Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 31


Bibir Dirga berkedut,Melirik gadis kecil di pelukannya yang saat ini matanya berbinar kagum menatapnya. Menoleh ke belekang dan melihat Laniya yang juga menatapnya.


Berjalan ke arahnya, Menyerahkan gadis di pelukannya sambil berkata singkat. "Titip!"


Sosok Tian Marde yang masih linglung segera tersadar. Tapi ketika tatapannya tertuju ke Laniya, Sontak saja matanya berbinar cabul.


Belum sempat untuk berbicara, Bagian selangkangannya terasa seperti di hantam baja membuat tubuhnya melengkung ke atas di sertai jeritan tragisnya.


"Arggh...!"


Ketika tidak tahu apa yang terjadi, Matanya melotot sempurna melihat pemuda berambut perak sudah menunggunya di ketinggian sambil melayangkan tinjunya ke bagian wajah.


Baam!


Tubuhnya kembali di luncurkan ke bawah dengan darahnya yang terus di semburkan dari mulutnya. Hampir saja dia menyentuh tanah. Tiba tiba bagian pinggangnya di hantam oleh tendengan ringan Dirga membuatnya kembali terlempar ke atas lagi.


Baam!


"Arggh...!"


Semua orang tercengang menyaksikan ke ganasan Dirga. Tanpa sadar, kepala mereka bergerak bersamaan mengikuti terlemparnya tubuh tuan muda Tian Marde.


Sesekali ke barat, Sesekali ke timur, Dan sesekali bergerak ke atas ke bawah, Terus menerus seperti itu.


Boom!


"Arggh...!"


Tubuh Tian Marde menyentuh tanah di sertai jeritanny. Punggung, dada, pinggang dan entah berapa banyak tubuhnya terasa sakit yang teramat amat.Wajahnya terlihat bengkak di mana mana seperti kepala babi dan beberapa giginya yang entah melarikan diri kemana.


Dirga menghajarnya bukan tanpa alasan. Ia tadi mendengar keluh kesah beberapa orang tentang sikapnya dan suka menindas dengan membanggakan statusnya.


Kini ia harus memberinya pelajaran. Meskipun pukulannya tidak mencapai sepuluh persen, Tapi tetap saja itu bisa membuat organ dalam Tian Marde terasa bergeser di sertai beberapa tulangnya yang remuk.


Semua orang menatapnya ngeri. Pemuda yang tak di ketahui asal usulnya ini tidak hanya tampan, Tapi ternyata kuat.


"Anak muda! Kamu sangat hebat sekali...!"


"Hebat! Hebat sekali kamu anak muda, Biarkan dia merasakan apa arti penindasan itu...!"


"...."


Banyak orang meneriakkan sosok Dirga. Tidak ada satupun dari mereka mengasihani Tian Marde karena mereka tahu sikap arogansinya yang membuat semua orang tidak suka kepadanya.


Sedangkan sosok Tian Marde saat ini terlihat sangat marah. Dia yang biasanya menguasai jalanan sambil dada membusung kini tak lebih dari seorang pecundang.


Dia menggertakkan giginya marah melihat dirinya di pukuli berulang kali. 'Bocah tengik! Bocah keparat! Tunggu saja pembalasanku! Sial! Sial! Sial!' Ucapnya di hati geram.


Tak kuasa menahan cacian semua orang. Ia berseru geram. "Bajingan tengik! Dasar keparat! Ka- Ucapannya di sela oleh jentikan jari Dirga sambil mencibir tak peduli. "Dasar bodoh!"


Dari jentikan jari itu muncul api hitam seukuran kelereng kecil dan langsung melesat ke wajah Tian Marde ke bagian satu telinganya dan langsung melahap hingga habis.


Tidak ada yang bisa melihat api kecil Dirga. Tapi kemudian,Tiba tiba saja satu telinga tuan muda Tian Marde telah menghilang meninggalkan tonjolan darah hitam yang mengering oleh panasnya api.


"Arghh...! Kamu!!!...Kamu bocah tengik! Bocah keparat! Apa yang kamu lakukan pada telingaku hah??" Umpat Tian Marde kesakitan sambil menutupi telinga kanannya.


Semua pengawalnya sontak ketakutan melihat semua ini. Tidak ingin di hajar seperti tuan mudanya, Semua pengawal menyeret tubuh Tian Marde dengan terbirit birit.


Suasana menjadi hening, Semua mata tertuju pada sosok Dirga yang berani melawan tuan muda Tian Marde yang selama ini tidak ada yang berani melawannya sama sekali.


"Sial! Dia sangat kuat! Lihat saja wajah tuan muda Tian Marde tadi yang seperti babi gemuk..."


"Benar benar anak muda yang berbakat...!"


Semua kerumunan sontak berseru kagum dengan keberanian Dirga tadi. Seolah seolah mereka yang sedang memukulinya.


"Tcih! Sudah kubilangkan dia itu sangat lemah! Hanya saja dia berlindung di balik statusnya." Timpal seorang pria yang tadi hanya mendecih.


"Kamu ini cah cih cah cih, Ap lidahmu tidak pernah terkilir sebelumnya?" Komen salah satu orang yang membuat beberapa menatapnya dengan aneh.


Dengan kepala menunduk kesal, Ia lantas bergumam lirih. "Tcih!"


.........................


Saat ini Dirga bersama dua gadis berbeda usia sudah masuk kedalam Kota Luyung. Kota Luyung terletak di bagian barat ibu kota Kerajaan Qin. Wilayahnya juga cukup luas dan mencakup dari barat sampai barat daya.


Ketika masuk. Banyak pedagang pedagang kecil yang menjajakan dagangannya. Toko toko juga berbaris rapi di sekitar jalan.


"Gadis kecil, Siapa namamu hm?" Tanya Dirga karena tak sempat bertanya.


Gadis kecil itu menatap wajah tampan Dirga dan wajahnya malu. "N-namaku Cintia, Dan di panggil Tia!" Jawabnya lirih sambil gugup.


Dirga mengangguk. "Oke, Tia! Sekarang kita beli baju dulu!" Ucap Dirga sambil mengelus rambut gadis kecil yang bernama Tia itu.


Tia hanya mengangguk dan meletakkan kepalanya di dada bidang Dirga sambil bersenandung tak jelas, Membuatnya tersenyum.


Dirga juga melihat toko pakaian yang tak jauh darinya. Ketika mau masuk, Mereka di hadang oleh dua pria penjaga.


"Berhenti! Pengemis di larang masuk!" Serunya dengan jijik, Ketika tatapannya tertuju ke Laniya, Sontak saja matanya langsung berbinar. "Kecuali nona cantik ini!" Imbuhnya dengan meremas senyum tak ada arti.


Dirga dan Laniya saling berpandangan, Lalu menatap kedua penjaga yang masih menatap Laniya dengan air liur menetes yang membuatnya risih.


"Kenapa kami tidak boleh masuk? Kami hanya ingin membeli pakaian saja! Apa itu tidak boleh?" Jawab Dirga kesal karena ada saja orang yang mengganggunya.


"Membeli pakaian?" Ulangnya sambil menatap Dirga dari atas sampai bawah. Hanya bermodalkan wajah tampan saja berani masuk lalu tertawa sinis. "Hahaha, Nak, Jangan membual! kamu hanyalah gelandangan miskin, Kamu tahu jika nilai terendah di sini sepuluh koin emas? Cih! Aku yakin jika kamu hanya memiliki sepuluh koin perak saja" Ucapnya dengan merendahkan.


Dirga dan Laniya saling tatap sekali lagi. Mereka seperti melihat orang dungu. Laniya maju selangkah dan bertanya. "Apa aku boleh masuk?"


Kedua mata penjaga itu berbinar ketika melihat kecantikan Laniya dari dekat. "Tentu, Tentu saja nona cantik bisa masuk kecuali dia!" Serunya kegirangan.


Laniya mengubah ekspresinya menjadi datar dan maju selangkah lagi mendekati dua pria penjaga yang kini meneteskan liurnya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ia meninju perut kedua pria itu hingga terpental kebelakang menabrak dinding dinding pintu toko.


Braak!


Braak!


Dirga menggelengkan kepalanya melihat sikap seenak jidat Laniya tapi ia tidak menghentikannya.


Dua pria penjaga itu menatap wanita Laniya dengan ngeri. Wanita cantik yang lembut ternyata sangat kuat dan ganas.


Pada saat ini, Semua pengunjung toko mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara keributan. Ketika melihat dua penjaga toko yang terkapar di lantai membuat semua orang menatap Laniya dengan ngeri tapi tidak ada yang bersuara.


Pada saat ini, Suara lembut terdengar dari dalam toko. "Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini?"