Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 139


Tubuh Kakek Marde terpelanting jauh. Tubuhnya menabrak beberapa bangunan milik keluarganya hingga hancur.


"Kakek!"


"Ayah!"


Patriak Marde, Wira, Putel dan Truwen yang melihat kakeknya terpental jauh oleh seorang wanita membuatnya sangat marah.


Mereka tidak terima kakeknya di perlakukan sehina ini!


"Pak tua! Lawanmu adalah aku! Rasakan ini!" Andira yang melihat Tetua Putel dan Truwen yang ingin menyerang Laniya membuatnya segera bertindak.


Memusatkan pedangnya ke depan sambil memejamkan matanya.


Seketika, Belasan bayangan pedang muncul di sisinya dan Andira membuka matanya dengan mata memancarkan cahaya putih sekejap.


"Majulah!" Serunya seraya melemparkan pedangnya ke arah Tetua Putel dan Truwen yang menganga.


Sring!


Suara desingan pedang tajam terdengar.


Wajah kedua pria itu memucat. Mereka berdua dalam kondisi luka parah akibat serangan mawar Laniya tadi membuat keduanya hanya bisa diam.


Boom!


Melihat ini, Kakek Marde yang baru saja menstabilkan tubuhnya menjadi sangat marah.


"Dasar ****** brengsek! Kubunuh kau!" Mengeluarkan pedang surgawinya sambil melesat marah ke arah Andira.


Namun tiba tiba muncul sosok Laniya menghadang dengan pedangnya sendiri.


Boom!


Tubuh keduanya sama sama terpental sejauh ratusan meter. Hanya Laniya yang beberapa puluhan meter saja habis itu wajahnya kembali dingin.


"Lumpuhkan mereka cepat!" Suara perintah dingin dari atas langit membuat kedua wanita itu segera bereaksi cepat.


Boom!


Pertempuran pun kembali sekali lagi. Namun Andira sedikit lebih cepat karena kondisi lawannya sudah tak berkutik.


"Guru! Aku sudah mengikat tubuh keduanya!" Andira datang menghampiri Dirga sambil menyeret tubuh Tetua Putel dan Truwen yang wajahnya bengkak nan penuh lebam.


Dirga mengangguk dan berkata. "Letakkan di sini! Kamu pergi ke mension itu dan selamatkan gadis yang tak sadarkan diri di lantai tiga!"


Buk! 2


"Aw..!"


Andira melemparkan di kehampaan dan tubuh mereka terlentang di udara seakan menyentuh tanah.


Andira lantas memicingkan matanya menatap wajah tampan gurunya. "Guru! Apa guru masih ingin menambah wanita lagi? Apa Andira belum cukup?"


Andira berkata penuh percaya diri sambil menampilkan lekuk tubuhnya yang menggoda dengan wajah merah.


Entah apa yang merasuki gadis ini.


Dirga menggelengkan kepala melihat ini. Namun dia tak sedikit pun tergoda dengan murid perempuannya ini.


"Jangan banyak bicara! Cepat lakukan jika masih mau mengakui ku sebagai guru!" Dirga berkata mengancam karena malas dalam situasi ini.


Benar saja, Wajah Andira berubah panik. "Baik guru! Murid akan melaksanakan!" Andira berkata hormat dan melesat pergi.


Dia tak mau gurunya marah dan membuatnya pergi meninggalkan. Karena ia sudah nyaman berada di samping gurunya dan para saudari batunya di dunia cermin.


Dirga menghela napas. Entah dari mana munculnya keberanian Andira untuk menggodanya.


Menggelengkan kepala dan melirik ke arah tertentu. "Sia - sia saja, jika kamu pergi dari sini!" Ucapnya acuh dan membuka merentangkan satu tangannya ke depan.


Seketika, Dua sosok melaju ke hadapan Dirga dengan raut wajah pucat ketakutan.


"Ahk! Tolong ampuni saya! Saya tidak ingin- "


Plak!


"Tolong lepaskan aku tuan! Ak- "


Plak!


Belum sempat keduanya selesai berkata, Tamparan telah mendarat di kedua sisi pipinya hingga bengkak menyemburkan air liur serta darah.


Kedua orang itu tentu saja Patriak Marde dan putranya. Mereka tadi ingin melarikan diri dari sini untuk meminta pertolongan.


Namun nasib mereka sial. Pemuda berambut perak ini telah mengetahui aksinya membuatnya menelan ludah kembali.


Gedebuk!


Sebuah suara seperti benda jatuh terdengar di belakang mereka diikuti kekehan lembut seseorang.


Kakek Marde yang tulangnya terasa remuk menggertakkan giginya begitu ia di ejek oleh seorang perempuan belia.


"Bedebah! Persetan dengan kalian! Tuan Ming! Tolong selamatkan saya!" Kakek Marde meraung marah dengan sisa energinya.


Laniya dan lainnya tak mengerti mengapa Kakek tua ini berkata sendiri seperti orang bodoh. Hanya Dirga yang tersenyum tipis tak terlihat.


"Pak tua! Jang- " Laniya belum sempat berbicara, Tiba tiba punggungnya terasa dingin membuatnya merinding.


"Sial! K-kau menjebakku!" Laniya pucat dan segera tersadar.


Namun tiba tiba ada sebuah lengang halus yang melingkar di pinggangnya dan tubuhnya menghilang dari pandangan.


Boom!


Suara ledakan yang cukup besar terdengar dari tempat Laniya tadi.


"Siapa yang berani menggangguku? Berani beraninya mengusik iblis agung sepertiku ini!"


Sebuah suara arogan penuh kesombongan namun menyeramkan terdengar menggema.


Asap hitam tebal muncul bergejolak dan terbitlah sesosok iblis bertubuh hitam dengan tinggi dua meter.


Mata semua orang melebar melihat kedatangan sosok iblis ini.


Mata Kakek Marde berbinar seolah ada harapan yang menolongnya.


"Tu-tuan Ming! Akhirnya anda datang juga! Tuan! Dialah yang mengganggu kultivasi tuan!" Ucapnya menunjuk sosok Dirga yang berada di jauh sambil memeluk pinggang Laniya erat.


Sosok iblis yang di panggil tuan Ming menoleh dan raut wajahnya berubah marah melihat orang yang mengganggunya ternyata sepasang manusia muda.


Sebelum ada yang berbicara, Dirga berkata mengejutkan. "Hanya iblis semut seperti ini kau jadikan tuan? Sungguh lemah sekali!"


Seusai berkata, Dia menjentikkan jari dan terdengar suara 'Klik!' menggema.


Kini, Tidak hanya terkejut, Mereka semua yang melihat ini melebarkan dua matanya melotot tak percaya.


Tubuh sosok iblis itu tiba - tiba meledak menjadi kabut darah tanpa memberi kesempatan berteriak.


Merasa malas melihat situasi ini, Dirga berkata ke Laniya yang sedikit tertegun. "Kamu bawa mereka berlima ke dunia cermin! Biarkan dua gadis kecilku yang mengeksekusinya!"


Laniya seketika tersadar ketika Dirga berbicara tepat di sampingnya.


Dengan tersenyum manis, Ia berkata memandang Dirga dengan kagum. "Sudah kuduga! Kamu kuat sekali, dengan jentikan jari saja bisa membuat iblis mati!"


Dirga mengangguk dengan sedikit tersenyum membuat Laniya melongo melihat senyum menawan sosok Dirga.


Baru kali ini melihat sosok pria yang di cintainya tersenyum di hadapannya, meskipun sedikit.


Cup!


Laniya mencium bibir Dirga sejenak dan buru buru melepaskannya dengan wajah memerah malu.


Mengalihkan pandangannya ke arah anggota Keluarga Marde itu dan berkata menutupi rasa malunya.


"Pergilah ke neraka!" Laniya berkata sambil menendang pantat kelima Keluarga Marde itu.


Seketika, Di bawah tatapan ketakutan kelimanya. Sosoknya melaju masuk ke pusaran lubang hitam.


"Guru! Aku sudah menemukan apa yang guru perintah!" Andira yang baru saja datang baru menyadari jika pertarungannya sudah berakhir.


Melihat ke depan yang juga ada Laniya yang melihatnya dengan mengernyit membuat dirinya bingung.


Dirga melirik Indira yang pisan di gendongan ala bridal Andira yang nampak kecil itu.


"Bawa dia masuk dan obati racun yang ada di tubuhnya!" Dirga memberi perintah kepada Andira.


"Baik guru!" Andira menjawab sopan kepada gurunya dan pergi masuk bersama Laniya yang masih menatap Dirga dengan tatapan aneh.


Melihat sudah sepi penghuni. Dirga merentangkan kedua tangannya ke atas.


Seketika energi emas berbentuk telapak tangan raksasa puluhan meter di sertai aura pedang muncul di atas kepalanya.


"Hancurkan!"


Dirga memerintah dingin. Dan seketika serangan itu melesat kebawah arah kediaman Keluarga Marde.


Dhuarr!


Suara ledakan menggema keras dan membuat seisi Kota Lewai terkejut.


Dirga melihat bawah dengan tatapan acuh tak acuhnya.


Saat ini sudah tidak ada Keluarga Marde lagi.


Keluarga Marde musnah dari mata dunia!


Dirga tanpa berkata pun lalu menghilang dari gelapnya malam penuh ketegangan.