
Sudah satu minggu semenjak konflik itu terjadi, dimana dia melihat calon istrinya sudah menjadi milik orang lain. Hatinya begitu terguncang dengan masalah pernikahan Rasidha yang dilakukan secara terpaksa, namun pernikahan sudah sah di mata agama juga hukum. Apalah nasib yang sudah menjadi bubur, berteman sepi dan juga rasa kecewa begitu mendalam hingga mencapai hati di lubuk terdalam.
Semenjak di rumah sakit dia mulai menghilang bagai debu, tidak ada yang tahu nasibnya setelah perpisahan yang begitu menyakitinya. Inilah alasan mencintai seorang manusia akan membuatnya lalai akan tugasnya berada di dunia, hanya bisa berbaring di ranjang sempit tanpa seorang pun di sisinya.
Kabar kehilangan Rasidha yang berpindah tempat, juga ikut menghilangkan kabar ustadz Afif tanpa diketahui sanak saudaranya yang selalu mencari keberadaannya.
Kini, pria yang berpakaian baju koko dan celana cingkrang terbaring lemah diatas tempat tidur, badan yang semakin kurus dengan pandangan lurus ke depan bagai tak bernyawa. Semakin tipis harapan untuk hidup, dan dia bahkan memasrahkan kehidupan yang membuatnya tidak pantas disebut dengan ustadz, panggilan yang begitu dia banggakan. Tapi, saat ini dia tidak lagi menghiraukan semua itu. Hanya ada nama Rasidha dengan begitu pilu saat dirinya masih membayangi perpisahan itu.
"Rasidha, maafkan aku yang tidak bisa melupakanmu." Lirihnya sembari meneteskan air mata, tubuh yang semakin kurus dan terlihat pucat terdampar di pelosok desa berada di dalam gubuk yang jauh dari pemukiman penduduk.
Suara petir yang menyambar, dengan kilatan dahsyat, hujan badai yang ikut turun membuat hati semakin getir. Sepasang suami istri yang melihat sebuah gubuk di dalam hutan, mereka tersenyum dan segera berteduh di sana. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, di lihat dari luar yang dipenuhi oleh rumput dan juga laba-laba yang membuat sarang di bagian atap.
"Kita berteduh di sini saja, Bu."
"Iya Pak, lagipula di luar masih hujan deras. Tapi ini tempat apa ya Pak?" tanya wanita paruh baya yang melihat gubuk yang masih kokoh walau diterpa hujan badai.
"Gubuk ini sudah lama ada disini, tapi Bapak tidak tahu kalau gubuknya di perbaiki."
"Apa ada yang tinggal disini?"
"Bapak juga tidak tahu Bu, tapi melihat sarang laba-laba seakan gubuk ini tak berpenghuni." Terang pria paruh baya yang mencoba untuk mengetuk pintu setelah mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum, apa ada orang di dalam? Kami menumpang untuk berteduh." Pekiknya sambil menggedor-gedor pintu, berharap ada penghuni di gubuk itu.
"Bapak jangan aneh-aneh, mana ada penghuni di gubuk ini?"
"Mungkin saja ada Bu, dulu gubuk ini reot dimakan usia. Tapi gubuk ini malah berdiri kokoh, itu artinya ada yang memperbaiki." Terka pria paruh baya yang malah di artikan lain oleh istrinya.
Wanita paruh baya itu seketika gemetaran sambil memegang tengkuk lehernya, dia merinding dan memikirkan makhluk gaib berdasarkan cerita para penduduk desa di hutan. "Mungkin diperbaiki memedi kali Pak, konon katanya di hutan rawan akan penduduk halusnya. Apalagi ini hujan deras, bisa saja itu setan."
"Hus, makanya jangan selalu menonton film horor. Istighfar Bu, jangan percaya dunia perfilman."
"Yee…Bapak di kasih tahu malah ngeyel."
Perdebatan dari dua orang itu terhenti di saat mendengar suara pecahan kaca dari dalam gubuk, mereka tersentak kaget dan hampir saja wanita paruh baya itu kabur. Sang suami segera menahan tangan istrinya agar tidak bertindak bodoh, apalagi cuaca yang masih hujan deras.
Afif melihat pecahan gelas di lantai kasar, dirinya yang haus dan ingin sekali minum. Mencoba untuk bangkit, tetapi tubuhnya terasa sangat lemah hingga dirinya yang jatuh. Pendengarannya yang masih bagus, mendengar suara keributan di luar gubuknya, tak lama melihat sepasang suami istri yang mencoba untuk menolongnya yang begitu memprihatinkan.
Sudah satu minggu Rasidha tidak mendengarkan kabar dari keluarganya, dia dikurung bagai seekor burung yang selalu patuh akan perintah dan dianggap sebagai pelawak dikala sang empunya mengikat dalam pernikahan. Dirinya merenung melihat ke luar jendela, melihat suasana di sekitar dengan bentangan hijau yang ditumbuhi oleh bunga yang tidak terawat. "Nasibku dan bunga-bunga itu hampir sama, yang membedakan hanya alur saja." Gumamnya sambil beranjak dari duduk, hendak keluar kamar dan kembali menjalankan tugas sebagai seorang pelayan.
"Apa yang kamu dapatkan dengan bersantai saja, hah?" ucap seseorang yang mengagetkan Rasidha.
"Aku beristirahat sebentar setelah mencuci semua pakaian Tuan." Jawab Rasidha dengan santai.
"Hem." Sahut Rasidha yang berdehem saja, sudah muak mendengar setiap cacian dan hinaan yang diterima.
"Oh ya, sebelum kamu pergi, pijatlah bahuku terlebih dulu!" perintah Felix yang langsung berbaring di sofa sembari menunjuk bahu nya yang pegal akibat seharian bekerja di kantor.
Rasidha langsung menghampiri suaminya itu dan memijat bahu, memang pernikahan itu hanyalah paksaan baginya, tapi Felix tetaplah suaminya.
"Sebaiknya kamu mengikuti kelas kursus memijat."
"Kenapa?"
"Karena pijatanmu tidak enak sama sekali."
"Kalau begitu pergilah ke jasa tukang pijat profesional."
"Apa kamu sedang mengejekku?"
"Tidak, aku mengatakannya sesuai faktanya saja."
"Ck, sudahlah! Pergi sana, kamu merusak moodku saja." Usir Felix yang segera duduk.
"Baiklah, dengan senang hati." Balas Rasidha yang pergi, dia masih saja canggung jika terus memijat bahu suaminya. Bahkan sehari sampai dua kali dia memijat bahu Felix, tapi sejauh apapun usahanya selalu saja merendahkan dan tidak pernah dihargai.
"Hai kamu! Kembalilah dan selesaikan tugasmu!" ucap Felix yang meninggikan intonasinya, sedikit menyesal karena rasa pegal di bahu yang butuh pijatan istri kecilnya itu. Dia tidak ingin mengakui bagaimana jari lentik itu membuatnya merasa nyaman, bahkan tidak menyadari dirinya yang sudah tertidur pulas.
"Sebaiknya aku memasak!" Rasidha berjalan menuju dapur, karena sedari tadi dia belum makan apapun. Perut yang kosong membuatnya ingin menyantap sayur bening. Makanan yang paling dia rindukan dan menjadi kegemarannya kala berada di pondok pesantren. Membuka kulkas dan melihat bahan yang lengkap tersedia, membuatnya tersenyum bahagia, karena selama tinggal di sana setelah pindah di tempat yang lama mengikuti kemana suaminya bertugas.
"Alhamdulillah, aku bisa buat sayur bening." Rasidha mengambil bahan-bahannya dan mulai memasak masakan yang sangat sederhana.
Aroma yang menggugah selera, Rasidha memindahkan sayur bening ke dalam mangkuk kaca dan berjalan ke toilet karena desakan alam.
Keluar dari toilet, Rasidha melihat seorang pria yang menyantap sayur bening buatannya. "Itu punya ku," lirihnya yang kecewa.
"Apa? Aku pikir kamu menyiapkannya untukku," sahut Felix enteng yang menghabiskannya tanpa rasa bersalah.
"Bukankah Tuan membenci masakan kampung?"
"Itu karena perutku lapar," sahut Felix yang beranjak dari tempat itu dan pergi dalam perut kenyang.
"Aku akan memasaknya lagi," monolog Rasidha yang kembali memasak.