
Bisa dilihat bagaimana raut wajah tampak sangat menyeramkan bagi Rasidha, dia bergetar hebat dikala ketahuan kabur. Bukankah dia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya, berharap bertemu keluarga untuk melepaskan rindu malah terjadi sebaliknya yang membuat benar-benar dalam keadaan yang sangat menegangkan.
Felix sangat kesal karena kebebasan yang diberikan malah di manfaatkan untuk kabur dari kediaman mewah yang sebagai sangkar emas untuk mengurung gadis yang telah sah menjadi istrinya. Dengan keras dia mencengkram dagu istri kecilnya dengan sangat keras hingga sang empunya meringis merasakan sakit. "Kamu mencoba untuk membodohi ku? Itu tidak akan bisa, karena selama ini tidak ada yang dapat melakukannya." Perkataan yang menggambarkan kemarahan namun masih terlihat elegan.
"Ya, aku terpaksa melakukan ini. Kamu menahanku dan membiarkan hidupku sangat sunyi tanpa seorang teman. Aku merindukan keluargaku dan juga sanak saudara, mereka pasti sangat cemas." Balas Rasidha dengan tatapan tajamnya.
"Karena itu hukuman untukmu. Kamu dan ibumu sama saja, kalian sangat menjijikkan. Simon berubah karena kalian, dan aku sangat membenci hal itu." Ungkap Felix yang melepaskan cengkraman di dagu gadis itu.
"Bercerminlah dan lihat dirimu dengan baik-baik, ayahku berubah karena menjemput hidayah, bukan sepertimu. Kamu sudah masuk islam, apa itu hanya identitas saja untuk bisa menikahi ku?" Rasidha sudah tidak tahan kalau ibunya dibawa dalam hal ini, dan menganggap Felix sebagai musuhnya.
"Jangan sok menceramahi ku disini! Sudah cukup aku melunak selama ini, sekarang kamu hanya akan melihat sisi buruk ku. Bukankah itu yang kamu inginkan?" sentak Felix yang menampar pipi Rasidha di hadapan anak buahnya, tidak ada rasa kelembutan saat gadis itu melanggar peraturannya.
Suara nyaring terdengar di telinga, semua orang terkejut melihat secara langsung kekejaman seorang suami yang rela menampar istri di hadapan bawahan seperti mereka. Kemarahan Felix memang tidak bisa di bendung, apalagi Rasidha malah menaburi garam pada api membara yang membuatnya semakin terbakar. "Jangan sesekali kalu meninggikan intonasi mu itu, kamu salah berurusan dengan ku."
Rasidha memegang pipinya yang terasa berdenyut, tamparan itu berhasil membuat salah satu sudut bibirnya terluka. Dia merasa sakit hati dan juga kecewa mempunyai suami yang ringan tangan, padahal dulu dia pernah bermimpi mempunyai suami yang begitu lembut dan memperlakukannya penuh cinta. Dia mulai sadar, kalau pernikahan ini hanyalah paksaan saja dan dirinya juga menjadi boneka untuk di siksa. Dia hanya terdiam, sakit tamparan itu tak seberapa dibandingkan dengan kerinduan akan keluarga besarnya, dia dipisahkan membuatnya merasa lemah.
"Apa alasanmu kabur, hah?" Felix kembali mencengkram dagu istrinya dan melepaskan dengan kasar hingga meninggalkan bekas memerah.
"Aku merindukan keluargaku, aku tidak akan melayanimu di sisa hidupku."
"Berani sekali kamu mengatakan itu padaku?" geram Felix yang kembali menampar pipi istrinya di bagian sebelahnya.
Wajah Rasidha terlihat bengkak dan memerah, darah segar yang keluar di kedua sudut bibir dan juga hidungnya sedikit mengeluarkan darah. Felix yang belum puas hendak melayangkan tangannya, namun hal itu langsung di cekal oleh Bryan yang merasa kasihan akan nasib gadis itu.
"Minggirlah! Jangan lindungi dia atau aku akan melampiaskan padamu." Ancam Felix yang menatap tajam pada asistennya.
"Sudah cukup, Tuan bisa membunuhnya." Bryan hanya mencoba menyelamatkan gadis itu dari kemarahan bosnya, tapi tak mengira kalau gadis berkerudung coklat itu malah menentang singa lapar.
"Itu karena aku tidak tahan denganmu, jadi selama ini kamu menafkahiku dengan uang haram?" Sentak Rasidha yang melawan ketidakadilan terjadi kepadanya.
"Yang namanya uang tetap uang, tidak ada halal maupun haram, terpenting aku memberimu makan. Melihat kesombonganmu ini, sebaiknya kamu tidak makan."
"Astaga…apa yang dilakukan gadis ini? Dia kembali memancing sang singa untuk mencabik-cabik nya." Batin Bryan yang jengkel dengan kesombongan gadis muslimah itu.
"Kalau saja aku tahu dari awal, aku juga tidak sudi makan dari hasil pekerjaan kotormu!"
"Aku akan membuatnya mengerti!" Bryan langsung menyeret paksa langan Rasidha, menjauh dari atasannya dengan emosi yang tidak stabil.
Felix menghela nafas sambil menatap kepergian mereka, dia memberikan isyarat agar orang-orang yang berdiri segera menjauh dan membiarkannya sendiri.
"Hai, lepaskan aku! Tanganku sakit, kamu mencengkramnya dengan erat!" protes Rasidha yang kesal pada pria itu, menghempaskan tangan kekar karena tak suka bersentuhan.
"Setidaknya kamu mengucapkan terima kasih padaku, atau kamu tidak akan bisa bernafas lagi di dunia itu. Apa kamu tahu siapa yang kami hadapi itu? Turunkan sedikit kesombongan dan juga egomu itu." Bentak Bryan yang mencoba memberikan pengertian.
"Kalian sama saja, manusia berhati iblis!"
"Diamlah atau aku akan mengikatmu!" ancam Bryan yang kesal.
Rasidha mengikuti permainan Bryan, sambil melihat situasi dan kondisi di tempat itu, lebih tepatnya mencari tempat untuk kembali kabur walaupun itu cukup sulit baginya. Dia sudah tidak tahan dengan penyiksaan dan ras malu di berikan oleh Felix, pria kejam dan juga tak mempunyai hati.
Seketika dia mengingat perkataan dari seorang wanita paruh baya yang saat itu mengatakan untuk mematuhi perintah Felix, bukan hanya itu tapi Justin juga mengatakan hal yang sama. Semenjak itulah wanita paruh baya menghilang bagai ditelan bumi dan tidak pernah terlihat lagi olehnya.
"Aku akan kabur bagaimanapun caranya! Semakin dia menyiksa ku, maka semakin pula besar keinginanku untuk melarikan diri dari neraka ini." Batin Rasidha.
"Apa kamu berhasil mendapatkan rekamannya?"
"Sudah Tuan."
"Apa hasilnya sangat jelas?"
"Tentu saja." Pria berbadan kekar menyerahkan sebuah rekaman penyiksaan Rasidha yang di lakukan oleh bosnya.
"Bagus, dengan begini pasti darah Simon semakin mendidih!" Felix tersenyum licik, rekaman itu segera dikirimkan lewat surel. Begitulah caranya menyiksa mantan sahabat dengan perlahan-lahan, hanya melayangkan tangan pasti membuat musuhnya merasa marah dengan emosi meluap hebat.
Keadaan Zaid mulai pulih walau tidak sepenuhnya, akibat kerinduan pada putrinya yang belum ditemukan. Dia kembali melacak, dan mendapati sebuah rekaman yang dikirim lewat surelnya. Rasa penasaran yang mendera membuatnya segera memutar dan melihat rekaman itu dengan seksama, kedua pupil mata melebar dan kedua tangan terkepal dengan sempurna.
"Felix." Geram Zaid yang memukul meja kerjanya dengan kemarahan yang meluap, air mata yang terjatuh saat tak kuasa melihat air mata putrinya. Dia bahkan tidak pernah menampar Rasidha, tapi seorang iblis berwujud manusia malah menampar dan menyakiti putri kesayangannya.
Semua orang terkejut mendengar erangan dari Zaid, mereka segera menyusul dan mencoba ingin tahu apa yang menyebabkan pria itu mengerang hebat.