
Rasidha sangat marah dan juga kesal dengan perkataan Felix, menanyakan masa subur di khalayak banyak orang. Lebih baik dia diam dengan seribu bahasa, daripada membahas mengenai hal yang menurutnya sangat tidak penting.
Felix terus mendesaknya untuk mengatakan kesuburannya, tapi Rasidha tetap menolak dan lebih memilih bungkam. Tak tahu kalau kemarahan pria itu hampir saja meluap karena tidak bisa melawan kesabaran yang sudah melampaui batas.
"Apa susahnya menjawab perkataanku, kenapa kamu malah diam saja!" ucap Felix yang meninggikan intonasinya.
"Apa itu mendapat suatu perbedaan? Aku tetap akan mengajukan gugatan perceraian denganmu. Aku bisa menggugatmu lewat rekaman CCTV mengenai kasus KDRT, jadi jangan coba-coba untuk mengancamku lagi." Ungkap Rasidha yang sudah muak dengan semua drama yang dimainkan oleh suaminya itu.
"Lancang sekali kamu mengatakan itu!" kemarahan Felix ada di ujung tombak yang bisa kapan saja mengenai sasarannya.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas ini lagi." Sahut Rasidha yang mengakhiri perdebatan itu, bagai minyak dan juga air yang tidak pernah bersatu.
Di kediaman milik Felix yang begitu mewah, Rasidha memutuskan keluar dari mobil lebih dahulu tanpa menunggu sang suami keluar beriringan dengannya. Hatinya masih saja tak terima dengan perlakuan suaminya yang seenaknya.
"Hei, kita belum selesai bicara." Felix mengikuti kemana langkah kaki istri kecilnya yang ternyata menuju kamar. Dia tersenyum tipis saat mendapatkan kesempatan di dalam kesempitan, peluang yang dia inginkan akan segera di dapatkan. "Kesempatan yang sangat pas." Ucapnya di dalam hati.
Rasidha menelan saliva dengan susah payah, saat mengetahui Felix yang mengikutinya. "Ya Allah, lindungi hamba darinya." Lirihnya pelan seraya mempercepat langkah. Dia hendak mengunci pintu saat dirinya selangkah masuk ke dalam kamar, tapi rencana tak berhasil dengan baik.
"Heh, mau menutup dan mengunci pintu ya." Ujar Felix yang tersenyum kemenangan saat berhasil menahan pintu itu agar tidak di kunci dari dalam.
"Sebaiknya kamu pergi, aku ingin beristirahat." Ungkap Rasidha yang mencoba untuk bicara tulus dan bersikap seolah-olah dirinya bersimpati.
"Menjauh dariku!" tegas Rasidha yang mulai sensitif, dia merasakan perutnya yang sakit dan nyeri. Memundurkan langkah sembari berkontak mata dengan cukup lama.
"Tidak semudah itu, apa aku dengan mudahnya melepaskanmu? Tidak. Aku akan berusaha untuk membuatmu hamil!" tegas Felix yang tersenyum tipis, tidak peduli seberapa kerasnya istri kecilnya itu menolaknya.
Felix semakin tersenyum mengembang saat melihat bagaimana istrinya yang tidak bisa berjalan mundur, di halangi tembok menjadi pemicu kemenangannya. Rasidha sedikit panik, dia tidak bisa mengelak lagi ataupun berjalan mundur menghindari singa buas itu.
"Aku peringatkan kepadamu, berhenti di sana atau aku akan bertindak dengan hal-hal di luar dugaanmu!" Rasidha mencoba memberikan ancaman untuk menutupi rasa takut dan juga gugup bercampur menjadi satu, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyembunyikan perasaan itu atau Felix semakin bersemangat mengganggunya.
Felix menarik tubuh Rasidha menuju ranjang, dia segera menindih tubuh sang istri dan menyingkapkan gamis dan melepaskan kerudung dengan paksa. "Aku pastikan hari ini kamu hamil anakku!" ucapnya sambil tersenyum nakal.
Namun dia sangat terkejut saat melihat noda darah yang pakaian dalam milik istrinya dan untungnya dia tahu apa itu. "Kamu sedang masa menstruasi?"
"Ya, awalnya aku tidak tahu sekaligus lupa." Sahut Rasidha dengan santai, dia tahu bagaimana perasaan Felix yang begitu berputus asa.
Felix langsung mengusap wajahnya dengan kasar, tak menyangka kalau ini sampai terjadi. Hasrat lelaki yang seharusnya di keluarkan sebagaimana mestinya harus ditunda. Dia terlihat sangat kacau, hasrat yang tadinya menggebu-gebu perlahan menurun dan segera beranjak pergi menuju toilet untuk bermain solo rank menidurkan si junior.
"Alhamdulillah." Rasidha menghela nafas karena berhasil menghindar, selama satu minggu dia tidak akan disentuh oleh suaminya.