
Tibalah acara tahunan yang begitu disambut oleh seluruh santri dan juga santriwati, dimana acara silaturahmi yang akan di adakan oleh beberapa pesantren dan pertemuan yang selalu diselenggarakan dengan sangat tertib. Para santri menyiapkan acara dan memastikan pertemuan para kyai besar dan juga ustadz, sedangkan yang putri hanyalah melihat dari kejauhan dan menyiapkan makanan.
Rasidha fokus membantu para santriwati lain untuk memasak, dia sudah terbiasa memasak membuatnya tidak merasa kesulitan. Seseorang menepuk bahunya, segera dia menoleh ke arah sang pelaku yang tak lain Neneng dan di sebelahnya ada Elis. "Ada apa? Kalian membuatku terkejut."
"Maaf," jawab Elis dan Neneng cengengesan, mereka memilih duduk bersebelahan dengan Rasidha.
"Hem." Rasidha menggelengkan kepala dan tersenyum dengan tingkah kedua temannya itu.
"Apa kamu gak tertarik melihat para ustadz dan juga gus? Yang aku dengar, mereka itu sangat tampan dan siapa tahu salah satunya jodoh kita." Ujar Neneng yang sangat bersemangat dan antusias.
"Aku belum memikirkan masalah itu, semua sudah diatur sama sang khalik." Jawab Rasidha tanpa menoleh, masih sibuk mengupas bawang.
"Jodoh tidak datang dengan sendirinya, aku ingin menikah saja. Sebentar lagi kita akan lulus," tatapan Elis lurus ke depan, mengingat mereka akan berpisah dalam beberapa bulan lagi. Dia mulai merancang masa depannya, mengingat keluarga yang kurang mampu dan juga mempunyai adik banyak seperti susun paku, setiap anak berjarak setahun sampai dua tahun.
"Apa kamu tidak ada niat untuk bekerja?" Rasidha menatap Elis seakan tertarik dengan pembahasan itu.
"Siapa yang tidak ingin melanjutkan studi dan juga bekerja? Aku ingin, tapi keadaanlah yang memaksaku."
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti." Kini Neneng sangat penasaran, dia juga tidak tahu mengenai kehidupan teman-temannya.
"Aku sudah dijodohkan dengan pria pilihan orang tuaku, dia anak kepala desa."
Rasidha bersimpati dengan nasib Elis yang terkendala ekonomi, apalagi adiknya berjumlah delapan orang dari sepuluh bersaudara. "Apa kamu menerima perjodohan itu?"
"Aku percaya dengan pilihan kedua orang tuaku, aku hanya bisa berserah diri kepadaNya." Elis tersenyum menguatkan dirinya, menunjuk ke atas dengan bertawakal.
"Mungkin aku akan menjadi TKW, melihat orang-orang kampung ku yang sudah banyak bekerja di luar negeri, mereka semua hidup berkecukupan setelah pulang dari negeri orang." Neneng tersenyum membayangkan dirinya bisa mengangkat martabat keluarga.
"Tetapi menjadi TKW bukan semudah yang kamu pikirkan, Neng. Banyak diluar sana yang mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari majikan mereka, atau kalian bekerja di toko roti milik ibuku, bagaimana?" tawar Rasidha yang tak tega dengan kedua temannya.
Neneng dan Elis menatap Rasidha dengan lekat, mereka tersenyum dengan kebaikan dari gadis keturunan Palestina. "Itu tidak diperlukan, kamu tidak perlu repot-repot."
"Aku tidak ingin jika kalian putus studi."
"Itu tidak diperlukan, banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Terima kasih atas kebaikan hatimu, Rasidha."
"Hem, jika perlu bantuanku, kalian katakan saja. Aku siap membantu, selagi aku mampu."
"Terima kasih."
"Rasidha, bawangnya sudah selesai dikupas?" teriak Yayuk dari dalam ruangan.
"Iya mbak, sebentar lagi." Balas Rasidha yang menyelesaikan mengupas bawang.
"Mbak Yayuk merusak suasana saja," keluh Neneng yang juga berteriak, hal itu malah mengundang tawa Elis dan juga Rasidha.
Seorang wanita tua berjalan ke arah Rasidha dan kedua temannya. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Sahut ketiga gadis itu dengan senyum di wajah mereka.
"Nyai?"
"Iya, Nyai mau pinjam Rasidha dulu, boleh?"
"Boleh Nyai, pinjam lama juga tidak masalah." Guyon Neneng yang biasa mencairkan suasana.
"Ada apa Nek?"
"Ikut Nenek, yuk!"
Rasidha mengikuti kemana Nyai Ainun melangkah, dia tidak tahu mengapa wanita di hadapannya membawanya. "Maaf sebelumnya Nek, kita mau kemana?" tanyanya yang menghentikan langkah kaki wanita tua.
"Nanti kamu juga akan tahu."
Rasidha menundukkan kepala saat melewati para ustadz dan juga gus, dia tidak tahu alasan dirinya berada di pertemuan silaturahmi.
"Ayo masuk, ada yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa Nek?" Rasidha sangat penasaran, siapa yang akan ditemui.
Rasidha masuk kedalam rumah terbuka dan di minta untuk membawakan teh dan kudapan untuk disantap pada tamu di dalam ruangan. "Kamu jamu mereka dan akan di batu para khadimah lain, di sini kekurangan orang."
"Iya Nek."
Rasidha mengantarkan cemilan dan juga teh, dengan penuh hati-hati. Dia sangat grogi saat kyai besar para tamu dari kyai Baharuddin, takut berbuat kesalahan.
Beberapa menit kemudian, dia segera kembali ke dapur dan memutuskan untuk membantu yang lainnya. Dia tidak berpikir apapun mengenai perjamuan itu, dan kembali kembali membantu para santriwati yang lainnya.
"Apa kamu sudah mengantarkannya?" tanya Nyai Ainun yang menepuk pelan bahu Rasidha.
"Sudah Nek, aku sudah mengantarkannya."
"Bagus, kamu tetap di sini dulu. Aisyah dan Ayna akan menyusulmu disini."
"Iya Nek." Rasidha menganggukkan kepala dengan pelan dan juga sopan, dia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi banyak santriwati dan juga pada khadimah lain yang bisa menjamu tamu.
"Aku merasa ada yang aneh disini, tapi apa?" gummanya.
"Kak, umi sudah menunggu di ruangan sana." Ucap Ayna yang mengejutkan Rasidha.
"Iya, tapi ini ada apa? Kenapa aku merasa ada yang ditutupi oleh Nenek?"
"Ada yang melihat Kakak," jawab Ayna yang keceplosan.
"Memangnya ada apa?" Rasidha semakin penasaran, menyeritkan kening.
"Astaghfirullah, aku keceplosan." Lirih Ayna yang memukul mulutnya dengan pelan.
"Keceplosan? Sebenarnya ada apa?"
"Bukan apa-apa, ayo cepat! Sebelum umi dan nenek yang menjemput kita." Ayna melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, dia segera menjauh lebih tepatnya menghindari kakaknya yang mulai curiga.
"Assalamu'alaikum." Ucap keduanya yang masuk setelah mendapatkan respon dari orang-orang di dalam ruangan.
"Sini Nak, duduk." Aisyah menepuk kursi di sebelahnya, melihat orang-orang yang asing. Tapi dia sedikit terkejut melihat ustadz Afif dan juga pria yang membantunya.
"Jadi ini yang namanya Rasidha?"
Rasidha hanya membalas dengan anggukan kepala dan tersenyum beberapa saat. Dia hanya mendengarkan obrolan para penatua dan hanya diam, sesekali tersenyum.
"Maksud kedatangan kami di sini untuk melamar Rasidha menjadi istri dari Afif, putraku."
Deg
Pernyataan dari pria tua yang mengenakan jubah dan juga sorban di atas kepala, benar-benar membuat Rasidha sangat terkejut dengan kalimat sederhana tapi mengandung makna yang cukup dalam. Dia mengalihkan pandangan ke arah ustadz Afif yang menundukkan kepala sambil tersenyum, tidak menyangka jika guru yang mengajarnya melamar di hadapan keluarga dari pamannya.
Bukan hanya Rasidha yang terkejut, tetapi gus Habib juga sangat terkejut. Dia mulai menyimpan rasa ketertarikan pada wanita yang dibantunya, tetapi niatnya itu dilangkahi oleh kakak sepupu.