
Melihat kepergian Tuan muda dan kedua wanitanya, Arya, Kai dan kedua saudara menghela napas.
"Aku tidak menyangka jika Tuan muda memiliki sifat kejam seperti itu." Gumam Tei dengan wajah bodohnya.
Arya melirik wajah bodoh Tei dan menanggapi. "Itu belum seberapa, Jika kamu melihat Tuan muda melakukan siksaan, Itu lebih mengerikan dari apa yang kamu bayangkan" Ucap Arya dengan sudut mulut terangkat sedikit.
Tanpa sadar, Tei dan Zei serta Kai pun meliriknya. Dengan wajah aneh, Zei buru buru berkata. "Saudara Arya! Kamu kan sudah lama berada di sisi Tuan muda, Apa begitu kejam siksaan nya? Beri tahu kami, Kami sangat penasaran dengan kepribadiannya!"
Tei dan Kai pun menganggukkan keplalanya. "Benar! Saudara, Berikan sedikit kata kata tentang Tuan muda." Timpal Tei.
Sudut mulut Arya semakin terangkat. Dia melihat ketiganya layaknya orang bodoh yang mau saja dirinya tipu. Padahal ia bersama Dirga hanya beberapa bulan saja.
Menstabilkan wibawanya dengan tenang seolah berdiri di sisi orang tinggi namun bodoh. "Selama ini yang aku lihat Tuan muda Dirga memiliki wajah tampan dan- " Namun, Perkataannya di sela dengan kesal oleh Tei. "Aku tahu Tuan muda sangat tampan! Berikan informasinya dengan singkat nya saja!"
Arya tersenyum kecut ketika perkataan nya di sela. "Begini...yang aku tahu, Dia memiliki temperamen wajah datar dan dingin serta hanya sedikit saja saat berbicara. Namun, Jika Tuan muda mendengar tentang seorang manusia keji seperti suka memeras,menindas,perkosaan apalagi penghianatan. Tuan muda sangat marah dan suka menyiksa orang itu sampai mampus maupun menyerah." Berhenti sejenak sambil melihat ekspresi ketiganya yang sangat serius seolah sedang mendengarkan berita penting. 'Bodoh! Mau saja aku bohongi' Batinnya, Meskipun perkataan tadi memang ada benarnya.
"Terus?" Seru ketiganya serempak menatap wajah aneh Arya tanpa sedikitpun curiganya.
Mengatur napasnya dalam dalam, Arya melanjutkan. "Jika ada orang seperti itu, Maka orang itu akan disiksa oleh Tuan muda tanpa belas kasihan dengan awal mula di potong kelima jari tangan dan kakinya dan di diamkan selama sehari, Lalu besoknya Tuan muda kembali menyiksanya dengan memotong lidah orang itu dan punggungnya akan di lukis sesuai keinginannya dengan belati." Melihat ketiganya dalam ekspresi tercengang, Mata Arya berbinar binar senang dan tanpa lama ia menambahkan bualan nya lagi agar mereka semakin takut dengannya.
"Satu hari berikutnya, Kedua tangan orang itu di potong bersama dengan kakinya dan di masukkan ke dalam air panas di depan mata pemiliknya sendiri. Tuan muda melakukan itu secara berurut turut dan berhari hari. Dia tidak akan membiarkan orang itu pingsan walaupun hanya sedetik. Ada yang di cungkil kedua matanya dan di jilat seperti menjilat gula gula serta perutnya di robek hingga menampilkan organ dalam dan....
Semakin lama mendengar bualan Arya. Wajah ketiganya yang awalnya pucat menjadi semakin pucat ketakutan dengan bulu kuduk merinding.
Tei yang tidak tahan dengan cerita itu pun buru buru menghentikannya. "Berhenti berhenti! Jangan ceritakan itu lagi! Aku percaya...aku percaya dengan perkataanmu!"
Arya menatap ekspresi pucat ketiganya dengan wajah senang dan tertawa riang, Lalu berkata mengompori. "Ayo kita lakukan tugas dari Tuan muda! Jangan sampai membuatnya marah agar tidak di hukum seperti tadi!"
Ketiga saudara itu menganggukkan kepalanya cepat dan buru buru melakukan tugasnya. Setelah selesai, Mereka bertiga kembali ke markas Sekte dengan tergesa - gesa membuat tawa Arya semakin riang.
"Hahaha! Mereka benar benar bodoh! Sudah jelas aku sedang membual dan mereka percaya begitu saja." Gumamnya di sela tawanya sambil melesat mengikuti ketiganya dari belakang.
***
Di tempat lain
Dirga, Laniya, Fanni muncul tak jauh dari tempat tadi. Ketiganya saat ini berada di wilayah perbatasan antara Kota Luyung dan Kota Mutian arah timur dari Kota Luyung.
"Hmmm, Sayang...Aku merasa ada yang aneh dengan tempat ini! Aku merasakan ada beberapa aura tapi aku tidak tahu di mana keberadaan itu." Ucap manja Laniya sambil memeluk lengan kiri Dirga.
Fanni yang di sebelah kanan Dirga yang melihat kegenitan Laniya menjadi iri. Tanpa memerdulikan reaksi apa Laniya, Ia juga memeluk lengan Dirga sambil menatap depan. "Sayang...Aku juga merasakan seperti perkataan saudari Laniya. Tapi aku tidak tahu di mana itu! Apa kita sedang berada di ilusi?" Kata Fanni.
Namun, Diluar dugannya. Laniya malah menanggapinya dengan mata berkedip menatapnya membuatnya tersenyum menanggapi dengan sedikit anggukan kecil.
Dirga yang di peluk kedua wanita cantik ini membuat hidungnya sedikit panas. Melirik ekspresi tak peduli Laniya dengan panggilan Fanni terhadapnya, Dirga tertegun namun mengabaikannya.
Membiarkan kedua lengannya di gelayuti manja kedua wanita. Dirga menatap depan tanpa ekspresi. "Ya! Kalian berdua terkena Formasi Ilusi pihak lawan. Di depan kita ada satu bangunan dan lubang bawah tanah yang di didalam nya ada sekitar seratus lebih orang." Ucap Dirga menatap bawah dari atas langit.
"Ilusi?!" Seru keduanya terkejut. Laniya menanggapi. "Bagaimana bisa aku terkena formasi ilusi? Bukankah Ranahku cukup tinggi?"
Dirga menyentil dahi wanita itu dengan lembut serta menanggapi. "Mereka yang terkena ilusi tidak ada hubungannya dengan Ranah. Meskipun Ranahmu cukup tinggi tetapi Formasi Ilusi lawan sangat hebat, Tentu saja tidak ada penghalang, Kecuali memiliki Kekuatan Jiwa yang besar!" Jelas Dirga.
"Ugh! Ternyata Kekuatan Jiwaku masih lemah ya! Di hadapkan dengan formasi rendahan seperti ini saja aku tidak bisa berkutik" Keluh Fanni dengan helaan napas kasar.
Dirga menggelengkan kepalanya tak menanggapi keluhan kedua wanitanya ini. Tentu saja mereka berdua tidak bisa mendeteksi jika ada Formasi Ilusi disini.
Menatap kedepan sambil mengaktifkan tehnik Mata Surgawi nya agar bisa melihat detail ruang bawah tanah.
Di dalam bangunan terdapat puluhan orang Ranah Pemurnian Qi tingkat rendah dan menengah. Rata rata yang berada di ruang bawah tanah yang paling rendah di antara semuanya, Yaitu Penyempurnaan Roh tingkat rendah - tinggi.
Dari pakaian orang orang itu. Dirga mengetahui jika semuanya adalah anggota campuran dari Sekte Seribu Pedang, Organisasi Bayangan, Organisasi Naga Langit.
Ada empat ruangan di dalam ruang bawah tanah dan setiap ruangan di jaga oleh dua pria berpakaian hitam. Menambah sedikit energinya, Dirga melihat di dalam ruangan itu terdapat benda yang membuat matanya berbinar. 'Hehe, Rejeki nomplok!' Ucapnya di dalam hati.
Di ruang bawah tanah
Di ruangan paling ujung ruang bawah tanah. Seorang pria paruh baya sedang duduk malas di kursi goyangnya dengan di temani sekendi anggur di sebelahnya.
Dengan sedikit mabuk, Ia menuangkan segelas anggur itu ke mulutnya sambil bersendawa keras. "Aikk! Aahhh...Anggur yang berkualitas dan sangat enak! Bodoh sekali mereka bisa di perintah layaknya seekor anjing! Hahaha..!" Makinya dengan mabuk berat.
"Setelah nanti, Aku pasti di beri hadiah batu roh yang banyak! Hehe, Nasib ku benar benar terbaik!" Timpalnya sambil mengangkat kendi anggurnya tinggi dan menuangkannya ke arah mulutnya.
Beberapa saat, Pintu ruangan terbuka dan seorang anggota masuk dengan wajah pucatnya.
Sebelum anggota itu berkata, Pria paruh baya yang sedang enak minum anggur bersuara memekik. "Brengsek! Siapa yang menganggu waktu santaiku! Aku akan membunuhnya!" Berang nya emosi karena mabuk berat.
Anggota itu yang melihat pria paruh baya sedang marah karena mabuk. Dia berkata menyadarkan. "Tetua Wis! Sadarlah! Tempat kita sedang di serang orang! Banyak anggota yang mati secara tiba tiba dengan kepala terpotong!"
"Apa?" Mendengar ini, Wajah mabuk Tetua Wis langsung hilang seketika.
Dia maju mendekati orang yang melaporkan itu dengan wajah serius.
"Katakan! Apa yang kamu katakan benar? Bukankah wilayah kita sudah di selimuti Formasi Ilusi tingkat tinggi? Bagaimana mungkin ada orang yang mengetahuinya? Bahkan seorang Tuan Kota pun tidak bisa mendeteksinya!" Katanya sambil mengguncang bahu pelapor otu.
Si Pelapor itu juga tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia melihat semua teman teman nya yang sedang bercanda riang sambil mabuk tiba tiba kepalanya terlepas begitu saja.
"Saya...Saya tidak tahu Tetua! Sebaiknya tetua sendiri yang melihatnya secara langsung!" Ucap pelapor itu dengan tubuh gemetar.
Tetua Wis tak menanggapi, Ia langsung berlari panik dari ruangannya untuk melihat situasi apa yang terjadi di ikuti pelapor itu di belakangnya.
Karena ruangannya terletak di sudut dan memiliki jalan keluar seperti lorong yang agak memanjang. Tetua Wis segera berlari cepat karena panik.
"Sial! Siapa yang berani menganggu wilayah ku?! Kuhajar sampai mati mampus kau!" Rutuk nya di sela lari nya.
Namun, Ketika sudah keluar dari lorongnya. Matanya membelalak lebar ketika mendengar desingan pedang bersamaan dengan kepala pengangkut barang berharga yang tiba tiba terputus.
Sejenak, Ia terdiam dan tidak bereaksi. Ia hanya melihat dua bayangan yang menari nari di antara kerumunan orang yang membuat kepala siapa pun terpenggal.
Selang beberapa detik semua anggota pekerja tewas dengan kepala terpenggal. Dua bayangan itu juga menampilkan visinya membuat matanya kembali melebar.
'Wa-Wanita? Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa dua bayangan itu seorang wanita muda?...Kultivasinya??' Serunya di dalam hati tak percaya.
Apalagi ia tidak bisa mendeteksi kultivasi kedua wanita cantik itu membuatnya harus waspada meskipun nyawanya ingin kabur sekarang juga.
Membalikkan badannya untuk kembali ke ruangannya tapi tidak terjadi. Matanya kembali membelalak dengan bulu kuduk merinding.
Si pelapor tadi kini tewas dengan kepala terpenggal. Di sisinya ada seorang pemuda tampan berambut perak yang menatapnya dengan dingin membuat tubuhnya seketika merinding.