Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 41 - Gagal kabur


Masih terngiang di telinga, begitu menari-nari dalam pikirannya. Betapa sangat terkejutnya dia di saat mendengar kenyataan yang ada, dirinya merasa tertipu dan sangat sedih. Rasidha segera pergi dari tempat itu, dia kembali ke kamarnya dengan perasaan yang bimbang, apakah dirinya di nafkahi dengan cara haram? Entahlah, itu semacam ancaman baginya. 


"Apa dia menafkahiku dengan uang haram? Jadi selama ini aku sudah mengkonsumsi makanan yang di dapat dengan cara tidak halal?" lirihnya yang menatap pandangan ke atas lantai, perasaan yang cemas menghantui dirinya. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin makan dari uang haram!" tegasnya yang mulai memikirkan cara. Tanpa sengaja perhatiannya teralihkan, menyentuk sebuah kalung yang bernama 'Suci' pemberian sang ibu angkat padanya. 


"Bagaimana ini? Aku tidak ingin makan dari hasil haram, tapi kalung ini milik ibuku dan sangat berharga. Mana mungkin aku menjualnya, lagipula aku tak akan bisa keluar dari sini." Monolognya yang di racuni kebimbangan, tidak ada cara lain selain kabur dari sangkar emas. "Sebaiknya aku kabur saja." Batinnya yang yakin ingin meninggalkan tempat itu. 


Sudah cukup selama ini Rasidha menahan segalanya, walaupun dia tahu apa yang menjadi rencananya tidaklah benar. 


Dia kembali berjalan ke arah pintu kamar, melihat situasi dan memastikan kalau suaminya sudah pergi. Sudah tidak tahan untuk tinggal di kediaman itu, seakan membakar seluruh tubuh dan juga membuatnya sesak. "Sepertinya aman, aku harus cepat dan kembali pada keluargaku!" tekadnya yang sudah diputuskan. 


Rasidha membuka lemari pakaian, mengambil tiga setelan gamis yang lengkap dengan kerudungnya, tak lupa mukenah dan juga keperluannya. Tak butuh waktu lama untuknya mengemasi semua keperluannya dalam jumlah sedikit, memasukkannya ke dalam tas sandang. 


Dengan modal nekat dan juga keinginan ingin bertemu keluarga membuatnya tak mempermasalahkan konsekuensi saat tertangkap, tapi dia harus berusaha terlebih dahulu. Dia melirik beberapa kamera pengintai CCTV di setiap sudut ruangan, takut sang suami bisa melacaknya. Dia pura-pura membersihkan sesuatu dan menempelkan selotip hitam di bagian yang terjangkau oleh tangannya, selebihnya dia menyelinap keluar. Beruntung kediaman tidak ada pelayan, memudahkan aksinya yang sudah bertekad kabur. 


Usaha yang memacu adrenalin akhirnya mendapatkan hasil yang diinginkan, kini dia berhasil lolos dari tempat yang seperti penjara baginya. Selama ini dia tidak pernah menghirup udara segar, menatik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Rasidha tersenyum bahagia, melihat suasana luar yang begitu dia rindukan. 


"Ayah…ibu, aku akan menemui kalian karena aku merindukan kalian semua. Tunggu aku pulang!" monolognya seraya memegang kalung yang melingkar di lehernya. "Bagaimana caraku pulang? Aku bahkan tidak tahu tempat ini, haruskah?" pikirnya yang ragu dan bimbang menyelimuti.


Rasidha akhirnya membuat keputusan yang begitu sulit dijalani saat keadaan genting dan juga terdesak. "Maafkan aku bu, terpaksa aku menjual kalung ini agar bisa pulang dan menemui kalian." 


Rasidha berjalan sekitar tiga puluh menit, karena memang jalanan itu tidak ada kendaraan umum yang bisa dia minta tumpangan. "Kenapa sepi sekali di sini?" dia terus melangkahkan kaki yang sebenarnya sudah pegal berjalan, bahkan belum makan apapun dan hanya membawa persediaan minum saja. 


Beberapa saat kemudian, dari kejauhan terlihat mobil hitam yang berjalan mendekat. Rasidha tidak punya cara lain selain mencegah mobil itu agar berhenti dan meminta tumpangan. Tersenyum cerah saat mobil hitam itu berhenti, dia berjalan mendekat. 


"Saya ingin menumpang, apakah boleh?" tanya pada seorang pria yang tidak dikenalnya. 


Pria tampan itu hanya terdiam sambil menatapnya, Rasidha sangat tidak nyaman dengan tatapan itu dan memutuskan memundurkan niatnya. "Tidak masalah, maaf mengganggu anda." Ujarnya yang hendak melangkah pergi.


"Tunggu Nona!" ucap pria itu yang menghentikan langkah kaki Rasidha dan menoleh ke arahnya.


"Tidak masalah Tuan, saya bisa pergi. Lanjutkanlah perjalanan anda!" ucap Rasidha dengan sopan. 


"Benarkah?" Rasidha tak punya pilihan lain, setidaknya dia mempunyai Tuhan yang akan melindungi dan juga ilmu seni beladiri yang mumpuni dalam menjaga dirinya sendiri. 


"Hem, masuklah ke dalam!" ucap pria itu.


Rasidha masuk ke dalam mobil dengan hati yang ragu karena tidak mengenal tempat itu dan juga pria yang berbaik hati menolongnya, dia duduk di sebelah dan hanya menunjukkan pandangan seperti yang dia lakukan sebelumnya. 


Pria itu tersenyum tanpa diketahui, diam-diam dia mengirimkan pesan singkat kepada seseorang yang tak lain adalah Felix. Ya, pria yang ditemui oleh Rasidha adalah asisten suaminya sendiri, dia tidak pernah bertemu dan hal itulah membuatnya percaya saja. 


"Kenapa gadis ini pergi dari kediaman Tuan?" batin Bryan yang merupakan orang kepercayaan Felix dan juga mengetahui pernikahan tuannya dengan gadis muslimah, dia mendapatkan perintah untuk mengecek keadaan karena merasa janggal dengan rekaman CCTV, dan benar saja saat melihat ada yang tidak beres. "Anda mau kemana?" tanya yang menoleh dengan sekilas.


"Kita berada di mana?" tanya Rasidha yang begitu linglung dengan tempat yang tidak dikenalnya, bercerita kalau dia juga ingin pulang ke rumahnya. Bryan dengan senang hati mengatakan posisi mereka dan berpura-pura untuk mengantar gadis itu, tapi yang sebenarnya terjadi tidak akan mengantarkan ke rumah melainkan ke markas tempat tuannya berada. 


Di sepanjang perjalanan, Rasidha sudah berharap penuh akan bertemu dengan keluarganya. Tidak mengenal lokasi itu dia patuh saja kemana Bryan membawa pergi, hingga mobil berhenti di sebuah rumah besar yang dijaga tetap oleh beberapa orang yang berbaju hitam. 


"Maaf, sepertinya ada yang salah paham disini, aku ingin pulang ke rumahku." Rasidha mulai bersikap waspada karena gerak-gerik dari pria itu mencurigakan. 


"Aku mengantarkan dimana seharusnya anda berada." Bryan menarik paksa tangan Rasidha, membawanya menuju sang atasan yang sudah ditagih menunggu kedatangan mereka. 


Rasidha mencoba untuk melawan tapi tidak bisa, dia mencoba untuk berteriak dan membuat gerakan berlebih agar tangannya yang dicengkeram segera terlepas. "Tolong, lepaskan saya!" tekannya dengan intonasi penuh amarah karena merasa dibohongi. 


Bryan hanya tersenyum tipis, menyeret dengan paksa dan menghempaskan gadis itu dapat dihadapan kaki sama majikan. "Saya menemukannya berjalan sendirian." Lapornya yang merasa beruntung karena bisa mengetahui hal ini dengan lebih cepat. 


Rasidha mendongakkan kepala dan melihat siapa yang mengendalikan pria yang berpura-pura untuk mengantarkannya, betapa terkejutnya dia di saat melihat sang suami tengah menahan emosi dan juga mengeraskan rahang, menandakan amarah besar yang sebentar lagi meluap.


"Jadi pria itu adalah orangnya?" gumam Rasidha yang sangat gugup, berniat kabur namun hal itu hanyalah fatamorgana. Dia sangat sial karena bertemu salah satu orang yang mengenal suaminya, tidak bisa menutupi rasa takut yang mendera di hati. 


"Berani sekali kamu kabur dariku!"