Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 32 - Pernikahan


Di dalam kemelut dan kesunyian malam, seorang wanita lebih memilih sholat tahajud di saat semua orang terlelap tidur. Kesunyian dan keheningan seperempat malam di pergunakan dengan sebaik-baiknya, meminta petunjuk kepada Allah yang maha esa. Menadahkan tangan serta linangan air mata, dia meminta sebuah petunjuk kepada sang khalik menjadi jalan terakhir yang akan ditempuh untuk masa depan.


"Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Berikan aku sebuah petunjuk dengan pilihan yang terakhir ini, aku sudah berputus asa mengenai semua apa yang Engkau takdirkan dan hanya bisa menjalankan sesuai dengan apa yang Engkau perintahkan. Ya Allah ya Robbi, berikan hamba kekuatan untuk hidup kedepannya menerima pernikahan itu dengan hati yang lapang. Aamiin yaa rabbal ’aalamiin." Air mata sebagai penanda dikala dirinya hanya bisa berpasrahkan diri, pernikahan yang akan digelar dengan pria yang berbeda usia dengannya, bahkan usia pria itu hampir sama dengan ayah angkatnya.


Setelah berdoa, tidak lupa melantunkan ayat suci Al-Qur'an, hati yang penuh gelisah dan juga pikiran yang kacau memberikan ketenangan lahir dan batin. Rasidha juga tidak tahu bagaimana nantinya biduk rumah tangga yang akan dijalani, mengingat dirinya yang mulai mencintai ustaz Afif pria yang menjadi calon suaminya. Tapi tak luput dari itu semua, hanya kuasa Allah subhanahu wa ta'ala yang mana dirinya tidak bisa melawan kehendak sang Khalik. Dari segi jodoh, rezeki, dan maut sudah tertulis dan tidak akan pernah tertukar, tidak ada pilihan atau apapun lagi selain bertawakal.


Kini Rasidha menangis di setiap kali mengingat nasibnya, bahkan sampai saat ini tidak ada seorangpun yang menolongnya. "Jika memang tuan Felix adalah jodohku, maka aku tidak akan mengelak lagi dan menerimanya menjadi suamiku." Lirihnya yang sudah memikirkan ini masak-masak karena ketentuan yang tidak bisa diubah, membuatnya harus menerima apa yang akan dia jalani. 


Setelah menjalankan sebagai umat muslim, Rasidha tidak sadar dia tertidur setelah selesai mengaji, yang masih utuh mengenakan mukena putih yang menjadi permintaan pada Felix. 


Di pagi hari, matahari mulai terbit menyinari bumi, suasana yang begitu cerah dan juga mentari yang terasa lembut di kulit. seorang pria yang sangat tampan mengenakan jas hitam dan juga menggunakan peci, hari yang dinanti untuk pernikahan pertamanya. 


Felix begitu rapi dengan pakaian itu, seakan dirinya tampak berbeda membuat orang-orang di Mansion sangat terkejut dengan penampilan baru di acara sakral. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya sangat gugup, mengingat dirinya yang menikah untuk pertama kali dan melepaskan masa lajangnya. dia menghela nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, tentu saja pernikahan ini hanya diadakan dengan sederhana saja, yang dihadiri oleh orang-orang yang bekerja di Mansion. 


"Tuan, anda diminta pak penghulu untuk segera turun dan mengucapkan ijab qabul." Ucap seseorang yang memecahkan kepentingan Felix yang tengah menatap dirinya di cermin besar.


Felix segera menoleh ke sumber suara, dia menganggukkan kepala dan memperlihatkan kharisma sebagai seorang pemimpin. "Aku akan turun, apa gadis itu sudah selesai bersiap-siap?" 


"Sudah Tuan, beberapa orang wanita telah menangani nona Rasidha." jawab pria yang berbaju hitam, tangan kanan dari Felix yang bernama Lintang. 


"Hem, perketat keamanan! Karena aku tidak ingin kalau serangan mendadak datang dengan tiba-tiba sebelum acara itu dimulai!" Felix memerintahkan bawahannya untuk melakukan tugas itu mengingat bagaimana karakter dari Simon Albert yang tidak akan tinggal diam. Dia tidak punya banyak waktu dan segera keluar dari tempat itu, ingin menjadikan gadis tawanannya sebagai istrinya yang sah di mata agama dan juga hukum. mempunyai tujuan yang sangat berbeda, tentu saja hal ini tak luput dari dendamnya kepada sang sahabat yang menghianatinya.


"Baik Tuan, laksanakan." jawab Lintang dengan cepat mengikuti langkah kaki atasannya. 


"Apa kamu telah melakukan sesuai dengan perintahku?" 


Mendengar perkataan dari tangan kanannya itu Felix meninggikan senyuman tipis yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, rencana yang sedikit membutuhkan pengorbanan dengan memeluk agama Islam.


Rasidha duduk terdiam membiarkan orang-orang memoles wajahnya dengan make up yang tipis, menggunakan pakaian kebaya berwarna putih menjadi ciri khas perempuan yang akan segera menikah. tidak ada air mata yang keluar selain berdoa dan untuk kekuatan hati, karena sesungguhnya perasaannya telah jatuh kepada ustadz Afif, pria yang baik akhlaknya dan juga agamanya. Tapi apa yang dia dapatkan sungguh terbalik, namun terlepas dari semua itu hanya takdirlah yang menjadi penentu masa depan. 


Beberapa orang yang membantu Rasidha sangat kagum dengan kecantikan dari gadis keturunan Palestina, kecantikan yang membuat orang lain iri. 


Kini semua orang sudah bersiap-siap turun ke bawah, begitupun dengan Rasidha yang menuruni tangga dengan begitu anggunnya. Wajahnya yang cantik terekspos dengan jelas, membuat semua mata memandangnya dengan penuh kagum. Bahkan Felix juga tidak bisa memungkirinya lagi, dia begitu takjub dengan kecantikan dari gadis tawanannya.


Kedua mempelai yang duduk berdampingan dan disaksikan oleh beberapa, Felix segera menjabat tangan sang penghulu dan mengucapkan ijab qabul dalam dua kali percobaan, hingga dia dinyatakan resmi menjadi suami dari gadis di sebelahnya. Rasidha meneteskan air matanya dimana nama almarhum ayahnya disebut di dalam ijab qabul, mengingat bagaimana dirinya yang hanyalah seorang anak yatim piatu diasuh oleh sepasang suami istri yang baik hati. 


"Sekarang kalian telah sah menjadi suami istri." Ucapan penghulu yang tersenyum, begitupun dengan para saksi.


"Pernikahan ini tidak boleh terjadi!" ucap seseorang yang baru saja datang dengan penuh kemarahan, tidak ada yang bisa mengetahui bagaimana emosi dari pria itu yang melihat putri kesayangannya menikah dengan musuhnya. 


"Ayah." Lirih Rasidha yang menangis dikala ayahnya datang terlambat, sekarang dia telah sah menjadi istri dari musuh ayahnya sendiri. Dia segera mengejar pria yang selama ini melindunginya, namun suaminya itu memegang tangan hingga dia tidak berdaya. "Tolong, biarkan aku menemui ayahku!" ucapnya dengan menyatukan kedua tangan disertai dengan air mata yang menetes. 


"Aku tidak mengizinkanmu untuk menemui ayahmu itu, sekarang kamu adalah istri sahku di mata agama dan juga hukum." Tegas Felix yang menatap istrinya yang baru saja dinikahi dengan tajam, memberikan peringatan penting. 


Rasidha ingin memberontak, tapi mengingat ajaran dari ibunya untuk patuh kepada suami bagaimanapun sifat mereka. Dia menatap ayahnya dengan wajah yang tak berdaya, sementara Zaid juga meneteskan air matanya karena datang terlambat menyelamatkan putri tercinta. Pertemuan haru yang dipenuhi oleh dendam, membuatnya tidak bisa diam lagi, hingga menembakkan senjata api ke langit-langit sebagai bentuk ancaman. 


"Lepaskan putriku, Felix." 


"Sekarang putrimu ini telah menjadi istriku, Ayah mertua."