Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 177


Boom!


"Hehe, Cantik! Biarkan pria tampan ini yang memiliki tubuh indahmu. Sayang jika tubuhmu terkena serangan ini!"


Seorang pria berdarah darah dengan wajah pucat berkata menjilat bibir melihat Andira yang lihai dalam berpedangnya.


"Berisik! Bodoh!" Cibir Andira tak peduli dan melepaskan serangannya ke arah pria itu hingga meledak.


Boom!


Trang!


"Sialan! ****** ini mempunyai senjata surgawi! Pantas saja kau dapat mengimbangi ku!" Umpat wanita bercadar hijau ketika terdorong beberapa centi oleh Laniya.


"Hm, Bahkan bertarung dengan seorang gadis saja kau masih kewalahan. Apalagi denganku!" Cibir wanita bercadar biru yang dari tadi hanya diam menonton pertarungan mereka berdua.


Ia duduk di udara seolah ada benda tak kasat mata yang membuatnya bisa duduk di kehampaan.


Ekspresi wanita bercadar hijau itu muram mendengar ini dan tak berniat membalasnya.


Laniya berhasil menstabilkan tubuhnya yang terdorong mundur ratusan meter dan mengusap darah yang baru keluar dari mulutnya.


'Brengsek! Wanita iblis ini sangat kuat!' Batinnya menggertakkan gigi dan tak menyadari jika wanita bercadar hijau itu sudah berada di sampingnya.


"Saudari!, Kak!, Awas!" Seruan Fanni, Xenia, Bai Lubai tiba tiba sudah muncul di sampingnya.


Boom!


"Ahk!"


"Kalian?" Mata Laniya melebar dan langsung menghampiri Fanni dan Xenia yang sudah terkapar di tanah.


Bagaimanapun, Keduanya hanya berada di ranah Raja Langit dan mustahil bisa mengimbangi seorang ranah Saints!


Sedangkan Bai Lubai terdorong mundur jauh sambil menyemburkan darahnya berulang kali.


"Kak Laniya! Terima kasih sudah bersedia menjadi saudariku! Aku senang!"


"Saudari! Maafkan aku! Aku senang mempunyai Saudari sepertimu! Tapi sepertinya aku sudah tak lama lagi!"


Ucap keduanya dengan nafas memburu dan matanya sayup - sayup melemah.


Sebelum terpejam, Xenia berkata dengan terbata - bata. "Ka-Kak Laniya, Jika bertemu dengan keluargaku, Katakan. Aku sangat menyayanginya dan katakan ke Dirga. Aku mencintainya.."


Melihat tidak ada tanda tanda kehidupan mereka berdua. Mata Laniya memerah. Bulir bening keluar dari kedua matanya dan mendongak.


"Saudari!" Panggil Bai Lubai namun terhenti melihat keadaan Fanni dan Xenia. Meskipun ia baru pertama kali dengan mereka, Ia tidak mengharapkan terjadi seperti ini.


"Wanita ******! Kau telah membunuh dua saudariku! Kau tidak akan kubiarkan lari dari genggamanku!"


Laniya berkata dengan suara bergetar.


Tubuhnya seketika mengeluarkan cahaya putih samar dan terdengar bunyi ledakan teredam tiga kali dari dalam tubuhnya.


"Me-menerobos??" Ucap Bai Lubai tercengang.


Namun ia seketika sadar dan membawa tubuh Fanni dan Xenia Xu pergi menjauh.


"Arhg!" Teriak Laniya bergema membuat pertarungan berhenti melihat keanehan.


"Kenapa dengan Kak Laniya? Ada apa dengan tubuhnya?" Tanya Andira melihat perubahan dari Laniya.


Bai Lubai menggeleng melongo. "Aku juga tidak tau. Tapi, Sepertinya dia menggunakan esensi darahnya untuk menerobos paksa!!" Pekiknya begitu menyadari apa yang dilakukan Laniga.


"Kita harus hentikan! Ja- " Belum sempat perkataannya selesai, Suara pria terdengar di sampingnya. "Tunggu dulu! Biarkan saja seperti itu. Jika kamu menghentikannya, Itu membuat pikirannya terganggu hingga dapat meledakkan tubuhnya!"


Bai Lubai menoleh dan melihat seseorang yang tidak di kenalnya. "Siapa kamu?" Ia bertanya waspada.


"Namaku Jing Quasyu! Pelayan Master Sekte kalian!" Ucap orang itu memperkenalkan dirinya dengan ramah.


Mendengar perkataannya. Bai Lubai menghela napas. "Tapi, Apakah Saudari Laniya tidak apa - apa jika menggunakan esensi darahnya utu?" Ucapnya sedikit melembut.


Jing Quasyu menggeleng. "Sulit untuk mengatakannya jika berhasil seratus persen. Karena hanya orang dengan fisik tertentu yang dapat menggunakan esensi darahnya! Semoga saja tidak apa-apa!" Ucapnya menghela napas.


Bai Lubai yang mendengar itu menjadi cemas. Namun dalam hatinya ia mendoakan agar saudarinya baik baik saja.


"Hm? Tubuh fisik? Haha, Aku tak menyangka jika kamu memiliki fisik khusus di dunia ini. Tapi, Ingin kulihat apakah fisikmu sebagus itu?!" Kata wanita bercadar biru mengernyit.


"Kau yang memaksaku! Bajingan!!" Balas Laniya dengan suara berbeda.


Membuka matanya dan cahaya putih sesaat memancar di kedua matanya.


Dia saat ini sudah berada di ranah Setengah immortal akhir!


"Sembilan Bunga Cahaya Keabadian!"