
Doni sangat geram bercampur dengan amarah yang hampir meledak, dia tidak menyukai bagaimana Felix yang kembali mengusik keluarga adiknya yang penuh masalah. Bisa dilihat bagaimana ekspresi yang ditunjukkan oleh pemuda yang menjadi calon suami dari keponakannya, dia tahu bagaimana pemuda itu yang mencintai Rasidha saat pertama kali.
"Aku yakin kalau kamu pria yang kuat, berpikir positif kepada Allah. Baik kamu ataupun Rasidha sedang diberikan ujian, jalani sesuai dengan takdir." Doni mengusap baju ustadz Afif dengan pandangan hari juga bersimpati, walau bagaimanapun juga dia tidak menerima semua perbuatan yang dilakukan Felix.
"Bagaimana aku bisa menerima hal ini, Paman? Sungguh, aku tidak sanggup dengan apa yang terjadi. Hatiku sakit dan bahkan menangis saat melihat Rasidha telah menjadi kepunyaan orang lain." Kata ustadz Afif yang mengungkapkan seluruh perasaan di hatinya, sekarang dia menjadi pria yang sangat rapuh dan bahkan tidak sanggup untuk sekarang ini.
"Aku akan memberi perhitungan pada Felix, berani sekali dia mengusik ketenangan adikku." Doni sudah tidak tahan dengan apa yang terjadi saat ini, ingin membalas dan membawa keponakannya pulang menjadi salah satu ide yang terlintas di otaknya.
"Jangan lakukan itu, Paman. Felix pria yang sangat berbahaya, dia mempunyai pengawal dan pengamanan yang ketat." Terang ustadz Afif yang mencekal tangan Doni.
"Tapi aku tidak bisa berdiam diri dan memperhatikan perbuatan nya itu, aku akan membawa Rasidha kembali! " tekan Doni yang tentu saja tidak akan tinggal diam.
"Apa yang diucapkan oleh Afif itu sangat benar, Suamiku. Sebaiknya kita meminta bantuan pada polisi saja, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. " Celetuk Aisyah yang juga menghentikan langkah suaminya, dia hanya mendengar cerita dari Afif mengenai bagaimana berbahayanya Felix. Dia tidak ingin kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.
"Tidak Aisyah, adik dan adik ipar ku terbaring di rumah sakit, Rasidha juga dinikahi secara paksa. Apa aku bisa diam saja setelah terjadi semua ini?" ujar Doni yang sudah tidak tahan, akan menjadi tameng untuk adik dan keluarganya.
"Tapi___." Aisyah sangat ragu dengan apa yang terjadi, dia takut kalau suaminya menjadi korban selanjutnya dari kekejaman Felix, suami baru keponakannya.
"Percayakan semuanya padaku, aku akan berusaha dan berdoa lah agar aku segera membawa Rasidha pulang ke rumah." Doni memegang kedua tangan istrinya dengan tatapan puppy eyes, berharap kalau istrinya memberikan izin.
Aisyah awalnya sedikit ragu melepas kepergian suaminya, tapi dia juga tidak tega masalah terjadi bertubi-tubi yang dihadapi oleh keluarga adik iparnya.
Semua orang melihat kepergian Doni, ustadz Afif merasa kalau dirinya tak berguna dan mengejar langkah dari pria yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Masih ada ketidakrelaan di hatinya saat ini, apalagi pernikahan itu hanya paksaan dari salah satu pihak saja.
Kondisi dan ujian bertubi-tubi dirasakan oleh keluarga itu, terutama Suci yang baru saja membuka matanya dan menanyakan dengan keberadaan putri dan juga suaminya yang tidak terlihat di ruangan itu, hanya ada putranya yang bernama Azzam yang setia menunggu pemulihannya.
"Dimana kakak dan ayahmu?" tanya Suci yang langsung menyadari hal itu.
Seketika Azzam terdiam, karena dia tidak tahu mau menjawab apa. Pertanyaan dari ibunya begitu membuatnya kesulitan dan merasa sesak, mulut terkunci dan bahkan tidak berbuat untuk mengatakan sebenarnya.
"Kenapa kamu diam saja? Jawab pertanyaan Ibu, Azzam!" tegas Suci yang mulai khawatir saat membaca ekspresi yang ditunjukkan oleh putranya.
"Ayah tidak berhasil membawa pulang kak Rasidha." lirih pelannya yang sedikit ragu untuk menceritakannya.
"Lalu, dimana ayahmu sekarang?"
"Ayah...ayah___." Tidak ada keberanian Azzam untuk menceritakan segalanya, bahkan dia kembali berpikir membuat Suci mulai jengkel.
"Jangan buat Ibu kesal, Nak. Dimana ayahmu? Apa dia tidak datang menjenguk Ibumu ini?"
"Apa?" bulir bening yang tiba-tiba menetes, seakan dunianya menjadi runtuh, saat mendengar kabar suaminya yang berada di rumah sakit apalagi dengan kondisi yang cukup serius. Dia tidak bisa membayangkan jika keluarganya saat ini menjadi kacau, hanya ada air mata yang menetes menjadi saksi bisu di kala dirinya tidak sanggup menopang yang terjadi. "Bawa Ibu menemui ayahmu!" keukeuhnya yang langsung duduk dan melepas alat yang menempel di tangannya, tidak peduli seberapa persen kepulihan nya.
"Apa yang Ibu lakukan?" Azzam segera membantu ibunya naik ke atas brankar karena khawatir akan kondisi sang Ibu yang kian lemah.
"Biarkan Ibu menemui ayahmu, Azzam."
"Aku tidak akan melarang Ibu menemui Ayah, tapi bersabarlah sebentar lagi hingga dokter memberikan izin."
"Tapi Ibu tidak bisa menunggu selama itu."
"Ini tidak akan lama, percayalah Bu!"
Di tempat lain, Doni dan Afif yang datang dengan membawa pasukan. Keduanya ingin membawa Rasidha pulang tanpa memikirkan keselamatan keduanya.
Terjadi serangan yang mengakibatkan dua kubu banyak yang terluka, dan penyerangan sebagai bentuk protes membuat Felix mengetahui kabar itu dengan cepat.
"Apa mereka itu gila? Menantang singa sepertiku. Tapi baiklah, aku akan melayani serangan mereka." Monolognya yang tersenyum miring sambil menatap layar monitor tempat kendali ruang CCTV.
"Apa yang harus kita lakukan Tuan? Justin juga menjadi sandera dari Simon, yang dikabarkan masuk ke dalam rumah sakit dengan kondisi yang kritis."
"Hem, mereka yang lebih dulu meminta hal ini, kenapa kita tidak menerima tantangannya itu? Tambah pasukan menjadi dua kali lipat!"
"Baik Tuan."
Felix tertawa dengan begitu menakutkan, dia sudah menyadari kalau Doni pasti tidak akan tinggal diam. Rencana yang berjalan dengan sempurna dan berharap kalau Simon mati.
"Sebaiknya aku mengecek apa yang dilakukan oleh gadis kecil itu, sedikit menakuti nya mungkin sangatlah menyenangkan." Felix segera keluar dari tempat itu dengan santai, seakan tidak terjadi penyerangan. Terus melangkahkan kaki menuju kamar pengantinnya.
Terlihat dengan jelas bagaimana kondisi Rasidha yang begitu tak menggubris kedatangannya, dan bahkan pandangan mata gadis itu seperti kosong. "Apa kamu tidak punya adab saat suamimu datang, hah?" ucapnya yang menyentak kerudung itu dengan sangat kasar hingga sang empunya meringis. Dia menarik terlalu kuat hingga melihat rambut istri kecilnya yang terurai panjang dan juga ikal, sangat indah dan menakjubkan.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Rasidha yang kembali bersikap tenang, dan tidak mempermasalahkan aurat, apalagi statusnya yang sudah berubah dan pria yang tanpa sengaja menyingkap kerudungnya adalah suaminya sendiri.
Seketika Felix terdiam dan melupakan rencananya, mengapa merasakan gugup entah berasal dari mana dia juga tidak tahu. "Keluarlah dari kamar dan ikut makan bersamaku!" lirih pelannya yang segera beranjak pergi.
"Baiklah." Jawab Rasidha yang sangat tenang, bahkan sangat berbeda dari sikap sebelumnya.
"Ada apa dengannya?" batin Felix.