Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 43 - Nasib sial


Semua orang sangat khawatir dengan suara yang ditimbulkan oleh Zaid dan dengan terburu-buru menghampiri. Suci segera mendekati suaminya dan memegang lengan, melihat luka di tangan pria bermata biru membuatnya diliputi rasa takut. 


"Ada apa denganmu?" Suci menatap suaminya teduh, sudah menduga penyebab dari suaminya yang bertingkah seperti itu. 


"Felix, ada apa dengan pria brengsek itu?" geram Doni, ingin sekali dia menghajar pria yang sudah sah menikahi keponakannya. 


Zaid tidak sanggup untuk mengatakannya, Doni yang mengerti langsung mencari penyebab yang berasal dari rekaman yang dikirim lewat surel adik iparnya, dengan pengirim yang tidak diketahui. Rasa penasaran yang mendera di hati, bukan hanya dia melainkan semua orang ingin tahu apa yang menyebabkan emosi Zaid memuncak. 


Pemndangan di dalam komputer itu membuat mereka semua merasakan sakit, bagaimana Rasidha yang di tampar keras di kedua belah pipinya hingga memerah dan meninggalkan bekas. Kedua sudut bibir yang berdarah, hidung yang mimisan tak mempu mereka lihat secara menyeluruh. 


Suci tersentak kaget dengan apa yang menjadi nasib putrinya, selama dia membesarkan gadis itu tidak pernah sekalipun dia bermain tangan dan hanya merawat dengan penuh kasih sayang. Pemandangan dari rekaman CCTV membuatnya sangat lemah dan juga merasakan sakit di hati, merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya. 


"Rasidha ku, dia menyiksa putriku." Lirih Suci yang langsung meneteskan air mata, rekaman itu membuat kepalanya berputar seratus lima puluh derajat hingga dirinya ambruk ke atas lantai. 


Sontak semua orang sangat terkejut, bahkan Zaid tak bisa menangkap istrinya yang sudah tak sadarkan diri. "Suci." Pekiknya yang segera memangku kepala sang istri, menggosokkan telapak tangan berharap ke-pulihan akan pingsan segera sadar. 


"Cepat, angkat dia di sofa!" komando Doni pada adik iparnya. 


Zaid membaringkan istrinya di atas sofa, perasaan bersalah karena kondisi sang istri yang kembali drop akibat rekaman CCTV. "Dulu aku begitu ditakuti, kemana semua kekuatanku itu?" ucapnya di dalam hati, menyalahkan diri yang tidak bisa mengalahkan Felix dan membawa anaknya pulang. 


"Suci, bangunlah!" Aisyah menyipratkan air di wajah adik iparnya, dan segera mendapatkan hasil. 


Suci mengerjapkan mata, sekilas dia mengingat rekaman CCTV dan menjadi histeris. "Tolong selamatkan putriku, dia membutuhkanku!" teriaknya sambil menangis. 


"Tenanglah, aku akan berusaha menyelamatkan anak kita." 


"Aku harus tenang bagaimana? Sudah berminggu-minggu Rasidha tidak di temukan. Aku ibunya, aku menginginkan anakku kembali lagi padaku. Kalau kalian tidak bisa, biar aku saja yang pergi menyelamatkan nyawa anakku." Suci beranjak dari kursi dan hendak melangkah, namun Aisyah segera memegang lengannya. 


"Istighfar lah, tidak baik mengikuti keputusan yang diambil dari kemarahan. Kita harus menyiasati ini, sekali saja Rasidha menelepon kita, maka kita akan bisa melacak keberadaannya." Ujar Aisyah yang sedikit memberikan ketenangan pada adik suaminya. 


"Anakku disiksa oleh pria kejam itu, aku tidak tahan dengan ini." 


Zaid yang sudah tidak tahan melihat kondisi istrinya yang semakin buruk, dia berlalu pergi tanpa berpamitan pada keluarganya. Kini dia pergi menuju sebuah ruangan yang hanya dia yang tahu, mendatangi seorang pria yang selama ini menjadi tawanannya. Dia menampar pemuda itu dan menatapnya dengan sangat kesal, informasi yang dibutuhkan tidak pernah diberikan oleh pria itu.


"Apa kamu tahu di mana Felix berada?" 


"Tidak tahu? Kamu adik angkatnya 'bukan? Sudah cukup bermain-mainnya. Felix telah menyiksa putriku dengan sangat kejam, cepat beritahu aku dimana dia!" tegas Zaid yang batas kesabarannya telah habis. Dia memperlihatkan rekaman CCTV, tahu kalau pria itu tergerak hatinya untuk mengatakan keberadaan putri kesayangannya. 


Justin sangat terkejut melihat kekejaman kakak angkatnya dalam menyiksa Rasidha, hatinya juga merasakan terluka dan sangat marah dengan tindakan Felix. 


"Ini ulah kakakmu, apa kamu masih ingin bungkam dengan ini? Dimana hati nuranimu sebagai seorang manusia? Bahkan anjing saja lebih terhormat darimu!" Zaid menatap pemuda itu dengan tatapan elangnya, mengarahkan pisau ke leher Justin sebagai ancaman. "Katakan atau aku akan membunuhmu di sini!" 


"Anda tidak akan mendapatkan apapun dengan membunuhku, bahkan sampai sekarang Felix tidak mencoba untuk mencariku. Lalu, untuk apa aku takut mati? Lakukan apa yang ingin anda lakukan. Aku tidak tahu dimana lokasi pasti, hanya bisa memberikan beberapa alamat mengenai kediamannya yang lumayan banyak." 


"Langsung saja ke intinya!" Zaid menempelkan benda tajam itu di leher Justin dan sedikit menekannya, hingga menimbulkan darah. 


Justin memberikan informasi yang diperlukan oleh Zaid yang mengingat beberapa alamat kemungkinan Felix dan Rasidha berada di sana 


"Kalau aku masih tidak menemukannya, kamulah yang aku bunuh." Ancam Zaid yang segera keluar dari ruangan yang sedikit gelap.


Lain halnya dengan Rasidha, diam-diam dia kembali mempersiapkan dirinya untuk kabur dari tempat yang seperti neraka, terlihat mewah namun persis seperti kastil tua tak berpenghuni. 


"Sekeras apapun dia mengurungku, aku akan tetap kabur dari sini, bagaimanapun caranya." Rasidha melihat ke arah jendela di ruangan tempat dia di kurung. Sekarang mendapatkan celah, dia menyunggingkan senyuman. Tidak kebanyakan gadis lain yang takut ketinggian, dia lebih menyukai tantangan dengan jiwa bar-bar. "Hanya tiga lantai saja," batinnya sambil mengukur rencana. 


Rasidha berlari menuju lemari pakaian, melilitkan beberapa kain panjang menjadi satu agar bisa sampai ke lantai pertama dan kabur menuju rumahnya. Sedikit deg-degan, tapi hanya itu cara yang dia punya saat ini, beruntung beberapa perhatian penjaga teralihkan dengan sempurna dan akhirnya dia berhasil lolos. 


"Astaghfirullah, ternyata ada CCTV di sini." Rasidha segera berlari menuju pintu belakang, tempat CCTV ada di mana-mana tersebar dalam beberapa titik. 


"Ya Tuhan, ternyata gadis kecil itu mencoba untuk kabur lagi!" ucap seseorang yang memantau lewat ponselnya yang terhubung  dengan CCTV.


Ya, Rasidha berharap dia tidak akan bertemu lagi dengan Felix dan keluar dari penjara itu. Terpaksa dia menyingkap gamisnya untuk mempermudah untuk kabur, apalagi setelah melihat tembok penghalang yang menjulang tinggi. "Wow, temboknya lebih tinggi dibandingkan yang di depan. Pantas saja di sini tidak dijaga, semoga saja tidak ada aliran listrik atau kaca di atasnya. Dia mengucapkan basmallah terlebih dahulu dan mulai memanjat. Senantiasa berusaha keras, akhirnya dia sampai di atas dan hendak melompat. "Ini akan terasa sakit," lirihnya sambil menutup mata. 


Namun Rasidha merasakan sedikit aneh, saat tubuhnya masih seperti melayang ke udara. "Eh, kenapa aku melayang? Tadi aku melihat temboknya tidak terlalu tinggi." Gumamnya yang perlahan membuka mata, sangat terkejut saat melihat Felix yang menggendongnya ala bridal style. 


"Mau mencoba untuk kabur Nyonya Felix?" 


"Kamu?" 


"Mulai sekarang perketat penjagaan di sekeliling, kalau perlu tambahkan kaca di atas atau sengatan listrik ratusan sampai ribuan volt!" titah Felix tak menggubris perkataan istri kecilnya, malah menatap tajam pada asisten Bryan.