Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 100


Si gadis manajer itu merasa bisa bernafas lega. Tapi kemudian mata semuanya berubah ngeri ketika di sambut dengan apa yang ada di dalam ruangan itu.


Nampak tiga tubuh yang berlumuran darah sedang bergantung di atas langit ruangan.


Tapi bukan itu yang membuatnya ngeri. Tubuh ketiganya benar benar aneh membuat siapapun serasa ingin muntah.


Dari dada sampai pusar, Kulit mereka bertiga terbelah menampilkan organ dalamnya yang keluar.


Tidak hanya itu saja, Barang kenikmatan bertiga berlumuran darah dan nampak sedikit putus.


Semua orang yang melihat itu merinding.


Mereka juga mengetahui siapa ketiga orang itu karena wajahnya seolah di sengaja menatap pintu ruangan.


Mereka adalah Tuan muda Sabri Tenu, Bima Wadi dan Bimo Wadi!


"I-Ini? Siapa yang melakukan semua ini...? Berani berani nya mereka melawan Keluarga ku!" Ucap marah Patriak.


Begitu juga dengan Patriak Wadi yang kini matanya berubah merah layak nya iblis. Tapi kemudian matanya tertuju ke gadis manajer yang masih terbengong.


"Katakan! Siapa yang melakukan semua ini? Jika kamu tidak tahu, Aku akan menyiksamu dan para anggota kalian saat ini juga!" Patriak Wadi bersuara dengan suara serak nya.


"Kalian semua! Hadang gadis itu..! Jangan sampai dia lepas!" Seru Patriak Tenu yang kini benar benar marah melihat putranya yang terbunuh dengan sadis di depannya.


Gadis manajer tersentak. Dia benar benar terkejut sekaligus ketakutan setengah mati karena dia pertama kali melihat pembunuhan dengan cara sadis ini.


Tiba tiba ia tertegun ketika ia mendengar perkataan pemuda tampan berambut perak ini.


Saat ini dia tidak bisa kabur karena dia sudah di kunci oleh aura penindasan dari segala arah nya.


Ia sadar jika saat ini dia bukan lawan keempat pengawal ini apalagi dua Keluarga berkelas ini.


Ketika masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Pinggang nya serasa di tumbuk dengan baja yang keras.


"Hoek..!"


Tubuh nya terpelanting dan memuntah kan seteguk darah nya.


Dia menatap keempat pengawal nya yang kini menatap nya dengan ganas.


Tiba tiba ia terpikirkan perkataan pemuda berambut perak tadi.


Kebetulan tubuh nya terpelanting dekat tangga penginapan.


'Aku harus kesana!' Pikir nya dan seketika dia menuruni tangga dan melesat keluar.


"Cepat kejar! Jangan sampai gadis ****** itu kabur begitu saja! Aku tak mau tahu, Kalian semua harus menangkapnya. Jika kalian berhasil aku akan memberi hadiah seratus batu roh!" Teriak Patriak Tenu ketika menyadari jika pihak lawan kabur.


Keempat pengawal itu yang mendengar seruan Patriak Tenu. Mereka berempat segera keluar dan melesat untuk menangkap gadis manajer itu.


Tak di pungkiri. Karena ucapan Patriak Tenu yang begitu menggelegar, Para pengunjung yang mendengar itu mata nya segera berbinar dan mengikuti arah lesatan gadis manajer tadi.


Bahkan gadis pelayan yang mendengar nya matanya berbinar cerah. Tidak menutup kemungkinan jika dirinya berhianat kepada manajer nya sendiri.


Patriak Wadi menoleh ke Patriak Tenu. "Saudara! Sebaiknya kita kubur kan mereka ke kediaman masing masing."


"Ya! Sialan...! Gadis ****** itu benar benar brengsek! Berani beraninya dia kabur dari ku!" Umpat Patriak Tenu marah.


Patriak Wadi menyeringai dan mendekati. "Tenanglah! Jika gadis bajingan itu benar benar tertangkap, Kita bisa menikmati tubuh indah nya itu! Sudah lama aku tidak berolahraga. Bagaimana saudara?" Ucap Patriak Wadi tanpa memperdulikan kesedihan akan putranya yang baru saja terbunuh.


Begitu mendengarnya. Mata Patriak Tenu berbinar binar seolah melihat harta karun yang indah.


"Ya! Kamu benar! Hehehe..! Sudah lama aku tak olahraga selama ini!"