Rasidha Bidadari Bermata Bening

Rasidha Bidadari Bermata Bening
Bab 47 - Pertemuan Rasidha dan Afif


Rasidha menatap keluar jendela yang terbuka, membiarkannya masuk ke dalam ruangan. Dia menyeka air matanya yang selalu saja keluar dengan sendirinya tanpa henti, memikirkan nasib seseorang yang bergantung padanya. 


"Apa Ibu boleh masuk?" seseorang berjalan masuk dengan membawa nampan berisi buah yang sudah dikupas, tahu bagaimana keadaan putri nya yang tengah bersedih. Suci meletakkan nampan yang ada di tangannya ke atas nakas, setelah itu dia menyentuh bahu Rasidha dengan sangat lembut. 


Rasidha memeluk ibunya dengan sangat erat, menangis melepaskan seluruh bebannya. Suci sangat terkejut namun dia tidak bertanya apapun lagi, memberikan kenyamanan di setiap pelukannya, membelai rambut sanga anak yang terurai panjang dan terlihat bergelombang. 


"Menangislah seberapa lama yang kamu inginkan, lepaskan semua bebanmu hari ini." Ucap Suci yang merasa kasihan. 


Rasidha semakin memperdalam pelukannya, mengikuti perkataan sang ibu yang membuatnya jauh lebih baik lagi. 


"Kamu sudah puas bersedih?" tanya Selin yang membingkai wajah anaknya menggunakan kedua tangannya. Dengan cepat Rasidha menganggukkan kepala. "Begini Sayang, ayah tidak bermaksud untuk membentakmu. Tapi diantara kami dialah yang paling mengkhawatirkan mu. Dia sangat mencemaskanmu, apalagi yang paling terluka saat melihat rekaman penyiksaan mu benar-benar membuatnya sangat marah dan paling terluka." 


"Aku tahu kalau ayah sangat mencintaiku, begitupun aku yang juga mencintai ayah. Tapi aku merasa bersalah Bu, kak Amayra datang dengan memohon agar aku bisa membantunya untuk mencari keberadaan mas Afif." 


"Ya, Ibu paham. Melihat kecemasan Amayra selaku kakaknya Afif, tapi ibu juga tak bisa membiarkanmu membahayakan nyawamu sendiri. Menolong orang memang sangat baik, tapi lihat dulu kondisimu yang juga membutuhkan perlindungan. Kita semua tahu bagaimana Felix yang pasti tidak akan tinggal diam dan berusaha untuk mencari keberadaanmu." 


"Bagaimana dengan mas Afif, Bu? Sampai sekarang tidak ada yang menemukannya." 


"Ibu juga tidak tahu kemana perginya pemuda itu, tapi percayakan ini pada sang Khalik. Jangan membuatmu terlena dengan dunia itu, yang Ibu lihat kalau kamu masih menyimpan perasaan padanya." Terang Suci dengan tatapan teduhnya. 


"A-aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya," bohong Rasidha yang sangat gugup, memegang dadanya dengan perlahan dan merasakan hatinya yang juga patah. 


"Jika kalian berjodoh, maka tidak ada siapapun yang bisa merubahnya. Ayahmu memang melarangmu untuk mencari langsung, tapi dia sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan dari ustadz Afif. Jangan cemaskan apapun, Ibu pergi dulu dan makan buah-buahan yang sudah dikupas." Suci beranjak pergi meninggalkan tempat itu setelah menutup kembali pintu yang dia buka. 


Rasidha diam membisu, memikirkan perkataan dari ibunya yang memanglah benar. Dia memejamkan mata, mengarahkan wajahnya ke atas sambil menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. 


"Bagaimana? Apa dia masih marah padaku?" tanya Zaid yang menunggu jawaban dari istrinya, dia takut kalau Rasidha marah dan membuatnya sangat sedih. 


"Jangan mencemaskan sesuatu secara berlebihan, dia baik-baik saja dan sebentar lagi akan berbicara denganmu!" sahut Suci yang begitu yakin. 


"Sungguh?" seru Zaid yang bersemangat, mendapatkan anggukan kepala dari sang istri semakin membuat beban kesedihan tiba-tiba raib. 


"Rasidha masih merasa bersalah karena hilangnya Afif saat melihat pernikahan itu, dan itulah mengapa sebabnya dia mencoba untuk bertanggung jawab." Ucap Suci yang menerangkan agar semua kesalahpahaman yang terjadi bisa diatasi dengan cepat. 


Zaid menyentuh dan menggenggam tangan istrinya dengan sangat lembut, dia mengecupnya dan memeluk tubuh mungil yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang. "Aku akan berusaha untuk mencari keberadaan Afif sesuai dengan perkataanmu saat menenangkan Rasidha. 


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu, maka aku hanya akan mendukung semua perlakuan baik." 


Setelah percakapan itu selesai, Zaid memutuskan untuk mencari keberadaan Afif karena sebelumnya dia hanya fokus kepada anaknya yang menghilang. Demi keselamatan putrinya, dia sendirilah yang akan turun tangan untuk menemukan dan juga melaksanakan perkataan Rasidha yang seakan sudah berjanji kepada Amayra. 


"Alhamdulillah, kalau semua ini sudah berakhir. Aku akan mengatakan kabar baik ini kepada semua orang," monolognya yang segera menutup telepon dan berjalan menuju semua orang yang tengah berkumpul termasuk keluarga dari Afif. 


Zaid bisa melihat bagaimana Rasidha yang menjauh atau lebih tepatnya menghindari dari keluarga Afif, dia mengerti dan juga merasakan kesedihan yang sama. "Harap perhatian untuk semuanya, ada sesuatu hal yang harus aku sampaikan ini sangat penting." Ucapnya dengan lantang membuatnya menjadi pusat perhatian, tapi itulah tujuan sebenarnya. 


"Apa itu?" tanya Doni yang mewakili semua orang. 


"Aku sudah menemukan keberadaan Afif, dia ada di rumah sakit desa." Ucap Zaid sontak membuat semua orang sangat terkejut, dan juga bahagia bercampur aduk menjadi satu. 


"Jangan menunggu waktu lagi, sebaiknya kita pergi ke sana sekarang juga!" ucap salah satu keluarga Afif dan mereka langsung bergegas keluar dari rumah menuju mobil masing-masing. 


Betapa bahagianya Rasidha mendengar kabar dari ayahnya, dia melirik Zaid dan tersenyum bangga bisa menjadi putri dari seorang pria yang sangat baik hati. 


Kini mereka berlari menuju lorong-lorong rumah sakit dan menemukan bangsal pasien, sepasang suami istri sangat terkejut saat melihat rombongan orang-orang yang menghampiri mereka. 


"Apa yang di dalam adalah Afif?" 


Dengan cepat kedua sepasang suami istri menganggukkan kepala. "Apa kalian keluarganya?" 


"Ya, kami semua keluarganya." 


"Oh maafkan saya yang tidak tahu. Silahkan masuk!" ucap wanita paruh baya yang selama ini merawat Afif dengan baik, namun kondisi yang buruk memaksa mereka untuk melarikan nya ke rumah sakit. 


Satu persatu keluarga dari Afif mengunjungi, tapi tidak ada yang berhasil membujuk pria yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit berbicara ataupun mengatakan sesuatu. Kini giliran Rasidha yang berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan, melihat seorang pria yang sangat kurus dan juga tidak berdaya membuat air matanya menetes. 


"Assalamu'alaikum. Mas Afif!" sapa Rasidha dengan lembut. 


Afif seketika menoleh saat mengenal suara itu, mereka saling berkontak mata untuk beberapa saat kemudian dan hanyut dalam pikiran masing-masing. "Wa'alaikumsalam." Lirihnya yang juga meneteskan air mata. 


"Kenapa Mas melakukan ini? bukankah aku sudah meminta untuk menjalankan hidup yang baru? Tapi sepertinya Mas melupakan semua ucapanku. Apa kecintaanmu kepada manusia dan melupakan kecintaan kepada sang khalik?" 


Afif tak sanggup mendengar perkataan itu, dia hanya diam karena apa yang dikatakan itu benar. 


"Jawab! Apa Mas melupakan semua ajaran yang diajarkan oleh para guru, ustadz maupun kyai?" 


"Aku…aku."


"Sudah cukup menyiksa diri, jika kita berjodoh maka Allah akan menyatukan. apa Mas tahu cerita dari Rama dan Shinta? seperti itulah keadaan kita yang sekarang, Aku tengah berjuang untuk melawan Rahwana."