"Kak Rasidha…Kak Rasidha," panggil seseorang yang berlari ke arahnya.
"Iya, ada apa?" Rasidha sangat panik saat melihat raut wajah Ayna.
"I-itu pa-paman Zaid masuk rumah sakit."
Deg
Seakan jantungnya berhenti berdetak, mendengar nama sang ayah yang memberikannya kasih sayang selama delapan belas tahun. Memegang kedua bahu Ayna dan mengguncang tubuh remaja itu seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. "Apa yang kamu katakan?"
"Aku berkata benar, Kak. Umi dan Abi memintaku untuk memanggil Kakak, kita akan ke kota."
"Hem." Rasidha segera berlari mencari keberadaan dari bibi dan pamannya. Perasaan nya bercampur aduk dengan apa yang dirasakan saat ini. "Ada apa dengan ayahku?" gumamnya yang menangis, dia tak bisa lagi membendung air mata yang mengalir deras.
Akhirnya dia melihat Aisyah dan segera menghampiri, menghamburkan pelukan dan menangis tersedu-sedu. "Ayah, Bi. Ayah." Ucapnya yang sangat gugup. "Apa itu karena aku?" dia mulai menyalahkan dirinya yang bersalah dengan kondisi Zaid yang di langsung dilarikan oleh Suci ke rumah sakit.
Aisyah membalas pelukan itu dan juga meneteskan air mata, mengusap lembut punggung Rasidha dengan penuh kelembutan. "Kita berangkat sekarang, ayahmu membutuhkan putrinya."
"Ayo, Bi." Ucap Rasidha yang bersemangat untuk kembali ke kota, dia sangat mengkhawatirkan kondisi ayah angkat yang drop pasca mengenai kebenaran masa lalu membuat hubungan keduanya menjauh.
"Aku sungguh berdosa, akulah penyebab kondisi ayah drop. Ya Allah…berikan kesembuhan untuk ayah, aku sangat menyesal dengan keputusanku. Beri aku kesempatan untuk berbakti padanya, dia ayah terbaikku." Ucapnya yang berdoa di dalam hati.
Aisyah dan Rasidha menunggu Doni untuk beberapa menit, kemudian mereka memutuskan untuk berangkat ke kota dan langsung menuju rumah sakit terdekat. Mereka berharap jika kondisi Zaid tidak parah.