Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 12 - Dia pria yang menyebalkan


Rasidha sangat shock namun segera memulihkan raut wajahnya seperti semula, menatap satu persatu orang yang berada di dalam ruangan itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Menikah di usia yang masih sangat muda? Dia bahkan belum membayangkan hal itu karena yang ada di pikirannya dalam menuntut ilmu. 


"Maaf, jika sebelumnya saya bersikap lancang. Bisakah saya berbicara dengan ustadz Afif terlebih dulu?" kini Rasidha memberanikan diri, dia ingin meluruskan permasalahan yang terjadi dan menganggap itu tidaklah benar. 


"Tentu saja boleh, silahkan." Ucap dari salah satu pihak keluarga ustadz Afif.


Rasidha tersenyum dan menundukkan kepala, mengikuti langkah pria yang akan menjadi calonnya dan ditemani oleh Ayna. "Aku akan menunggu di sini saja, silahkan bicara dengan ustadz dan aku akan menjaga jarak." 


"Tapi Ayna," tolak Rasidha yang tidak ingin jika ditinggalkan oleh adik sepupunya. 


"Aku akan berdiri disini, silahkan mengobrol dalam waktu yang ditentukan, dimulai dari sekarang." Ayna mendorong tubuh kakak sepupunya yang hampir saja menabrak pria di hadapannya. "Ups…hampir saja, maaf Kak." Ayna merasa bersalah dan sedikit mengambil jarak, dia tak ingin mendengar perbincangan penting keduanya dan lebih makan apel yang ada di tangannya. 


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya ustadz Afif tanpa menoleh, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


"Mengapa ini mendadak sekali? Kita baru saja bertemu dan itupun hanya seminggu." Ucap Rasidha yang mencoba meminta jawabannya. 


"Mungkin ini sedikit aneh menurutmu, tapi saya mencintaimu dan ingin menikahimu." 


Rasidha tersenyum miring mendengar jawaban yang tidak masuk di akal baginya. "Kita baru saja bertemu Ustadz Afif," sarkasnya yang tidak puas. 


"Tapi saya mencintaimu karena Allah, dan cinta tidak bisa diukur dengan satu minggu atau waktu lainnya, itu sebuah anugrah. Saya tidak ingin selalu membayangi wajahmu yang hanya akan menjadi zina hati dan juga pikiran, untuk itulah saya berniat untuk menikah." Ucap ustadz Afif yang masih saja tidak disetujui oleh wanita di sebelahnya. 


"Sungguh, ini masih seperti mimpi. Tapi, bisakah aku mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya?" 


"Ya, katakan saja. Apa yang ingin kamu katakan?" 


"Aku minta maaf sebelumnya, tapi aku ingin menuntut ilmu dan belum memikirkan untuk pernikahan. Jadi, maafkan saya yang menolak lamaran ini." Rasidha menyatukan kedua tangannya, dia mengatakan isi hatinya yang tak mempunyai perasaan apapun pada pria yang menjadi pengajarnya di pesantren. 


"Cinta bisa tumbuh setelah menikah."


"Jujur, saya belum siap untuk pernikahan ini Ustadz." Rasidha tetap keukeuh akan pendiriannya. 


"Saya akan menunggumu hingga siap," sahut ustadz Afif yang semakin membuat wanita di sebelahnya merasa sangat jengkel.


"Astaghfirullah, mengapa ustadz ini seakan memaksaku?" batin Rasidha yang meremas kedua tangannya, namun senyuman terpaksa terukir di wajahnya.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, jika kamu tidak setuju? Maka aku akan menunggu. Bukankah melanjutkan pendidikan setelah menikah sah-sah saja? Setelah saya menyelesaikan menjadi pengajar di pesantren ini juga melanjutkan kuliah ke luar negeri. Bagaimana setelah menikah kita sama-sama menuntut ilmu? Jadi tidak ada alasan untukmu menolakku." Ustadz Afif tersenyum saat mengetahui Rasidha yang tengah menahan kesal karena ulahnya, dia memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkan wanita itu. 


"Memangnya dia siapa? Hah, aku tidak percaya dengan rumor dari para santriwati. Mengapa sikapnya malah menyebalkan dan berbanding terbalik?" geram Rasidha yang menghentakkan kedua kakinya. 


"Aku tidak ingin menikah dengannya," putus Rasidha yang memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkan tempat itu. 


"Kak, jangan tinggalkan aku." Pekik Ayna yang mengejar, dia melirik kakak sepupunya dengan tatapan penuh keheranan. "Ada apa dengan Kakak? Semua santriwati menginginkan ustadz Afif untuk menjadi pendamping mereka, tapi Kakak malah menolaknya."


"Apa kamu tahu dengan rencana mereka yang ingin menjodohkan aku dengan ustadz Afif? Rasidha menghentikan langkah kakinya dan menatap dalam manik mata sang adik.


"Aku mendengar percakapan abi yang menelepon paman Zaid, mengatakan jika ustadz Afif akan melamar Kakak."


"Apa tanggapan ayah dan ibuku?" 


"Mereka menerimanya karena juga sudah mengenal ustadz Afif, tapi semua keputusan ada di tangan Kakak sendiri. Pikirkan ini dan jangan sampai menyesalinya di kemudian hari, jika Kakak tidak mau? Biar aku saja yang menikah dengannya." Guyon Ayna yang tertawa lepas. 


"Ingat umurmu baru lima belas tahun, jangan berpikir untuk menikah muda di usia ini yang sangatlah beresiko."


"Aku kan hanya bercanda, kenapa Kakak terlihat serius." 


Akhirnya percakapan mereka selesai saat sampai di hadapan semua orang, Rasidha menangkap basah ustadz Afif yang mencuri-curi pandang padanya, dia hanya diam tanpa mengatakan apapun. 


"Jadi bagaimana? Keputusan apa yang ingin kamu berikan kepada kami?" tanya seorang wanita tua yang menggunakan kerudung berwarna abu-abu tengah tersenyum ke arah Rasidha dengan penuh ketulusan.


"Maaf sebelumnya, saya baru saja mengenal ustadz Afif baru saja satu minggu. Mengambil keputusan yang sangat mendadak membuatku tidak yakin." Rasidha sangat gugup saat menyampaikan pendapatnya mengenai lamaran yang sangatlah mendadak, tentu saja dia ingin shalat istikharah untuk menentukan pilihan dalam keadaan bimbang. 


Terlihat raut wajah kecewa dari semua orang, tapi tidak dengan ustadz Afif yang menanggapinya dengan santai dan juga tenang. "Untuk menghilangkan keraguanmu, bagaimana jika kita ta'aruf?" 


Rasidha refleks memelototi kedua matanya, karena pria yang tak berada jauh darinya mempunyai banyak cara untuk menangkal alasannya, tentu saja dengan bidikan yang sangat tepat. 


"Ya, apa yang dikatakan oleh Afif sangat benar. Sebaiknya mereka ta'aruf dan bisa saling mengenal satu sama lainnya. Ucap Kyai Baharuddin yang setuju, bahkan raut wajah kecewa seketika menjadi senyuman yang mendapat celah. 


"Mengapa dia tetap keras kepala? Aku sudah mengatakan pendapatku, tapi apa ini? Tiba-tiba dia melamarku dan tetap keukeuh, bagaimana dia begitu yakin denganku?" batin Rasidha yang sangat tidak menyetujui saran dari ustadz Afif, tapi terlambat saat semua orang setuju. Kedua matanya yang sangat jengah dilontarkan pada pria yang tersenyum tipis padanya, dia sangat kesal dan bahkan ingin melampiaskan kemarahannya pada pria yang masih saja tersenyum seakan menertawakan karena IQ nya lebih tinggi. 


"Bi, aku tidak ingin menikah." Bisik Rasidha di telinga Aisyah. 


"Dia pemuda yang sangat baik, dan bahkan sangatlah berprestasi, dan yang paling utama siap menjadi imam mu." Balas Aisyah yang tersenyum.


"Kenapa semua orang memujinya dan begitu membanggakan dirinya? Dia pria yang sangat aneh, keras kepala, dan yang paling utama dia sangatlah menyebalkan." Gumam Rasidha di dalam hati.