Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 115


Setelah beberapa menit kemudian, Dirga sudah berpakaian. Warnanya biru langit dan itu membuatnya semakin tampan.


Ia berjalan di balkon istana Dunia Cerminnya. Dia memandang langit- langit biru yang indah nan mempesona itu.


Saat ini, Pikirannya berputar waktu tadi. Ia penasaran siapa pria tegap berambut perak itu. Tidak hanya itu saja, Sepertinya pria itu mengerti tentang masalahnya.


"Siapa dia?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Memikirkan perkataan panjang lebar pria tadi membuatnya menghela napas panjang.


Dirinya masih naif dan memiliki sifat kekanakan. Selalu saja ia melampiaskan amarahnya saat itu juga ketika mendengar ada seseorang menghina pemilik tubuh.


Tidak seharusnya ia melampiaskannya saat itu juga. Seharusnya ia membiarkan apa kata orang itu. Karena mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi!


Meskipun jiwanya sudah berganti dengan dirinya, Entah mengapa hatinya merasa sakit ketika ada seseorang yang mengbinanya.


Itu hanyalah di sebabkan oleh orang yang awalnya ia sayangi malah menghianati!


Ayahnya yang sebagai seorang Raja begitu tega membuang tubuhnya karena cacat kultivasi. Ibunya juga memperlakukannya sama.


Mengapa? Mengapa itu semua terjadi pada diriku? Apa takdirku hanya di kelilingi oleh orang seperti itu?


Hatinya bertanya tanya tentang takdirnya sendiri. Tak tahu mengapa hidupnya terasa kacau. Tidak hanya di kehidupan sebelumnya, Kehidupannya saat ini juga sama, Bahkan lebih parah.


Dia sangat menginginkan dan merasakan apa itu namanya kasih sayang dari orang tua. Tapi mengapa semuanya jadi begini?


"Ding! Terdeteksi hati Tuan rumah sedang mengalami kekacauan!"


"Ding! Sebaiknya Tuan rumah menghapus pikiran itu semua! Dunia Tuan rumah saat ini di penuhi oleh kekuatan absolut. Tidak ada yang berani memusuhi ketika orang itu memiliki kekuatan tinggi!"


Mendengar perkataan sistem tiba tiba, ia tak mengerti, Dahi Dirga mengkerut dan bertanya. "Maksudmu?"


"Ding! Tuan rumah memiliki banyak kekayaan dan sumber daya kultivasi yang melimpah. Berikan barang itu untuk pengikut Tuan. Dengan itu, Mereka semua akan mempercayai setiap kata Tuan rumah!"


"Ding! Oleh karena itu, Berilah kata kata yang membuat mereka percaya kepada Tuan. Dan buatlah mereka bahagia agar mereka semakin menghormati Tuan!"


Dirga mendengarkan penjelasan sistem yang menurutnya memang benar. Sebenarnya manusia di dunia nya saat ini adalah orang bodoh.


Kenapa? Ya! Karena jika ada orang yang memberi sumber daya maupun benda berharga seperti koin emas, Batu roh dan barang berharga lainnya, Mereka seketika senang.


Dengan itu, Pemikiran mereka semakin mengagumi sosok itu dan lama kelamaan mereka semakin percaya dengan setiap kata katanya.


Oleh karena itu, Pembunuhan di dunia ini adalah suatu hal yang biasa. Cukup di beri imbalan koin emas, Mereka akan menurutinya, Bahkan jika nyawanya yang terancam pun mereka tak peduli!


"Hem, Mungkin saat ini waktunya berubah." Gumam Dirga dengan senyum tipisnya.


Dirinya berjanji akan membuat pengikutnya bahagia. Dengan itu, Kepercayaan kepada dirinya akan semakin meningkat!


Di tengah lamunannya, Terdengar suara lembut namun asing. "Tuan! Semua pengikut Tuan sudah menunggu anda di aula! Saya di suruh kesini untuk menjemput anda!"


Dirga membalikkan badannya. Ia seketika terkejut melihat seorang gadis cantik dengan lesung pipi di sebelah kiri.


Rambutnya di kuncir dua ke belakang dan itu membuatnya sangat imut. Merasa di perhatikan oleh orang yang ia sebut Tuan, Pipinya merona dan menundukkan kepalanya.


"Tu-tuan, I-itu...A-anda sudah di tunggu oleh mereka!" Ucapnya gugup dengan jantungnya yang berdebar.


Dirga yang melihat perilaku lucu ini tak bisa untuk tidak tersenyum tipis. Dia berkata. "Siapa kamu? Dan kenapa kamu memanggilku dengan sebutan Tuan?"


Gadis cantik itu mendongak dan melihat mata jernih pemuda di depannya membuat jantungnya semakin berdebar.


"N-nama saya Andira Tu-tuan!...I-itu, Saya berjanji menjadi pengikut Tuan apapun yang terjadi karena Tuan lah yang sudah menyelamatkan saya waktu itu!" Ucapnya dengan tegas namun ada tatapan sendu dari sorot matanya.


Dirga mengangkat satu alisnya. "Menolongmu? Kapan?"


Melihat kelinglungan Dirga membuatnya tertegun. Sejenak ia diam dan menjawab dengan lirih. "Tuan, Apa Tuan ti- " Sebelum perkataannya selesai, Dirga menyelanya. "Jangan panggil aku Tuan, Oke? Panggil saja Tuan muda atau Saudara! Itu lebih baik. Terdengar aneh di telingaku jika kamu memanggilku seperti itu!"


"Ta-Tapi..." Sebelum sanggahannya selesai, Dirga menyelanya lagi dengan cepat. "Tidak ada tapi tapi! Kamu bukan pelayanku dan bukan pula bawahanku, Hanya para musuhku saja yang patut memanggilku dengan sebutan Tuan!"


Andira terdiam dan tidak mengerti maksud Dirga. Namun ia mengangguk dan berkata. "Baiklah, Tuan muda!"


Andira memanggil nama Dirga dengan sebutan Tuan muda. Dirga sebenarnya menyanggahnya, Namun melihat dirinya baru bertemu dengan Andira membuatnya membiarkannya saja.


Dia mengangguk dan berkata ringan. "Lanjutkan ceritamu! Aku penasaran dengan mu!"


Andira mengangguk patuh dan berkata. "Mungkin Tuan muda lupa dengan saya. Saat itu, Saya dan banyak gadis lainnya di bawah oleh orang yang tidak kami kenal. Saya berasal dari desa, Waktu itu tiba tiba desa kami di serang oleh banyak orang berpakaian hitam dan membakar semua tempat tinggal kami. Bahkan, Orang orang itu yang membunuh penduduk desa, Tak terkecuali orang tua saya."


Andira meneteskan air matanya ketika dirinya membayangkan apa yang terjadi waktu itu, membuat tubuhnya tanpa sadar bergetar.


Dirga yang melihatnya menjadi tidak tega. Dia akhirnya tersadar, Bukan dirinya saja yang memiliki masalah, Orang lain pun punya juga! Bahkan menurutnya cukup parah.


Karena tak tega dengan nasib yang di alami Andira. Secara naluriah dua tangan yang tak berguna itu mendekap tubuh ramping gadis cantik itu.


Andira tersentak kaget ketika tubuhnya tiba tiba di peluk oleh Dirga. Namun ia tidak memberontak. Aroma harum tubuh Dirga menyeruak masuk ke hidungnya membuatnya seketika nyaman berada di pelukannya.


Tanpa sadar kedua tangannya membalas pelukan Dirga. Dirga yang merasakan pelukannya di balas oleh Andira membuatnya semakin tidak tega.


Seorang gadis imut nan polos saat ini sudah tak memiliki orang tua? Ia membayangkan, Bagaimana dengan perasaan gadis gadis yang pernah ia selamatkan waktu itu?


Kini akhirnya ia tahu bahwa masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan pertolongan.


"Tidak usah di lanjutkan lagi! Oke? Begini saja, Apa Andira mau menjadi kuat untuk membalaskan perbuatan orang itu?" Dirga berkata sambil mengelus rambut gadis itu dengan lembut.


Masih dalam dekapan Dirga, Andira berkata cepat. "Aku mau!!! T-tapi.... " Ia tak melanjutkan ucapannya karena tidak mau merepotkan pemuda yang sudah menyelamatkan nyawanya.


"Tapi apa? Hem?" Dirga bertanya melonggarkan dekapannya dan menatap mata gadis itu dengan intens.


Wajah Andira memerah malu ketika di tatap oleh Dirga dalam jarak sedekat ini. Seolah ia terhipnotis, Tubuhnya kaku, Tidak bisa di gerakkan.


"Ak-Aku mau! Ta-tapi aku tidak mau merepotkan Tuan muda, Sudah cukup dengan menyelamatkan nyawaku saja sudah membuatku senang." Jawab Andira dengan jujur, Namun hatinya merasa berontak akan jawaban itu.


Dirga memegang bahu Andira dan mengarahkannya ke pembatas balkon istananya. Ia berkata sambil menatap langit yang indah. "Aku tau kamu menyimpan dendam dengan orang bajingan itu, Apalagi itu terkait dengan orang tuamu juga! Katakan saja, Aku tidak akan marah."


Andira terdiam, Keduanya merasakan angin lembut dan menatap langit biru indah di atasnya. Sejenak, Andira berpikir dan berkata ragu. "Aku mau menjadi kuat, Tapi asalkan semua temanku juga sama kuatnya denganku!"


"Hanya itu?" Dirga tersentak kaget dan memandang wajah cantik gadis itu dengan tak percaya. Ia awalnya menduga jika syarat nya cukup membuatnya tertantang, Namun ia lagaknya salah paham.


Andira mengangguk pelan dan berkata ragu ragu. "Iya, Tapi jika Tuan muda mengijinkan."


"Itu adalah masalah yang mudah! Baiklah, Aku ijinkan! Namun ada satu syarat!" Ucap Dirga dengan senyum misteriusnya.


Andira menatap wajah tampan Dirga dan melihat senyum aneh nya membuatnya tertegun. "Ma-maksud Tuan muda?"


Dirga tak menjawab, Ia menunjuk pipinya dan berkata singkat. "Ini!!"


"Apa?!" Andira tak mengerti maksud Dirga yang menunjuk pipinya sendiri itu.


Dirga yang melihat godaannya tak berhasil di depan wajah polos gadis itu membuatnya tak habis pikir. Ia yang awalnya menggodanya membuatnya urung.


Ia melambaikan tangannya dan berkata. "Baiklah, Kamu bisa berlatih bersama teman temanmu di sini! Tenang saja, Dunia ini sangat aman dan tidak terdeteksi oleh siapapun. Jadi kamu tidak usah khawatir! Nanti aku akan memberimu tehnik hebat."


"Benarkah?!" Andira memekik senang dan matanya berbinar cerah. Melihat Dirga menganggukkan kepalanya, Ia menjadi semakin senang dan bersorak. "Hore! Guru! Terima kasih sudah membantu saya dan teman teman saya!"


Tanpa sadar, Dirinya memeluk Dirga dari samping. Kebetulan tubuh Dirga sedang condong ke depan, Jadinya wajahnya semakin dekat dengan wajah Dirga.


Karena ia tidak menekankan kegembiraannya sedikitpun. Ia tak ragu bibir merahnya itu terkena pipi Dirga beberapa kali membuat si empunya tertegun.


"Guru! Saya berjanji menjadi kuat dan saya berjanji akan membalas perbuatan guru!" Ucap senang Andira sambil melompat lompat kecil.


Memang benar Andira tidak memiliki seorang pendukung untuk menjadi kultivator hebat. Kini, Dengan adanya sosok pendukung hebat dan kuat seperti Dirga, Dia tidak ingin menyia - nyiakan kesempatan ini!


Dirga yang melihat ekspresi senang Andira membuatnya juga senang. Dia tahu jika Andira bisa menjadi kultivator hebat karena dantian gadis cantik ini cukup luas di antara para kultivator biasa.


Pada saat ini, Tiba tiba terdengar suara lembut dari belakang mereka berdua.


"Hmm, Apakah ada satu orang lagi yang akan bergabung dengan kami?"


Keduanya berbalik dan melihat tiga wanita cantik yang sedang menatapnya dengan ekspresi aneh dan alis mengkerut.


Sontak saja, Wajah Andira saat ini memerah sampai ke leher lehernya. Karena ia tahu siapa ketiga wanita itu. Mereka adalah Laniya,Fanni dan Xenia Xu. Ketiga wanita pria yang ada di sampingnya ini!


Dia tiba tiba tersadar akan aksinya tadi yang mencium pipi Dirga berkali kali.


"I-it-itu...A-anu...Saa-yaaa....


Andira berkata terputus putus gugup. Lidahnya tercekat dan tidak bisa melanjutkan perkataannya lantaran sangat malu.


Tiba tiba sebuah tangan mengusap rambutnya dengan acak diiringi perkataan Dirga yang membuatnya semakin malu. "Tidak apa apa! Pagi pagi dapat ciuman gratis dari gadis cantik adalah sebuah keberuntungan bagiku!"


Andira semakin tersipu malu dan kepalanya semakin menunduk ketika mendengar ini. Sedangkan ketiga wanita itu terdiam dan tertegun. Apalagi Laniya dan Fanni yang terbilang lama bersama pria itu.


Lagaknya mereka menyadari akan perubahan sikap Dirga ini. Wajah yang semula datar nan dingin kini berubah menjadi lembut ketika memandangnya.


Entah kesambet apa pria itu berubah secepat ini dan membuatnya linglung sebentar. "Entah mengapa, Aku menyadari sikapmu yang berubah." Tanpa sadar, Laniya berkata sambil berjalan menghampiri keduanya bersama Fanni dan Xenia Xu.


"Mungkin hanya perasaanmu saja!" Jawab Dirga sambil melambaikan tangannya menanggapi perkataan Laniya.


Laniya memandang Dirga sambil sesekali melirik gadis cantik di samping Dirga dengan sorot mata aneh. Begitupun juga dengan Fanni, Hanya Xenia Xu yang diam meskipun ia juga sama dengan dua wanita itu.


"Hm, Baiklah! Itu urusanmu jika ingin menambah lagi! Tapi kamu harus memberi tahu kami bertiga agar tidak salah paham! Bukan begitu? Bukan??" Laniya berkata sambil menatap Fanni dan Xenia Xu dengan senyum nya.


Fanni yang melihat gelagat Laniya tampak tertarik dengan Andira juga menganggukkan kepalanya. Ia juga sebenarnya tertarik dengan gadis cantik ini, Entah mengapa. Mungkin karena dia cantik!


"Ya! Kamu harus meminta izin kepada Kak Laniya! Selama dia memberimu izin, Kami juga membiarkannya masuk." Ucap Fanni dan di imbuhi dengan suara lirihnya. "Ke harem-mu..."


Dirga tertegun mendengar ini. Dia yang tak ingin berlama lama dengan wanita wanita cantik seperti ini melambaikan tangannya.


"Apa yang kamu katakan? Dia hanya ingin menjadikanku sebagai guru dan aku juga menerimanya. Kebetulan juga aku tertarik dengannya." Ujar Dirga mendengus kesal.


"Jadi wanita mu juga tak masalah!" Ucap Laniya, Fanni dan Xenia Xu dengan serempak tanpa sadar.


Dirga tertegun sejenak mendengar tanggapan para wanita ini. Namun ada suatu kebahagiaan di hatinya ketika mendengarnya.


Tanpa sadar tatapannya beralih ke gadis bernama Andira ini yang berada di sampingnya, Yang saat ini kepalanya menunduk malu malu bak gadis polos.