Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 34 - Ujian bertubi-tubi


Air mata terurai menjadi saksi bisu penderitaan di antara dua orang yang saling mencintai, seakan dunia mereka runtuh dan tidak berdaya dengan takdir yang memisahkan. Rasidha tak mampu mengungkapkan kata-kata saat ini melihat wajah dari ustadz Afif sungguh membuatnya tak berdaya, kesungguhan dari hati pria itu yang mencintainya sejak lama. 


Rasidha menganggukkan kepalanya dengan pelan memberikan jawaban kalau perkataan dari ustadz Afif memang benar. "Mas sudah terlambat, aku sudah menjadi kepunyaan orang lain. Lupakan aku dan jalani hidup Mas dengan baik, aku yakin banyak gadis lain yang lebih baik dariku." 


"Harusnya aku datang lebih cepat, mungkin ini tidak akan terjadi." Ustadz Afif memijit pelipisnya sambil menangis mengungkapkan perasaannya yang begitu dalam, cukup sulit menggantikan wanita lain yang ada di hatinya. Dia tidak kuat melihat wanita yang dia cintai sudah menjadi istri orang lain.


"Sudahlah, Mas! Ini takdir yang diberikan Allah yang sudah dituliskan, jalani kehidupanmu dengan sebaik-baiknya. Mulai sekarang lupakanlah aku, dan sampaikanlah permintaan maaf kepada keluarga besar kita." 


Ustadz Afif semakin tak bisa membendung air mata yang sedari tadi tumpah membasahi kedua pipinya, hati yang hancur juga patah membuatnya tak berdaya. Gadis yang ingin dinikahi sudah menikah dengan pria lain, dan bahkan umur dari pria itu setara dengan Zaid. 


"Ck, hentikan drama ini!" celetuk Felix yang mendelik kesal, sudah cukup dia melihat semua ini. 


"Mas, aku ingin kamu mengabulkan keinginanku yang pertama juga yang terakhir."


"Selagi aku mampu pasti melakukannya." 


"Tolong bawa ayahku dari sini," lirih Rasidha yang sudah tidak tahan dengan isakan tangis yang pecah. 


"Simon tidak akan pergi kemanapun, dia akan mati disini. Seharusnya kamu bahagia, membalaskan dendam dari pria munafik ini." Kecam Felix yang membuat Rasidha menatapnya tajam. "Hai, kenapa kamu menatapku begitu, hah?" 


"Cepat Mas, bawa ayah pergi dari sini!" pekik Rasidha yang segera dipenuhi ustadz Afif setelah bertarung melawan beberapa orang yang mengepung. 


Rasidha juga berusaha sekuat tenaga, agar Felix tidak mendekati ayahnya. 


"Hah, dasar bocah." Batin Felix yang melirik istri kecilnya itu, menghentikan aksinya yang ingin membunuh Zaid. Lebih baik mantan sahabatnya menderita di saat dia menyiksa Rasidha. "Ini akan lebih menarik." 


Diam-diam dia memberi isyarat kepada bawahannya untuk tidak menyerang pria sekarat, segera menyeret tangan istri kecilnya tanpa menggubris teriakan dari gadis itu. 


Rasidha pasrah, namun sebelum itu dia menoleh ke arah ustadz Afif yang juga menoleh, terjadi kontak mata beberapa saat kemudian mereka sama-sama meninggalkan tempat itu dengan arah yang berbeda. 


Dengan kasarnya Felix menghempaskan tubuh Rasidha di atas ranjang, membuat gadis itu sangat ketakutan. "Jangan dekati saya!" cegahnya yang ketakutan, mundur dengan perlahan. 


Felix mendekati Rasidha, menatap lekat manik mata indah yang membuat kebenciannya semakin menyebar. Mencengkram sebelah bahu gadis itu dengan erat bahkan sang empunya meringis kesakitan. "Saya menikahimu hanya ingin membuat hidupmu bagai neraka. Jangankan untuk mendekatimu, melihatmu saja sudah membuatku jijik. Camkan ini baik-baik, kamu bukan nyonya di rumah ini tapi pelayanku, jadi bersikaplah seperti pembantu di rumah ku. Apa kamu mengerti?" 


Rasidha hanya menganggukkan kepala, paling tidak dia bisa bersyukur kalau pria yang baru saja menjadi suaminya tidak akan pernah menyentuhnya. Perlahan cengkraman di bahunya mulai dilepaskan, melihat suaminya itu yang perlahan berbalik arah dan pergi meninggalkan ruangan yang sudah dihiasi dan didekorasi layaknya kamar pengantin. 


Suasana yang begitu menyesakkan, namun terhenti di saat seseorang melemparinya dengan pakaian kotor. "Aku menikahimu bukan hanya melihatmu menangis, sekarang kamu mulai bersih-bersih semua ruangan, jangan sampai ada debu!" 


Rasidha segera mendongakkan kepala, melihat Felix yang menatapnya dengan raut wajah yang dingin. Sorot mata yang penuh kemarahan, namun dia tidak berdaya dan tidak menjawab perkataan dari suaminya. Memilih untuk beranjak dari ranjang dan memunguti pakaian yang berserakan di atas lantai. Dia segera berlalu pergi, tidak ada ekspresi apapun yang menggambarkan suasana hatinya. 


"Ini baru awalnya saja, aku akan melakukan hal yang lebih buruk lagi." Kecam Felix yang tersenyum smirk. 


Rasidha tidak menghiraukan apa yang terjadi pada dirinya, mengerjakan semua pekerjaan pelayan karena Felix sudah memecat seluruh pelayan yang bekerja di rumah besar. Kini dirinya harus memikul tanggung jawab yang besar karena sang suami sudah memberikan beberapa daftar pekerjaan yang harus diselesaikan tepat waktu, hanya tersisa waktu beberapa jam saja untuk beristirahat. 


****


Ustadz Afif terus berjalan mondar-mandir di depan pintu bangsal tempat Zaid dirawat, dia sudah menghubungi pihak keluarga yang sebentar lagi akan datang ke sana. Pikirannya begitu kacau balau masih mengingat kejadian tadi, dirinya begitu terluka dengan hati yang patah, takdir yang tidak bisa diubah namun dia sangat menyayangkan nya. Sebagai orang yang tidak terawat, penampilan yang sangat berantakan. 


Beberapa orang mulai berdatangan, bahkan keluarga dari calon istrinya juga tiba di sana. Memilih duduk diam di kursi tunggu, mengusap wajahnya dengan kasar berusaha mengontrol agar dirinya tidak larut dalam kesedihan.


"Kak, apa yang terjadi pada ayahku?" tanya seorang pria remaja yang menggoyangkan tangan ustadz Afif hingga pria yang melamun itu tersadar.


"Apa yang terjadi kepada?" sambung Doni yang juga penasaran dengan kondisi adik iparnya. 


"Maafkan aku yang datang terlambat." 


"Memangnya apa yang terjadi? Dimana Rasidha? Bukankah kamu berkata akan membawanya kembali?" desak Doni yang tidak bisa menahan emosinya. 


"Kamu menakuti nya, bicarakan ini dengan lembut." Sela Aisyah yang memegang pundak suaminya dengan lembut. 


"Aku tidak bisa sabar dan ingin mengerti." Jawab Doni yang melirik istrinya sekilas, kemudian dia menarik perhatian pada pemuda tampan itu. "Ayo katakan!" 


"Aku datang terlambat, paman Zaid bertarung dengan pria yang bernama Felix dan membuat kondisi paman menjadi kritis. Rasidha juga tidak bisa aku bawa pulang," terang ustadz Afif yang menundukkan kepala.


"Kenapa?" tanya Doni yang menatap dengan intimidasi, pertanyaan yang sudah diwakili dan membuat pemuda itu menjadi sorotan semua orang. 


"Karena Rasidha sudah menikah dengan pria yang bernama Felix." Lirihnya yang kembali meneteskan air mata. sedangkan ekspresi semua orang sangat terkejut, tak terkecuali Doni. 


Doni mengepalkan kedua tangannya, mengingat kondisi adiknya yang masih berada di rumah sakit karena memikirkan kondisi Rasidha yang juga belum pulang, sekarang ujian kembali bertambah di saat Zaid juga kritis di rumah sakit, keponakannya yang dinikahi secara paksa oleh pria yang menjadi musuh dari adik iparnya.